
Istana Kekaisaran Zhu.
Temaram senja mengiringi perjalanan surya ke ufuk barat. Walau sinarnya tak lagi hangat, tetapi cukup untuk menyemburatkan cahaya lembayung nan menyilaukan mata. Langit pun mulai tampak dipenuhi berjuta kerlip bintang, sang penyambut kehadiran dewi malam. Meskipun rembulan saat ini hanya berbentuk sabit, akan tetapi sinarnya cukup untuk memberi penerangan kepada para pejalan kaki. Bagi para pengelana, bulan adalah mercusuar alami yang terpancang di angkasa hingga mereka tak lagi harus menggantungkan penglihatan kepada cahaya lentera di malam buta.
Sesekali, kelebat sayap-sayap kelelawar dan burung malam yang terbang telanjang berkepakan di keremangan senja. Mereka kembali untuk melakukan rutinitas dan tugasnya, sesuai jam alam yang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Mereka adalah makhluk-makhluk yang tidak pernah mengkhianati aturan dan akan selalu datang dan pergi pada saat yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
Mereka dengan bebasnya beterbangan, berliukan bagai membentuk tarian saat melintasi atap-atap istana berwarna kuning keemasan yang memiliki lengkungan ke atas nan anggun pada setiap ujungnya. Terkadang makhluk-makhluk itu juga hinggap di susunan genting yang ditata sedemikian rapinya.
Senja itu, di dalam sebuah wisma yang besar, luas dan indah. Seorang wanita cantik dengan balutan hanfu yang sangat tipis hingga hampir tembus pandang berwarna merah, tengah asyik berendam di dalam sebuah kolam pemandian bertabur ratusan kelopak mawar. Ia sedang merasakan kenikmatan akan segarnya air panas beraroma harum mawar.
Ia dikelilingi delapan orang wanita cantik yang menjadi pelayan setianya. Mereka terlihat sangat berhati-hati dalam memijat dan menggosok kulit seputih susu nan mengkilat dengan sebuah batu mutiara. Wanita itu memang sungguh sangat cantik meski usianya telah memasuki tiga puluh enam tahun. Dia adalah Li Jiao atau yang biasa disebut sebagai Selir Li yang juga merupakan istri kedua dari Kaisar Zhu Ran.
Petang itu juga, seorang lelaki berusia empat puluh tahunan yang terlihat masih gagah dan tampan tampak berjalan dengan anggun memasuki wisma kediaman Selir Li. Pria itu tidak memerlukan perijinan atau pesetujuan dari siapa pun, saat melangkahkan kaki ke mana saja yang dia inginkan, termasuk ke dalam 'Wisma Serpihan Salju' tersebut.
Lelaki berjubah hanfu hijau kebiruan segera menyibak tirai yang terbuat dari rangkaian mutiara tiruan. Mata teduh pria itu langsung tertuju ke arah Selir Li yang membelakanginya. Punggung polos berkulit putih mengkilat dengan geraian rambut hitam nan panjang, sudah teramat membuat pria itu sungguh merasa tergoda. Seulas senyum tipis pun tersungging di bibir pria berwajah tampan penuh aura kelicikan di wajahnya.
Para dayang seketika menundukan kepala dan diam tak berani bergerak sama sekali. Beberapa di antara mereka langsung menyingkirkan diri sembari membungkuk hormat. Rupanya, lelaki berjubah hanfu hijau kebiruan itu sengaja memberi isyarat agar mereka tak memberitahukan akan kedatangannya kepada Selir Li yang masih asyik menikmati mandi bunga mawar.
Zhou Weiyang melepaskan seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan selembar lapisan terdalam. Secara diam-diam pula, dia duduk di tepian kolam dan mengambil alih tugas dayang yang tengah menggosok lengan mulus milik Selir Li dengan batu mutiara. Tentu saja, gerak pijatan menjadi sangat berbeda dari sentuhan dayang tadi. Hal tersebut membuat Selir Li tidak lagi merasa biasa saja, ada getaran lembut aneh merayapi setiap syaraf wanita itu.
"Pelayan! Mengapa gerakanmu tidak senyaman tadi?" bertanya Selir Li tanpa menoleh sedikit pun. Dia bahkan masih memejamkan kedua matanya, meskipun wanita cantik itu juga merasakan embusan napas yang berbeda dan terdengar sedikit memburu.
Selir Li berucap dengan nada malas. "Pelayanku, beraninya kau menggosok tubuhku terlalu jauh."
Sesungguhnya, dia justru sangat menikmati sentuhan yang membangkitkan hal yang tidak seharusnya. Selir Li hanya bisa tersenyum dalam semerbak kepulan uap air mawar. Nada bicaranya kali ini seperti sedang mengungkapkan kekecewaan dalam kerinduan. "Baiklah, kurasa ini tidaklah terlalu buruk. Lagi pula, si jelek Weiyang juga sudah terlalu lama tidak menyentuhku."
Pria yang masih sibuk menyusuri kulit punggung Selir Li lagi-lagi tersenyum dalam gelora hasrat terlarang tepatnya. "Jadi, kekasihku ini sudah sangat menginginkan aku?"
"Weiyang?"
Suara lembut seorang pria dari arah belakang tubuhnya, membuat wanita secantik bidadari itu membelalakan mata. Selir Li dengan secepat kilat pula memutar tubuhnya dan segera menemukan seraut wajah tampan tersenyum manis kepadanya. Dia adalah Zhou Weiyang yang merupakan menteri kiri Kekaisaran Zhu.
"Li'er." Zhou Weiyang menyapa wanita cantik yang belum bisa dimilikinya secara resmi. Mereka hanya bisa berhubungan dengan cara seperti ini, karena status wanita ini masihlah istri sah Kaisar Zhu Ran.
Zhou Weiyang tersenyum lembut. "Oohh, jadi ada seseorang yang sedang merasa cemburu dan diabaikan?"
"Siapa yang cemburu? Dia adalah istrimu, sedangkan aku? Tak lebih hanya sebuah hiburan bagimu!" Selir Li mendorong dada pria itu ke belakang dengan kasar hingga terjengkang. Namun, matanya menangkap bagian dada Zhou Weiyang yang sedikit terbuka dan terlihat basah oleh air kolam. Mau tidak mau, wanita itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya yang ranum menggoda. Tak bisa dipungkiri, dia menginginkan hal itu juga.
Zhou Weiyang segera mengubah posisi duduknya sambil berpura-pura hendak meninggalkan kolam tersebut. "Baiklah, sepertinya kedatanganku kali ini tidak diinginkan olehmu."
"Meski sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu mengenai bocah itu," ujar Zhou Weiyang sembari mengikat tali hanfunya.
Akan tetapi, sepasang tangan telah mencegah perbuatannya. Pemilik tangan pun sudah menggelendot manja di belakang punggung pria itu. Selir Li dengan suara manja berbisik, "Weiyaang, jangan pergi! Aku hanya kesal saat memikirkanmu sedang bersama wanita itu."
Zhou Weiyang tersenyum sambil menggenggam tangan Selir Li yang sudah memeluk perutnya. Dia memang mencintai wanita ini sejak sebelum dinikahi oleh Kaisar Zhu Ran. Saat itu, dia hanyalah seorang perwira prajurit berpangkat rendah yang ditugaskan untuk menjemput Putri Li Jiao dari perbatasan wilayah barat. Sejak saat itulah, mereka saling menyukai satu sama lain. Namun, Li Jiao tetap harus menikah dengan Kaisar Zhu Ran demi hubungan antar negara.
"Jadi, kau masih menginginkanku?" bertanya Zhou Weiyang seraya membiarkan tangan wanita ini menjelajah sesuka hati. Bagaimana mungkin dia menolaknya? Karena di setiap malam dia hanya menginginkan wanita ini, meskipun istrinya yang sah selalu bersama dan setia mendampingi lelaki yang tidak mencintai sang istri.
Zhou Weiyang memang mau tidak mau harus menikahi Wen Su yang merupakan seorang putri hadiah dari Yang Mulia Kaisar Zhu Ran atas kemenangannya saat berperang dengan Negara Wen. Pernikahan itu juga tertulis secara resmi dalam sebuah dekrit kekaisaran. Pada hari Zhou Weiyang menikahi Putri Wen Su, Selir Li melampiaskannya dengan meneguk berliter-liter arak hingga mabuk berat. Dia ingin melupakan Zhou Weiyang, dia bahkan ingin membunuh dirinya sendiri.
Begitu pula dengan Zhou Weiyang yang memilih mabuk berat saat malam pertama bersama istrinya tiba. Pria itu melakukan kewajibannya dengan tanpa sadar. Dalam racauan dan bayangannya hanyalah tentang Li Jiao, hingga lahirlah seorang putri yang juga sangat cantik diberi nama Zhou Yunyang dan gadis ini sangat menginginkan Jenderal Luo Mian untuk menjadi suaminya.
"Tentu saja. Weiyang ... bawalah aku ke sana!" Selir Li berbisik mesra. Zhou Weiyang segera membalikan tubuhnya dan langsung merengkuh pinggang ramping tanpa lemak milik Selir Li.
"Bukanlah ini masih terlalu petang untuk melakukannya?" Zhou Weiyang sengaja menggoda wanitanya.
"Sudahlah, Weiyaaang. Jangan mengulur waktu dan membuatku hangus terbakar!" sahut Selir Li. Kedua tangannya sudah melingkar di leher pria itu dan menariknya ke bawah sembari berjinjit agar bibir mereka bisa saling bertautan.
"Baiklah, kita berpindah tempat," bisik Zhou Weiyang disertai deru napas yang sudah memburu. Selir Li tidak menyahut, dirinya telah terlalu sibuk membalas perbuatan lelaki itu dan membiarkan tubuhnya diangkat untuk berpindah ke tempat lain.
Desir angin serasa membekukan tulang-tulang di sekujur badan. Hal itu pula yang membuat sepasang manusia yang tak lagi muda saling merapatkan tubuh, hingga bersentuhan satu sama lain. Hari memang masih terlalu dini untuk bercinta, tetapi dua manusia ini memang bukanlah orang yang terlalu memedulikan suasana. Mereka akan melakukan hal yang sama, kapanpun mereka menginginkannya.
Mak takut juga loh aslinya 🙈