
"Weiyaang," panggil Selir Li dengan nada manja.
"Mmmhh." Zhou Weiyang menyahut panggilan dari wanita tercintanya dengan sebuah gumaman kecil.
Pria itu masih memejamkan kedua matanya serta mengatur pernapasan yang bagai dikejar oleh sepasukan musuh. Zhou Weiyang merasa cukup kelelahan akibat berusaha menaklukan ketangguhan wanita ini. Jika dibandingkan dengan Wen Su yang hanya bisa pasrah, maka Selir Li berkali lipat lebih ganas dan liar. Hal itu jugalah yang membuat Zhou Weiyang begitu ketagihan kepada permainan wanita ini.
"Berita apakah yang tadi ingin kau sampaikan kepadaku?" tanya Selir Li dengan kepala tertumpu di dada bidang Zhou Weiyang yang terbaring di atas pembaringan milik Selir Li. Wanita itu membelai lengan sang kekasih yang berkulit putih terawat. Sepertinya, Selir Li tidak pernah merasa bosan dalam mengagumi pria ini. Mereka baru saja menyelesaikan pertarungan sengit hingga berakhir dengan nilai seri. "Kuharap itu bukanlah sebuah berita tentang kehamilan istrimu."
Selir Li memang sangat tidak menyukai hal apa pun tentang istri dari Zhou Weiyang. Dia kerap marah dan cemburu, hingga pernah suatu ketika dirinya berpikir untuk menyingkirkan Wen Su. Tetapi, hal tersebut sering dicegah oleh Zhou Weiyang dengan berbagai alasan. Sesungguhnya pria itu hanya tidak ingin, jika nanti Zhou Yunyang putrinya akan kehilangan sang ibu dan itu akan membuat masalah baru lagi untuknya.
Zhou Weiyang memang akan selalu merasa sangat pusing dengan kelakuan putri semata wayangnya. Sepanjang hari gadis itu terus mencari atau menunggu kepulangannya hanya untuk menagih janji pada sang ayah. Jika memikirkan hal itu, kepala Zhou Weiyang menjadi teramat pening. Terlebih lagi, sekarang ini dialah yang mengurusi segala hal tentang istana dan tata pemerintahannya.
"Oh masalah itu," sahut Zhou Weiyang sembari membuka matanya. Tangan pria itu membelai rambut hitam selembut sutra milik Selir Li. "Bagaimana kalau memang berita tentang kehamilan Wen Su?"
"Maka aku akan membunuhmu!" Selir Li memukul dada sang kekasih dengan sedikit keras. Wajah cantiknya seketika berubah masam dan terlihat marah. Wanita itu bangkit dan duduk membelakangi Zhou Weiyang sembari memilin-milin rambut panjangnya.
Zhou Weiyang ikut bangkit dan segera memeluk pinggang ramping Selir Li dari arah belakang dengan mesra. Dagu pria itu tertumpu di bahu kiri Li Jiao yang putih mengkilat bak mutiara serta selicin kaca. Pria itu berbisik dengan suara lembut. "Aku hanya ingin membuatmu hamil, tapi itu masih sangat tidak mungkin. Dan perlu kau tahu, kalau aku juga sudah lama tidak pernah lagi menyentuhnya sejak malam itu."
"Kau bohong!" Selir Li merasa tidak percaya. "Bukankah dia juga sangat cantik?"
"Kau benar, Wen Su memang sangat cantik. Dan setiap kali aku menatapnya, itu membuatku menjadi sangat tergoda dan ingin menyentuhnya," sahut Zhou Weiyang sengaja ingin mengerjai wanita ini.
"Kau!" Selir Li kembali merasa jengkel dan berusaha memberontak dari pelukan Zhou Weiyang. "Kalau begitu, pergilah kembali ke rumahmu!"
"Baiklah, sepertinya kau berniat sekali mengusirku." Zhou Weiyang menyibak selimut dan merapikan rambutnya yang sudah sangat berantakan.
"Bukan begitu, Weiyaaang!" Selir Li kembali merasa kesal.
"Kau ini memang sangat mudah sekali marah. Selain aku, kurasa tidak akan ada pria yang tahan dengan sikapmu ini." Zhou Weiyang bangkit dan melangkahkan kaki menuju ke kolam pemandian setelah menyambar pakaiannya.
"Weiyaaang, kau bahkan belum mengatakan tentang berita yang kau bawa." Selir Li merasa belum puas menikmati waktu bersama pria ini. Wanita itu segera menyusul Zhou Weiyang dan segera masuk ke dalam kolam.
"Oh, tentang itu!" Zhou Weiyang terlihat sibuk membersihkan dirinya. "Aku baru saja mendapat sebuah laporan, kalau anak dengan tanda phoenix api dan pemegang segel kekaisaran bulan sabit itu telah diketemukan. Hanya saja sayangnya, dia ada di tempat yang tak bisa dijangkau oleh pengikut kita."
"Benarkah?" Mata Selir Li berbinar. "Kalau begitu, cepat dapatkan dia dan rebut segelnya!"
Zhou Weiyang mendesah berat dan berkata, "Itu tak semudah yang kita bayangkan. Klan Iblis Merah tak bisa memasuki daerah itu. Dan lagi, menurut kabar yang kuterima. Gadis itu dijaga oleh orang yang cukup hebat, aku bahkan tidak tahu siapa dia!"
"Weiyaang!" Selir Li terlihat merengut da merasa kecewa. Dia sungguh ingin segera bisa memiliki pria ini dan menjadi satu-satunya wanita yang dimiliki Zhou Weiyang.
"Selamat tinggal, Li'er!" Zhou Weiyang mencium kening Selir Li dan beranjak pergi meninggalkan wanita itu dalam kekecewaan.
"Baiklah," ucap Seli Li dengan nada lirih sembari menatap punggung berbalut jubah hijau kebiruan milik sang kekasih. "Membosankan!"
Zhou Weiyang sendiri tidak langsung pulang, akan tetapi memilih pergi ke suatu tempat rahasia dengan berkuda dan dikawal oleh sepasukan kecil prajurit pilihan. Pria itu mengenakan jubah bertopi dan penutup wajah saat hendak meninggalkan istana kekaisaran, begitu pula dengan para prajuritnya. Mereka sekarang menjadi terlihat lebih garang dan menakutkan, jika dibandingkan saat bertugas di dalam wilayah istana kekaisaran.
Saat ini, dialah yang mengurus semua tampuk pemerintahan meskipun belum menobatkan diri menjadi kaisar. Hal itu dikarenakan dia tidak memiliki cap stempel resmi kekaisaran yang konon dibawa lari oleh Permaisuri Xue Li dan salah seorang menterinya yang dipercaya oleh Kaisar Zhu Ran.
Zhou Weiyang terus memacu kudanya dengan kencang meninggalkan pintu gerbang kota kekaisaran dan menerobos pekatnya malam agar segera sampai ke tempat tujuan. Pasukan kecil itu memasuki sebuah hutan belantara setelah melewati beberapa buah desa. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah bangunan besar yang terlihat cukup menakutkan. Aura iblis begitu kental terasa mendirikan bulu roma.
Zhou Weiyang segera melompat turun dari atas punggung kudanya dan berjalan menuju ke pintu gerbang bangunan besar tersebut. Kedatangannya disambut oleh beberapa orang penjaga yang sedang bertugas. Mereka bukanlah para penjaga biasa seperti kebanyakan orang.
"Salam, Tuan Menteri Kiri!" sapa dua orang penjaga pintu gerbang bangunan seraya berlutut dan ber-soja.
"Bangkitlah!" perintah Zhou Weiyang dengan nada datar, tegas dan dingin.
"Terima kasih, Tuan Menteri Kiri!" sahut kedua penjaga sembari bangkit dan berdiri dengan tegak.
"Kalian, tunggu aku! Ingatlah untuk selalu waspada!" berkata Zhou Weiyang kepada para pengikutnya.
"Siap laksanakan, Tuan Menteri!" Seluruh pasukan menyahut sembari membungkuk hormat.
Zhou Weiyang segera memasuki bangunan besar dengan tatanan mirip dengan sebuah rumah tahanan yang sekaligus menjadi pusat sekelompok iblis dari Pulau Tengkorak. Pria itu terus berjalan menuju ruang bawah tanah. Sesampainya di ruang penjara yang dituju, pria itu memberi perintah kepada manusia setengah iblis yang menjaga tempat tersebut.
"Buka pintunya!"
"Apa kabarmu, Luo He?"
"Seperti yang kau lihat, teman lama."
...Bersambung...