The Visitor Series

The Visitor Series
Phoenix Incarnation



   "MAJULAH!!! RYYYUUUZAKII!!!" "MAJULAH!!! AIKO!!! " pertempuran keduanya memasuki tahap akhir.


            Phoenix Incarnation


   "RA!! Taiyou!! Fusion Awakening!!!" Ujar Ryuuzaki dengan lantang. seketika 'manifestasi' Phoenix yang berbentuk manusia setengah burung dan naga burung api dari mitologi negeri matahari terbenam bersatu.


  Saat kedua monster itu bersatu, aura Gumiho menembaki monster yang berbentuk seperti manusia setengah burung didepannya dengan bola hitam yang memiliki daya ledak yang sangat dahsyat.


*Dhuuarr\, dhuuaar*


  Wujud phoenix yang baru berbentuk manusia dengan kepala burung,2 sayap merah raksasa dipunggungnya, lengkap dengan mahkota merah melingkar dikepalanya. Manusia setengah burung tersebut memegang tombak yang mengeluarkan aura merah pekat yang terasa sangat berat untuk dirasakan oleh lawannya. Ciri terakhirnya adalah dadanya yang 'berlubang' berbentuk lingkaran hingga tembus ke belakang punggung. Pada lubang tersebut terdapat sebuah bola padat merah cerah yang berputar dengan sangat cepat bagaikan bintang.


Bola tersebut berputar kencang hingga menghasilkan gravitasi buatan yang membuat objek-objek disekitar manusia setengah burung itu mendekatinya. Namun begitu ada objek disekitar manusia burung tersebut mendekat, objek tersebut langsung terbakar.


"Apa-apaan itu? Tch!!" geram Aiko.


Aiko mulai berusaha untuk mengalahkan manusia setengah burung itu karena baginya akan sngat merepotkan. Terlebih ukuran dari manusia setengah burung itu sangatlah besar.


*Dhuaarr\, Dhuaarr\, Dhuaaarr*


  3 bola energi hitam yang dilontarkan aura Gumiho menghantam manusia setengah burung itu dengan sangat dahsyat. Dua bola dilontarkan dari kedua tangannya dan satu bola dilontarkan dari mulut Gumiho.


"RROOAARRR!!!" Makhluk tersebut mengerang kesakitan. "!!... Dia... kesakitan?" gumam Ryuuzaki.


Setelah terkena 3 bola itu makhluk setengah manusia setengah burung itu mengamuk dan melancarkan serangan membabi buta kearah aura Gumiho. Ryuuzaki yang masih keheranan pun terpaksa harus mengikuti pola serangan yang dilancarkan oleh makhluk itu agar bisa meng cover nya.


  "Hahahh..!! SUDAH KUDUGA KAU HANYA TIRUAN YANG GAGAL!! ZANKA NO TACHI YANG ASLI TIDAK AKAN SEMUDAH INI KUTEMBUS PERTAHANAN NYA!! " Teriak Aiko (Gumiho) kegirangan.


"KOOOAAKKK!!!" suara burung api milik Ryuuzaki tiba-tiba muncul dibelakang Aiko. Burung tersebut kemudian mencengkram kedua pundak aura Gumiho raksasa tersebut kemudian mematuk dengan sangat kencang dan kuat kearah Aiko yang sedang berdiri diatasnya.


  *SWIIINGG\, CCCTTTAAANGGG*


Aiko berhasil menangkis patukan dari paruh burung Phoenix itu memakai tombaknya dengan satu tangan. Suara dan getarannya sangatlah dahsyat. Suaranya mendenging ratusan meter jauhnya. Tangan Aiko sudah dilapisi oleh aura Bushou miliknya sehingga sangat lah kuat dan kokoh.


  "..." Aiko terdiam. "!!!"


*ZRRAAASSHHH!!!*


  Burung Phoenix yang semula tertahan diatas Aiko. Tanpa disadari oleh Ryuuzaki tiba-tiba saja tercincang menjadi bagian-bagian yang kecil oleh tombak Aiko.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Ryuuzaki.


"Yeou Guseul.....Hitorikiribasame!!"


  *BBBWAAAAZZHHH* Aiko tiba-tiba melotot kearah manusia setengah burung itu. Aura Gumiho berwarna putih raksasa dibawahnya juga menghilang. Tubuh Aiko sekarang diselimuti oleh aura Ungu pekat yang sangat mengerikan. Lehernya terdapat kalung tasbih warna merah pekat yang terpasang padanya. Tasbih itu memiliki 9 bola.


  *Zraattt...Swiiinggg*


"Daikata...AMANOGAWA!!!".


  *DDDDHHHUUUUAAAARRRRRR*


Aiko menerjang dengan sangat cepat dan langsung menebas manusia setengah burung api raksasa tersebut menjadi dua. Efek tebasan dan ledakannya sangat kuat hingga api putih disekitar area mereka sempat menghilang karena angin kencang yang ditimbulkan oleh tebasan tombak Aiko yang sudah dilapisi dengan bushou.


  "GRRROOAAAAARRRRHHH!!!!" Manusia setengah burung itu terbelah dua dan perlahan-lahan menghilang. Api sang phoenix mulai padam!!.


  "!!?? Apa itu barusan?? Padahal Phoenix buatanku seharusnya langsung melelehkan senjata yang mengenainya. Suhu tubuh phoenix buatan hampir menyamai matahari jadi sangat mustahil untuk menghancurkan nya." Ujar Ryuuzaki terkaget-kaget dengan apa yang barusan dilakukan Aiko.


  "Apa yang kulakukan?? Sederhana saja... ku tebas dia sekuat tenaga."


"Uhhuuukkk!!!" Aiko terbatuk, lalu tertunduk. "Menebas makhluk itu sekuat tenaga saja tidak akan bisa membunuhnya, lagipula suhu panasnya setara matahari. Sebenarnya apa yang barusan dia lakukan?" Gumam Ryuuzaki.


  "Uhukk, uhukk, uhukk" Aiko Terbatuk-batuk kemudian dia terdiam melihat telapak tangan kanan yang dia gunakan barusan untuk menutup batuknya.


"... darah... " gumam Ryuuzaki yang mengamati dari jauh, rupanya mata 'eye emperor' miliknya bisa melihat darah akibat batuk Aiko.


Tepat setelah Aiko menggunakan jurusnya untuk membunuh manusia setengah burung phoenix itu. Tiga dari sembilan bola kalung tasbih di lehernya berubah menjadi warna hitam. Warna hitam tersebut bagaikan menyala namun perlahan pudar dan redup.


  Aiko terhuyung, namun dia tetap berusaha berdiri tegak dengan memegang tombaknya. "Selanjutnya kau!!!" ujar Aiko.


  "Jangan naif!!! Burung Phoenix adalah burung abadi yang dapat bangkit kembali dari abu maupun api sisa miliknya. Jangan pikir kau bisa membunuh phoenix semudah itu." ujar Ryuuzaki.


   "Ra, Pharaoh, Phoenix bird bangkitlah!!"


"Aku tahu...maka dari itu aku menggunakan _fox bead_ milikku\, uhukk!!" Ujar Aiko.


  "???" Ryuuzaki terheran-heran. "Fox bead?.. " , "!!" Ryuuzaki terdiam lalu bergumam "Tunggu... mereka bertiga... tidak bisa bangkit lagi!?? Harusnya mustahil mereka 'terbunuh'... Tchh, menyusahkan saja"


  "Biar kujelaskan sedikit... Legenda Gumiho, sedikit berbeda dengan Okitsune, maupun Huli Jing meski kita adalah sama-sama rubah ekor sembilan tapi kekuatan dan cara bertempur cukup berbeda.


  Okitsune, rubah bijaksana yang dihormati memiliki kemampuan segel tingkat tinggi, selain itu juga memiliki kecepatan yang sangat tinggi sehingga dijuluki 'Raimei Kiiro' (Gemuruh petir kuning).


Huli jing\, rubah bengis yang licik serta ditakuti memiliki kekuatan fisik yang tiada tara\, serta daya hancur yang luar biasa menggunakan bola api yang dia keluar kan. Dialah yang pantas untuk mendapatkan gelar _Brooker Berseker_


Sedangkan Gumiho\,rubah licin yang licik yang memiliki kemampuan penyamaran serta sering mengusik manusia dari dulu dikenal sebagai _Soul eater_ dengan _fox bead_ yang dimiliki nya."


  "Jadi kau barusan... " ucap Ryuuzaki tenang.


"Ya!! Sesuai dengan tebakanmu. 3 Monster milikmu tidak kutebas fisiknya. Namun langsung kuserang dan kuhancurkan inti 'jiwa', yah walaupun tidak pas juga kalau disebut jiwa. Aku hanya menghancurkan langsung 'inti' milik monstermu. Setiap makhluk yang hidup memiliki 'inti' yang bisa dianggap sebagai 'jiwa' bahkan jika itu tumbuhan sekalipun.


  Tapi karena monstermu sedikit berbeda dan aku juga harus menghindari efek sampingnya jadi aku tidak bisa memakan jiwa mereka. Cukup bagiku untuk menghancurkan nya." Ujar Aiko.


   "Begitu... kalau begitu bisakah aku berkesimpulan kalau kau juga menukar sedikit bagian energi kehidupan atau nyawamu untuk mengalirkan kekuatan penghancur jiwa kedalam tombakmu?  Bukankah _fox bead_ adalah alat untuk memakan jiwa? Bagaimana kalau kau hanya menggunakan kekuatan bola-bola tasbih itu tanpa membayarnya dengan memberikan nyawa lawan yang kau hisap?" Jawab Ryuuzaki.


  "Dan lagi... sepertinya...jurus itu bagai pedang bermata dua." Ryuuzaki tersenyum melihat Aiko nampak sangat kelelahan setelah menggunakan Fox bead nya.


  "Ya... benar sekali, biasanya bola ini akan berwarna biru begitu ada 'jiwa' yang masuk kedalamnya. Namun kalau tidak ada 'jiwa' yang masuk maka tubuh akan jadi penukarnya." jawab Aiko.


"Ya... tubuh, bola-bola ini akan menggerogoti tubuh yang kupakai. Sebenarnya memakai atau merasuki tubuh manusia memiliki kelebihan dan kekurangan.


  Kelebihannya adalah aku dapat menggunakan segala keterampilan dan kekuatan yang dimiliki oleh pemilik tubuh asli. Seperti saat ini aku bisa menggunakan teknik 'Renkinjutsu : Ki' jenis api yang dimiliki oleh Aiko yang asli. Bahkan beberapa sifat dari tubuh ini bisa saja terwarisi olehku


  Kekurangan nya adalah aku tidak bisa menggunakan kekuatan Gumiho secara maksimal, memakai Fox bead saja akan berbahaya bagi tubuh mayat yang kupakai. Semakin lama dipakai maka akan semakin rusak tubuh yang kugunakan sampai pada titik aku harus keluar." Ujar Aiko.


"Begitu, padahal tubuh itu adalah tubuh sahabatmu yang sudah meninggal tapi kau malah menggunakan fox bead milikmu. Kau cukup rakus. Haha... dasar rubah!!!"


"Diam kau!!" ujar Aiko.


  "Rasanya sudah berkali-kali kita bertukar serangan pamungkas kita. Tapi tidak ada yang tumbang diantara kita berdua. Hebat juga kau rubah!!"


"Itu harusnya jadi kata-kataku. Dari awal sudah saling melemparkan tombak dengan jurus pamungkas masing-masing, kau juga berhasil menguak identitas asliku. Juga kita berdua akhirnya mengeluarkan mode terkuat, dan kembali bertukar serangan. Bahkan sampai-sampai mengeluarkan familiar ataupun shikigami untuk saling menyerang namun tidak mempan juga. Ini mulai menarik... Ryuuzaki... " ujar Aiko menyeringai.


"Ya ini mulai menarik, daya tahan dirimu juga membuatku tertegun, dan terkagum. Walau kuhajar kau tetap berdiri tegak, dan bertahan!"


"Cih tidak perlu memuji musuhmu. Kau juga tidak perlu merendah!! Itu menjijikkan" ujar Aiko sinis.


"Waaahhh,nona yang dingin sekali berkebalikan dengan jurusmu yang 'sangat panas'... ahahaha" Ryuuzaki tertawa ramah.


"Tapi aku agak penasaran. Kenapa kau tadi menyebutkan monster milikku mirip dengan Zanka no Tachi..."


  "Tidak perlu kujawab!! Lagipula tidak ada untungnya bagimu untuk mengatahuinya. Dan juga sebentar lagi kau akan mati!!"


  "Baiklah...serangan pamungkas lagi ya??Final Gear!!! Phoenix Mode, Great Phoenix Spear" ujar Ryuuzaki. Tubuhnya diselimuti aura merah darah pekat. Tubuhnya bagai poros badai api yang sangat mengerikan, dia menyeringai dan mulai memasang kuda-kuda hendak menyerang.


Tidak mau kalah Aiko kembali mengeluarkan aura ungu yang sangat pekat dan menyeramkan.


"Haaah.. tidak kusangka hanya untuk melawan anak burung phoenix palsu saja aku harus menggunakan ini...harga diriku sebagai monster legendaris itu sendiri bisa jatuh "


*Zwiiinggg*


Tombak trisula merah ditangan kanan Aiko tiba-tiba dilapisi api hitam yang kemudian perlahan menghilang,dia juga mengeluarkan busur putih miliknya dan juga tiba-tiba terlapisi oleh aura hitam yang kemudian perlahan-lahan hilang.


"Maaf, aku terpaksa harus menggunakan mu... Enma, Tentetsutou.. " ujar Aiko lirih.


"Pedang???" guman Ryuuzaki terkejut melihat trisula merah dan busur putih milik aiko berubah jadi katana yang  satunya berwarna Hitam dan stunya lagi berwarna putih.


  "Nittoryuu...Iai.. "


  *BBWAAAAAAZZHHHHH*


  Aura dari Aiko meledak dengan sangat luar biasanya. Aiko memasang kuda-kuda dengan memasang kedua pedangnya berlawanan secara horizontal di depan tubuhnya


  "Ryuuzaki...tidak ada waktu untuk heran" gumam Ryuuzaki sendiri.


  "FINAL AURA!!! FINAL GEAR!! THE GREATEST SPEAR PHOENIX!!!".


  *Bwaasshhh*


Aura dari Ryuuzaki pun ikut meledak dengan sangat dahsyatnya.


*zwiinggg* keduanya melompat dengan sangat cepat dan melancarkan serangan Pamungkas nya. Nampak seoalh meteor merah dan ungu akan segera saling bertubrukan.


  "GREEAAAATTT SPPEEAARR PHOENIIX!! RADICALL BEAM ATTACKK!!!" teriak Ryuuzaki. Tangannya hendak melempar tombak dengan kekuatan yang sangat kuat.


"NITTORYUUU!!! IAI!!! RENGOKU!!" Teriak Aiko. Tangannya memegang kedua pedang tersebut dengan erat dan bersiap menebas musuhnya.


   *DHUUUAAARTTTTTRRRR\, ZZZRRTTTTTY*


Ledakan maha dahsyat yang ditimbulkan oleh serangan tombak yang mengeluarkan ledakan seperti laser dan tebasan kilat sangatlah mengerikan. Akibat ledakan seketika itu juga menggetarkan _Reality marble_ milik Aiko\, dan menghentikan pertarungan panjang mereka berdua.


   "kali ini yang terakhir... tidak ada lagi tukar-menukar serangan pamungkas."


"Maaf kali ini aku yang menang."


  *Sraanggg\, ctak*


Bunyi pedang disarungkan.


*Ctraangg\, kkraakkkc\, ctrang!!*


  Bunyi senjata, helm, dan zirah seseorang telah patah, pecah dan hancur.


"uhuk!!!... begitu ya..."


*Ziiinggg*


  Realitas marmer Aiko pun menghilang\, pertarungan keduanya selesai. *Brukk* tubuh seseorang telah ambuk di tanah dengan dua luka sayatan yang cukup dalam ditubuhnya.


   Aiko keluar sebagai pemenang. Ryuuzaki tumbang dengan seluruh atributnya hancur. Dua luka bersarang ditubuhnya mengucurkan darah segar yang cukup banyak.


*Zwiingg\, bwasshh*


Aiko kembali ke mode normal dan 'menghilangkan' senjata serta zirahnya. Begitupun Ryuuzaki yang secara otomatis zirah phoenix miliknya menghilang.


*Bruuk*


Aiko terduduk. "ughh kepalaku pusing sekali" nampaknya meskipun dia menang, tapi Gumiho kelelahan melawan Ryuuzaki.


  "Cih!! Setelah terkena serangan sedahsyat itu kau tidak langsung mati, tapi hanya pingsan ya. Tapi kalau begini terus kau akan mati kehabisan darah. Yah itu bukan urusanku bagaiman kau akan mati" ujar Aiko kesal sambil duduk disamping tubuh Ryuuzaki.


Aiko kemudian berdiri beranjak meninggalkan tubuh Ryuuzaki. "Kau punya potensi...bayi Phoenix!" ujar Aiko sinis.


                        .... Bersambung.