
_Pembunuh
para dewa palsu_
"Yu... Yuzuru Nishimiya...!? " Ayako seolah tak percaya.
"Hahah... Mana mungkin seorang bocah
sepertinya bisa mengalahkan makhluk mitologis kuat seperti Poseidon dengan mudahnya." Ujar nya lalu
bergumam,
"Yuzuru Nishimiya, ya? Aku pernah
mendengar ceritanya dari Ryuu dan Guru Rukaman. Dia seorang gadis kecil dengan
perawakan masih seperti belasan tahun.
Guru bilang orangnya agak aneh, menyukai hal-hal yang berbau monster dan sesuatu
yang berkaitan dengan kegelapan. Namun ketertarikannya bisa dimaklumi karena
kekuatan miliknya adalah mengendalikan segala sesuatu yang berkaitan dengan
warna hitam. Meski dia adalah Catashtrope tapi aku tidak menyangka perbedaan
kekuatan nya sangat jauh dengan orang yang sedang kuhadapi sekarang.
Orang didepanku sedang dalam kondisi yng tidak
prima, saat ini saja dia sudah cukup merepotkan ku. Sedangkan Yuzuru dapat
mengalahkan Poseidon dan pasukannya ketika Makhluk Mitologi tersebut dalam
kondisi prima. Padahal makhluk mitologi yang dimaksud adalah salah satu sumber
kekuatan terbesar dari lawanku.... tidak bisa dipercaya... ".
" Ya... sebenarnya yang disebut dalam legenda 'mengalahkan dengan
mudah' itu hal yang salah. Yuzuru-sama ketika itu menggunakan salah satu
Realitas Marmernya yang bernama 'Kuro Kagutsuchi' untuk mengurung Poseidon dan
pasukannya lalu membantai mereka sekaligus. Walau terdengar sangat mudah tapi
kenyataannya tidak seperti itu karena kesaktian Poseidon juga sangat merepotkan
bagi Yuzuru-sama.
Rakyat manusia yang melihat pertempuran tersebut seakan sangat cepat
karena sebelum beliau menggunakan 'Kuro Kagutsuchi'(Penguasa api hitam) beliau
melapisi realitas marmernya dengan Noble phantasm nya yang lain yaitu
Kurohitsugi(kotak peti mati hitam) yang terlepas dari aturan ruang dan waktu.
Sebenarnya saat itu Yuzuru-sama hampir mati
karena kalah jumlah didalam realitas marmernya sendiri. Tapi karena disaat-saat
kritis beliau berhasil mengendalikan api hitam dan menjadi 'Master of 'Black'
Colour' ketika itu, maka beliau menang.
Aku
membacanya di arsip laporan terdahulu di perpustakaan Divisi tiga. Sebuah kisah
yang membuatku tertegun, dan semakin menghormati para senior lainnya."
Ujar Mizuki sambil tersenyum.
"Melawan Poseidon...menggolongkan para dewa mitologi tersebut
dengan sebutan anomali, bahkan memiliki pengetahuan untuk mengklasifikasikan
jenis kekuatan para dewa tersebut. Rupanya kalian ini benar-benar 'dimensional
travelers' yang bukan hanya isapan jempol belaka." Ujar Ayako. "Kalau
kalian melawan Poseidon bukankah berarti kalian juga memerangi para 'dewa'
lainnya? " tambah Ayako.
"Ayako.. bukankah sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kami hanya
menganggap mereka adalah sejenis makhluk anomali yang mendekati monster?
Bukankah sudah sepantasnya untuk manusia menyingkirkan apa yang sekiranya
berbahaya? Mereka mengaku-ngaku sebagai tuhan, mereka mengaku berhak disembah,
mereka mengaku bahwa diri mereka lah ras yang tertinggi diantara makhluk
lainnya. Tapi tetap saja... kita semua adalah 'makhluk' tidak ada yang pantas
untuk disembah selain sang Pencipta makhluk itu sendiri, tuhan yang asli hanya
mengijinkan kita bertemu dengannya pada
kehidupan setelah kematian.
Generasi Catasthrope terdahulu atau generasi Catasthrope senior dijuluki
sebagai 'para pembunuh dewa' karena target sasaran Gunji Tsuchiya-Sama serta
para bawahannya masih terfokus pada makhluk-makhluk mitologi ataupun orang yang
mengaku-ngaku sebagai 'Tuhan'.
Generasi senior Catasthrope dulu masih beranggotakan 6 orang;2 dari
divisi 0 sekarang,lalu para kepala dari divisi 1 sampai 4 secara urut yaitu :
Misteltein, Sakura Mizukami,Yuzuru Nishimiya, dan terakhir Izuna Hatsune.
Dulu masih belum ada para Havoc seperti kami yang sekarang menggantikan
mereka di garis depan. Meski perbedaannya sangat jauh, tapi kami tetap
dibutuhkan sebagai pertahanan pertama,pengulur waktu,ataupun support sampai
para Catasthrope sendirilah yang turun tangan."
"Ironis sekali...tapi bukankah kalau demikian kalian para Havoc
hanyalah tumbal demi keamanan para Catasthrope!?" tanya Ayako.
"Tidak juga. Justru pada awal pembentukan para Havoc kami hanya
melakukan tugas administrasi dan membantu Catasthrope dalam hal
non-militer,meski diantara kita ada yang memiliki kemampuan tempur setara
dengan catasthrope. Kita tidak dimasukkan kedalam struktur resmi militer.
Karena sebenarnya kami para Havoc bukanlah suatu kesatuan yang dapat diperintah
oleh Gunji-sama dan para Catasthrope melainkan hanya pengawas mereka. Kami
dibentuk oleh para dewan '7' yang dewan tersebut semuanya berisikan istri-istri
Gunji, yang memiliki otoritas besar untuk mengawasi para Catasthrope agar tidak
lepas kendali.
Namun seiring berjalannya waktu, serta karena kedekatan Havoc dengan
Catasthrope serta banyak kejadian-kejadian rumit dalam masalah perang, politik
dll. Havoc menawarkan diri sebagai 'garda' terdepan' selain Catasthrope yang
jelas banyak diincar dan identitasnya sudah mahsyur. Ini juga memudahkan
mobilitas pasukan karena pembagian tugas pasukan menjadi lebih tertata dan
rapih, pihak militer juga sangat terbantu dengan adanya Perwira-perwira
tambahan yang sangat kuat. Dan juga meringankan tugas Catasthrope sehingga
memberikan waktu kosong untuk beristirahat ataupun berlatih."
"Begitu ya.... " gumam Ayako.
_Kali ini Rhongomyniad?_
"Daripada membahas hal yang membosankan itu. Sepertinya lebih menarik
kalau kau menjelaskan tentang 'Rhongomyniad' mu itu. Kalau tidak salah kau
sempat bilang kau memilikinya." ujar Mizuki.
"Yah... kau benar... aku
memilikinya." jawab Ayako.
"Lalu kenapa kau tidak memunculkan nya?
Apakah aku bukan lawan yang kuat bagimu sehingga kau menunda mengeluarkan
Rhongomyniad mu?" tanya Mizuki.
"Tidak. Bukan begitu, aku hanya
menggunakan Rhongomyniad sebagai serangan pamungkas terakhir, rasanya juga akan
sangat boros tenaga jika menggunakan nya diawal. Kau juga demikian bukan? Kurasa
kau masih belum memperlihatkan ku semua kekuatan dan kemampuan dari wujud
Awakening aslimu itu." ujar Ayako.
"Haha... benar juga tapi waktuku tidak
cukup banyak untuk memamerkan semuanya kepadamu. Tapi tenang saja, diakhir
percakapan kita aku akan mengakhirinya dengan satu serangan pamungkasku juga.
Satu serangan kuat sebagai ucapan terimakasih sekaligus ucapan selamat
tinggalku kepadamu yang berkenan berbincang dan bertempur sekuat tenaga pada
akhir hayatku." Ujar Mizuki.
"Rhongomyniad ya...Kalau tidak salah ingat Rhongomyniad , atau
Rhongomiant ( "Tombak Slayer" atau "Cutting Spear"), adalah
tombak dari Raja Arthur di legenda Arthur versi lain. Tidak seperti dua senjata
Arthur lainnya, pedangnya yang bernama Caledfwlch atau dikenal dengan nama
'Excalibur' dan bbelatinya bernama
Carnwennan , Rhongomyniad disebutkan tidak memiliki kekuatan magis yang nyata.
Dalam suatu paragraf dibuku yang menceritakan legenda2,
Rhongomyniad disebut disamping pedang Arthur Caledfwlch/Excalibur dan belati
Arthur Carnwennan sebagai senjata suci yang diberikan kepadanya oleh Tuhan :
'senjata suci yang Tuhan berikan kepadanya: Rhongomiant tombaknya,
Caledfwlch/Excalibur pedang, dan Carnwennan belatinya'.
Ada
kisah lain yang menyebutkan juga bahwa tombak Arthur ditempa di suatu kota
bernama Carmarthen oleh seorang pandai besi bernama Griffin. Dia juga
menambahkan bahwa itu dulunya milik Uther Pendragon yang merupakan ayah kandung
Arthur Pendragon itu sendiri.
Apa
legendaris semuanya memiliki kaitan dengan sang Raja Arthur...?
Caliburn dan Excalibur.... Hmmm...kalau dipikir kebelakang,Arthur
menjadi raja karena dia satu-satunya pria yang bisa mengeluarkan pedang dari
batu dan membuatnya memenuhi syarat untuk memerintah seluruh kerajaan.
Di
legenda awal,Excalibur dan Sword in The Stone (Pedang di Batu)
sebenarnya bukanlah senjata yang sama. Pedang di Batu sebenarnya bukan senjata
yang sangat hebat, itulah mengapa Arthur diberi pedang kedua oleh Lady of
the Lake. Sedangkan nama pedang yang pertama adalah Caliburn atau Caliburnus
dan pedang kedua diberi nama Ex-Caliburn.
Di
versi kisah lain ada yang menganggap bahwa Excalibur dan pedang di batu adalah
pedang yang sama, kemudian pedang tersebut diberi nama Calibornos, Caliburn,
Caliburns, yang namanya tidak sengaja di pelesetkan oleh seorang penyair dari
negeri seberang menjadi Escalibor dan kemudian lebih dikenal dengan nama
Excalibur.
Sebenarnya banyak sekali versi legenda bahkan ada yang menyatakan dalam
tulisannya kalau nama pedang yang tertancap pada batu sebenarnya adalah pedang
Clarent, bukan Caliburn sehingga menguatkan pernyataan nama Excalibur berasal
dari pelesetan seorang penyair 'Escalibor'.
Entah kenapa Caliburn yang menurutku adalah pedang biasa menjadi pedang
legendaris di duniamu.
Clarent ya... seperti yang kuucapkan barusan, ada yang menyatakan bahwa
clarent adalah pedang di batu yang dimaksud. Clarent digunakan sebagai senjata
simbolik perdamaian, berbeda dengan 'Escalibor' yang selalu digunakan untuk
berperang oleh Raja Arthur. Sejarahnya Clarent berawal dari perebutan kekuasaan
dalam keluarga kerajaan yang berlangsung berlarut-larut hingga mereka membuat
sayembara setelah menemukan pedang milik kerajaan bernama Clarent yang
tertancap di pada batu sejak jaman leluhur mereka, senjata itu sendiri selalu
diwariskan dalam kondisi masih tertancap pada bongkahan batu.
Isi sayembara nya adalah barang siapa ynag berhasil melepaskan pedang
tersebut dari batu maka dialah yang memegang tahta berikut nya, dan yang lain
harus menyetujui nya. Arthur lah satu-satunya yang bisa mengeluarkan pedang
tersebut dari bongkahan batu. Pedang yang membuktikan dia pantas mendapat
warisan kerajaannya dan mengakhiri perebutan kekuasaan. Hasilnya, Clarent
menjadi pedang seremonial, dan simbol kedaulatan Raja Arthur.
Dalam suatu puisi kuno disebutkan tentang Clarent, pedang upacara.
Pedang ini adalah pedang perdamaian yang diwarisi Arthur dari Uther, dan yang
digunakan Arthur dalam ritual seperti penobatan dan ksatria.
Namun, pedang ini dicuri dan digunakan oleh Mordred untuk memberikan
pukulan fatal kepada Arthur.
Clarent digunakan Mordred untuk membunuh
Arthur. Ini merupakan puncak dari pengkhianatan Mordred pada surut pertempuran
yang disebut 'Camnlann'. Pertempuran tersebut berawal dari keputusan Arthur
yang akan pergi ke medan perang sehingga ia mempercayakan takhta kepada
Mordred, putra haramnya. Namun Mordred malah menyerang dari belakang ayahnya
itu.
Mungkin
itu saja sekilas yang kuketahui tentang sejarah Rhongomyniad, dan beberapa
sejarah tentang senjata legendaris dari duniamu Ayako. Bagaimana dengan versi
didunia mu sendiri?. Tentunya kurasa akan berbeda dengan yang sudah
kusampaikan." ucap Mizuki.
"Ya benar... ugh... rupanya kau tau banyak" ujar Ayako.
"Aku bahkan belum memikirkan kenapa dunia ku banyak sekali hal yang
berkaitan dengan sang Raja Ksatria (yah mungkin Authornya nge-fans banget sama
saber dkk, Wkwkw-pengarang). Untuk sejarah penamaan aku tidak terlalu
memikirkan nya. Tapi kalau dari kisah awal pembuatan dan sampainya senjata
tersebut ketanganku, bisa sedikit kuceritakan.
Awal mulanya Rhongomyniad di buat oleh ancient empire dengan mengubahnya
dari salah satu permata anugrah. Lalu diwariskan kepada keluarga kerajaan
bersama 3 senjata lain.
Dulu
sebelum aku bertemu dengan Ryuuzaki dkk, serta belum memiliki Rhongomyniad, aku
adalah penduduk dari negeri Saphirenesia. Aku tinggal dinegeri tersebut dengan
keluarga ku sampai negara 'Dark•Dragon' membumihanguskan tanah airku. Tidak ada
yang selamat bahkan kedua orang tuaku. Aku mewarisi Excalibur dari orang tuaku.
Kemudian aku menjadi 'penduduk terakhir' negara saphirenesia karena pembantaian
oleh negara D.D.
Aku
melarikan diri keluar dari negeriku dan bertemu dengan Ryuuzaki sebelum dia
mengembara keliling dunia. Ryuuzaki memungut diriku dan mengantarku ke daerah
utara dimana aku bisa mendapatkan perlindungan dan naungan dari keluarga nya.
Sesampainya di daerah Utara aku tinggal di kediaman kakek Ryuuzaki yaitu Shiro
Akazonae. Kemudian diajari berbagai hal disana, dan dilatih ilmu yang berkaitan
dengan peperangan, serta norma kehormatan agar aku bisa menjadi seorang
ksatria.
Pada suatu hari, aku kedatangan tamu misterius bernama 'Jormungadr' dia
menyebut dirinya seperti itu. Jormungandr adalah seekor ular raksasa misterius
yang mengambil Rhongomyniad di reruntuhan negeri Saphirenesia dan memberikannya
kepadaku. Entah apa motif dan alasan sebenarnya dia memberikan Rhongomyniad
padaku. Meski begitu aku berterimakasih pada ular misterius itu karena telah
secara sukarela memberikan senjata legendaris itu kepadaku. " ujar Ayako
yang kemudian tersenyum.
Akhir...
"Hoo... begitu ya... ketidaktahuan mu
akan sejarah duniamu sendiri secara mendetail, membuatku ingin secara langsung
pergi ke tempat asalmu. Tapi sayang sekali aku sudah tidak punya waktu
lagi" ujar Mizuki sambil ikut tersenyum. "Waktu berjalan dengan sangat
cepat saat kita mengobrol Ayako. Terimakasih untuk obrolannya. Aku menghargai
waktu kita yang sangat sedikit ini. Tak terasa waktuku hanya tinggal 1 menit
lagi. Mungkin inilah waktunya bagiku untuk mengerahkan semuanya pada satu
serangan terakhir...haha... "
"Tinggal satu menit lagi ya... " kemudian Ayako menundukkan
kepala dan menggenggam pedangnya dengan erat.... "Muncullah...
Rhongomyniad...! " ujar Ayako tegas dengan lirih. Kemudian muncullah sebuah
tombak putih bersih yang sangat berkilau, indah dan nampak kokoh ditangan
Ayako. Excalibur miliknya hilang entah kemana digantikan oleh sebuah tombak
yang dia sebut dengan nama 'Rhongomyniad'
"Whooa... itukah 'Rhongomyniad'? Indah
sekali... Baiklah akan kutunjukkan juga jurus pamungkas ku... Enosikhton,
Gaieokhos. Kemudian...Bangkitlah!! Trident Titanomakhia
Cyclops...!"
Kemudian gempa bumi terjadi sangat kencang,
kemudian air laut menjadi sangat tidak stabil nampak di kaca 'aquarium
raksasa', hewan2 monster laut makin bertambah banyak. Lalu tombak yang dipegang
oleh Mizuki bersinar biru terang.
"Terimakasih sekali lagi atas obrolannya Ayako... "
"... ya... " Jawab Ayako.
Rhongomyniad Ayako kemudian juga bercahaya
putih yang menyilaukan kali ini tenaga yang dihasilkan melalui Rhongomyniad
berlipat lipat lebih besar dari pada Excalibur sebelumnya. Demikian juga energi
ynag dihasilkan Trident sangat lah besar. Keduanya tak ada yang mau mengalah.
"TERIMALAH INI!!! MENGAMUKLAH!!! TRIDENT!!! " teriak Mizuki sambil
melemparkan trisulanya. "KAU JUGA!!! TERIMALAH INI!!! RHONGO...
MYNIAD...!!!! " Ujar Ayako sambil melempar tombak putihnya.
"Kalau begitu coba rasakan ini...
...Kurohitsugi....”
....
Bersambung