
Tameng Pembalik
"Kau berpikir bisa langsung mengalahkan ku hanya dengan satu teknik aneh mu itu? Dasar naif" ujar Kuro.
"Kau berpikir bisa langsung mengalahkan ku hanya dengan satu teknik aneh mu itu? Dasar naif" ujar seorang yg lain dengan suara yg sangat mirip dengan kuro.
"!!???" Kuro terkejut.
"A... apa-apaan ini? Kloning kah?" ujar Kuro.
"A... apa-apaan ini? Kloning kah?" lagi-lagi suara itu terdengar.
Kuro kemudian mengamati sekelilingnya. dia baru sadar kalau dia berada disebuah ruang putih. Sejauh mata memandang hanya warna putih yg dapat dia lihat.
Kuro seakan melayang dia ruangan serba putih tanpa objek apapun yg dapat dia lihat.
"Ughh!!" keluhnya.
"Ughh!!" suara dirinya kembali ditiru.
"Se... seluruh tubuhku sakit. Apa ini? Aku tidak bisa bernafas... apa aku bernafas? Rasa sakit apa ini? Tunggu aku tidak merasakan apa-apa? Benarkah? Sakit? Tidak sakit? Yang mana? Lagipula sejak awal... apa itu rasa sakit?".
Seluruh indranya terganggu, Kuro bahkan kebingungan dengan apa yg dia rasakan. Sampai pada tahap dia tak bisa membedakan antara mati rasa dan rasa sakit yg luar biasa.
"Sunyi... sepi... perasaan ini?... apa aku...? Kesepian? Ketakutan? Tanganku... gemetaran... kesemutan? Apa itu tangan?" Kuro mulai kehilangan kesadarannya.
Meski Kuro secara perlahan mulai kehilangan kesadarannya. Dengan luar biasa Kuro mampu menjaga kewarasannya. Fokusnya yg sangat luar biasa membantu dirinya untuk tetap terjaga dalam kondisi yg tak dapat diolah oleh otaknya.
"Tanganku... aku merasakan cairan... basah... bau anyir darah... tp... aku tak melihat warna merah." gumam Kuro.
*Zapp!!!*
Kuro tiba-tiba terpindah kedalam sebuah ruangan kotak kecil hitam, dengan sekilat cahaya mengarah ke satu sosok yg ada didepannya.
"Zimi!!!"
Tepat persis didepan kuro Zimi berdiri dengan kepala agak tertunduk. anehnya Mode 'Nozarashi' yg sebelumnya dipakai Zimi tiba-tiba tereset dan kembali ke pakaian tempur pertama.
Tak pikir panjang Kuro langsung melompat dan berusaha menyerangnya dengan sebuah pukulan. Namun Zimi dapat menghindari nya dengan baik.
"Tinjuku... tak mengeluarkan anugerah apapun? Apa karena kita didalam kotak ini jadi pukulanku jadi selemah manusia biasa?" gumam kuro.
*Zapp\, dhuaassh*
Zimi dengan tendangan memutarnya membalas serangan Kuro. Tp Kuro berhasil menangkisnya dengan mudah.
*Zapp\, dhasss*
Zimi terus menerus melancarkan berbagai serangan kearah Kuro.
"....terlalu lamban... terlalu ringan... " gumam Kuro.
*Ziiinggg*
Kuro memunculkan pedang hitam di tangan kanannya.
*Zzraasshshh\, TRAAANGGG*
Sebuah pukulan menyilang mengarah ke Zimi. Namun dilain sisi Zimi juga mengeluarkan sebilah pedang dan menahan tebasan Kuro.
"Apa-apaan ini? Bukankah kalau tidak salah ini adalah salah satu jurus andalannya. Kenapa dia justru melemah secara drastis. Kemana kecepatan dan presisi yg dapat menghancurkan gunung dalam sekejap itu? Dengan kekuatan segini saja dia akan sangat kesulitan untuk mengalahkan ku" gumam Kuro.
"...." Zimi terlihat ingin berbicara.
Mulutnya bergerak, seolah memanggil nama kuro. Mulut Zimi seolah berbicara namun tak sepatah katapun terdengar darinya.
"Apa!!? Apa yg kau ingin sampaikan!?" tegas kuro. Sambil terus melancarkan serangan balasan ke Zimi secara gencar.
Zimi hanya mengeluarkan sebilah pedangnya. Dia memegang pedang dengan kedua tangannya. Kali ini gerakan Zimi cukup berbeda dengan sebelum-sebelumnya.
Ciri khas gaya tarung Zimi yg lebih luwes, energik,gerakan yg nekat namun efektif, serta mengincar langsung organ-organ vital berubah total 180 dejarat. Awalnya Zimi terlihat lebih bar-bar dengan dua bilang pedang besarnya.
Namun kali ini dia lebih terlihat disiplin dalam gerakannya. Lebih berseni, serta lebih teratur, berirama dan rapih.
Pandangan Kuro jadi hitam putih tak berwarna. Meski demikian hal kecil seperti itu tak mampu mengganggu gerakan-gerakan Kuro yg kuat, bertenaga dengan akurasi tinggi.
*Swwiinngg*
Sebuah ayunan pedang yg rapih dari Zimi berusaha menyasar kearah genggaman tangan Kuro.
*Bllllaaarr*
Kuro menghalau ayunan pedang itu dengan tangan kiri yg dia lapisi energi hitam pekat.
*Zrraaashhh*
Tangan kanan Zimi tertebas dan terputus.
Sebuah celah fatal terbentuk akibat pedang dan tangan Zimi terhempas kekanan sehingga meninggalkan bagian dada tanpa perlindungan.
Kuro dengan semangat melihat dada Zimi tanpa perlindungan dia langsung melapisi tangannya dengan zirah jiwa lalu menggunakan 'accel' dan 'boost' secara bersamaan untuk memperkuat tenaganya.
Pada sepersekian detik,Kuro sekilas melihat raut wajah Zimi yg terlihat sedih dan seperti ingin menangis. Mulutnya terlihat meneriakkan nama Kuro tp tak terdengar apapun.
"Memohon ampun sekarang? SUDAH TERLAMBAT!!!" gumam Kuro.
*DDDDDDDDHHHHHUUUUAAAARRR*
Kuro memukul dada Zimi yg tanpa perlindungan itu dengan sangat keras. Ruangan sayup-sayup cahaya itu seolah bergetar. Zimi tidak terpental,kakinya kokoh berdiri dalam ruangan itu. Namun karena saking kuatnya pukulan Kuro dada Zimi tertembus hingga berlubang. Tangan Kuro berhasil menembus dada Zimi hingga ke punggung. (kek donat lah ya)
Kuro yg merasa puas dan jijik langsung berusaha menarik tangannya yg menyangkut di dada Zimi. Zimi jatuh tersungkur setelah Kuro menarik tangannya. Darah mengucur deras dari tubuh Zimi. Sempat terlihat kejang sedikit lalu kemudian tak bergerak sama sekali.
"Mampus... matilah kau!!! Lihat apa yg kau terima kalau kau berani menantangku" ujar Kuro sambil menggeser mayat Zimi dengan kakinya.
Kuro kemudian merebahkan tubuhnya. Dia kelelahan, tp ada rasa yg mengganjal di hatinya.
"Aku sudah berhasil membunuhnya? Mudah sekali, tp kenapa aku merasakan rasa sskit di hatiku? Aku merasa bersalah? Tidak mungkin...." gumamnya.
Kecemasan dalam hatinya terus bertambah. Rasanya terlalu mudah, pasti ada yg aneh.
".....sebentar.... " gumamnya.
Kuro duduk kemudian mengamati lamat-lamat mayat yg baru saja dia bunuh. Saking cemas dan gelisahnya bahkan kuro sempat menepuk-nepuk mayat Zimi dan bertanya.
"Hey, kau tidak apa?"
Kuro merasakan sakit di dadanya juga, perasaan tidak enak ini sangat asing. Tp Kuro mengingat rasa sakit di dadanya ini pernah juga dia rasakan saat dia masih sangat muda.
Saking kuatnya rasa sakit dan tidak enak di dadanya, nafas Kuro jd terganggu. Sebelumnya dia berusaha menormalkan nafasnya, tp kali ini nafasnya menderu seolah-olah seperti kuda yg sedang berlari.
Pandangannya kabur, dan mulai sempoyongan. Kuro tak bisa berpikir apapun. Sampai pada akhirnya dia sama sekali tidak bisa melihat apa-apa dan hampir saja pingsan seandainya dia tidak segera menggigit tangannya sendiri untuk menjaga kesadaran.
Tiba-tiba muncul sesosok aneh tinggi kurus yg diselimuti api hitam entah darimana, dia tertawa. Tawanya menggema, dan menggelegar bagai petir yg menyambar-nyambar. Ketika dia bernafas dan bersuara. Terdengar seperti gemuruh badai yg menerjang.
Kuro ketakutan,emosi yg sangat jarang dia rasanya muncul semua dalam dirinya.
Dengan gemetaran hebat kuro memberanikan diri bertanya.
"S... siapa kau?..." ujarnya.
Kuro pucat, bibirnya membiru, tubuhnya mati rasa, matanya buram. Kedua tangannya bergetar hebat,lebih lagi tangan kiri yg dia gunakan untuk membunuh Zimi.
Dengan suara yg menggelegar dan menggema bagai suarah gemuruh, sosok itu menjawab.
"Aku adalah aku, kamu adalah kamu"
"Apa maksudmu?" kuro bertanya lagi.
"Aku adalah aku, sedang kamu adalah kamu" Dia mengulangi perkataannya hingga 3 kali.
"Barangsiapa yg tidak mengenali diriku dan dirinya sendiri. Bahkan tidak bisa membedakan mana diriku dan dirinya. Dia akan celaka" ujarnya.
Kuro waspada, dia merasakan aura kemarahan dan energi negatif mulai meningkat dan menyebar ke seluruh penjuru ruangan itu. Kuro kemudian bertanya lagi.
"Sialan,apa yg kau lakukan padaku? Aku kesulitan bergerak." ujarnya kesal
Sosok hitam itu tertawa terbahak-bahak dengan sangat mengerikan. Suara tawanya yg menggelegar itu sampai membuat ruangan menjadi bergetar hebat. Kuro benar-benar ketakutan kali ini.
Tanpa pikir panjang Kuro langsung menggunakan 2 NP nya sekaligus walau dia tahu akan sangat menguras energinya.
"Aegis!!! Dark dragon Excalibur!!!" ujar Kuro.
Ujar Kuro sambil mengarahkan telunjuknya kearah sosok hitam itu. Energi hitam terkumpul dan meledak saat dilepas oleh Kuro.
*Ctak*
Sosok monster aneh tinggi kurus itu menjentikkan jarinya.
"Void" ujar monster itu.
*Zaaapp*
Lubang hitam tiba-tiba muncul menyedot energi ledakan dari Kuro hingga tak tersisa. Kemudian tiba-tiba lubang putih muncul dan mengeluarkan energi hitam Kuro kearah kuro sendiri.
*DHUUUUAAAAARRRR*
Aegis kuro hancur akibat serangannya sendiri. Kuro kaget, dan dia merasakan hal yg juga dia jarang rasakan dalam diri nya. "Keputusasaan".
" Diantara semua orang yg dimasukkan kemari, kau yg terlihat paling lezat" ujar sosok itu.
*Zap*
Kuro terkejut, kuro sangat percaya diri dengan kecepatan dan kejelian matanya. Baru kali ini, pertama kalinya dia tidak bisa melihat sedikit pun gerakan sosok yg tiba-tiba berpindah ke sampingnya.
"Aku adalah dia, dia adalah aku, maka siapa kau?" ujar Sosok yg tinggi itu sambil tangan kanannya menunjuk mayat Zimi dan tangan kirinya menunjuk ke arah Kuro.
Sosok yg samar itu akhirnya dapat dilihat dengan jelas oleh Kuro. Tubuh monster itu seperti sosok orang yg sangat tua dan kurus,lengannya dan kakinya sangat panjang dan sangat kurus. Jari-jari tangannya ada 10 disetiap tangannya, sangat panjang, kurus dan berkuku tajam. Kakinya seperti kaki kuda dengan lutut terbalik dan telapak kakinya sangat lebar dan berkuku seperti velociraptor. Kepalanya mirip seperti kepala rusa dengan tanduk yg menjulang tinggi keatas.
Tinggi sosok itu mungkin bisa dibilang 5 kali lebih besar daripada Kuro. Melihat hal itu Kuro entah bagaimana kaku, dan bisa berkata apa-apa.
"Aku akan memakanmu kalau kau salah menjawab pertanyaanku!!!" ujar monster itu berulang-ulang hingga terus Mengghantui pikiran kuro.
Kemudian monster itu terdiam sejenak.
"Jika aku adalah dia, dia adalah aku, lalu kau siapa?" tanya makhluk besar itu.
Kuro tak menjawab karena shock dan ketakutan. Dia masih berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Dengan suara yg lebih besar sosok itu kembali bertanya kepada Kuro. Tp kuro tak kunjung menjawabnya hingga makhluk itu terus mengulangi pertanyaannya.
"JIKA AKU ADALAH DIA, DIA ADALAH AKU, LALU KAU SIAPA???" Tanya makhluk itu menggelegar hingga ruangan kembali bergetar.
Kuro memberanikan diri menjawab.
"K... k.. kuro dark.. dragon" jawabnya gemetar.
Makhluk itu kemudian dirasakan oleh kuro seolah sedang tersenyum. Ketenangan hati tiba-tiba didapatkan kuro saat merasa kalau makhluk itu tersenyum dan terdiam.
Hening seketika memenuhi ruangan. Makhluk itu terdiam cukup lama sehingga nampak seperti patung. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak lagi hingga ruangan kembali bergetar.
Kuro yg sempat tenang, kembali guncang dan ketakutan. Kali ini ketakutan yg dia rasakan jauh lebih serius daripada sebelumnya.
Makhluk itu kemudian bertanya lagi.
"Siapa dia!!!??? Siapa aku!???" ujarnya menggelegar.
Kuro paham apa jawaban yg diinginkan makhluk itu. Meski dia tak paham dengan maksud makhluk itu mengaku dirinya dan Zimi itu sama.
"Dia adalah kau, dan kau adalah dia!!!"
Makhluk itu spontan tertawa terbahak-bahak lagi. Kemudian makhluk itu terdiam dan menggerutu, giginya bergemeretak seolah-olah makhluk itu kesal.
Makhluk itu terlihat kesal dan sangat marah.
"Kau berpendapat seperti itu juga!?" ujar makhluk itu kesal.
Kuro tak paham apa yg diinginkan makhluk itu.
"Lihatlah!!! Lihatlah!! Lihatlah!!!" makhluk itu dengan kesal menunjuk tubuh Zimi yg sudah mampus serta mengulangi kata2 nya dengan sangat keras.
"MAKHLUK RENDAHAN INILAH YG MENGANGGAP DIRINYA SETARA DENGANKU!!! LIHATLAH!!! BAGAIMANA DIA MATI SEPERTI ANJING JALANAN!!! LIHATLAH!!! DIA BAHKAN BUKAN TUANKU!!! LIHATLAH!!! PAKAI MATAMU!!!"
Kuro yg tahu menahu apa maksud makhluk itu merasa sangat tertekan.
"KUBERI PERINGATAN DIAWAL!!! KALAU KAU SALAH KAU AKAN KUMAKAN!!!" ujar makhluk itu.
Kemudian dia dengan sangat cepat menangkap Kuro hanya dengan genggaman tangan kirinya karena saking besarnya tangan makhluk itu. Makhluk itu membuka mulutnya lebar-lebar. Mulutnya terbuka sangat besar bahkan tiang kastil bisa muat dimulut monster itu dalam sekali lahapan.
Kuro melihat dengan sangat jelas isi mulut monster itu yg rupanya berisi banyak bangkai busuk, ada juga orang yg masih hidup menjerit-jerit meminta tolong dengan tubuh yg rusak,didalam mulut monster itu seperti kolam penyiksaan yg berisi banyak monster lainnya juga. Dinding mulutnya penuh dengan gigi runcing seperti mulut hiu.
Saking ketakutannya Kuro mengucapkan hal yg belum pernah dia ucapkan.
"Sungguh tidak ada hal yg aku takuti dengan sebenar-benarnya ketakutan sepanjang hidupku kecuali ini. Maka ampunilah aku wahai monster."
Monster yg mendengar gaya bicara Kuro yg telah berubah karena saking ketakutannya. Kembali tertawa terbahak-bahak. Lalu mencengkram tubuh Kuro hingga beberapa tulang rusuknya patah. Lalu kemudian membantingnya.
"Akan kuampuni kau dengan satu syarat".ujarnya.
"Apa itu?" tanya Kuro.
"Sujud dan sembahlah aku." ujar Makhluk itu.
Kuro kemudian mengambil posisi hendak bersujud, namun tiba-tiba suara kecil terdengar dan membuatnya tertahan.
"Ja... ngan..." terbesit suara kecil.
"Ada apa!?" tanya monster itu.
Kuro terduduk diam, Kepalanya sudah tertunduk namun belum menyentuh lantai.
"Ja... ngan..." suara kecil itu memberikan ketenangan ke hati Kuro. Dia merasa kenal dengan suara itu.
Kuro kemudian mendongak dan mencari arah suara itu. Dia melihat kearah mayat Zimi.
"Zimi?..." gumam kuro.
Saat kuro kebingungan dia kemudian mengusap matanya lalu melihat dengan jeli sosok tubuh yg tergeletak itu.
"Itu...Ba...BAGAIMANA BISA!!!!TIDAK MUNGKIN!!!" Kuro terkejut dan Tubuhnya seketika langsung lemas kembali. Dia memukul dirinya sendiri. Dan meraung-raung.
"HIILLLDAAAA!!! SIALAANNNNN!!!! PANTAS SAJA!!! " Kuro meratap.
Tubuh yg tergeletak itu rupanya bukan tubuhnya Zimi(yg jd donat) tp ternyata adalah tubuh Hilda yg entah sejak kapan dia dimiripkan oleh ilusi sehingga Kuro mengganggap kalau Hilda adalah Zimi.
Monster itu terdiam lagi.
"Kau sudah menyadarinya.... pertanyaan terakhir" ujar monster itu.
"Jika dia adalah Hilda, kau adalah Kuro, lalu siapa aku!?"
Kuro terdiam, dia mengingat-ingat kembali perkataan monster itu, jangan sampai kali ini dia salah menjawab.
Kuro membuka mulutnya dan menjawab.
"Kau adalah...."
....Bersambung.