The Visitor Series

The Visitor Series
Colateral damage



            Colateral Damage


  Sebuah pertarungan dahsyat terjadi antara Zimi dan Izuna. Menyebabkan dentuman-dentuman gempa dan ledakan yg sangat menyebar.


*Doooommm* (*sfx)


Suara dentuman besar mirip seperti ledakan gunung berapi terdengar tak jauh dari lokasi dinding perbatasan Kerajaan Akatsukiyami.


*Dooom\, Dooommm\, Dooom*


Dentuman demi dentuman terus terdengar. Bumi bergetar hebat, langit terlihat mendung,hewan-hewan ketakutan, dan masyarakat perbatasan merasa seperti teror menakutkan akan segera menghampiri mereka.


Tak jauh dari lokasi tempat pertempuran antara Zimi dan Izuna terjadi. Terdapat pemukiman kumuh milik para imigran gelap.


Mereka adalah para pengungsi yg tak mau mengakui Akatsukiyami sebagai negara baru mereka, juga tak mau kembali ke negaranga masing-masing ketika diminta.


Pihak Kerajaan sudah menyiapkan fasilitas penampungan untuk mereka jika mereka mau bersumpah setia, dan mengganti status kewarganegaraan mereka. Namun sayangnya kebanyakan dari mereka keras kepala dan masih terbawa cinta tanah air yg kuat walaupun mereka ditindas di negara asal.


Alhasil pengungsi diminta untuk kembali pulang dengan alasan keamanan Rakyat pribumi. Namun mereka tak mau pulang hingga mereka tinggal di daerah-daerah kosong di perbatasan. Mereka mendirikan kemah-kemah yg mereka tinggali bersama.


Daerah yg memiliki resiko yg cukup tinggi menjadikan mereka korban 'colateral damage' sehingga mau tak mau Divisi 12,Divisi 11 dan Divisi 9 bahu membahu berusaha menjaga keamanan mereka dari hal-hal yg tidak diinginkan.


Tp karena mereka tidak termasuk dari daftar warganegara dan dimasukkan sebagai kategori daftar kuning (dicurigai) jd mereka hanya diberi perlindungan secukupnya dan tidak diberikan pasokan makanan.


Banyak dari mereka yg akhirnya dipekerjakan oleh para prajurit sebagai pekerja kasar, ada juga yg berhasil lolos recruitment dan akhirnya menjadi pasukan dari salah satu divisi yg ada disana.


"Ibu... aku takut..." ujar seorang anak laki-laki yg sangat kurus sambil memegang ibunya.


"Jgn khawatir nak. Kita pasti aman-aman saja. Kakakmu pasti melindungi kita. Sudah sore...kamu pasti kelelahan kan? Ayo nak, tidur lebih cepat. Supaya besok kamu bisa lebih kuat dan menjadi tentara kerajaan sepetti kakakmu" ujar Ibunya yg sudah sakit-sakitan di ranjang sambil mengelus kepala putra bungsunya itu.


"Tapi bu...aku lapar.." ujar sang Anak.


*Dtoooommm*


Sebuah dentuman terdengar sangat jelas dan terasa sangat dekat dengan pemukiman. Refleks sang anak langsung memeluk ibunya dalam ketakutan.


"Ii... ibu... aku takut... kakak kemana? Kakak baik-baik saja kan??? Aku tidak mau kakak jd tentara. Kakak harus pulang...kakak harus ketemu ibu. Kasihan ibu sudah sakit-sakitan. Aku benci kakak! Dia selalu ada tugas. Tak pernah menengok ibu lagi" ujar lirih sang anak sambil menangis.


Sang ibu memeluk erat anaknya dengan mata sedikit berkaca-kaca. Lalu dia menarik nafasnya dalam-dalam.


"Jgn begitu, nak. Kakakmu adalah pahlawan. Sejak ayah tiada kakak sudah jadi tulang punggung keluarga. Kalau kakak tidak bekerja, kamu nanti kelaparan. Nanti ibu khawatir bagaimana?


Jadilah anak baik dan jgn buat ibu khawatir ya nak." ujar ibunya.


"Tp aku tetap lapar bersama ibu. Kakak tidak mengirimkan cukup makanan. Kalau begitu lebih baik tidak usah saja. Kehadiran kakak lebih penting daripada sedikit makanan yg dikirimkan nya." ujar sang anak dengan rengekan yg semakin menjadi-jadi.


*BBBLLAAAARRRDD\, DDDHUUUAAAASSHHHH*


Sebuah dentuman keras kembali terdengar kali ini diiringi oleh suara ledakan kuat yg sangat dekat.


*Dddhuuuuuaarrrrttt*


*Drrrrt*Drrtttt*Drrttt*


Semua orang yg ada dipemukiman kumuh itu panik, terjadi gempa kecil akibat dentuman dan ledakan itu. Gelombang suara yg sangat keras itu bahkan seolah dapat dilihat oleh mata telanjang dikarenakan dahsyatnya gelombang itu.


*Dhaaaasssshhh\, zzrrraaaakkk*


Suara dinding perbatasan dekat mereka pecah dan hancur. Suara objek terseret kuat juga terdengar nyaring dan mengganggu telinga.


Batu-batu terlempar kearah pemukiman tersebut. Banyak terkena luka ringan,beberapa luka serius dan untungnya tak ada korban jiwa yg disebabkan oleh hujan bebantuan dari pecahan dinding.


Namun seluruh penduduk panik dan keluar dari kemah mereka masing-masing. Mereka tak tahu harus lari kemana jd mereka hanya lari panik bolak-balik area camp mereka.


Hari itu layaknya hari kiamat bagi mereka. Langit mendung, berpetir menggelegar, hujan batu-batuan menghantam perkemahan,suara dentuman dan ledakan menghiasi telinga mereka.


Ada juga yg lari kehutan menyelamatkan diri dan ada yg berusaha mengevakuasi keluarga nya dan ada yg bersikukuh untuk bertahan di kemah karena memang sudah lemah atau hanya keras kepala.


Sang anak berusaha memopong ibunya keluar dari kemah, dalam keadaan panik semuanya cari selamat Sendiri-sendiri tak ada yg membantu mereka.


"Ayo bu... kita pasti bisa lari menyelamatkan diri!!!" ujar Anaknya yg terlihat sangat panik saat sebuah batu besar menghantam kemah mereka.


"Nak...kamu lari saja sendiri nak." ujar sang ibu sambil memandang iba anaknya.


"Kenapa ibu? Ayo keluar bu..." ujar anaknya yg mulai menangis.


"Tolong!!! Tolong!!! Tolong!!!" teriak sang anak. Namun tak ada yg menjawab.


"Kenapa?? Ada apa?" ujar seorang gadis setengah rubah tiba-tiba muncul entah darimana.


"!???" gadis itu kaget melihat setengah tubuh sang ibu tertimpa pecahan dinding. Sangat mengejutkan sang ibu masih mampu mempertahankan kesadarannya.


"Anakku... tolong bawa anakku. Tak peduli siapapun kau, kumohon selamatkan anakku..." ujar sang ibu dengan sangat memohon.


Gadis rubah berbulu merah itu terdiam. Menancapkan pedangnya yg penuh goresan ketanah.


Dia secara mengejutkan merubah bulu2 nya yg berwarna merah menjadi ungu, ekornya yg rupanya ada tiga tersebut juga berubah menjadi berwarna ungu.


Tangan kecilnya berusaha mengangkat batu besar dihadapannya.


"Jgn!!! Kau tidak akan kuat!!! Sia-sia saja, sebagian tubuhku sudah hancur...kumohon bawa saja anakku... kumohon". ujar sang ibu dengan penuh tangisan.


"DIAM KAU!!!" Bentak gadis majin setengah rubah itu.


*Bwwooshh*


Batu besar yg menimpa sang ibu mendadak berwarna hitam pekat dilapisi dengan aura ungu yg sangat tebal.


   *Zziiiiingggg*


Sebuah objek hitam berapi dilangit terlihat mengerikan dan bersuara nyaring mendekati mereka bertiga dengan kecepatan tinggi.


*Zapp*DHHHUUUAAAASSHHHHH*DHHHUUAAAARRR*


Dengan suara kuat. sang gadis majin itu, bukan mengangkat, tp melempar batu raksasa yg sudah dilapisi aura 'haki' miliknya ke arah objek yg bergerak.


Objek itu terkena batu tersebut dengan sangat telak dengan suara keras, dan akhirnya kembali terpental sangat jauh keatas.


Sang gadis rubah itu kemudian merubah warna bulunya menjadi berwarna putih kebiruan.


"PERHATIKAN KEMANA ARAH KAU MENYERANG SIALAN!!!" teriak sang Gadis Rubah dengan penuh amarah.


"Kau! Larilah bersama ibumu. Aku kulindungi bagian belakang kalian" ujarnya


"Tp kak... tubuh kakak sudah penuh luka dan darah seperti itu... apa tidak sakit??" tanya sang bocah dengan sangat polos.


"Ini tugas seorang prajurit!!! Tidak ada 'tapi-tapi'an. Lakukan apa yg kukatakan! INI PERINTAH!!!"


*Dhuuassssh*


Sang gadis rubah itu mengambil pedangnya dan kemudian melompat sangat jauh kearah objek yg telah dia pentalkan sebelumnya.


Sang ibu dan anak itu sempat terpana melihat 'penyelamat' mereka. Sang ibu kemudian menyadari entah sejak kapan rupanya setengah tubuhnya tidak hancur walau tertimpa batu besar seperti tadi.


Bahkan tubuh nya terasa lebih segar bugar ketimbang sebelumnya.Sang ibu nampak shock dan sadar akan sesuatu. Mereka pun segera kabur dan berlari. Sang ibu menggendong anaknya dengan segera.


"Gadis belia, manusia setengah rubah yg mengubah warnanya,majin berekor 3,memiliki tampang seperti anak umur 9 tahunan,pengguna pedang/samurai yg kidal, serta memiliki kemampuan 'ressurection' yg luar biasa...


Dia..." ujar sang ibu sambil terus berlari bersama putranya.


"Ibu kenal kakak tadi??" tanya sang bocah.


"Ya, nak...tp ibu baru pertama kali menemuinya langsung... dia orang yg terkenal, dan masyhur dimana-mana." ujar sang ibu dengan wajah yg terlihat masih shock.


"Dia kuat ya bu. Aku mengubah pikiranku... suatu saat aku ingin menjadi prajurit yg kuat seperti kakak dan kakak yg tadi supaya bisa melindungi ibu dan menyelamatkan banyak orang.


Mengangkat batu sebesar itu dengan mudah dan menyembuhkan ibu adalah cita-citaku mulai sekarang.


Aku pasti bisa lebih kuat darinya!!! Soalnya aku laki-laki!! Kata ibu anak laki-laki selalu lebih kuat kan bu!? Jadi aku pasti bisa lebih kuat darinya." ujar semangat sang anak.


Sang ibu tersenyum dan terdiam. Dia sangat berterimakasih kepada sosok yg telah menyelamatkan dirinya dan anaknya.


"Oh iya bu"


"Iya nak?" jawab ibunya.


"Katanya ibu mengenalnya...kakak tadi namanya siapa ya??" ujar sang anak dengan tatapan penuh penasaran.


Sang ibu tersenyum.


"Begitu kau tau namanya. Ingat baik-baik, dan jadikan dia idola sebagai motivamu menjadi kuat ya nak. Lampauilah dia. Ibu yakin kamu pasti bisa jika kamu berusaha dengan giat." ujar sang ibu.


"Ya.. baik bu" sahut sang anak dengan senyumam lebar.


"Ya... namanya adalah....


     Izuna Hatsuse..."  ujar sang ibu.


"Kak Izuna ya...suatu saat aku pasti melampauinya...nantikan itu ya bu" ujarnya dengan penuh semangat dan keyakinan dari seorang bocah berusia sekitar 6~7 tahun.


                  ....Bersambung.