
Penjelasan, Kejelasan
Disuatu tempat di padang batu, tampak seorang anak perempuan berbaju merah, berambut krem sedang terduduk menatap dengan serius kepada seorang pria yang berdiri didepannya. Pria dengan ciri rambut putih dengan kulit sawo matang tersebut sedang menjelaskan sesuatu yang nampaknya membuat seorang anak gadis itu tertarik.
"Bla.. bla.. bla.. " Pria tersebut terus saja mengoceh, dan sesekali gadis itu bertanya. Setiap pertanyaan dijawab dengan panjang lebar agar sang gadis itu paham secara mendetail.
"Hmmppphh...Bwa..hahahahahhaha" Gadis itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak bagai orang mabuk yang mendapatkan hal lucu didepannya. Ya mereka berdua adalah Gin dan Rukaman. Gin menanyakan banyak hal kepada Rukaman ttg maksud dan tujuannya datang ke 'dunia' nya. Nampaknya bagi Gin, adalah hal yang konyol bila datang untuk bertamu namun tidak menyampaikan nya kepada tuan rumah. Lagipula hal tersebut malah mendatangkan musibah bagi Rukaman dkk.
Perbincangan tidak selesai disitu, Gin terus saja menanyakan latar belakang Rukaman. Rukaman menjelaskan dan menceritakan semuanya, dimulai dari suatu hari dimana dia masih bagian dari negara D.D, Total War, Teman-teman seperjuangannya, kisah mati suri nya, kisah petualangan murid-murid nya,sampai dimana dia menjadi buronan dan dimusuhi dunia.
Setelah begitu banyak cerita dan penjelasan ,Gin masih belum puas. Kali ini dia menanyakan perihal hubungannya dengan Izuna-sama. Rukaman pun menjelaskan dari awal dia terjebak dalam dunia 'Q', pertemuannya dengan Kelompok-kelompok yang juga terjebak sepertinya, kisah-kisah konyol mereka dari disuruh melawan 'aldebaran' sampai menyelesaikan quest di taman bermain dekat pasar tradisional. Rukaman juga menceritakan kisah mengharukan yang mereka hadapi, serta beratnya perpisahan diantara mereka. Diakhir ceritanya Rukaman menyatakan walupun kedatangan mereka sedikit membawa kerusuhan, namun dia tetap merasa bersyukur dia memiliki kesempatan walaupun sedikit untuk kembali bertemu dengan orang-orang yang pernah jadi 'teman bermain' dan 'rekan seperjuangannya' walau hanya sesaat.
Gin memperhatikan Rukaman dengan seksama. kata demi kata dia perhatikan dan resapi. Percakapan diantara mereka berdua sudah seolah percakapan antara ayah dan anak perempuan semata wayangnya. Penuh perhatian dan saling mengerti, sesekali keduanya bersenda gurau. Pertarungan sengit mereka berdua sebelumnya seolah tidak pernah terjadi.
***
"Jadi begitu...aku paham posisimu dan siapa dirimu sebenarnya sekarang" ujar Gin. "Bagaimana? Mau menghentikan pertarungan, nak?" tanya Rukaman. "Aku bukan anakmu haha...dari seluruh ceritamu dan runtutan kejadian yang ada sepertinya memang bukan hal yang dibuat-buat. Tapi..." , "Tapi apa?" ujar Rukaman sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Gin kembali berdiri. "Tapi sebagai sesama temannya Izuna secara pribadi aku tertarik akan suatu hal... kau harus membuktikan dirimu" ujar Gin sambil menjabat tangan Rukaman lalu berdiri.
".... hah... " Rukaman menghela nafasnya sambil memandangi tangan mungil yang dia jabat. Dia seakan tidak percaya bahwa bocah kecil didepannya sudah menjadi seorang 'Catasthrope'. Memandang dengan prihatin, Rukaman merasa kasihan terhadap Gin dimana diumur sebelia itu sudah harus merasakan kengerian dan pahitnya perang.
"Apa lagi yang harus kubuktikan sih...? merepotkan sekali.. " gumam Rukaman. "Ok, Gin apalagi yang harus kubuktikan?" tanya Rukaman. "Itu... tentu saja, kemampuanmu, kan?", "kemampuan apa? kau ingin bertarung lagi? Baiklah, biar adil gimana kalau aku tidak perlu menggunakan senjata, dan aku tidak akan mengambil kekuatan mu, gimana, Gin?" tanya Rukaman.
"Hmmm... oke, tapi bagiku kau tidak akan mengambil kemampuan ku saja sudah sangat cukup. Tenang saja aku juga akan bertarung melawanmu dengan tangan kosong. Kau boleh menggunakan kemampuan yang sebelumnya sudah kau rebut tapi mulai dari pertarungan baru dimulai kau tidak boleh merebut kemampuan orang lain lagi" Tanggap Gin. "Hah!? Tangan kosong? Kau? Dengan tangan semungil ini? Hmmppphh... " Rukaman mendekatkan tangan Gin ke pandangan sambil memperhatikannya,dia hampir saja tertawa seandainya tidak khawatir Gin akan tersinggung. "Ka.. kau tidak perlu me.. meremehkan ku sejauh itu Rukaman..haha.." ujar Gin senyum manis diwajah nya malah menunjukkan dia sedang tersinggung. "Kuharap kau bisa berjanji untuk tidak mengambil kemampuan orang lain lagi saat pertarungan kita selama pertarungan kita berdua berlangsung" Ujar Gin
"Oke... oke...Aku berjanji dan gimana kalau gini? Pertarungan dimulai kalau kau berhasil melepaskan tangan kanan mungilmu. Dengan berhasil nya kau lolos itu juga aku akan bersumpah tidak mengambil kemampuanmu saat kita berdua saling 'sparring' " Rukaman berkata demikian sambil senyam-senyum, lalu menggenggam tangan kanan Gin dengan kedua tangannya dengan sangat erat menggunakan seluruh tenaganya. "... " Gin terdiam. "Oke...!" Jawab Gin.
Pertarungan Tangan Kosong
"Gear First!!! Gray Wolf!!" seketika kedua tangan Rukaman terpotong oleh sesuatu. Refleks Rukaman melompat kebelakang. Bekas potongan tersebut malah terlihat seperti gigitan makhluk dari keluarga kucing besar. "..." Rukaman terdiam dan langsung menyembuhkan kedua tangannya menggunakan kemampuan regenerasi Yue yang sebelumnya sudah dia rebut. "Meskipun sekuat tenaga aku menggenggamnya tetap jadi percuma ya.. dia memotong langsung ke sumber 'masalah' lalu melepaskan tangannya " gumam Rukaman.
"Gimana?" ujar Gin. "Boleh-boleh ni bocah" gumam Rukaman\, "Lumayan... " ujarnya. Keduanya mengepalkan tinju\, lalu saling berlari menuju lawannya. *Dhoooakhhh\, Dhoooaahkkk\,DHUUASSKKH* suara tinju yang saling beradu terdengar sangat mengerikan saking keras dan intensifnya. Mereka berdua saling bertukar serangan dengan sangat sengit kedua belah pihak terlihat seperti saling mengeluarkan kemampuan fisik terbaik mereka berdua dari awal.
*Dhuuaaarr!!!* Suatu pukulan keras dari Gin menyebabkan tubuh Rukaman terpental jauh sekitar 12 km. Daerah pijakan dan sisi-sisi dahan raksasa yang ada disekitar mereka hancur berkeping-keping. Dampak kerusakannya sampai menyebar sejauh 9km. Seandainya mereka tidak didalam realitas marmer mungkin suara ledakannya bisa terdengar ke seluruh area pertempuran di padang pasir itu.
Kedua tangan Rukaman yang berusaha menangkis pukulan tersebut kembali 'rusak' dan segera disembuhkan dengan kemampuan regenerasi. "Gula!! Eh... Gila!!! Inikah kekuatan dimensional? level kekuatan fisik aslinya sungguh jauh berbeda dengan semua lawan yang pernah aku lawan didunia asalku. Jadi daritadi dia menahan diri!? Apa jangan-jangan karena dia takut kemampuan fisiknya juga dapat ku rebut? mengeri.. kan... "
Sebuah tangan mungil tiba-tiba mencengkram wajah Rukaman dengan sangat keras. Gin tiba-tiba saja sudah menyusul tubuh Rukaman yang terpental dahsyat dari posisi semula. *Grap!!! SSWWIIINGGG\, DDHHHHUUUAAAARRRRSSS* Wajah Rukaman di pegang dengan sangat erat lalu dia diputar dengan kencang\, kemudian dilemparkan kembali kebawah. Rukaman menghantam tanah dengan sangat keras hingga membentuk sebuah kawah raksasa berdiameter 30-32 km dengan kedalaman sekitar 10-12 km.
Ledakan yang besar tersebut sudah seperti ledakan nuklir yang dahsyat. Asap mengepul sekitar 1km tingginya. Awan jamur terbentuk sekitar 3km. Kilat ledakannya dapat dilihat dari 100km jauhnya.
"Uhuk... uhuk...!!! Ugh... seandainya aku tidak segera meminjam Zirah D. D milik Kuro mungkin wajah dan tubuhku sudah tidak terbentuk lagi, dan aku akan kembali ke tempat 'mereka' lagi dengan cepat." gumam Rukaman. Diseluruh tubuhnya tertutup zirah Hitam yang keropos dan hancur diberbagai bagian. Tidak sempat Rukaman menarik nafas lagi, tiba-tiba ada kaki mengarah langsung kepadanya dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti bahkan dengan mata super sekalipun.
*BBBUUUUUMMMM* Ledakan dahsyat kembali terjadi. Rukaman terkena dampak yang sangat besar walau didetik akhir dia berhasil kembali merestorasi dan memperkuat Zirah hitam milik Kuro. Tubuh Rukaman banyak yang hancur. Baru kali ini rukaman merasakan penderitaan dari kemampuan regenerasi. "Ugh dulu kalau sudah terkena luka se dahsyat ini aku akan langsung mati dan tidak akan merasakan rasa sakit yang sangat menyiksa ini. Lalu kemudian bangkit lagi tanpa mengingat rasa sakit nya. Kupikir dulu enak sekali punya kemampuan regenerasi. Namun setelah merasakannya langsung\, walau luka separah apapun aku bisa sembuh dengan cepat tapi bayarannya kemampuan tersebut akan membuat luka terasa jauh lebih sakit. Kemampuan regenerasi juga tidak menghilang kan rasa sakitnya secara instan. Kalau sudah begini rasanya lebih baik mati saja." Gumam Rukaman. Tubuhnya hancur tidak terbentuk\, hampir seluruh tulangnya remuk menjadi seperti pasir\, otot-otot nya sobek.
"Gear satunya saja sudah mengerikan... ugh.. tunggu.. " Rukaman terduduk saat seluruh tubuhnya berhasil dia 'sembuh kan' lagi-lagi dengan regenerasi cepat milik Yue sebelumnya. Rukaman berpikir Gin masih didalam mode gear satu miliknya. Namun ada yang aneh.
"Haha... kupikir kau masih dimode 'gear' rupanya tidak, ya..? Gin" tanya Rukaman. Gin entah darimana tiba-tiba saja ad didepan Rukaman sambil terduduk bersila. "Ya, aku hanya menggunakan gear satu diawal ketika berusaha melepaskan 'genggamanmu' sisanya aku lakukan dengan kemampuan fisik ku sendiri" ujar Gin, ekspresi nya agak keheranan. Dia pikir Rukaman sudah menyadarinya dari awal.
"sepertinya kau sudah lelah paman... mari kita akhiri ini...buktikanlah 'itu' " Gin tiba-tiba tersenyum mencurigakan. "lagi-lagi kemampuan apa sih yang kau incar? apa yang ingin kau uji?" tanya Rukaman.
"Tapi... sepertinya kau terlalu meremehkan ku paman. Begini-begini aku adalah Catasthrope generasi 2 dengan kemampuan fisik dasar paling kuat di generasiku." ujar Gin tersenyum pahit, dia mengabaikan pertanyaan Rukaman.
"Woy!!! jawab pertanyaan ku. Apasih yang ingin kau uji? " tanya Rukaman memaksa.
"Buktikanlah,kau tidak bisa mati." Gin Menyeringai.
.... Bersambung