
Sentoumaru
"Kau adalah...." Kuro berusaha menjawab pertanyaan monster itu.
"JANGAN!!! JANGAN DIJAWAB!!!" Suara tegas terdengar dalam benak Kuro mencegahnya untuk tidak berbicara sedikitpun.
Kuro heran dan mencari arah sumber suara. Awalnya dia kira yg berbicara adalah Hilda. Tp tidak mungkin Hilda sudah 'jadi donat'.
Entah kenapa setiap kali Kuro mendengar suara itu hatinya selalu saja tenang, sejuk dan tidak lagi guncah jiwanya.
"Si... siapa itu?" gumam Kuro.
"Jangan dijawab pertanyaan monster itu!! Kau bisa mendengarkan ku? Kuulangi jangan sekali-kali kau menjawab pertanyaan terakhirnya!!" ujar suara itu semakin jelas dan semakin tegas.
"Kalau begitu bantu aku melawannya atau apapun itu bantulah aku!!" geram kuro.
"Bodoh!!! Jgn dilawan!! Diam saja disana!" jawab suara itu lagi.
"Kalau begitu aku harus berbuat apa? Kalau aku diam saja pasti dibunuh oleh monster ini. Siapa kau? Kalau kau tau cara menghadapi monsternya ini kemarilah dan tolong aku" ujar Kuro.
"Diam saja disana!!! Aku pasti akan datang!!! Semuanya tergantung padamu!!" ujar suara itu.
"Aku akan berikan instruksi selanjutnya sebisa mungkin hindari berbicara dengan monster itu. Larilah, abaikan Hilda" lanjut suara itu.
"Bodoh!! Laki-laki macam apa yg meninggalkan perempuan menjadi korban dalam perang konyol ini?" ujar Kuro kemudian berusaha bangkit.
*DDDHUUUUAAAASSHHHH*
Tepat saat Kuro bangkit sang Monster langsung menginjak tubuh Kuro dengan salah satu telapak kakinya yg besar.
"ARGGHH!!!" Kuro kesakitan.
"Sial... kenapa aku jadi sangat lemah seperti ini?? Hanya diinjak seperti ini saja rasanya seribu kali lebih sakit daripada dikubur hidup-hidup di dunia ku dulu" gumam Kuro.
"Bodoh!!! Jgn termakan ilusi sugestif. Kuatkan hatimu, karena kau sudah termakan ketakutan tubuhmu jd sangat berlebihan saat menerima rasa sakit? Bukan kah kau panglima perang!?? Bisa-bisanya kau melupakan pelatihan paling dasar dalam ilmu perang?" ujar suara itu me'roasting' Kuro.
*Kkrrakkkk*
Tulang-tulang kuro patah akibat diinjak dengan sangat kuat oleh monster itu.
*Ctak* Suara jentikan tangan terdengar
"Hinokiba!!!" ujar suara itu entah darimana.
*Bwooooossshhhhhh*
Api berbentuk kepala ular raksasa dengan dua taring yg sangat panjang tiba-tiba muncul dan berusaha melahap Monster itu.
Namun tepat saat hendak ditelan. Monster itu berhasil menahan mulut sang ular raksasa agar tak menutup. Namun karena efek dorongan yg kuat. Monster itu sampai terpental.
"Sialan... teknik ini..." ujar monster itu dengan suara yg menggelegar.
Kuro yg melihat monster itu terpental terkejut dengan teknik misterius.
*Zapp*
Tiba-tiba sebuah pedang katana yg sangat putih bersilau muncul di hadapan Kuro.
"Sekarang, tusuk jantungmu pakai pedang itu!!" ujar suara itu.
"Bunuh diri? Apa maksud mu? Bukankah seharusnya monster itu yg dibunuh?"
"Jgn banyak bertanya!!! Satu-satunya disini yg jurusnya mempan terhadap monster itu hanya aku!!! Kau tidak berhak berkomentar!!" geram suara itu.
Kuro membalas dengan sebuah kalimat yg membuat suara misterius itu jengkel.
"Bagaimana bisa aku tidak berhak berkomentar!!? ini soal masalah hidup dan matiku!?? Saat aku hampir mati kau tak kunjung datang, saat aku hampir bebas kau malah memintaku bunuh diri?!! Apa-apaan kau!? Jangan-jangan kau hanya bagian dari iblis yg berusaha menipuku dengan cara memberikan harapan palsu demi kebebasan yg kau janjikan? Begitu maksudmu!?? "
Suara orang itu pun menjawab tuduhan Kuro dengan jengkel dan suara keras. Saking kesalnya aksen bahasa yg digunakan nya pun tiba-tiba berubah drastis dan berbeda.
"MENYEBALKAN SEKALI!! KAU MAU BEBAS ATAU TIDAK!! PERCAYA SAJA DENGANKU DASAR OTAK UDANG!! DIAMLAH DAN MENURUTLAH!!! KALAU TIDAK AKU AKAN MENGGIGIT KEPALAMU BAYI NAGA HITAM BAU KENCUR!!!KALAU KAU SAMPAI MATI AKU TIDAK PUNYA MUKA LAIN UNTUK BERTEMU SI ANEH BERAMBUT BIHUN ITU".
Kuro pun terdiam, mendengar dari aksen dan gaya bahasanya dia baru sadar kalau suara keras itu milik seorang gadis perempuan yg masih kecil. Dan dari pemilihan kata ejekannya pun Kuro tau kalau orang ini sudah mengetahui siapa Kuro sebenarnya.
Dia tertegun dan setelah suara keras yg sangat jelas terdengar hanya oleh dirinya saja Kuro akhirnya mampu menebak siapa sosok sebenarnya yg sedang berbicara dengannya. Dia kemudian tersenyum dia tak menyangka akan bertemu dengan salah satu orang yg pernah membuatnya penasaran.
"APAAAN SENYUM2?? CEPATLAH SEBELUM MONSTER ITU BANGKIT LAGIII!!!" Ujar Suara itu masih jengkel.
"Maafkan aku...baiklah!!! Kupercayakan hidupku sepenuhnya kepadamu!!!"
Kuro langsung mengambil pedang putih itu lalu mengeluarkan nya dari sarungnya.
Kuro sempat ragu untuk menusuk jantungnya, dia memejamkan matanya. Lalu dengan kuat dia menusuk jantungnya.
*Zrrrassssshhhh*
"Tatsumaki!"
****************
Kuro masih memejamkan matanya, dia tak tahu apakah dia selamat atau sudah pulang ke alam kekal. Tak ada pilihan selain percaya,dan mempertaruhkan nyawanya sendiri ke tangan orang lain.
*Krrakkkk*kkkraakk*kkraakk*
*Pyyaaarr
Suara seperti bangunan retak terdengar sangat jelas dan keras. Dan suara retakan ditutup dengan suara seolah-olah seperti pecahnya kaca raksasa.
Kuro masih belum berani membuka matanya seluruh tubuhnya terasa sangat ringan, rasa sakit menghilang, luka-luka yg telah dia dapatkan terasa sembuh semuanya. Namun Kuro masih belum memastikan apa sebenarnya yg terjadi pada tubunya sendiri.
*BWOOOOOOSSHHHHH*
Kuro dilalap api yang panas namun tidak merusak. Kuro merasa tenang dan hangat, dia merasakan ketenangan jiwa dan kehangatan kasih sayang yg belum pernah dia rasakan sebelumnya. Tp lagi-lagi Kuro masih belum berani membuka matanya. Hingga pada akhirnya dia mendengar suara Zimi yg keras berteriak.
"Apa-apaan ini!!!!??? Apa kau masih belum puas juga berkhianat Rubah sialan!!!??? Pertama, kau lari dari kancah peperangan!!! Kedua, kau mengkhianati sumpah setiamu kepada Yang Mulia dengan meninggalkan tugasmu dan kabur ke tempat antah berantah!!! Ketiga, kau menjadi salah satu penyebab terpecahnya Catasthrope menjadi 2 kubu!!! Keempat,kau membuat kami para divisi 5 terfitnah seolah-olah kamilah yg berkhianat hingga akhirnya kami yg jadi buron!!!
Lalu sekarang apa lagi??? Kau berpihak pada Outsider dan berbalik menyerang ku!!?? Mereka ini adalah orang-orang yg kemungkinan masih ada hubungannya dengan para penculik Yui-sama. Menyingkirlah atau kau juga akan jd targetku, Rubah!!!" teriak Zimi.
Kuro membuka matanya dan melihat dengan jelas di depannya ada dua orang yg sedang saling berhadapan didepannya di dalam kawah yg sangat dalam dan lebar. Orang yg pertama ada Zimi, musuhnya sendiri. Namun mengejutkannya Zimi terlihat masih dalam mode 'Nozarashi'. Kuro awalnya mengira Zimi yg didalam ruangan misterius itu adalah Zimi asli yg sudah melepaskan mode nozarashi itu.
Kuro terkejut melihat tubuh Zimi banyak luka sabetan dan cakar walaupun masih dalam mode 'Nozarashi'. Padahal Kuro sangat mengetahui betapa besar dan kuatnya tenaga Zimi saat menggunakan mode itu.
Zimi menggunakan Knuckle grass yg terlihat sudah retak dan hampir hancur. Tubuh yg berdarah-darah serta nafas yg kelelahan.
Sedangkan orang kedua ada seorang gadis kecil yg ukuran tubuhnya lebih kecil daripada Zimi. Menggunakan kimono yg dibuka sehingga dia telanjang dada. Dada nya hanya tertutupi oleh perban merah darah yg pekat.
Gadis itu adalah seekor majin rubah yg memikiki telinga cukup besar,berekor 3,serta memikiki kuku-kuku yg terlihat sangat tajam. Selain kimono berwarna ungu, anak itu juga menggunakan aksesoris bandana kepala warna emas,tak beralas kaki.
Di samping sabuk kimononya terlihat ada dua buah tempat penyimpanan pedang(di sabuk khusus yg buat menggantungkan pedang ada dua cantolan) yg terlihat kosong. Rambut dan ekornya terlihat berganti warna dari hitam kemudian ke ungu, lalu berubah ke warna kuning.
Saat dirinya berwarna hitam, aura amarah dan energi negatif pekat muncul darinya. Saat berwarna ungu dia sama sekali tidak mengeluarkan aura, lalu ketika dia berwarna kuning. Auranya tercampur aduk.
Kuro yg mengamati hal itu langsung yakin dengan betul bahwa tebakannya pasti ini orang yg sebelumnya berbicara dengannya dan dia sangat tau/kenal dengan orang ini karena pernah diceritakan oleh sohibnya.
Si gadis kecil itu tangannya terlihat berdarah tp bukan darahnya sendiri. Melainkan darah Zimi. Seluruh tubuhnya mengeluarkan aura berwarna kuning dengan sangat kuat (anjay kek super saiya)
Gadis itu menjawab statement tuduhan Zimi yg sebelumnya.
"Diamlah!!! Aku sama sekali tidak melakukan apapun dari apa-apa yg kau tuduhkan!! Telah terjadi kesalahpahaman!! Minumlah!!,basahkanlah tepungmu. Lalu panaskan perapianmu!! Kejadian ini hanyalah akan membuat semua orang memiliki hutang" ujar Gadis Rubah itu
(maknanya,disuruh mundur (minum-minum, pesta, atau terserah apa saja yg disukai), disuruh istirahat (basahkan tepung artinya masak roti, makan,isi kembali tenaga dan tidur) , disuruh berdiam diri dirumah/di markas(panaskan perapian, artinya hangatkan kembali hubungan yg telah dingin, berdiamlah dirumah, tidak ikut campur urusan luar), lalu disampaikan 'kejadian ini hanya akan membuat seseorang memiliki hutang' (artinya perang ini hanya akan merugikan, karena biasanya orang perang mencari keuntungan dr harta rampasan. Tp jika dari perang mereka hanya akan mendapatkan hutang/beban maka artinya perangnya sangat merugikan.)
"Sialan!!! Jangan mengelak!!! Kau tidak pantas lagi untuk kembali!!! Outsider itu milikku,dia akan jd bahan percobaan ku. Orang yg telah mencabik-cabik harga diri catasthrope tidak pantas memberikan perintah kepadaku. Bahkan sebenarnya kau tidak pantas lagi untuk hidup.
Berterimakasihlah!!! Aku tidak akan mengincar lehermu(nyawa),dan membiarkanmu lepas. Saat ini aku tidak memiliki urusan apapun dengan mu!!" ujar Zimi dengan penuh emosi.
Si gadis rubah itu berbalik membalas kata2 Zimi. Dia sempat terdiam sebentar kemudian menyeringai.
"Harga diri catasthrope? Bukankah kau yg sudah mencabin harga diri catasthrope?" ujar gadis itu.
"MEMALUKAN!!! BISA-BISANYA KAU MENSUMMON IBLIS DENGAN TEKNIK MAJUTSUSHI (Sihir terlarang) SEDANGKAN KITA SEMUA ADALAH PENGGUNA 'MARYOKU',...Bukankah kita telah sepakat untuk memerangi para pengguna Majutsushi maupun Mahoutsukai? Dan kau malah menggunakannya hanya untuk bersenang-senang" Ujar gadis itu sambil menunjuk kearah monster yg sebelumnya muncul dihadapan Kuro. Monster itu sedang terikat oleh segel hexagonal berwarna ungu dan tidak bisa bergerak sama sekali.
Kuro menoleh ke samping kanannya melihat sang Monster itu tak bergerak sama sekali.
"Kuro,pergilah dari sini kearah selatan. Bawa Hilda dan berikan tubuhnya ke seseorang yg memiliki rambut hijau panjang dan membawa tongkat ditangan kanannya,serta membawa ransel besar berwarna coklat.
Biar kuurus sendiri mereka berdua" ujar Gadis itu.
*Zrrrtttt*
si gadis mengeluarkan dua buah gulungan dari 'inventory' tak terlihat nya. Masing-masing gulungan berwarna putih dan hitam kemudian membukanya. Dari gulungan putih dia mengeluarkan tubuh Hilda yg sudah jd 'donat', lalu dari gulungan hitam dia mengeluarkan belasan rantai yg kemudian menarik si Iblis masuk kedalam gulungan lalu dia membakar gulungan itu.
Kuro kemudian dengan cepat menangkap tubuh Hilda dan langsung kabur dari tempat itu, dia merasa kalau posisinya tidak lagi dibutuhkan disini. Kuro sama sekali tak memiliki informasi yg tepat bagaimana mengatasi Zimi. Sedangkan orang itu sepertinya sangat paham dan tau bagaimana cara mengatasi Zimi.
Kuro fokus pada keselamatan Hilda terlebih dahulu dan berniat akan kembali melawan Zimi setelah berhasil menemukan orang yg dimaksud.
*Bwwooosshhhh*
Tubuh gadis itu kemudian dilapisi api merah, dia menyeringai sehingga terlihat seluruh giginya merupakan gigi yg tajam, di sekujur tubuhnya tergambar suatu pola garis yg menandakan kekuatannya meningkat.
Bulu ekor dan rambutnya berubah kembali, kali ini menjadi berwarna merah. Kedua tangannya juga dilapisi api yg lebih pekat berwarna merah. (Btw dia tarungnya pake tangan kosong)
Zimi terlihat gusar, tp dia tak bisa berbuat banyak. Melihat gadis itu menggunakan mode yg tak biasanya Kuro, Zimi dan beberapa orang lain di medan pertempuran itu merasakan perasaan yg sangat tidak enak dan sangat mengganggu.
"Mode 'Yaseikitsune no Ikari' (kemurkaan rubah liar) ya? Seserius itukah kau menghadapiku?
...Izuna sialan!!!" geram Zimi.
....Bersambung.