
Luo Mian merasa tak bisa lari ataupun bergerak sedikit jua dan hanya matanya saja yang terbelalak lebar. Degup jantungnya pun tak kalah cepat daripada biasanya. Seorang Luo Mian masihlah memiliki rasa takut, walau dirinya sudah kerap mengalami beberapa kali pertempuran besar dan ratusan kali pertarungan melawan para kelompok penjahat.
Namun, kali ini yang sedang dia hadapi adalah binatang buas tidak biasa saja. Mereka adalah ras binatang mistis pemgjun tetap hutan berkabut hijau tersebut. Bibir tipis merah pria itu mulai memucat dan bergetaran, saat salah seekor serigala paling besar mendekat ke arahnya dengan sikap bermusuhan, dia mengendus-endus tubuh Luo Mian dari ujung rambut hingga ujung kaki sembari membuka sedikit moncong bergigi tajam serta memamerkan sepasang taring runcing menakutkan.
"Celaka!" Luo Mian terpekik dalam hati tanpa berani bergerak sama sekali. Geraman lirih namun tajam terdengar di telinganya dan berhasil meremangkan bulu kuduk sang jenderal. Tetapi jangan lupa, meski dalam keadaan panik luar biasa dia masihlah Luo Mian yang cepat tanggap keadaan dan tidak ingin mati sia-sia oleh sergapan para binatang buas ini.
"Feng Xue!" Luo Mian berseru dengan suara tegas. Tampaknya dia sedang memanggil sebuah nama yang sangat akrab dengannya dan bersamaan dengan itu juga, seilah tombak perak berkilauan telah berada dalam genggamannya.
Ya, Tombak Feng Xue! Itulah senjata yang sangat ingin dilihat oleh Chen Jia. Rupanya, tombak itu disimpan oleh sang pemilik di sebuah ruang penyimpanan gaib dan hanya si pemilik saja yang mengetahuinya.
^^^Feng Xue : Badai Salju^^^
"Mengapa mereka marah kepadaku?" Luo Mian masih tidak habis mengerti, apa yang membuat para serigala bermata ungu ini menjadi sangat marah kepadanya. "Benar-benar tak terduga kejadian ini."
Namun, pertanyaannya pun segera terjawab, saat salah seekor serigala besar bermata ungu lainnya datang menyibak kerumunan sambil menggigit bangkai burung biru berjambul kuning yang tadi diburu oleh Luo Mian. Serigala itu segera melemparkan burung itu ke hadapan Luo Mian seraya meringis, hingga gigi dan taringnya terlihat berlumuran darah.
"Jadi, ini yang membuat mereka marah?" Luo Mian memperhatikan bangkai burung berjambul kuning yang tergeletak di hadapannya. "Apa hubungannya antara burung dan serigala?"
"Aneh sekali mereka." Luo Mian merasa tak habis pikir dengan kaitan antara burung dan serigala.
Seusai melemparkan bangkai burung biru berjambul kuning tersebut, serigala paling besar kemudian menggeram dan melolong tinggi tanda memberikan aba-aba kepada kawanannya untuk segera menyerang orang yang telah mengacaukan kawanan mereka.
Tak ayal lagi, kawanan serigala itu serentak maju menyerang Luo Mian dengan terkaman disertai kuku-kuku runcing yang terkembang sempurna pada cakar mereka. Luo Mian yang sudah bersiaga dengan tombaknya, segera melesat ke udara dengan berjumpalitan dan menapak pada dahan-dahan dan batang pohon untuk menghindari terjangan kawanan binatang buas ini.
Tombaknya ia sabetkan ke sana dan ke mari dengan gerakan cepat berputaran hingga menimbulkan desiran angin kencang beruap salju. Hal itu membuat benda-benda apa saja yang terkena terjangan hawa sedingin es itu seketika membeku.
Hawa di sekitar tempat itu seketika bagaikan tengah berada di musim dingin ekstrim, pohon serta dedaunan terhujani bermilyar serpihan butiran salju. Daun-daun yang berserakan di atas tanah juga ikut beterbangan, berputaran mengikuti arah pusaran angin yang menggulung mereka.
Luo Mian yang masih fokus mengendalikan kekuatan tombaknya dengan konsebtrasi penuh. Wajah tampan di balik kain cadar hitam terlalu serius, hingga tatap matanya kian menajam dan sangat menakutkan
Tiga ekor serigala yang terkena desiran badai salju dari Tombak Feng Xue seketika membeku dan terkurung dalam bongkahan es tebal laksana kaca. Mereka tak bisa bergerak lagi dan terkunci dan hanya matanya saja yang masih menyala ungu terang.
Para serigala lainnya mundur beberapa langkah sambil masih menatap marah kepada Luo Mian yang telah membuat kawan mereka terkurung dalam bongkahan es.
"Majulah kalian semua, jika ingin bernasib sama dengan kawan kalian ini!" Tantang Luo Mian sambil berkacak pinggang.
"Ayo, majulah!"
Tentu saja para kawanan binatang hutan itu tidak akan tahu apa yang dikatakan oleh manusia yang ada di hadapan mereka saat ini. Namun hal yang tak terduga pun terjadi, bongkahan es yang memenjarakan tiga ekor serigala itu retak oleh pergerakan dari dalam.
Tubuh Luo Mian pun menjadi sedikit oleng oleh gerakan yang semakin lama, menjadi semakin kuat memberontak dari dalam bongkahan es di bawah pijakan telapak kaki pria muda tersebut. Namun, pria itu tetap berusaha untuk bertahan di tempatnya untuk menghabisi lawan yang telah ia kunci di dalam balok dingin tembus pandang tersebut.
"Apa yang terjadi?" Luo Mian bertanya pada dirinya sendiri yang tentunya tidak akan mendapat jawaban.
Rupanya, serigala bermata ungu juga bukan binatang buas biasa saja yang mudah mati oleh kekuatan dari Tombak Feng Xue. Mereka adalah binatang dengan kristal jiwa di dalam tubuh masing-masing, sedangkan kegunaan kristal tersebut adalah untuk menyimpan inti kekuatan jiwa yang bisa digunakan pada saat tertentu. Kristal jiwa tersebut juga sangat berguna bagi para pembudidatya suatu ilmu untuk meningkatkan tingkat kultivasi dalam pelatihan mereka.
Sinar ungu memancar terang dari mata para serigala yang terkurung dalam bongkahan es. Benda dingin transparan serupa kaca itu pun pecah seketika akibat gerakan kuat dari dalam. Luo Mian sendiri terpental jauh dan menabrak batang pohon, akibat semburan sinar ungu dari dalam badan serigala abu-abu bermata ungu tersebut.
"Aaa!" pekikan singkat dan pilu terdengar dari arah jatuhnya sang jenderal. Punggung pria itu menimpa batang pohon dan jatuh terduduk dengan cukup keras. Segumpal darah segera terlontar dari dalam mulutnya.
"Si-si-siaaaal!" Luo Mian menggeram marah. "Rupanya mereka juga memiliki kekuatan lain di dalam tubuhnya!"
Pria itu harus mengatur napasnya yang sudah sangat terengah-engah hingga beberapa saat lamanya. Pelepasan secara tiba-tiba dari ilmu yang menggunakan tenaga dalam memang bisa berakibat serangan balik kepada pemiliknya. Hal itu juga yang sedang terjadi pada Luo Mian.
Jenderal muda itu memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit, bagian bawah pusarnya pun seperti terbakar akibat tenaga dalam yang masuk paksa ke dalam pusat pengendalian. Namun, Luo Mian tidak ingin mati sia-sia. Dia masih harus bangkit dan melawan kawanan serigala buas ini.
"Ingin mengeroyok seorang Luo Mian?" seru jenderal muda dengan segudang prestasi itu dengan suara tinggi. "Maka majulah kalian semuaaaaa!"
Luo Mian sekarang balik menyerang dengan gagah berani dan penuh rasa percaya diri. Baginya sekarang lebih baik membunuh daripada terbunuh. Sabetan dan hujaman tombaknya pun menjadi lebih ganas dari sebelumnya.
"Hiaaaaaaat!"
...Bersambung...