
Rukaman menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya "Haaah". Lalu Rukaman berucap "Bankai : Katen Kyoukotsu,Karamatsu Shinjuu"."Datang juga...bankai ku" ujar Gin
Rukaman the Thief
"Yue. Jangan manja! Cepat sembuhkan lukamu dan bantu aku melawan dia. Ada jeda waktu sebelum teknik tersebut benar-benar aktif,meski hanya sedikit kita harus cari cara untuk mengalahkannya" ujar Gin sambil menepuk kepala Yue. "Yue!!! Bangun!!" Gin menepuk sekali lagi kepala Yue, namun kali ini agak keras. "Yue!!!". Gin meneriaki telinga Yue tapi tak kunjung sadar juga.
'tes...tes.. tes.. ' "!!!". Gin akhirnya tersadar, luka di perut Yue dan luka tusuk, dan sayatan lainnya sama sekali tidak beregenerasi. Tubuh Yue lama kelamaan semakin dingin. Wajahnya pucat membiru dia kehabisan banyak darah yang terus mengucur deras dari luka-luka nya.
" Ukh!! Hampir saja" Gin dengan sigap lamgsung menggunakan teknik penyembuhan dengan menyalurkan mana miliknya ke Yue. Dengan cepat luka-luka Yue sembuh, wajahnya normal kembali, suhu tubuhnya kembali hangat.
"Sialan Jangan-jangan kau... " benarlah apa yang dipikirkan oleh Gin. Kemampuan regenerasi cepat milik Yue juga terambil!. Situasi menjadi sangat rumit bagi Gin. Dia kebingungan serta waspada dengan batasan kemampuan musuh. Dia sebenarnya juga terhambat karena harus bertarung sambil melindungi tubuh Yue. Ingin rasanya Gin lari dan kabur membawa tubuh Yue,dan membiarkan Shyva diambil kembali oleh Rukaman. Namun harga dirinya sebagai Catasthrope menghalangi dirinya untuk melakukan hal tersebut. Terlebih dia berfirasat akan menjadi suatu hal buruk kalau dia membiarkan kawan-kawannya yang lain melawan Rukaman tanpa sedikitpun mengetahui informasi kekuatan musuh.
"Maaf kan aku Yue." Ujar Gin. Yue yang sudah 'sembuh' pun sadarkan diri. Dia mendengar kata terakhir Gin sebelum akhirnya dia ditendang sangat keras olehnya.
*DDHHUUUAAKKHH* Yue terlempar jauh dari posisi Gin sekitar 1km. Yue sadarkan diri\, "Kau minta maaf untuk apa\, BAJINGAN!!! SIALAN KAU TIBA-TIBA MENENDANGKU!!" Yue geram dan kesal atas apa yang Gin baru saja perbuat padanya.
"Woyy bocah sialan!!! Kemari kau!! biar kupukul kepal... a.. mu... " Yue terkaget apa yang dia lihat didepannya. "Itu...bankaimu sendiri kan? Bagaimana bisa??" Yue melotot seolah tak percaya apa yang dia lihat didepannya.
Rambut Gin terurai kebawah, tubuhnya terikat sebuah pohon hitam raksasa. Nampak seperti dia adalah inti dari pohon itu. Sulur-sulur kecil pohon hitam itu masuk kedalam tubuh Gin melalui kulit yang disobek oleh pohon. Kedua tangannya melebar seolah seperti orang yang sedang disalib. Bagian bawah tubuh dari pusar kebawah tertelan oleh pohon. Gin memuntahkan banyak sekali darah. Pakaiannya compang-camping. Matanya kosong seperti mata ikan,dari matanya juga mengeluarkan darah. Sulur-sulur yang masuk kedalam kulit Gin bercahaya,dan mulai menyedot 'mana' milik Gin.
"Gi... Gin!!! Gin!!! Kau masih hidup...!? Bajingan Kau pak tua!!! AAAARRRRGGGHH!!!".
Amarah Yue memuncak, meski tanpa haki aura hitam tetap terlihat di sekitar tubuhnya. Tangannya mengepal, dan nampak seperti ada fatamorgana karena sakit panasnya kepalan tangannya. Dia melancarkan pukulan dahsyat yang jauh lebih kuat dan cepat dari pukulan Sebelum-sebelumnya. Saat Yue hampir mengenai Rukaman.
"Gear Third Cyberangel : Activated" Gin tiba-tiba berucap lirih. Robot besar seketika muncul entah darimana lalu menangkap Yue. "Lepaskan!!! Gin!!" teriak Yue. Robot itu kemudian berubah seperti motor besar yang terdapat kapsul penumpang ditengahnya. "Phylax! . Bawa dia pergi\, jauh-jauh dari sini" ujar Gin. "Yue!!! Tugasmu adalah memberitahukan kemampuannya yang mampu menyedot kekuatan orang lain melalui tongkatnya!!! Jangan sia-sia kan nyawaku!!! Pastikan kau menyampaikan nya pada yang lain" ucap Gin lantang. "DASAR BODOH!!! BISA-BISANYA KAU BERPIKIR AKU AKAN MENURUTIMU!! DAN JUGA KAU ADALAH CATASTHROPE!!! KENAPA KAU BERPIKIR KAU AKAN KALAH DISINI B*****T!! KENAPA JUGA KAU MENGHALANGI KU!!?? KAU PIKIR AKU INI BEBAN\, SIALAN!?" Yue berteriak dari dalam kapsul. Dia tidak percaya Gin akan berbuat demikian.
"Aku percaya padamu\, Yue!!! Bye\,bye..Phylax!! Ride : On!!!" ujar Gin dengan lantang. "Tunggu sialan!!! Tung.... " *Swiingggg\, ngguinhgg* belum sempat Yue berkata lagi\, Motor raksasa Phylax membawanya kabur\,beranjak menjauhi arena pertarungan dengan cepat. Phylax sendiri adalah motor Hightech yang dapat membuat jalur lintasannya sendiri di udara\,serta bergerak pada kecepatan suara.
"GIN!!! GIN!!! GIN!!! SIAL!!! KEPALAKU PUSING!!! KENAPA INI!? ADA APA INI!? KENAPA... kenapa aku mengkhawatirkan bocah bajingan itu...!? SIAL!!!" Yue emosi sambil memukul-mukul lantai kapsul.
***
"Hmmmm... menjadi orang yang terabaikan rasanya tidak enak juga ya." ujar Rukaman. Sedari tadi dia hanya memperhatikan Gin, dan Yue berdebat. Dia berada di depan pohon hitam raksasa itu. Memegang dua belah pedang katana yang mirip dengan mode shikai milik Gin. Ya, itu bukan hanya mirip. Tapi pedang itu adalah replika yang sangat mirip, bahkan kekuatan nya melebihi yang asli.
"Maaf saja nona. Kalian berdua adalah lawanku, dan 'pelajaran' untuk dia yang sudah menyakiti asisten ku belumlah selesai" ujar Rukaman sambil menodongkan sentaja kearah Yue yang kabur. "Mankai... Briliance of Bou... "
Rupanya Gin dengan cepat mengaktifkan realitas marmer untuk 'mengurung' Rukaman dan menghentikan nya supaya tidak menggunakan 'Mankai' milik Gin sendiri (yang telah direbut oleh Rukaman) untuk menghentikan kaburnya Yue. Rukaman dan Gin kali ini berada di padang bunga yang bercahaya, dengan latar waktu malam membuat warna bunga-bunga yang bercahaya menjadi terlihat semakin indah.
***
"Haha.... sulit sekali rupanya melawan kemampuan yang dimiliki oleh diri sendiri. Bankai mu kuakui sangt kuat. Akan tetapi kau tidak memahami secara penuh kekuatan bankai yang kau ambil itu. Berbeda dengan yang lain, milikku memiliki mode kemampuan tempur yang sangat berbeda ditiap levelnya (Shikai, Bankai, Mankai) . ketika salah satu dari ketiga nya akan diaktifkan maka akan otomatis menonaktifkan kemampuan yang memiliki level dibawahnya. Berbeda dwngan yang lain dimana di tiap levelnya memiliki mode tempur yang mirip. ketika level yang lebih kuat diaktifkan maka akan otomatis memperkuat juga teknik yang sebelumnya.
Sudah kuduga kau akan menggunakan mankai untuk menghentikan Yue. Maka dengan ter nonaktifkan nya bankai : Karamatsu Shinjuu maka aku bisa mengeluarkan jurus Tenkai (wilayah) tanpa gangguan, karena bankai ku juga sangat mirip dengan segel tingkat tinggi. Namun bedanya ketika seseorang terkena bankai ku sampai akhir dia bukan tersegel, melainkan mati... tidak, dia tetap hidup... namun sebagai pohon. yang menjadi penopang perbatasan antar dimensi.
Aku juga tidak perlu khawatir tenkai ku akan direbut olehmu karena aku mengaktifkan nya ketika sudah tidak bersentuhan dengan 'energi' dari bankai yang kau curi,aku juga tidak dekat dengan tombakmu.
Sudah kusimpulkan, bahwa setiap apa yang bersentuhan dengan tombak, tangan, ataupun mana. Berupa jurus yang membutuhkan banyak mana,jurus yang berasal dari suatu alat,atau jurus yang membutuhkan tenaga dalam. Dapat kau curi. Segala hal yang berkaitan dengan dua tenaga itu (tenaga dalam, dan Mana) dapat kau curi. Tapi sepertinya kalau tidak jurus yang berasal dari alat atau senjata tempur kau tidak bisa merebutnya seperti Tenkai ku ini.
Untuk mengakali pengaktifan Tenkai yang sebenarnya membutuhkan banyak 'mana' maka aku mengganti jumlah mana yang dibutuhkan dengan jumlah 'darah' yang setara. Itulah alasan kenapa aku bisa dengan yakin kau tidak akan pernah bisa mengambil Tenkai yng sedang ku aktifkan ini." jelas Gin sambil memasang ekspresi serius.
Gin menjelaskan sambil berdiri di salah satu tangkai bunga raksasa. Gin terlihat kembali segar bugar. Seluruh luka nya sembuh, pakaiannya yang compang-camping nampak diselimuti api dan kemudian pakaiannya normal kembali bagai 'diobati' oleh api itu. Kedua pedangnya kembali dia pegang. Rambut jatuh sepundak membuat Gin terlihat lebih cantik dan feminim ketimbang saat rambutnya diikat.
"Wah... luar biasa, kurasa tadi kau mengatakan 'jangan sia-sia kan nyawaku' apa itu cuma tipuan? " tanya Rukaman. "Terkadang untuk menipu musuhmu, kau harus menipu temanmu sendiri. Berkat tipuan itulah kau menurunkan kewaspadaan mu padaku hingga dengan mudah aku menggunakan tenkai" Gin tersenyum.
"Haah... sudah kuduga melawan Catasthrope tidak mungkin semudah itu. Dari cerita yang kuketahui dari Izuna kalian bukanlah orang yang akan kalah begitu saja. Kalian adalah pilar-pilar terkuat yang menjaga organisasi dan negara. Para algojo terkuat yang menjaga antar dimensi. Para pendekar-pendekar terkuat yang memiliki kemampuan perang yang sangat mumpuni. Para ksatria yang sangat loyal pada atasan, dan para prajurit yang tidak pernah takut akan kematian. Semaksimal mungkin menghindari kegagalan dan semaksimal mungkin mencapai keberhasilan.
Ditakuti bagai monster pembawa bencana oleh Musuh-musuhnya. Dihormati bagai raja oleh para bawahannya. Dirindukan bagai kekasih oleh para rakyatnya. Disegani bagai martir oleh para rekannya. Itulah kalian.. Catasthrope" ucap Rukaman.
"Kau terlalu banyak tau. Lagi-lagi kau mengaku sebagai teman dekat Izuna-sama. Kalau begitu buktikan!!!" ujar Gin sambil menodongkan pedangnya dari atas tangkai raksasa itu. "Buktikan? Dengan apa? Lagipula sejak awal kalian tidak mau mendengarkan penjelasan ku. Kalau bisa mungkin sebaiknya kau mendengarkan penjelasanku dulu sebentar nona,percaya atau tidak itu keputusanmu. Kalau kau ingin melanjutkan pertarungan setelah mendengar penjelasan ku maka boleh-boleh saja." Sahut Rukaman.
*Swiingg* Gin secara mendadak melemparkan salah satu senjatanya ke arah Rukaman. *Bettt!! Grab.. Dhuuashh* "!!!". Sesuatu telah terjadi dengan sangat cepat sehingga membuat Rukaman 'kaget'\, dan saat dia sadar tongkat ditangannya tertancap di tanah sekitar 50 meter di samping kirinya. " Apa itu tadi!? Dia melempar pedangnya. Ketika pedangnya hampir bersentuhan dengan tongkatku dia menukar posisi antara dia dengan pedang. Lalu dengan cepat merebut dan melempar tongkatku. Kemudian dia juga menyimpan kedua pedangnya. Dia... sejak kapan kecepatan nya meningkat drastis..!? Apa ini kemampuan nya yang asli? Sungguh menarik..." Gumam Rukaman.
"Aku akan mendengarkanmu Paman... " ujar Gin yang entah sejak kapan berada dibelakang Rukaman. Keduanya saling membelakangi tanpa bertatapan mata sedikitpun, meski begitu keduanya mampu merasakan seluruh pergerakan lawan bicara nya. Mata Gin semula berwarna coklat sekarang berwarna merah cerah. Keduanya dalam mode 'Zone', sangat fokus terhadap kemungkinan apa yang akan terjadi berikutnya.
"Menarik... " Rukaman kagum atas apa yang baru saja terjadi.
"Ya... terimakasih nona, bias kujelaskan semuanya... " ujar Rukaman sopan.
.... Bersambung.