
_H.A.T.E_
"Uhuk, uhuk!!" Ryuuzaki mulai sadar. Tebasan di dadanya cukup dalam sampai paru-paru nya hancur dan dipenuhi darah.
"Bodoh!! Jangan banyak bergerak kalau kau belum mau mati" ujar 'suara' seorang perempuan. "Bersabarlah, tunggu disana jangan mati dulu!! Begitu urusanku disini selesai aku akan kesana." ujar suara itu lagi.
"Kau sudah sadar??? nikmatilah proses kemamtianmu." ujar Aiko.
"..." Ryuuzaki terdiam. kemudian dia berbicara.
"Ini... suaramu..? Jadi kau ada disini ya...?" ujar Ryuuzaki lirih kepada suara 'itu', bukan kepada Aiko. "Ha... kau bicara dengan siapa??" tanya Aiko. "Bukan urusan mu, aku bicara dengan siapa... aku tidak akan... mati... melawan rubah... terkutuk sepertimu!!" ujar Ryuuzaki lagi.
"Kau cukup angkuh untuk seorang yang sedang sekarat. Kau membuatku berubah pikiran." Aiko menghela nafasnya. "Baiklah, tadinya aku ingin memberikan mu kesempatan merasakan rasa sakitnya sekarat dengan kondisimu yang sekarang. Aku berubah pikiran mungkin lebih baik aku mempercepat prosesnya agar aku bisa segera 'meneliti' kekuatanmu."
"Kau... uhuk... jangan... terlalu percaya diri... kau... akan menang!!!" ujar Ryuuzaki sambil berusaha bangkit.
*Jreebb* tanpa peringatan dada Ryuuzaki tertembus tombak merah milik Aiko. Aiko memandangnya sinis. Kemudian Aiko memutar tombaknya perlahan-lahan agar Ryuuzaki merasakan penderitaan yang amat sangat.
"AAARRRRRGGGGGGHHHHHHH!!!!!" Ryuuzaki berteriak histeris kesakitan. Tangannya berusaha melepaskan tombak. Namun percuma, dia kalah tenaga. Seluruh tenaganya sudah terkuras semua, terlebih dia juga sudah kehilangan banyak darah. Tidak ada yang bisa Ryuuzaki lakukan lagi selain berteriak kesakitan.
"UHUKK!! UHUK!! UHUK!!!" setelah sejenak berteriak keras karena kesakitan saat ini bahkan Ryuuzaku sudah tidak bisa bersuara lagi. Paru-paru, tenggorokan, kerongkongan nya sudah dipenuhi darah. Batuk darahnya sudah sangat parah.
"K... Kau!!!.... Si*l*n!!! Sial*n!!! B******!!! Bang***!!!" Ryuuzaki mulai mengumpat-umpat\, dirinya dipenuhi rasa keputusasaan\, kebencian\, dan amarah yang menelan pikirannya.
Aiko hanya melihat dengan tanpa ekspresi, sekilas mungkin dia terlihat seperti orang yang menikmati penyiksaan. Tapi dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun, matanya kosong teringat dengan masa lalunya.
"Huh! Kukira kalian adalah outsider yang memiliki kekuatan setara dengan salah satu dari para Kenja, tapi ternyata kalian setingkat catasthrope saja tidak" ujar Aiko
*zzraassshhhh*
Aiko mengangkar (menebas ke atas) tombak miliknya yang tertancap di dada Ryuuzaki sehingga dadanya terbelah.
"Selamat jalan!" ucap Aiko kepada Ryuuzaki terakhir kalinya.
****
*Brukk* tubuh Aiko ambruk\, dia cukup kelelahan setelah melawan Ryuuzaki begitu lama.
"Hah....hah...akhirnya(kelar juga idup lu asw) selesai juga urusanku disini... " ucap Aiko lirih.
"Aahh... ngantuk sekali... " gumam Aiko, matanya mulai terkantuk-kantuk. Dia mulai tertidur...
"... "
*DHUUAAARRRR!!!*
Tiba-tiba tempat Aiko 'tidur' meledak, ledakan itu membentuk kawah kecil. Debu bertebaran, menghalangi pandangan.
"Hebat juga kau berhasil menghindar!!" ujar seorang lelaki yang tertutupi oleh aura negatif,berwarna hitam yang pekat sambil menyeringai. Seluruh tubuhnya tertutup aura hitam pekat yang membuatnya sangat sulit untuk dikenali
Pria itu 'menusuk' tempat itu dengan memggunakan jari-jari tanganya yang dirapatkan. Namun saking kuatnya sampai menyebabkan ledakan yang membentuk kawah kecil.
"Fiuuhh!! Itu nyaris sekali. Untunglah aku memutuskan untuk menghindar. Sebenarnya aku malas menghindar dan awalnya hanya ingin menggunakan bushou untuk menahan seranganmu. Namun aku melihat aura kematian kalau tidak menghindar. Bukankah sejak awal aku sudah memberitahukanmu, bushou bukan keahlian ku, tapi kenbun ku yang kuat jadi tudak mengherankan kalau aku bisa menebak seranganmu barusan dengan mudah...
...Ryuuzaki.. " ujar Aiko.
****
"Jadi kau sudah menebak hal ini?" tanya Ryuuzaki merujuk pada perubahan dirinya.
"Ya, aku melihatmu dipenuhi dengan amarah, dan sesuatu yang dipenuhi oleh dendam.
Tidak perlu dendam padaku, aku hanya mempertahankan negaraku. Yang kulakukan sejauh ini hanya memprovokasi mu. .
Aku bermaksud membunuhmu dengan cepat tapi ternyata cukup sulit,dan sekarang kau 'kembali hidup' dengan kekuatan konyol yang kau miliki" ujar Aiko tenang.
"DIAMMM!!! KAU TIDAK PERLU BERALASAN LAGI!!! AKU BENCI KAU, AKU DENDAM PADAMU!! KAU BUSUK!! KAU MAKHLUK HINA YANG TAK PANTAS HIDUP!! KAU AKAN KUBUNUH!! KAU AKAN KUBUNUH DAN KU KUBUR KAN TUBUHMU SECARA TERPISAH DI BERBAGAI DAERAH!!! BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH, BUNUH!!!" Ryuuzaki kehilangan kendali dirinya.
Dia sudah dipenuhi oleh apa yang disebut 'kebencian', kebencian yang ada didalam ryuuzaki sudah sangat dalam dan kuat. Kekuatan yang didasari oleh kebencian memanglah sangat kuat tapi juga merusak orang yang menggunakannya.
Meski luka-luka luar Ryuuzaki telah sembuh, dadanya yang terbelahpun menyatu kembali, tapi di mata, kedua lubang telinga, hidung, dan mulutnya mengalir darah segar dengan deras.
"BUNUH!! BUNUH!! BUNUH!! BUNUH!! BUNUH!! MATI!! MATI!! MATI!! MATIIIIIII!!!!!!" Teriak Ryuuzaki 'menggila'.
*DDDHHHHHUUUUUUUUAAAAAASSSSHHHHH*
Ledakan aura gelap kebencian dari Ryuuzaki semakin menjadi-jadi.
".... " Aiko terdiam. "Enma... " dia mengacungkan tombaknya lalu muncullah lingkaran lalu dia mengubah tombak merahnya menjadi pedang katana berwarna.
"Fox bead!!" Lalu muncul lagi kalung 'tasbih' yang melingkar di leher Aiko.
"Seo....Yeou Guseol Awaken!!!". Cahaya tasbih itu pun bersinar. Pedang enma yang dipegang Aiko pun bersinar ungu.
" Iitoryuu, iai.... Tora gari!!!" (Teknik satu pedang, iai (nama perguruan) gigitan harimau)
Kuda-kuda Aiko memposisikan pedang di atas kepalanya lalu mencabut pedangnya dari sarungnya dengan cepat dan menebas horizontal dengan keras. Dari tebasan pedangnya muncul api biru berbentuk harimau raksasa yang seolah akan memangsa Ryuzaki.
*CTTRRAAANGGG* *DHHHUUUAARRR*
'Cakar' Ryuuuzaki yang sudah berevolusi beradu dengan pedang enma milik Aiko.
*DDDHHHUUUUAAASSSSSHHHHHH*
Aura keduanya beradu sehingga membuat cuaca sekitarnya kacau langitpun menjadi mendung.
"GYAHAHAHAHAHHAHA!!! MATI KAU MATI KAU!!!" Teriak Ryuuzaki lagi bagai orang gila. Kekuatan nya pun sangat gila. Aura pekat yang dia miliki bahkan membuat bebatuan di sekitarnya hancur dan mencair karena tidak kuat menahan tekanannya.
"Enbima Yonezu : Enma!!!" Muncul setan perempuan bertopeng dibelakang Aiko lalu setan tersebut bertarung sengit melawan Ryuuzaki.
"MENGGELIKAN!!! KEMAMPUAN YANG MENGGELIKAN!!! TIDAK ADA GUNANYA!!" lLalu setan api itu pun hancur berkeping-keping setelah terkena serangan beruntun dari Ryuuzaki.
".... Entei.... " ujar Aiko sambil melotot.
*ccrraaassshhhhhhhh* medan perang keduanya dipenuhi lava dari bebatuan dan tanah yang mencair saking kuat dan panasnya aura keduanya.
"GGYAHAAHAHAH..POWER OF HATE : AWAKENING!!!"
****
"!!!!, perasaan ini...aaarrrghhhh bocah ituuu!!!" ujar Suzaku kesal.
"Maaf nona bertopeng, pertarungan kita ditunda dulu sampai sini situasi telah berubah. Aku harus pergi! Bye!!!". Ujarnya sambil melompat kabur menuju arah Ryuuzaki
" Tunngu!! Jangan pikir kau akan kulepaskan begitu saja" ujar Shizue.
*ZRRRTAAAASSHHH*
Sebuah aura tebasan dahsyat yang hampir saja mengenai Suzaku.Membelah tanah dan membuat garis goresan ditanah yang cukup dalam.
"Ciih!!! Merepotkan!!!" Suzaku langsung mengeluarkan tombaknya, dan membalas serangan Shizu dengan cepat.
Keduanya bergerak dalam kecepatan yang abnormal. Di satu kesempatan Suzaku hendak memukulkan tombaknya ke arah kepala Shizue, namun berhasil ditangkis.
*Dddrttt\, ddrrttt*
Benturan senjata keduanya menyebabkan gempa kecil. "SIAL!!!" Suzaku semakin kesal karena ternyata dia kalah tenaga melawan Shizue yang sudah dalam mode Mankai nya.
"Final Gear!!! Awaken!!! cih tidak ada pilihan lain. Aku harus mengalahkanmu dengan cepat!! "
Suzaku memasuki mode awakening nya. Namun ternyata masih bisa diimbangi oleh Shizue.
"Ada apa kau begitu terburu-buru? Kalau gerakanmu kacau kau akan terbunuh dengan mudah olehku!" ujar Shizue.
"Bacot!!! Kau tidak perlu tau!!!" ujar Suzaku, dia semakin meningkatkan tenaga, dan kecepatannya. Suzaku ingin secepatnya menyelesaikan pertarungannya dan segera menuju tempat Ryuuzaki.
"cih!!! Untuk membunuhmu dengan cepat sepertinya dibutuhkan kekuatan yang dapat meleburkan bumi ini baiklah!!!" Lalu Suzaku melompat menjaga jarak.
"Menghancurkan bumi??? Coba saja kalau bisa!!" ujar Shizue memprovokasi.
"Mode mankai ku adalah Totsuka no Tsurugi!! Aku dapat melenyapkan senjata andalan musuh yang berjenis fisik maupun magis sebanyak 10 jurus. Tapi aku yakin kau tidak punya senjata andalan sebanyak 10 buah!!" ujar Shizue.
"Kau cukup baik sampai-sampai memberitahu kan kemampuanmu kepada musuhmu!!! Kau terlalu meremehkan ku!!!" ujar Suzaku.
"Baiklah rasakan ini!!!! Narayanastra!!!"
Suzaku melemparkan anak panah api ke langit dengan sangat kencang. Langit tersebut tiba-tiba berubah menjadi berwarna merah.
*Swiinggg\, Swiiiggg\, Swinggg*
Bak hujan, Tiba-tiba muncul ratusan ribu anak panah berapi yang efek ledakan satu anak panahnya saja dapat membuat kawah berdiameter satu kilo.
Semua anak panah itu mengarah kepada Shizue.
"Coba saja menghindari nya bodoh!!!" ujar Suzaku emosi karena dia terburu-buru.
*Zziiinggggggggg* *DHHHUUUUUUAAARRRR*
Shizue menebas kearah langit sebanyak tiga kali. Seluruh anak panah api tersebut meledak dilangit. Efek kilat tebasannya juga membuat awan menghilang dan langitpun kembali cerah.
"B******!!!! Dia bisa menghalaunya\, bahkan dia menyadari narayanastra milikku memiliki tiga lapis serangan." Gumam Suzaku.
"Brahmastra, Gundala!!!" Kali ini Suzaku melenting kan badannya dan melemparkan tombak api yang sangat cepat bahkan suara lemparannya berdenging sangat kuat.
*Ctrangggg\, Dhuuaarrrrr\, ZRRAAAASSSHHHH*
Tidak diduga Shizue berhasil menangkisnya dengan sebuah tebasan dahsyat. Tombak api itu terpental dan mengenai gunung,yang seketika itu juga gunungnya meledak dan mencair.
"AAARRRGHHHH MENYEBALKAN!!!! Kau akan kuhancurkan bersamaan dengan hancurnya bumi ini!!! Matilah kau!!! Kau akan merasakan api keputusasaan berkobar didalam dirimu!!!" Aku akan menggunakan senjata ultimate milikku!!"
"Oi, Oi,... Suzaku tenanglah ini seperti bukan dirimu saja. Kenapa begitu emosi? Kalau kau ingin menggunakan 'itu' bumi ini bisa saja terbakar." ujar seseorang lewat telepati.
Suzaku kaget dan refleks melihat kearah kirinya dimana tempat gunung batu itu mencair.
"Oh,memangnya kenapa Oroch.... i???" Suzaku terkejut apa yang dia lihat.
Gunung batu yang tak sengaja dia hancurkan menyingkap pertempuran antara Ayame dan Orochi.
Orochi sudah dalam wujud aslinya,sebagai seekor ular raksasa berekor dan berkepala delapan. Hal yang mengejutkan adalah tujuh dari ekor dan kepala Orochi sudah terpotong-potong. Tubuh Orochi juga babak belur, penuh goresan, memar, dan mengucurkan banyak darah. Beberapa bagian tubuh Orochi terbakar oleh api yang sepertinya tidak bisa padam.
Di depan orochi ada sebuah aura agak transparan raksasa yang membentuk boneka samurai raksasa yang memegang pedang. Didalam kepala samurai raksasa itu ada seorang gadis bertanduk yang memegang pedang berwarna merah. Mata kirinya terkena racun sehingga dia menutupnya karena tidak bisa digunakan untuk melihat lagi. Tubuh gadis itu pun terdapat banyak bercak-bercak ungu racun.
"Ayame...!!!" Shizue juga terkejut melihat kondisi Ayame yang mengerikan.
"Apa??? Bagaimana bisa? Bahkan kukira kalian tidak bertarung sama sekali. Seandainya aku tidak melihat nya denga mata kepala ku sendiri aku tidak percaya kau sudah bertarung sampai sejauh itu.
Dari awal aku tidak merasakan aura apapun dari kalian berdua. Bahkan kalau aku tidak melihatmu aku tidak yakin kau hidup. Aura mu dan gadis itu sama sekali kosong, aura kehidupan pun tidak ada!!". ucap Suzaku dalam telepati
" Haha... entahlah, gadis gila ini menutup area pertempuran antara aku dan dia menggunakan sebuah barrier yang dia sebut 'Danku', dengan 'Danku' ini aku bagaikan dalam sangkar. Selain serangan fisik, aura apapun tidak akan tembus mengenainya. Meski begitu ada batasan untuk membuat 'Danku' dan dia menggunakannya untuk membuat sangkar.
Jadi siapapun tidak akan merasakan aura apapun yang kukeluarkan. Aku pun tidak bisa merasakan dunia luar, seolah terisolasi namun tetap bisa dilihat. Setelah berbagai serangan gencar dariku dan serangan mu barusan sepertinya sedikit melemahkan sangkar 'danku' yang dia buat oleh karena itu aku bisa bertelepati denganmu" jawab Orochi juga melalui telepati.
"Tunggu, kenapa kau tidak meregenerasi tubuhmu? Kalau kau biarkan dirimu dalam kondisi terluka parah begitu kau akan mati" tanya Suzaku.
"Bocah itu... aku tidak menyadarinya padahal dia sudah memberitahukanku bahwa dia adalah musuh alami ku... " ujar Orochi
"Apa maksudnya??" Tanya Suzaku.
"Aku... adalah Yamata no Orochi. Yamata no Orochi adalah gelar untuk ular legendaris berekor dan berkepala delapan yang terkenal diberbagai penjuru dunia. Namun bukan berarti Yamata no Orochi hanya ada satu, leluhurku yang berasal dari dunia para dewa, mati ditangan seorang pendekar sialan yang bernama Susano'o no Mikoto. Dia memotong leluhurku dengan pedang bernama kusanagi no tsurugi dan menghabisinya dengan pedang bernama Ame no Habakiri.
Konyolnya di dunia dimensi lain ini pedang kusanagi no tsurugi dan ame no habakiri ternyata adalah pedang yang sama. Hanya saja memiliki mode penggunaan yang bertingkat. Gadis itu... mungkin adalah titisan dari susano'o, dia mewarisi kekuatan susano'o beserta pedangnya.
Kau lihat pedang merah yang dia pegang itu kan? itulah pedang yang dapat membunuh Ancient Dragon maupun Great Beast dengan mudah karena justru semakin kuat suatu yang dianggap monster maka semakin kuat juga pedangnya.
Aku beruntung masih hidup karena sepertinya dia kalah stamina denganku, beberapa bagian tubuhnya juga ada banyak bekas luka yang masih segar, dan regenerasi nya belum sempurna. Sepertinya belum lama ini dia melawan seseorang yang jauh lebih kuat darinya.
Kalau boleh kutebak dia ini kuat melawan monster namun lemah melawan manusia. Dia ini, bagai perwujudan setan yang sebenarnya. Sangat cocok dengan dua tanduk yang dua miliki.
Dia adalah natural counter untuk semua monster. Tidak mengherankan dia ditunjuk menjadi wakil divisi 12 yang senantiasa berada di garis depan seperti yang dia katakan.
Tapi hanya sejauh ini yang kutahu tentang dirinya. Dan sejauh ini dia hanya menggunakan satu pedangnya melawanku. Aku tidak tahu pedang satunya memiliki kemampuan apa.
Cukup berceritanya bagaimana kondisi mu? Sepertinya kau sedang emosi"
setelah menjelaskan banyak hal, Orochi balik bertanya kepada Suzaku.
"Cih aku terburu-buru. Ryuuzaki mengamuk, tapi bocah ini menghalangiku. Dari ceritamu sepertinya bocah bertopeng ini tidak seganas bocah bertanduk itu. Tapi kemampuannya sangat menyebalkan. Gerakannya tidak hanya sangat cepat tapi dia juga bisa membagi detik dan melakukan berbagai gerakan dalam satu waktu yang sama. Tapi entah kenapa dimode yang dia sebut 'mankai' nya ini dia tidak membagi detik lagi, namun dia memiliki daya dorong tebasan yang sangat luar biasa." jawab Suzaku.
"Oh!?? Jadi Ryuuzaki menggunakan 'itu'? Kalau begitu cepatlah. Sebelum dia menghancurkan dirinya sendiri." jawab Orochi.
"Ngomong-ngomong gimana kondisi Jormungandr dan Kuro? Aku tidak merasakan aura mereka berdua karena masih berada dalam sangkar transparan ini."Orochi lanjut bertanya.
"Entahlah... aku juga tidak merasakan aura keduanya. Tapi rasanya tidak mungkin mereka berdua akan kalah begitu saja. Mungkin mereka juga terkurung dalam sangkar sepertimu." jawab Suzaku
"Aku tidak yakin. Kuro lebih kuat dari kita, dan Jormundgadr adalah saingan dari Bahamut dengan kata lain dia juga lebih kuat dariku. Pasti ada sesuatu yang lain, firasatku mengatakan ada hal yang buruk" Orochi khawatir.
"Sudah kubilang tenangkan kepalamu... jadi.. apa kau akan menggunakan 'itu'?" tanya Orochi.
"Tentu saja!!!!" Suzaku berteriak.
"Hmm... apanya?" Shizue heran Suzaku tiba-tiba berteriak.
"Diam kau!!! Kau akan merasakan serangan pamungkas yang bahkan tidak pernah dipakai dalam peperangan maupun pertengkaran para dewa karena dapat menghancurkan bumi!!!" teriak Suzaku.
"Silahkan, coba saja!!!." balas teriak Shizue.
"Dasar bocah b***** kecil yang bermain-main ksatria. Sombong sekali kau" ujar Suzaku.
"Apakah aku bermain-main atau tidak... kau pastikan saja dengan tubuhmu!!" ujar Shizue.
*ZZZZUUUUUUUIIIIIINGGGGG*
Suzaku membentuk lingkaran api besar dilangit, dan muncullah Tombak yang dilapisi api yang berkobar.
Suzaku memegang tombak itu lalu sekitarnya pun berubah mencair nenjadi lava. Shizue melapisi dirinya dengan barrier transparan sejenis danku yang disebut A.T Field.
"Yah terserah kau saja lah Suzaku. Kalau memang itu maumu hancurkan saja bumi ini" ujar Orochi dalam telepati.
"Yohohoho~yohohoho~yohohoho~yohohoho~" terdengar seseorang bernyanyi.
"Mati terbakar lah oleh ini!!! BRAHMANDA!!! ASTRAAAAA!!!!!" Teriak Suzaku sambil melemparkan tombak itu jauh dari atas.
WWIIIIINGGGGGG,....
Bagai meteor jatuh tombak itu bergerak dalam kecepatan cahaya dan ukurannya semakin membesar.
"Ughh... " Shizue mulai gentar.
"Binks no sake wo..todoke ni yuku yo. (mengantarkan botol sake milik binks).
Umikaze kimakaze namimakase (Melewati lautan, mengikuti semilir angin,menaiki ombak)" suara nyanyian orang itu pun terdengar lagi
*Ziiinggggg*
Tiba-tiba saja keduanya (Suzaku dan Shizue)
masuk kedalam realitas marmer orang tersebut.
*PYAARRRR\, ZIIIINGGGGG*
"Apa!?? Tidak mungkin... Bramandra Astra menghilang???" Suzaku tertunduk lemas melihat 'hougu' miliknya terhentikan.
"Dimana ini...? ini... kapal bajak laut??"ujar Shizue yang ternyata berdiri disamping Suzaku.
"... " keduanya terdiam. Final gear Suzaku dan Mode mankai Shizue 'terbatalkan' keduanya seolah tidak memakai mode itu sebelumnya.
"apa-apaan ini? kenapa kita tiba-tiba memakai baju dan berada dikapal bajak laut?? Dunia apa ini??? hanya putih kosong sejauh mata memandang selain kapak ini" Suzaku mulai tenang dan berusaha membaca situasi.
"Shio o mukou de, yuuhi mo sawagu~
(kedalaman yang asin, mentari senja yang bahagia).
Sora nya wa o kaku,tori no uta~(Burung-burung bernyanyi dan membentuk lingkaran di langit)
*Bwaassshhh*
Tiba-tiba sejauh mata mereka ada lautan dan di depannya ada matahari senja, lalu diatas mereka ada burung-burung yang melingkar saling bercuit bersahutan bahagia.
"Ini suara nyanyian??? Violin???" Shizue dan Suzaku berusaha mencari sumber suara. Namun hasilnya nihil mereka tidak menemukan siapapun. Tapi suara nyanyian itu seolah dilakukan oleh banyak orang.
"Sialan!!! Dimana kau!!! Kalau begitu kubakar saja kapal ini!! " ujar Suzaku emosi.
"Tunggu, jangan gegabah kita tudak tau apa yang terjadi. Kau juga tidak tau apa yang akan menimpa kita berdua kalau membakar kapal ini. Sepertinya dunia ini mengikuti apa yang ada didalan lirik lagunya. Mungkin ada baiknya menunggu dan mendengarkan lagunya sampai selesai." ujar Shizue berusaha menghentikan Suzaku.
"Kau... seandainya kau membiarku menuju tempat Ryuuzaku segera, mungkin ini tidak akan terjadi." Suzaku mencecik Shizue dengan keras.
"Ya.. ya... terserah... aku menawarkan gencatan senjata dulu untuk sementara ini" ujar Shizue sambil pasrah dicekik oleh Suzaku.
" Huh baiklah..."
"Sayonara minato tsumugi no sato yo
Don to icchou utao funade no uta
Kinba ginba mo shibuki ni kaete
Oretachi ya yuku zo umi no kagiri
- Selamat tinggal pelabuhan kampung yang tercinta
- Mari bernyanyi bersama DON saat kapal mulai berlayar
- Gelombang emas dan perak berubah menjadi deburan air
- Kita akan pergi ke ujung lautan"
*Bwasshh*
Tiba-tiba dibelakang mereka muncul pelabuhan yang terdapat kampung disitu dan seolah kapal itu semakin menjauh darinya. Senja petang yang mereka liat tiba-tiba berubah menjadi _sunrise_ yang mengubah air laut terlihat seperti kilauan emas dan perak.
"Nautical Dusk??" ujar Suzaku.
"Ya.Kau cukup tau soal lautan rupanya" jawab Shizue.
"Binkusu no sake wo todoke ni yuku yo
•Warera kaizoku umi watteku
•Nami wo makura ni negura wa fune yo
•Hou ni hata ni ketateru wa dokuro (Mengantarkan sake binks.
•Kita adalah bajak laut yang mengarungi lautan.
•Ombak adalah bantal dan kamar kita adalah kapal.
•Bendera tenggorak bertengger diatas layar kapal kita)"
*Bwaashh*
Layar kapal berkibar, tampak lambang bajak laut. Ombak-ombak pun membawa kapal berguncang.
"Arashi ga kita zo senri no sora ni
Nami ga odoru yo doramu narase
Okubyou kaze ni fukare rya saigo
Asu no asahi ga nai ja nashi
•Badai akan datang dari arah langit nun jauh disana
•Ombak menari lalu bunyikanlah suara drum
•Jika kita diterbangkan oleh angin pengecut itu maka segalanya akan berakhir
•Tapi bukan berarti tak ada lagi matahari pagi di hari esok untuk kita"
*Bwaashh*
Muncul badai yang mengguncang dahsyat kapal sejenak, namun dengan cepat lagi-lagi cuaca berubah sesuai liriknya. Matahari muncul langitpun menjadi cerah.
"Yohohoho Yohohoho...
•Binkusu no sake wo todoke ni yuku yo
•Kyou ka asu ka to yoi no yume
•Te wo furu kage ni mou aenai yo
•Nani wo kuyo kuyo asu mo tsuku yo
(•Mengantarkan sake binks
•Entah hari ini atau esok kita akan bermimpi
•Tangan yang melambai pada bayangan, kita takkan bertemu lagi
•Apa yang kau khawatirkan ? Besok bulan purnama akan bersinar)
*Bwaashhh*
Muncul banyak drum-drum berisi sake. Lalu ada siluet seseorang melambai dari pelabuhan yang semakin menjauh itu. Hari tiba-tiba berubah menjadi malam dan memunculkan bulan purnama.
"Tunggu... lagu ini...kemampuan ini." ujar Shizue sambil menunjukkan ekspresi ketakutan.
"Suzaku!!! Tutup telingamu!!!" teriak Shizue.
"Ha...? Kenapa aku harus menuruti mu??" tanya Suzaku.
"Sial... A.T Field!!" Shizue membentuk bola pelindung agak transparan melindungi mereka berdua.
"Binkusu no sake wo todoke ni yuku yo
Don to icchou utao unaba no uta
Douse dare demo itsuka wa hone yo
Hate nashi ate nashi warai banashi
•Mengantarkan sake binks
•Mari bernyanyi bersama lagu lautan
•Tak peduli siapapun dirimu suatu saat kau akan menjadi tulang
•Kisah perjalanan lucu kita yang tanpa ujung dan tanpa tujuan"
*Bwasshhh*
Pelabuhan dibelakangnya tiba-tiba menghilang, sejauh mata memandang hanya ada lautan. Tulang-tulang manusia juga tiba-tiba berserakan di kapal itu. Burung-burung yang tadi melingkar dilangit juga terjatuh dalam wujud sudah menjadi tulang belulang.
".... " suara nyanyian itu menghilang dan suasana jadi hening. Keduanya tiba-tiba berpindah tempat, keduanya berada di kapal yang lebih besar. dek kapal nya sangat luas mereka berdua berada di tengah-tengah orang-orang yang memegang alat musik. Wajah mereka tertutup kertas yang bertuliskan 'shikigami' sepertinya mereka adalah manusia buatan yang bernyanyi barusan.
"Kau cepat tanggap ya. Seperti yang diharapkan dari bawahannya Gunji." ujar seorang lelaki berbaju hijau, baby face, dan tersenyum ramah. Dia duduk di atas tiang layar kapal itu memegang violin.
"Siapa kau???" tanya Suzaku.
"Aku??? Namaku tidak penting, tapi kalau kau ingin tahu aku orangnya seperti apa tanya saja orang yang disebelah mu. Dia sepertinya mengenal ku." Ujarnya sambil tersenyum.
"Toh dia selalu mengirim agen untuk mengamatiku, walau semuanya sudah kubunuh sih" ujar nya sambil tetap tersenyum.
"Siapa dia Shizue??" ujar Suzaku sambil menoleh ke shizue.
*Bruk*
"...." Shizue jatuh terduduk, tubuhnya pucat, keringat dingin mengalir dari sekujur tubuhnya. Topengnya tak sengaja terlepas, wajahnya menunjukkan ekspresi sangat terkejut dan ketakutan.
"B.... bagaimana... bis... a.." Shizue gemetaran.
"Hmmm... kau kenapa?" tanya Suzaku keheranan.
"Di... dia salah... satu..., tapi bagaimana bisa....orang sepertinya tiba-tiba muncul??"
"Jangan basa basi!!! siapa dia dan kenapa kau begitu ketakutan padahal kau juga kuat??" ujar Suzaku mulai emosi lagi.
"Dia...walau aku belum pernah bertemu dengannya tapi intel ku sudah pernah menceritakan ciri-ciri dan kemampuannya, namanya juga belum kuketahui.
Dia...
Kenja no Ishi : Song of Victory"
.... Bersambung.
(Credit song : One Piece, Binks no Sake. Lagu petualangan bajak laut, dinyanyikan oleh Brook)
Credit YouTube : https://youtu.be/ClnlNUOwRAg