The Visitor Series

The Visitor Series
Be Aware



                  Be Aware


   *Ziingg*


  Ditengah padang gurun pasir berbatu, dua orang muncul dari sebuah lingkaran besar berwarna hitam. Lingkaran itu berbentuk layaknya 'black hole' yang menyedot segalanya. Namun kali ini lingkaran tersebut justru mengeluarkan dua orang yang terlihat kelelahan.


Orang yang pertama adalah seorang gadis muda berjalan tegak dengan ciri pakaian perang kulit tebal berwarna serba merah. Orang kedua adalah seorang laki-laki dewasa yang sedang 'terkapar' diseret kakinya oleh gadis itu. Orang kedua memiliki banyak luka di sekujur tubuhnya.


"Aku menyerah, sepertinya kau memang tak bisa dibunuh" ujar Gadis itu yang tidak lain tidak bukan adalan Gin.


"Baiklah nona, tapi rasanya kau kasar sekali sampai menyeret kakiku seperti ini". ujar Rukaman.


*bwasst\, brukk*


Tubuh Rukaman dilemparnya tiba-tiba kearah samping. Lemparan tangan kanan yang cukup kuat hingga Rukaman harus terpental beberapa kali dan akhirnya terduduk.


"Ni bocah wajahnya doang manis,tapi hatinya kejam dan tidak ada sopan-sopannya sama sekali" gumam kesal Rukaman.


*Ziingg*


  Lubang hitam tadi tiba-tiba menghilang.


"Itukah, yang namanya 'Shinkaimon'?"(gerbang kematian) ujar Rukaman.


"Bisa dibilang iya, tapi bisa dibilang juga bukan. Gerbang itu lebih kearah 'shinkaimon' ketimbang Senkaimon" Balas Gin.


*Bruuk*


Gin kemudian terduduk kelelahan. Tubuhnya terlihat memerah karena energi panas yang dia keluarkan. Saking panasnya,tubuh Gin mengeluarkan uap dan fatamorgana telihat disekitarnya.


"aahhh... capek sekali" keluh Gin sambil melonjorkan kedua kakinya dan melihat langit.


"Shinkaimon? Gerbang kematian. Tapi kita kan nggk mati?" tanya Rukaman lagi.


"Begitu kau masuk kedalam 'tenkai' maka tubuhmu diibaratkan seperti es batu ditengah padang salju yang dikurung kedalam box es raksasa penuh dengan air panas.


Semakin lama dia berada didalam 'tenkai'(wilayah) maka dirinya akan semakin 'menyatu' dengan 'tenkai tersebut, dalam hal ini, es harus segera keluar dari box es agar dia tidak mencair." jelas Gin yang kemudian berbaring terlentang, keringat mengucur deras darinya.


"Baru segini...aku sudah merasa sangat kelelahan. Apa aku belum pulih?.." gumam Gin.


"Tunggu, aku masih belum paham. Apa maksudnya es itu? Coba jelaskan lagi." tanggap Rukaman.


"Sederhana saja, kau harus cepat keluar dari 'tenkai' atau kau akan mati. Bahkan jika itu adalah 'tenkai' mu sendiri.


  Bagi sang 'es' cara untuk keluar darinya adalah memecahkan bongkah es tersebut agar dia bisa keluar. Dan memang begitulah cara normal untuk keluar. Kau harus menghancurkan 'tenkai' seseorang agar dapat keluar darinya.


Tapi tidak sesederhana itu karena jika itu tenkai orang lain, kau harus mencari 'ujung' atau 'batasan' yang menjadi kelemahan 'tenkai' itu. Seringkali kelemahan justru ada di penggunanya. Jadi kau harus 'mengalahkan' sang pengguna sampai dia kelelahan tidak punya energi untuk membuat 'tenkai' atau dalam kasus terburuk kau harus membunuh penggunanya." ujar Gin.


"Oh...kau kelelahan dan kemudian 'out of energy'? Jadi kita bisa keluar? Trus apa hubungannya dengan gerbang itu?" tanya Rukamn lagi.


  "Aku? Kelelahan? Secara fisik aku memang kelelahan. Tapi kalau energi yang kumaksud adalah 'mana' seseorang atau bahasa sederhana nya adalah sesuatu yang disebut 'anugrah' olehmu, ataupun 'energi spiritual'.


Dari awal sampai akhir aku mulai memukuli mu aku sama sekali tidak menggunakan 'mana' karena sedang ingin menguji kondisi pre-prima tubuh saja.


Dengar kan dulu sampai akhir. Sekilas untuk keluar dari sana, es batu tersebut harus menghancurkan 'wadah' yang dimaksud sebelum tubuhnya mencair. Namun ada cara yang cukup rumit namun gampang digunakan bagi orang yang biasa berpindah tempat (dimensi/dunia).


Caranya adalah dengan 'menguapkan' dirinya dengan menggunakan energi panas dari air panas yang disekitarnya tanpa mengurangi intensitas suhu rata-rata. Memecah tubuhnya menjadi partikel lalu menggabungkannya kembali diluar wadah.


Untuk memisahkan partikel umum dengan tubuhmu. Maka kau masuk kedalam sebuah lingkaran steril yang membantumu membentuk kembali tubuh. Itulah kenapa gerbangnya disebut 'Shinkaimon' atau gerbang kematian. Karena untuk sesaat kau mati.


Sambil menunggu wadah box es berisi air panas tersebut hancur sendiri. Kau bisa leluasa mengistirahatkan tubuhmu.


  Kalau senkaimon (gerbang roh) kau seakan merobek ruang hampa antara beberapa dimensi yang saling bertempelan dan melewatinya. Ketika kau memasukinya maka kau sudah tidak terikat dengan aturan waktu. Oleh karena itu disebut 'gerbang roh' " Gin yang berbaring kemudian terdiam dan memejamkan matanya. Mulai mengatur nafas.


Rukaman mulai menerka-nerka. Namun dia masih tetap penasaran. Rukaman pun kembali bertanya.


"Gin. Kalau begitu rasanya cara kami pindah kedunia atau dimensi ini sangat berbeda, tidak ada dari dua hal yang kau jelaskan barusan kami alami. Ini rasanya lebih kearah..."


"Ditarik?"


"Ya, benar sekali. Entah kenapa mirip seperti kau ditarik dengan sangat kuat hingga rasanya hampir mati." ujar Rukaman.


"... "


  Gin terdiam kemudian tiba-tiba duduk dan membersihkan pakaiannya dari pasir.


  "Ada apa Gin?"


"Yang menjawab tadi bukan aku..."


"Hmmm? Trus siapa...?" tanya Rukaman penasaran.


*Swiiingg\, Bletak!!*


  Sebongkah batu berukuran kepalan tangan tepat mengenai bagian belakang atas kepala Rukaman, batu tersebut terlempar kedepannya.


"Ouch!!! Oy siapa itu!?"


   Rukaman serta merta menoleh dengan cepat kebelakangnya. Namun nihil, tak seorangpun ada dibelakangnya.


*Puk*


Seseorang menepuk pundak kiri Rukaman.


"Hey,Aku disini" ujarnya.


  Rukaman kaget tiba-tiba didepannya ada seseorang yang memegang batu yang baru saja mengenai kepalanya. Dari ciri wajahnya Rukaman langsung dapat menebak siapa orang kurang ajar yang baru saja melempar kepalanya dengan sebongkah batu,walaupun belum pernah bertemu sama sekali sebelum ini.


"Kau... Rukaman ya? Aku pernah mendengar tentangmu dari Izuna" ujar orang itu.


  Orang itu tiba-tiba duduk bersila didepan tubuh Rukaman. Wajahnya sangat dekat dengan Rukaman hingga dia bisa mengamati lawan bicaranya dengan seksama.


  Orang didepan Rukaman adalah seorang gadis remaja yang tubuhnya sedikit lebih tua daripada Gin. Gadis yang kecantikannya dapat membuatnya akan dipuja oleh seluruh laki-laki yang pernah melihatnya walau sekilas.


  Memiliki wajah benih, kulit putih bersih seputih salju yang menawan. Rambutnya lembut dan harum, berwarna merah muda sehingga bagaikan melihat bunga sakura itu sendiri. Tubuh langsing dan tidak terlalu menonjol, disertai dengan wajah newanan,serta rambutnya yang sangat indah seolah menyiratkan dialah 'masterpiece' dari sang maha pencipta.


Sebuah senyuman lembut tampak dibibir tipisnya yang berwarna merah muda. Mata yang menutup saat dia senyum membuatnya terlihat manis dan sempurna. Aura penyayang keibuan, dan keanggunan wanita muda terpancar kuat dari perempuan itu.


Seorang wanita muda sempurna, bidadari dunia yang semua lelaki akan takluk padanya. Rukaman yang awalnya hendak marah tiba-tiba luluh dan tertegun melihat seseorang 'bak' bidadari didepannya.


"Kau merasa ditarik, kan?" tanya orang itu.


"E... eh, i.. iya" jawab Rukaman.


Suara lembut, halus dan jernih namun tegas dari gadis itu malah membuat Rukaman salah tingkah.


"Itu berarti kau menggunakan sistem teleport yang berdasarkan pada teori tarik menarik magnetik. Sama seperti batu yang kupegang ini.


  Aku bisa melempar atau menjauhkan tapi ketika kau mengalirkan 'mana' maka kau akan 'ditarik' kepadanya.


  Biar kutebak... hmmm,ah!! kau pindah pake batu Hougyoku?" ujar nya sambil menempelkan jari telunjuknya ke dada Rukaman yang berotot.


  "I... iya"ujar Rukaman.


  "Uggh, kok malah salah tingkah sih... mana jarinya halus banget lagi. Sengaja banget kayaknya nempelin jari ke bagian dadaku yang terbuka karena terlempar tadi." gumam Rukaman yang semakin salah tingkah.


"Aha.. Izuna yang ngasih?"ujar lagi si orang itu.


" Iya."


"Iya"


  Gelak tawa pun keluar dari wanita tersebut. Namun tak sedikitpun mengusik kecantikan dan keanggunannya.


"Ahahaha...Kau memang teman yang baik, Rukaman. Tapi kau juga ceroboh." ujar nya yang kemudian beranjak dari tempatnya mengarah ke Gin.


"Normalnya seseorang akan menggunakan kode koordinasi dengan acak, yang kemudian masuk kedalam suatu gerbang yang disebut 'Seikanmon' (Interstellar Gate/Gerbang antar galaksi/dimensi). Kalau ingin berpindah le suatu tempat maka setidaknya dia punya kode 'koordinasi' atau 'tanda' yang bisa membantunya untuk berpindah.


  Kalau menggunakan teori tarik menarik dalam kecepatan cahaya seperti yang dilakukan oleh batu Hougyoku, biasanya hanya dilakukan dalam lingkup yang lebih kecil karena akan menyebabkan 'jet lag' alias mabuk perjalanan.


Kau beruntung bisa memakai Hougyoku. Karena darinya kau tidak mengalami efek samping sama sekali." jelas orang itu.


"Ohh...te.. terimakasih." jawab Rukaman yang masih gugup.


             *******************


*Bwaaashhh\, Drrrrttt\, Drrttt*


"!!??"


  Rukaman dikejutkan oleh ledakan 'aura' maha dahsyat jadi arah utara. Disusul dengan gempa yang sangat kuat hingga tiba-tiba tanah disekitarnya retak.


"Ini... gempa?" Rukaman terhentak.


Namun gempa tersebut tidak lama kemudian reda. Suasana hening pun menyusul. Rukaman malah tambah salting melihat orang didepannya terus mengamati segala ekspresi wajahnya dengan senyuman lembut.


"Hmmmm... selalu begini. Sudah selesai obrolannya? Bisa tolong kasihani aku untuk saat ini saja?".


Ucapan nyeletuk Gin memecah heningnya pasca gempa.


" eh!? "


Rukaman kaget melihat hampir seluruh tubuh Gin dibalut oleh Kristal es tebal, hanya menyisakan Kepala yang tak terbalut.


"Rukaman setelah melihat orang ini pasti kau salting akan kerupawanannya" celetuk Gin.


"Ni anak..." ujar kesal Rukaman dengan lirih.


"Reaksi normal bagi yang tidak begitu mengenalinya. Bahkan diantara perempuan juga mengakuinya bahwa dia sangat cantik.


Sayangnya hanya wajahnya saja yang 'good looking', tapi hatinya tidak" ujar Gin.


Tanpa mengubah ekspresinya sedikitpun. Perempuan itu melapisi batu dengan kristal, lalu melemparkan batu yang ditangan kanannya kesamping dengan keras.


*DHHHHUUUAAARTT*


Bukit batu yang jaraknya cukup jauh dari mereka bertiga, hancur berkeping-keping dengan suara yang menggelegar. Sejenak saat debu tebal hendak mengenai mereka. Tiba-tiba muncul angin kencang yang sangat kuat, dengan cepat menghembuskan debu tebal dari bukit batu menjauh dari lokasi.


"A... " Jelas Rukaman terkejut.


"Ohh... ayolah, mau sampai kapan aku dikurung begini, tolong lepaskan aku." ujar Gin sambil berusaha keras untuk menghancurkan kristal tersebut dengan kemampuan fisiknya.


"Sederhana saja. Sampai kau tau letak kesalahan mu dimana." ujarnya.


"Tapi, kalian kutunggu keluar sekitar dua puluh menit dari semenjak aku tiba. Sebenarnya kalian 'disana' berapa lama, Gin?" tanyanya lagi.


"Yah sekitar 30 menit"


"30... menit, apanya? Aku merasa diriku 'disiksa' habis-habisan selama 3 hari 3 malam." bantah Rukaman.


"Oh.. tenang kau juga tidak salah, itu memang karena perbedaan aturan perbedaaan durasi waktu" jawabnya menanggapi.


"Uuuhhhhh"


  Gin Sekuat tenaga melawan, tapi sia-sia. Fisik superpower miliknya tetap tak mampu merusak sedikitpun kristal tebal yang mengurungnya.


"Kuharap kau tidak melawan." ujar orang itu yang kemudian berbalik dan berdiri tepat didepan Gin sambil menyedekapkann tangannya.


Gin yang diperingatkan pun langsung diam. Keduanya pun berbincang-bincang beberapa hal. Hingga sempat berdebat argumen.


Namun Rukaman tak dapat memperhatikan pembicaraan mereka berdua. Terlalu banyak hal-hal yang membuatnya bingung hari ini. Terlalu banyak hal yang membuatnya pusing memikirkan posisi dirinya sebenarnya ngapain.


Rukaman kemudian termenung dan melamun hingga akhirnya tersadar setelah ditegur oleh Gin yang tak disadarinya sudah keluar dari kristal tebal.


"Kau tidak dengar? Ayo segera kesana." ujar Gin sambil menjulurkan tangan.


"Eh.. kemana?" jawab Rukaman yang kemudian memegang tangan Gin untuk tumpuan berdiri.


"Haah. Sudah kuduga kau tidak mendengarkan. Sekarang kita berdua ikuti dia." ujarnya sambil menunjuk orang yang barusan  berjalan kearah utara diikuti oleh 3 anjing siberia yang muncul entah darimana.


"Kemana?" tanya Rukaman.


"Menuju pusat gempa barusan. Jarak dari posisi kita sampai ke pusat gempa sekitar 350 kilometer lebih. Dari getaran dan intensitas nya sepertinya sekitar 6 sampai 7 skala Richter. Diperkirakan efek kerusakan yang mereka timbulkan sekitar 180 km" ujar Gin.


"Tidak. Ini 9-10 skala richter" ujar Perempuan itu tanpa menoleh.


"Aura ini...!?" gumam Rukaman.


"Oh, ok 9-10. Tapi sepertinya kau akhirnya sadar bahwa penyebab gempa ini bukan karena faktor alam semata. Temanku dan Rekanmu sedang bertarung dengan serius. Pertarungan konyol berdasarkan pada kesalahpahaman ini sebaiknya segera dihentikan." ujar Gin.


(mungkin dalam hati Rukaman bergumam "Ngaca woy.. ", gitu ya? ?)


" Aura ini... Kuro" gumam Rukaman.


  "Oh iya, aku penasaran kenapa sifatmu tiba-tiba berubah jadi penurut?" tanya Rukaman sambil berjalan mengikuti dari belakang.


"Itu karena dia. Orang yang selalu ingin dihindari oleh para catashtrope sekalipun karena kemampuan dan kecerdasan nya. Namun terlepas dari kecantikan dan kelebihannya. Dia memiliki sisi yang menakutkan bagi setiap orang yang mengenalnya dengan baik.


Seorang yang memiliki banyak julukan, seperti 'Ratu Gunung Salju', 'Badai putih', 'mawar kematian', Ibu Beruang Kutub' dan 'Antonim Husky' ". ujar Gin.


" Antonim Husky? Nama yang cukup menarik. Tapi semenakutkan apa dia sampai kau sendiri jadi penurut begini? " ujar Rukaman sambil agak meledek Gin.


  "Ya, Antonim Husky sesuai namanya, dia berkebalikan dengan sifat anjing jenis Siberian Husky.


Anjing Husky memiliki habitat hidup yang keras dan liar. Namun begitu dia sangat ramah kepada siapapun, bahkan yang liar pun jarang memangsa buruannya kecuali memang sudah sangat lapar.


Tampang Husky sangatlah menakutkan bagi primata lainnya karena terlihat sangat mirip dengan serigala, padahal Husky lebih senang bermain-main dengan hewan lain daripada iseng memangsanya seperti serigala pada umumnya.


Bagi orang yang menjadikan anjing Husky sebagai anjing penjaga akan dipastikan merasa


kecewa karena mereka terlalu ramah dengan orang asing.


Tampang yang menyeramkan,habitat yang liar, berkesan kejam. Namun memiliki hati yang ramah. Sangat berbeda dengan dia yang memiliki tampang yang sangat ramah dan rupawan. Seorang anak putri bangsawan. Habitatnya sungguh dimanjakan. Namun memiliki hati kejam yang diluar nalar manusia.


Tuan Gunji saja sampai selalu mewaspadai nya. Kau tidak pernah tau apa yang dia pikirkan dibalik senyuman nya yang menipu itu.


Meski begitu prestasi dalam kancahnya sebagai seorang Catasthrope sangatlah  mengesankan dan luar biasa. Bahkan untuk saat ini dia adalah orang nomor dua diantara semua Catasthrope resmi organisasi, dan nomor empat terkuat dari 6 'Legendary Catasthrope' lainnya.


   Dengan bangga kuperkenalkan padamu, pemimpin divisi dua Catasthrope. Walau agak sedikit nyeleneh sih.


  Namanya Sakura Mizukami. Karena sifatnya yang psikopat, jadi berhati-hatilah." ujar Gin memperingatkan.


  "Tch sudah kuduga.... " gumam Rukaman kesal.


                             ....Bersambung.