The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
BANDIT ASURA



Pada suatu hari, seorang pemuda terlihat sedang memburu sebuah pergerakan yang membuatnya merasa harus mengejarnya. Pria berambut panjang putih itu berloncatan dengan sangat lincah di antara pepohonan hutan. Kabut hijau tampaknya sudah bukan lagi hal yang mengganggunya.


"Mati kau!"


Chen Jia berseru dengan penuh kepuasan saat berhasil mengenai leher seekor serigala mistis tingkat 5 yang terbilang cukup ganas dengan sebilah tombak dari batang kayu besi. Pemuda itu terlihat cukup terengah-engah akibat hampir seharian berburu di Hutan Mistis.


"Hanya serigala jelek tingkat lima saja, mengapa bandel sekali kau ini?"


Chen Jia menendang tubuh binatang besar itu dengan kesal. Kemudian, pemuda itu terlihat mengarahkan telapak tangannya ke kepala binatang itu untuk menyedot keluar sebutir bola kristal berwarna abu-abu.


"Kristal yang ke dua puluh!" serunya dengan senang. "Kurasa, ini bisa kujual untuk menambah uangku. Aku akan memberi kejutan untuk gadis dekil itu!"


Pemuda itu berucap sembari mengulum seulas senyum manisnya sambil berkacak pinggang. Dia sedikit membayangkan seorang gadis mengenakan hanfu sifon berwarna merah muda sedang berputaran bak seekor burung flamingo yang cantik semampai dengan sepasang kaki jenjang dan kurus.


"Si gadis dekil itu akan terlihat seperti seorang Dewi Phoenix dari istana langit, seperti dalam kisah drama xian xia itu." Pemuda berambut putih yang diikat bagai ekor kuda itu tertawa senang. "Aku sungguh tidak sabar untuk melihat rupanya dalam balutan hanfu cantik itu!"


Chen Jia menggelengkan kepala berulang kali dan segera membalikan badannya dengan cepat untuk meninggalkan tempat itu setelah terlebih dahulu membakar bangkai serigala buruannya.


"Gadis dekil, aku pasti berhasil mengubah penampilanmu!" seru Chen Jia tanpa menyadari akan adanya seseorang telah berada di sana. Sesosok tubuh itu berdiri dengan angkuh di celah-celah pepohonan dan berpijak di atas akar tunggang yang menjalar serta saling membelit ke segala arah.


"Siapa yang dekil?" Sebuah suara seorang wanita berhasil mengagetkan Chen Jia.


Pemuda itu menghentikan langkahnya sambil mendelik karena terkejut.


"Jieee! Kau mengagetkanku lagiii!" teriak Chen Jia. Sepasang tangannya yang tengah menggenggam kantung dari kulit binatang terangkat tinggi-tinggi. Beberapa butir kristal berjatuhan di sekitar kedua kakinya.


"Siapa yang sengaja mengagetkanmu? Kau saja yang terlalu asyik membicarakan orang lain. Katakan dengan jujur! Siapa si dekil dalam ucapanmu barusan?" Zhang Rui atau Ryana Zhang mendekatinya sembari berkacak pinggang dan membungkukan badan guna memunguti butiran-butiran batu kristal sebesar kepalan tangannya.


"Itu ... eeh, itu dia." Chen Jia sedikit cengengesan menahan malu akibat ucapannya diketahui oleh Ryana Zhang. "Aku hanya sedang ... sedang mengkhayalkan dirimu dalam sosok Putri Zhu Ziya."


"Zhu Ziya ...."


Ryana bergumam sambil memberikan kristal milik Chen Jia yang menerimanya secara langsung dengan membuka kantung kulitnya lebar-lebar. "Aku akan menjual kristal ini kepada pembudidaya pemula ... dan uangnya, akan kugunakan untuk membeli keperluan untuk merayakan hari kelahiranmu."


Seusai berkata demikian, pemuda itu mengumpati dirinya sendiri dalam hati. "Bodoh! Dasar bodoooh! Seharusnya tidak kau katakan semua ituuu!"


"Ulang tahun?" Ryana menyeringai untuk dirinya sendiri. "Bukankah kau tahu sendiri, kan? Kalau di dalam novel itu telah diceritakan, Zhang Rui itu adalah seorang pengemis. Bahkan hingga chapter ke sepuluh pun, penampilannya masih pengemis! Bagaimana bisa Zhang Rui berubah jadi seorang dewi seperti yang ada di kepalamu itu?"


"Aiyaaaa! Tidak bisakah ada sedikit perubahan pada alur dan penampilan karakternya? Dan kuharap, kau juga memasukan si tampan Chen Jia ini menjadi salah satu main character!" Chen Jia berucap sambil memungut tombak yang tadi dia lemparkan begitu saja.


"Memasukanmu menjadi salah satu main character? Lalu, kujodohkan dengan nona Yunyang, bagus juga," sahut Ryana dengan entengnya.


"Haaaaa? Dengan si antagonis wanita itu?"


"Ya!"


"Aku tidak mau!"


"Tapi, dia kugambarkan sangat cantik!"


Ryana melototi Chen Jia. "Lalu, kau ingin yang bagaimana dan dengan siapa?"


"Yaaa, Jie pikirkan saja sendiri ...."


"Aiiyaaaaa, kau membuatku pening! Sudahlah, sebaiknya kita berangkat sekarang!" Ajak Ryana Zhang sembari melangkah pergi.


Chen Jia mengikuti langkah gadis bertubuh mungil dan lincah itu. "Ke mana?"


"Ke mana lagi? Tentu saja ke tempat penjualan kristal ini!" ujar Zhang Rui dengan nada santai. "Kau benar, kita memang harus mengganti pakaian kita ini. Tetapi, tidak harus yang terlalu mahal dan seperti dalam bayanganmu itu. Mengerikan!"


"Oohh. Baiklah! Setidaknya aku akan terlihat lebih tampan dari sekarang ini." Chen Jia berlari-lari kecil sambil sesekali berloncatan di antara akar pepohonan liar.


"Tampan? Huh!"


Kabut hijau yang bersliweran, terkadang masih dengan nakal menganggu mereka berdua. Namun, keduanya sudah tidak terganggu sama sekali dengan ilusi yang ditimbulkan oleh asap hijau tersebut.


Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk keluar bersama dari Hutan Mistis guna melakukan sesuatu. Sebelum itu, Ryana telah menyiapkan banyak senjata rahasia untuk sekedar berjaga-jaga kalau-kalau hari sial itu tiba. Ya, itu adalah hari yang paling dia takuti selama alur cerita di novelnya sendiri.


Dari balik rimbunnya semak belukar yang banyak tumbuh di tepian jalan, terlihat beberapa bayangan manusia berloncatan dan menghadang sepasang muda mudi yang baru saja keluar dari Hutan Mistis. Penampilan mereka tidak lebih baik jika dibandingkan dengan penduduk Desa Pengemis.


"Berhenti kalian!" Salah seorang dari mereka membentak sembari berkacak pinggang.


"Bandit Asura!" pekik Ryana dalam hati dengan dada berdebar-debar dan sedikit merasa ketakutan. Ryana dalam hati menjerit, "Ya, Dewaaaa! Mau tidak mau aku benar-benar bertemu dengan scene ini di usiaku yang keenam belaaas!"


"Jie, bukankah ini adalah karakter para bandit tak bermoral yang memper ...."


"Diam! Aku lebih tahu tentang hal ini. Itu sebabnya yang membuatku nekat masuk ke Hutan Mistis meski aku juga hampir mati oleh kabut ilusi!" Zhang Rui membentak dalam suara yang dikecilkan agar para bandit tidak mendengar percakapan mereka. "Apa kau pikir, aku akan membiarkan mereka merusakku?"


"Oh, kau benar! Beruntung sekali Jie Jie sudah melakukan sesuatu untuk pencegahan," sahut Chen Jia masih berbisik setelah mereka saling merapatkan punggung dan memasang kuda-kuda. Chen Jia kembali berbisik tajam. "Siapkan senjata itu!"


"Kau tenanglah!" sahut Ryana Zhang sembari menggenggam sesuatu di belakang pinggangnya. Begitu pula dengan Chen Jia.


Sementara itu, para bandit merasa sangat berhasrat saat melihat Ryana Zhang yang terlihat cantik walaupun dekil. Mereka menatap gadis itu dengan tatapan liar disertai tegukan-tegukan ludah bak kawanan serigala yang sudah tak bisa lagi menahan lapar.


"Lihat! Itu gadis yang sangat cantik! Aku menginginkannya. Sudah lama,sekali aku tidak mencicipi daun muda segar seperti ini!" seru salah seorang bandit.


"Benar! Sangat cantik dan terlihat begitu menggiurkan! Bukankah kita bisa menikmati tubuhnya secara bergantian?" ujar anggota bandit yang lain, disusul gelak tawa para kawanannya.


"Menjijikan!" teriak Ryana dengan sorot mata penuh kebencian.


"Anak manis, menurutlah kepada para kakak tampan ini. Maka, kami akan menjamin, kulitmu yang lembut itu tidak akan kami lukai barang segores pun!" Gelak tawa pun kembali meledak memecah kesunyian tepi hutan.


"Dan pria muda temanmu itu, juga akan mendapat perlakuan yang sangat baik setelah kematiannya," seru salah seorang dari para bandit itu.


"Lancang!"


...Bersambung...