
Hutan Terbalik
"Ada apa Hilda? apa hanya karena belum terbiasa dengan pijakan barumu kau jadi semakin melemah?" tanya Patricia.
Hilda Tertunduk didepan Patricia, berusaha menahan rasa pusing yang sangat menyakitkan. Sejak pertempuran mereka di 'hutan terbalik' tersebut gerakan-gerakan Hilda semakin lama semakin melambat dan tenaganya semakin melemah, tapi ada sesuatu yang berasal dari dalam tubuhnya bergejolak seakan ingin keluar.
"Ukhh... kepalaku pusing sekali...pandanganku buram... detak jantung ku berdetak terlalu cepat... hampir tidak ada yang bisa kudengar selain detak jantung ku... tanganku mati rasa... kalau begini terus...bisa gawat..." gumam Hilda.
"ada apa? kau mulai kelelahan? Ayolah... jangan jadi orang yang membosankan, ayo kita lanjut kan permainan kita" ujar Patricia.
Lalu dengan nafas tersengal-sengal Hilda berusaha bangkit.
"D.... Ark... Ex... cali... bur" Hilda mengangkat pedangnya lalu mengucapkan dengan nafas tersengal kata2 tersebut.
*SWIIIINNNGGGGGG....DDHHHUUUUAAAAAARRRRRR*
Tebasan Hilda mengenai tempat Patricia dan menyebabkan asap tebal. Tapi mengejutkan Patricia masih berada ditempatnya seakan tidak terjadi apa-apa, Patricia muncul dari dalam asap ledakan sambil tersenyum.
*SWWWIIINNGGGG\, DHHUUUAAAARRRR*
Patricia menyerang dengan telak kearah Hilda menggunakan pedang 'cambuk merah' nya. Hilda terhempas jauh, tubuhnya pun tergeletak, seolah hampir tidak lagi bergerak, kali ini demam tinggi, mati rasa, dan halusinasi mulai dirasakan oleh Hilda.
"Apa... apa... yang kau lakukan padaku... " tanya Hilda.
"Ugghhh... apa ini? Semakin lemas tubuhku semakin kuat 'dorongan' kekuatan tak dikenal dari dalam tubuhku... " gumam Hilda.
Penjelasan dari pengendali hutan
"Baiklah. Biar kujelaskan apa yang terjadi pada dirimu. Hilda, kau bilang nama lengkapmu adalah Hilda Dark•Dragon, kan?
Mungkin kau tidak mengetahui nya, tapi asal kau tahu setiap realitas marmer yang dibuat oleh seseorang memiliki tingkatannya sendiri,dan tidak semua realitas marmer langsung benar-benar aktif ketika digunakan.
Kebanyakan orang tidak mau menggunakan 'hakikat' realitas marmer nya terlebih dahulu, dan lebih cenderung menggunakan nya hanya sebagai 'arena' tempur yang tidak bisa diganggu gugat oleh orang lain. Akan tetapi milikku berbeda dengan yang lainnya. Karena aku adalah darah campuran maka kekuatan ku juga membentuk suatu kemampuan yang unik.
Aku anak keturunan antara bangsa elf hutan dan elf bayangan, sehingga realitas marmer ku adalah Hutan hitam yang penuh dengan monster buas dari balik bayangan, lalu aku juga campuran dari ibuku yang merupakan manusia biasa, realitas marmer pada umumnya tidak dikuasai oleh bangsa elf namun karena darah campuran dari ibuku lah aku bisa menggunakan realitas marmer.
Meski aku bisa membuat realitas marmer, dan mempertahankannya, sembari menggunakan jurus lain didalamnya aku membutuhkan kekuatan dan tenaga yang sangat besar. Aku bukanlah Catasthrope, meski aku adalah Havoc tapi peningkatan yang diterima oleh para Havoc hanyalah peningkatan pada 'potensi' dasar 'kekuatan' baik itu 'reikishi, mana, renkinjutsu, ki' dll.
Sedangkan Catasthrope mendapatkan sumber mana baru di tubuh nya yang hampir tak terbatas. Jadi membuat hal semacam ini tetap membebani tubuh penggunanya. Oleh karena itulah aku memanipulasi sumber 'kekuatan' dari realitas marmerku dengan menggunakan kemampuan dari ras elf bayangan.
Kau pernah dengar monster bayangan bernama 'Rashoumon?' meski sebenarnya sekarang dia sudah ditaklukkan dan menjadi 'familiar pet' milik Kapten Divisi 3 Yuzuru Nishimiya, akan tetapi jurus2 serta teknik bertarung yang dia wariskan sebagian kecil masih dimiliki oleh orang-orang dari ras elf bayangan. Salah satu kemampuannya adalah memanipulasi alam bawah sadar lawan, dan mengambil 'mana' atau 'maryoku' milik musuh.
Dari awal pertempuran kita aku sudah menggunakan Rashoumon untuk mengubah sumber kekuatan penopang dari realitas marmer yang semula adalah diriku menjadi beralih kepadamu. Meski kaulah yang menjadi sumber penopang tapi kau tidak bisa mengendalikan serta menonaktifkan realitas marmer milikku...menyedihkan bukan? sejak awal aku sengaja membuat mu berpikir bahwa hutan tersebut adalah kunci terbentuknya realitas marmer ini, sehingga kau membakar hampir seluruh hutan tersebut (Patricia menunjuk kearah atas karena mereka masih dalam teknik 'sakasa mori'). Tapi sayang sekali, justru pemulihan hutan tersebut menggunakan energi 'kekuatan' dirimu, tumbuhnya pepohonan tersebut juga berasal dari dirimu. Semua bentuk kehidupan disini menggunakan energi 'kekuatan' milikmu.
Dengan kata lain semakin lama kau didalam sini maka semakin terkuras juga tenagamu, kau memiliki darah naga hitam didalam tubuhmu. Kau sekarang mungkin merasakan ada energi asing didalam tubuh mu sekarang. Energi tersebut berasal dari darah setengah 'binatang' mu itu. Naga termasuk dari jenis monster ras binatang, tak peduli sekuat apapun 'binatang' mu itu, tak peduli sebesar apapun 'kekuatan' dimiliki oleh monster didalam tubuhmu, semuanya akan tunduk pada 'penguasa hutan'.
Kemampuan 'hakikat' dari 'Shi no Mori' (hutan kematian) milikku adalah kemampuan untuk memerintahkan seluruh bentuk kehidupan didalamnya kecuali kehidupan manusia. Namun berbeda ceritanya kalau kau adalah manusia yang berdarah naga. Meski naga tersebut melawan\, tapi yang akan memaksanya dengan menggunakan kekuatan yang sama besar bukanlah sumber penopang dariku. Melainkan dari dirimu dan monster itu sendiri. Tidak ada jalan keluar dari realitas marmerku untukmu Hilda. Meskipun kau akan _Awakening_ berkali-kali maka itu justru akan menguntungkan ku. Semakin kau mendekati wujud Naga mu\, maka semakin kuat juga kekuatan yang akan diambil oleh hutan ini demi mengendalikan balik sang naga tersebut. Perintah yang bisa kuberikan pada seluruh bentuk kehidupan didalam realitas marmer ini hampir tak terbatas\,bahkan aku bisa memerintahkan kepada suatu entitas untuk musnah atau mati.
Sekarang... Kira-kira apa yang akan kau perbuat sekarang Hilda...?" tanya Patricia.
_Naga hitam yang terpojok_
"Uhuk... uhuk... (Hilda terbatuk batuk, sambil tergeletak lemas) ada yang ingin... kutanyakan.... apakah sumber energi..... dari... seluruh seranganmu...didalam realitas marmer ini.... adalah... dariku...!? uhuk... uhuk... " tanya Hilda,
"Ya... tepat sekali... selama aku menggunakan jurus-jurus ku didalam realitas marmer ini, maka energi yang kugunakan adalah energi dari dirimu. Jadi aku tidak perlu khawatir kehabisan energi atau semacamnya, karena justru seluruh sumbernya adalah darimu." ujar Patricia sambil tersenyum.
"Sial... kupikir... kau bertarung sengit melawanku bagaikan ksatria. Gagah, kuat, terhormat. Ternyata kau juga penuh tipu daya dan bengis seperti kawanmu, sang iblis pemanah" ujar Hilda.
"Kau banyak bicara untuk seorang yang sedang sekarat... yah awalnya aku juga ingin 'menikmati' pertarungan kita berdua. Akan tetapi aku mempunyai tanggung jawab atas posisi ku, biar kuingat kan lagi dirimu. Kita bukan sedang bertading duel di arena, tapi ingatlah... kita sedang berperang...!" ujar Patricia, senyumannya berubah menjadi datar.
"haha.... kau hebat dalam hal strategi demikian Patricia, tapi kau melupakan satu hal, bahkan seekor tikus yang terpojok pun akan menggigit kucing yang dihadapannya.. " ujar Hilda.
_Pertaruhan terakhir_
*DHUUAAARRRRRRRTTTTZZZZZ\, TTTZZZZZZRRR*
Ledakan hebat terjadi. Hilda nekat untuk melawan Patricia, dia memasuki mode 'awakening'.
"Hoo... nekat juga kau, baiklah kita lihat sampai mana kau bisa bertahan" ujar Patricia.
Hampir tidak ada perubahan dari tubuh Hilda kali ini, tapi peningkatan aura, buff kekuatan, peningkatan daya tahan dan kemampuan tempur meningkat pesat. Ada sedikit tambahan dibagian zirah besi berwarna hitamnya, lalu kali ini dia memakai helm perang yang menutupi seluruh wajahnya, kemudian dia membentangkan sayap D.D dengan aura yang sangat kuat dan pekat, pedangnya berubah menjadi tombak hitam besar yang nampak sangat kuat.
"...aku tidak bisa berkomentar... " ujar Patricia.
Tepat saat Hilda baru saja mengalami peningkatan pada mode 'awakening' nya, tiba-tiba saja ada banyak rantai tak terlihat mengikat keras Hilda.
"Uggghhhhh, aaarrggghhhh"
*CTRAANNNGGGG*
Rantai2 tersebut langsung hancur saat menyentuh Hilda. Hilda kemudian menyerang membabi buta kearah Patricia. Peningkatan yang sangat luar biasa kecepatan Hilda benar-benar ditingkat yang berbeda dari sebelumnya.
*CTTRAAANGGGG!!! CTRAAANGGGG!!! CTRAANGGGG!!! * *DHUUUAARRHHH\, DDHUUAAARRHHH\, DDHUUUUAARRRHHH*
"Mengagumkan, Hilda... sangat mengagumkan!!! " ujar Patricia.
Hilda berhasil mendesak Patricia sehingga hampir-hampir saja leher Patricia berhasil dia tebas. Namun semua serangan Hilda berhasil ditangkis oleh Patricia.
"Haha... jangan lupa Hilda... semakin kuat dirimu, maka semakin kuat juga diriku, karena justru saat ini sumber kekuatan ku adalah dirimu!!" ujar Patricia sambil tersenyum pahit.
"Tenang saja!! Aku tidak berniat untuk kalah darimu saat ini!!" tegas Hilda.
"Kau bilang kau mengambil kekuatan dari lawanmu dan menjadikan kekuatan tersebut menjadi sumber kekuatan mu, dengn kata lain. Pasti ada suatu 'wadah' sebagai tempat konversi dari suatu 'kekuatan' menjadi bentuk 'kekuatan' lain.
Sangat jelas bahwa 'Rashoumon' dan 'Shi no Mori' ini kau jadikan sebagai 'wadah' sebagai tempat input kekuatan lain, dan sebagai tempat converter,lalu untuk output nya adalah bentuk, entitas dalam hutan ini serta 'mana' yang kau gunakan untuk melawanku. singkat kata, bila suatu teknik membutuhkan 'wadah' maka kelemahan nya terlihat jelas. jika aku berhasil menghancurkan 'wadah' tersebut maka kemungkinan akulah yang akan menang. Dan tentu saja ada batasan untuk'wadah' dalam menampung sesuatu." jelas Hilda, sambil terus melancarkan serangan kearah Hilda.
Patricia semakin cemberut dan raut wajahnya seolah kecewa. "Maaf.... sayang sekali.... kau.... salah" ujar Patricia....
_Hakikat Shi no Mori_
"Maaf, biar kujelaskan ulang biar kau paham Hilda. Penjelasanmu tentang konversi kekuatan memanglah benar, akan tetapi Rashoumon hanyalah sebagai katalis untuk memancing kekuatan mu agar dapat kuambil, sedangkan Shi no Mori hanyalah tempat yang dapat kugunakan agar kau tidak kabur dari jangkauanku. Meski kau berencana kaburpun kau mustahil untuk keluar dari realitas marmer ku.
Hakikat dari 'Shi no Mori' sesuai dengan arti namanya yaitu Hutan kematian.
Dengan diaktifkan nya kekuatan Shi no Mori, maka hutan ini akan terus tumbuh, dan beregenerasi ketika rusak dengan memakan kekuatan dari musuh penggunanya kecuali sudah ditandai olehku.
Shi no Mori adalah Hutan abadi yang dapat dikendalikan sesuka hati oleh penggunanya selama 'sumber kekuatan' belum mati. Hutan ini tidak perlu 'wadah' dia dengan otomatis akan menyerap energi musuh sang pengguna, aku menggunakan Rashoumon agar akupun tidak perlu mengeluarkan sedikitpun 'kekuatan' untuk melawanmu. Sehingga alih-alih semua 'kekuatan'mu tersedot oleh Shi no Mori, berkat teknik Rashoumon aku bisa mengambil sebagiannya untuk diriku sendiri." jelas Patricia panjang lebar.
_Puncak?_
Hilda terdiam, tertunduk, Hilda tiba-tiba tersenyum.
"Haha... aku salah ya... " ujarnya.
Kemudian dia jatuh terduduk
"ugghhh...satu serangan... akan kuserahkan segalanya pada satu serangan pamungkas terakhirku."gumam Hilda.
Hilda mengabaikan seluruh rasa sakit yang dia derita, kemudian mengeluarkan seluruh apa yang dia punya untuk satu serangan terakhir.
" Patricia bersiaplah!! Terimalah dengan baik serangan terakhir ku ini!!" Tegas Hilda
"Aku berterimakasih padamu!! Kau sudah mengajarkan padaku hakikat dari peperangan itu sendiri Patricia Veronica!! " ujarnya tegas sambil tersenyum.
Patricia terkejut melihat bahwa Hilda masih memiliki kekuatan sebesar itu padahal sudah terluka, dan kekuatan Hilda juga sudah banyak dia serap.
"Haha... sudah kuduga kau luar biasa, kau melebihi ekspektasi ku. Biar kutambah penjelasanku sedikit, Sakasa no Mori adalah teknik yang mengubah titik gravitasi dan pijakan seseorang menjadi berada di 'lantai' langit, akan tetapi aliran darah dan metabolisme tubuh tetap mengikuti titik gravitasi sebelumnya, sehingga teknik Sakasa no Mori juga membuatmu pusing serta mempercepat efek dari Shi no Mori milikku karena aliran darahmu banyak yang terkumpul di bagian kepala.
Manusia pada umumnya bila dia berada di posisi terbalik (kepala melawan titik gravitasi) biasanya akan langsung pusing, 5 menit kemudian pandangannya akan buram, 10 menit kemudian dia muntah, 15 menit kemudian dia akan mengalami gangguan pada syaraf otaknya, 20 menit kemudian dia kehilangan beberapa fungsi indranya, 25 menit kemudian pembuluh darah dikepalanya akan pecah, dan mengalami gagal jantung. lalu... setelah 30 menit... orang yang melawan titik gravitasi tersebut... akan... mati.
Tapi kau luar biasa... sudah lebih dari 30 menit sejak aku menggunakan Sakasa Mori tapi sepertinya pembuluh darahmu tidak pecah dan kau tidak mengalami gagal jantung."
(NB: pertarungan Hilda vs Patricia lebih dulu dimulai dibandingkan Mizuki vs Aiko yang memiliki batas waktu sebelum pertarungannya benar-benar berakhir)
"Bahkan kau masih bisa mengeluarkan kekuatan sebesar ini. Aku menghormati mu sebagai lawanku....Majulah!! " ujar Patricia.
"Baiklah!!!TERIMALAH!!!... DARK...... EX...... CALIBUUUUUUUUUUUR!!!"
"DAIJUTSU!! Abarero,Shi no Mori!! Hirake!! Akai ki no Ken!!" mereka berdua berteriak kencang!!
Patricia menyerang dengan seluruh bagian hutan raksasa, dan pedang 'cambuk merah' nya berubah menjadi bentuk pohon merah kecil yang akan dia benturkan kearah Hilda,
Hilda menyerang dengan aura hitam penghancur di senjatanya. sentaja miliknya sudah berubah dari pedang menjadi tombak. sementara itu tampak cahaya merah dan hijau dari pedang dan teknik Patricia yang sangat kuat, beserta aura keduanya yang nampak sama-sama kuat. Serangan terakhir dari kedua pihak yang dapat merenggut nyawa salah satu dari keduanya.
_Tamu baru_
*DDHHHUUUUAAAAAAAAARRRRRRRRRZZZZTTTTTTZZZZ*
Ledakan maha dahsyat tidak terelakkan lagi. Keduanya tertutup asap, dan tidak mengetahui kondisi masing-masing lawan...
*Swiiiingggg\, sssllrrrrr*
"Ha.... hah.... hah.... ugh.... dahsyat sekali... apa.... ini...!? " ucap salah satu keduanya.
Nampaknya ada sulur-sulur pohon raksasa yang dilapisi dengan pasir hitam serta Bushou Haki demi melindungi mereka berdua dari ledakan dahsyat itu. Hilda pingsan tak sadarkan diri. Smentara itu Patricia terbelalak dan sangat terkejut melihat orang didepannya.
"Mokuton Daijutsu : Jukai... Koutan...(Teknik kayu tertinggi:Jurus Hutan Belantara)" terdengar lirih suara seseorang
Seseorang telah muncul menghentikan pertikaian mereka berdua. Seorang gadis belia bercirikan tinggi tubuh sedang;tidak pendek tidak juga terlalu tinggi telah muncul tiba-tiba. Dia muncul sembari memegang dua pedang raksasa yang berbentuk seperti pedang yang biasa digunakan petarung padang pasir namun kali ini berukuran besar dan tebal. Kedua pedang miliknya bertuliskan 'Mokuchi' dan satunya bertuliskan 'Suna'.
Dia Berbaju putih polos berkancing,memiliki rambut berwarna krem agak kehijauan, memakai rok hitam selutut, dan memakai sepatu berwarna hitam. Dia datang dengan dihiasi senyuman diwajahnya, seraya berucap dengan santai.
"Aku...tidak terlambat...kan..?" ujarnya.
....Bersambung