The Visitor Series

The Visitor Series
Kuro & Hilda



                Kuro&Hilda.


"Denyut jantungnya semakin melemah. Jumlah 'anugrah' nya semakin menipis. Sial,aku harus segera membawanya" gumam Kuro.


Kuro berusaha berlari secepat mungkin ke arah yg sebelumnya ditunjuk oleh Izuna.


Dia mencari seorang perempuan berambut hijau berkacamata seperti yg telah disebut Izuna.


Dia terus berlari,dan berlari.


Dengan panik Kuro membawa Hilda di gendongannya. Hilda memiliki darah D.D yg terkenal akan kekuatan dan regenerasi tubuh. Tp lawan yg mereka hadapi saat ini berbeda dengan lawan2 yg pernah mereka temui.


Hilda terus saja kondisinya memburuk. Hal ini tdk dapat dibiarkan begitu saja,apapun yg terjadi diantara mereka berdua. Kuro tak ingin kehilangan keponakannya itu.


Dataran tandus gurun pasir yg landai mulai berakhir, akhirnya dia dihadapkan dengan bukit2 dan gunung2 batu terjal yg dia lewati


Kuro terus berlari sampai terlihat dihadapannya dinding yg membentang sangat lebar dari ujung timur ke ujung barat. Menunjukkan betapa panjangnya dinding pertahanan itu dibangun.


Di balik dinding terlihat lapang luas yg berdiri kemah2 disana. Ada satu bagian dinding yg rusak.


Pasukan garnisun berjaga didaerah dinding yg rusak itu. Bantuan medis dan relawan ikut mendirikan kemah darurat.


Sepertinya daerah ini sempat terkena serangan.


Tanpa pikir panjang Kuro langsung berlari mengarah ke petugas medis. Harapannya saat ini hanya satu, memulihkan kembali kondisi Hilda.


            *************


   Sementara itu di depan tembok/dinding pertahanan raksasa itu...


Berdiri 3 Orang berpakaian militer yg terlihat cukup berbeda dari para penjaga lainnya,juga beberapa medali tersemat di dada dan lengan kanan mereka bertiga sudah cukup memandakan kalau merekalah para pemimpinnya.


Meski demikian warna pakaian mereka berbeda-beda,satu orang perempuan berpakaian hijau gelap,satu orang laki-laki berpakaian warna kuning dengan bandana tangan berwarna putih dgn tanda "+",dan satu orang terakhir yg berpakaian serba hitam dengan logo di dada berbentuk perisai.


"Letnan satu Ibuki,ada sinyal kode terbaru dari  resimen 145,batalyon infanteri ke-72,yg dipimpin oleh Letnan satu Jouei" ujar seorang laki-laki yg berpakaian serba hitam kepada perempuan berpakaian serba hijau itu."


"Silahkan dibacakan sersan, Sissoko" ujar Ibuki.


"Harimau,kaca,Jeruk" ujar Sissoko.


"Ada informasi lainnya?" tanya Ibuki.


Sissoko memperhatikan catatannya yg hanya bertuliskan beberapa titik dan garis.


"dan...'Gajah' itu saja" ujar Sissoko.


"Bagaimana denganmu Varane? Ada laporan terbaru mengenai pertempuran para petinggi,dan evaluasi kondisi sekarang?" tanya Ibuki ke pria yg berpakaian serba kuning itu.


"Ada laporan lengkap mengenai pertempuran petinggi saat ini.


Dilaporkan Guardians sudah dikerahkan untuk meredam pertempuran yg berkepanjangan,pasukan yg ditempatkan dekat dengan posisi dilarang keras ikut campur. Detail informasinya sangat dirahasiakan,intel divisi kita jg diminta untuk tdk beroperasi sementara. 'Demi kebaikan bersama'


Lalu untuk situasi saat ini. Obat2an dan pasokan bahan pangan bantuan sudah sangat mencukupi hanya saja kita harus segera meninggalkan tempat ini,dan merelokasi imigran ilegal ini. Cepat atau lambat meski kita memberikan bantuan kemanusiaan,pihak kerajaan ttp menunjukkan ketidaksukaan terhadap para imigran gelap.


Kita diminta untuk secepat mungkin merelokasi mereka ditanah tak bertuan di daerah subur di hutan Wilfg,agar tak menyebabkan banyak masalah kedepannya." jelas sang pria yg merupakan petugas medis itu.


"Ada komando lanjutan,Letnan Ibuki? Catasthrope Alice Zuberg telah mempercayakan region ini kepada anda,dan menunjuk anda sebagai komando umum disini, memimpin para Garnisun dan pasukan divisi 7 untuk sementara." Ujar Varane si pria petugas medis.


"Baik,Sissoko mobilisasi sebagian pasukan. Harimau berarti Utara,Kaca memiliki arti dia tak menemukan ancaman apapun tp memiliki banyak celah yg cukup riskan,jeruk berarti senja. Bantu dia di region tembok kode-C26.


Sepertinya posisi Izuna-sama dan Zimi-dono berhasil terendus oleh mereka. Tp ingat kita hanya berjaga di perbatasan berusaha untuk tidak membiarkan Outsider melewati garis tembok. Jgn sampai terlibat pertempuran yg tdk perlu."ujar Ibuki.


"Siap, Laksanakan!!" ujar Sissoko yg dgn sigap memberi hormat lalu langsung mengumpulkan sebagian pasukan untuk mengarah ke Utara.


"Maaf bukankah,Harimau menunjukkan ke Arah barat?" ujar Varane.


"Itu makna kode yg sering digunakan oleh Ninja,dan pasukan elit zaman kekacauan antar klan,Jouei lebih sering menggunakan makna kode yg lebih klasik dan kuno. Digunakan oleh para Samurai di zaman awal2 mereka muncul" ujar Ibuki yg sedang menandatangani dokumen yg dibawakan ajudannya.


Dokumen berstempel resmi sebagai surat pegangan resmi untuk Sissoko menjalankan komando.


Saat Sissoko hendak berangkat bersama sejumlah pasukan yg telah dia kumpulkan. Tiba-tiba dia berlari menuju Ibuki.


"Letnan satu!! Letnan satu!!! Interupsi!" ujar Sissoko dgn panik.


"Ada apa,Sersan? Tak perlu panik seperti itu" ujar Ibuki.


"Dari arah dua bukit itu. Lihat ada seseorang berlari mengarah kita"ujarnya sambil menunjuk sosok.


Seorang sosok pria berpakaian serba hitam,penuh luka,pakaian lusuh,menggendong seorang perempuan yg pingsan. Pria itu berlari sambil memperlakukan perempuan itu dgn sangat hati-hati seperti barang yg ringkih.


Kecepatan larinya tdk normal,bisa dipastikan dia bukan prajurit biasa. Dia juga tak memiliki emblem yg menjadi identitas diri.


Sontak Varane,dan Sissoko membuat panah dan anak panah dari molekul 'mana' milik mereka berdua. Tak hanya mereka berdua,hampir seluruh pasukan mengarahkan anak panah mereka ke pria yg sedang berlari itu.


"Perintahmu Letnan. Kami siap menumbangkannya." ujar Sissoko.


"Tahan!!! Turunkan senjata kalian." ujar Ibuki.


"Turunkan senjata kalian,ini perintah letnan!!" ujar Varane dan Sissoko melanjutkan komando.


Sontak semuanya menurunkan senjata mereka.


Ibuki perlahan berjalan menuju pria yg tak dikenalnya itu.


Seorang prajurit datang mendekat ke Ibuki lalu berbisik.


"Letnan, sepertinya dia termasuk dari Outsider itu. Anggota yg berasal dari ras majin merasakan aura yg tdk normal darinya dan lagi jumlahnya sangat besar"


"Iya,biar aku yg bertanggung jawab" balas bisik Ibuki.


"Varane,siapkan tenda medis khusus untuknya dan gadis yg dia bawa,Sissoko tetap lanjutkan perintahnya"


"Tp letnan. Siapapun tau kalau dia termasuk Outsider!!!,auranya tdk normal. Dan lagi dia sepertinya orang yg dilawan para petinggi" ujar Sissoko panik.


"Jd,apa yg akan kau lakukan? Balik menyerangnya? Jika dia adalah Outsider seperti yg kau katakan. Jelas kita tdk punya harapan untuk menang melawannya.


Bawa sebagian besar pasukan pergi dari sini. Sisanya akan menunggu bala bantuan dari resimen-resime lain. Laporkan kondisi kita,kondisi 'rusa'.


  Varane setelah menyediakan layanan medis. Perintahkan seluruh anggota medismu pergi dari sini. Mengarahlah ke selatan. Berlindung di balik benteng. Kau sendiri tetap disini bersamaku.


Firasatku mengatakan kalau benteng tua kosong itu sedang dijaga oleh pasukan kita karena pertempuran para petinggi untuk menghindari perluasan area konflik." jelas Ibuki.


"Ada yg keberatan?" tanya Ibuki lagi.


"Tidak." ujar keduanya dengan sigap.


"Kalau begitu.. laksanakan!"


"Baik!"


                ********


Seorang pria berlari sekuat tenaga mencari pertolongan demi keponakannya yg sedang dalam kondisi kritis.


Tubuhnya sudah kelelahan,pandangannya mulai kabur. Dia tidak menyadari sejumlah pasukan mulai berbaris rapih meninggalkan tempat mereka mengarah menuju utara.


Hanya menyisakan dua orang saja di didepan dinding dan kemah2 darurat.


"Tolongg!!! Tolongg!!! Tolong!!! Tolong bantu aku!!!" ujar pria yg tak lain tak bukan adalah Kuro itu sendiri.


Dua sejoli itu menghampiri Kuro.


"Wahai pengembara,siapa namamu? Apa keperluanmu?" tanya Ibuki dengan nada lantang sambil terus berjalan mendekat.


"Namaku Kuro,tolong!! Gadis ini sedang kritis." ujar Kuro sambil terengah-engah.


Singkatnya kedua pihak akhirnya bertatapan.


"Sini,biar kubawa dia" ujar Varane.


"Tidak,biar kugendong saja" ujar Kuro waspada.


Varane dan Ibuki saling bertatapan.


"Baiklah,tp kita perlu tahu kondisi dia seperti apa. Ikut kami,kita akan memeriksanya di tenda medis disana." ujar Varane.


Kuro,Ibuki,dan Varane berjalan mengarah tenda medis dgn beberapa perawat yg tersisa disana.


Hilda kemudian direbahkan di kasur lalu dibuka sebagian pakaiannya untuk melihat luka-lukanya. Kuro sempat gusar melihat Hilda dibuka pakaiannya sehingga setengah telanjang dan dipasangi alat yg aneh2 oleh Varane.


"Hei apa2an itu!!!" ujar Kuro sambil menarik tangan Varane saat ingin melepas rok Hilda didepannya.


Ibuki balas menarik badan Kuro,dan memintanya duduk tenang.


"Tenanglah!!! Kita tau apa yg kita perbuat!!".


"Letnan,tak apa. Kuro,kalau begitu kau saja yg membukanya. Tolong di cek apakah ada bagian di paha atau betisnya yg memar biru atau ungu. Aku mau menyiapkan infus darah dulu. Dia sudah kehilangan banyak darah." ujar Varane yg kemudian mencuci alat2 medisnya dengan air hangat.


Kuro dibantu Ibuki melepas Rok Hilda dan mencari memar-memar di pahanya. Dan memang, rupanya terdapat beberapa memar berwarna ungu di paha Hilda.


Ibuki refleks menyentuh sisi2 memar di paha dan betis Hilda yg sedang pingsan.


Kali ini Kuro tak menarik tangan Ibuki. Karena Ibuki dan Hilda sama2 perempuan.


"Fracture,atau Break?" tanya Varane.


"Masih kuraba,masih belum jelas" ujar Ibuki dengan wajah yg sangat fokus.


"Permisi..." ujar salah seorang perawat yg menempatkan dudukan infus cairan.


Lalu perawat itu memegang tangan kanan Hilda lalu menusukkan jarum infus kemudian diperban. Mata Hilda dibuka paksa oleh sang perawat perempuan itu lalu dia amati. Tak hanya mata,mulut Hilda jg dibuka,lidahnya dipaksa keluar untuk di cek warnanya.


"Pucat sekali...,wajahnya juga mulai membiru,detak jantung melemah. Apa kita perlu beri oksigen tambahan Dok?" ujarnya mengarah ke Varane.


"Ya,siapkan saja,sama tolong sekalian siapkan Defibrillator,kita tdk bisa ambil resiko." ujar Varane.


"Baik"


"Fracture..." Ibuki menjawab dengan wajah kecewa.


"Susah juga ya...apalagi diposisi dekat ************." ujar Varane sambil menghembuskan nafas kecewa.


"Perawat tolong kerjakan sisanya ya. Untuk Defibrillator dinyalakan dulu, Tambahan oksigen juga dipasang,untuk operasi fracture tulang dan penjahitan ototnya serta infus darahnya kita urus setelah ini." ujar Varane.


"Kuro,ikut kami dulu sebentar ya."


Kuro kemudian mengikuti Varane dan Ibuki ke tenda utama. Disana dia duduk di sebuah kursi tamu didepannya ada meja dan ada 2 kursi lain yg duduk disitu Ibuki dan Varane.


Beberapa pertanyaan riwayat medis ditanyakan oleh Varane. Juga dia minta persetujuan untuk meminta informasi golongan darah Hilda.


Data2 Hilda dan Kuro ditanyakan demi keperluan medis. Kuro juga dimintai persetujuan untuk diambil darahnya sebagai penyuplai darah untuk Hilda


Sebenarnya pertanyaan2 yg dilontarkan beberapa merupakan pertanyaan jebakan. Namun Kuro tak peduli dan menjawab semuanya dengan santai.


Dari jawaban2 yg keluar dari mulut kuro. Keduanya tak ragu lagi kalau Kuro memang seorang Outsider.


Kuro kemudian dijelaskan kondisi Hilda yg sangat kritis serta memerlukan operasi fracture bone,serta defibrilasi jantung.


Kuro diminta menandatangani surat persetujuan tindakan yg beresiko. Awalnya Kuro tak setuju saat hendak diambil darahnya. Tp setelah dijelaskan berkali-kali akhirnya dia rela untuk diambil darahnya.


Mereka bertiga kembali ke kemah medis tempat Hilda dirawat.


Kuro diambil darahnya ditemani oleh Ibuki. Secara diam2 Ibuki mengambil sampel darah berlebih dari Kuro dan memasukkan nya kedalam tabung kecil untuk penelitian.


Darah Kuro yg telah terkumpul sekitar setengah liter itu kemudian diinjeksikan ke Hilda.


Kuro kemudian disuruh menunggu diluar bersama Ibuki. Operasi dijalankan. Alat2 pendeteksi denyut jantung dipasang di Tubuh Hilda. Pengangkatan Tulang yg pecah dan penyambungan kembali tulang dengan pemasangan pen berjalan lancar. Paha dan betis Hilda kemudian dipasang gips.


Untuk sementara Hilda dilarang untuk berdiri,bahkan untuk sekedar duduk.


"Ibuki!! Masuklah!" ujar Varane dari dalam.


"Ada apa?" ujar Ibuki yg langsung masuk.


"Bagaimana operasinya?" tanya Ibuki.


"Lancar...tp seperti yg kita duga. Kita tak bisa berbuat apa-apa dengan jantungnya. Denyutnya terus melemah. Kita butuh pengobatan non-medis,jantungnya terkena paparan energi 'mana' yg kemungkinan berasal dari Perwira Patricia Veronica yg turut andil dalam perang ini.


Pemasangan pen itu akan menghambat regenerasi sel nya. Suplai darah berlebih terutama dengan kandungan 'kekuatan' aneh sebesar itu akan berhasil membebani tubuhnya.


Kurasa ini waktunya..." ujar Varane.


"Baiklah...'itu' ya?" ujar Ibuki sambil melihat ke cincin emas yg kemudian dia pasang di jari manis kanannya.


Kuro mulai curiga dengan apa yg mereka lakukan didalam. Instingnya mengatakan ada suatu hal yg salah.


Perawat2 yg sebelumnya mengurus Hilda terlihat terburu2 meninggalkan kemah dan langsung menghilang tak terlihat. Hanya menyisakan Ibuki dan Varane dalam kemah.


Kuro langsung merangsek masuk kedalam kemah.


Alangkah kagetnya dia melihat Hilda kejang-kejang dengan Hebat,tubuhnya membengkak,mata,telinga,mulutnya mengeluarkan darah. Tiga buah suntikan injeksi otomatis terpasang di tangan kirinya.


Tak perlu berpikir banyak,Kuro tahu tiga injeksi otomatis itu semuanya suntik mati. Lethal Injection.


Shock melihat pemandangan itu,Kuro terjatuh diatas lututnya dengan mata terbelalak. Tak sadar Ibuki memegang lehernya. Cincin Ibuki memiliki ujung kecil yg tajam.


"Tenanglah,itu hanya tindakan medis." ujar Ibuki sambil menepuk-nepuk leher dan pundak Kuro.


  Menusukkan sebuah racun yg sangat kuat melalui leher Kuro dan langsung melumpuhkan tubuhnya,atau... setidaknya harusnya itulah yg terjadi...


Namun terkadang hidup tak semulus apa yg direncanakan.


  Kuro mengamuk,dengan amukan yg langsung meledakkan area perkemahan hingga belasan kilometer jauhnya. Sementara itu,Hilda dia terus peluk dengan erat dan dia tangisi.


Tak jauh dari situ,seorang perempuan 'mengevakuasi' Varane dan Ibuki dari ledakan dahsyat yg disebabkan oleh Kuro.


    "Kalian berdua salah sasaran" ujar seorang perempuan rambut Hijau yg datang melindungi Ibuki dan Varane dengan perisai energi nya.


  "Liat akibatnya..." ujarnya sambil menghela nafas.


"Maafkan kami...Drees Ryad-Sama" ujar Ibuki dan Varane sambil berlutut.


"Tak apa, lagipula aku terlambat.


Kuro Dark Dragon,dan Hilda Dark Dragon ya? Sepertinya mereka yg dimaksud oleh Izuna-Sama"


     Hilda mati? Kuro mengamuk? Akankah situasi bertambah parah atau justru membaik? Kali ini sang "Healer" terbaik milik organisasi telah muncul atas perintah Izuna,erusaha membantu menormalkan kembali keadaan.


                   ....Bersambung.