The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
GAJAH DAN SEMUT



Zi Yue segera melesat ke udara dan mengambangkan tubuh laksana seekor rajawali. Wanita itu melakukan beberapa gerakan jurus sembari membangkitkan kekuatannya, lalu menyalurkan kekuatan tenaga dalam tingkat tinggi yang dia miliki. Wanita tangan kanan Gui Yixuan benar-benar melakukan pemaksaan pendobrakan array pelindung dengan sekuat tenaganya.


"Tetap pertahankan formasi!" Zi Yue berseru sambil terus menyalurkan kekuatannya. "Pusatkan pada titik terlemah yang sudah aku beri tanda itu!"


"Baik, Nyonyaa!"


Wajah-wajah tegang dengan peluh bercucuran masih terus berusaha membuka pertahanan pelindung Hutan Mistis. Mereka melakukannya setelah berhasil mengikuti jejak Chen Jia. Namun untuk bisa menerobos masuk hutan tersebut, ternyata tidak semudah yang mereka bayangkan.


"Teruslah berusaha hingga tenaga kalian itu terbuang percuma." Seorang pria berpakaian lusuh berucap dengan nada sinis sembari menyandarkan punggungnya di dalam sebuah kereta yang lain. Pria itu terlihat malas melihat ke arah para penyerang.


Namun, kereta tersebut sangat berbeda dengan yang membawa Gui Yixuan ataupun Zhou Weiyang. Pria tua berpakaian pengemis itu ditempatkan di dalam kotak kayu menyerupai sebuah kandang binatang. Walaupun tangan dan kaki orang itu tidak diikat sama sekali, tetapi lehernya dikalungi rantai seperti seekor anjing.


Sungguh perlakuan yang sangat tidak manusiawi hanya karena pria itu selalu menolak untuk membuka segala rahasia yang dia ketahui. Pria itu bahkan terlihat biasa saja dan tidak peduli sama sekali dengan penyerangan yang sedang dilakukan oleh musuhnya.


"Semoga anak-anak itu baik-baik saja di sana." Lelaki itu berbisik dalam hati. "Semoga Xihuan bisa menjaganya dengan baik."


"Xihuan, maafkan ayah yang tidak bisa melindungimu dengan baik. Bahkan memberimu beban berat seperti sekarang ini." Lelaki berpakaian lusuh merasa sangat bersalah kepada seseorang yang dia sebut sebagai anaknya. "Xihuan ... setelah semuanya selesai. Ayah juga sangat ingin melihatmu menikah dengan gadis yang kamu sukai. Tapi, akankah itu bisa terwujud?"


"Semakin hari, tubuh ini semakin tidak bisa menahan serangan racun dingin yang telah menyiksaku sejak lama. Untung saja Rui tidak pernah mengetahuinya," bisik lelaki berpakaian pengemis dalam hatinya.


Lelaki itu melirik kecil ke arah kereta yang lain sambil masih berkata dalam hati. "Gui Yixuan bahkan turun tangan sendiri menangani masalah ini. Biar aku lihat, mampukah dia membuka tirai gaib hutan itu."


"Mereka pikir itu adalah hal yang mudah. Tetapi sebenarnya saat array benar-benar terbuka, bahaya yang sebenarnya sudah menunggu kalian semua!" bisik pria berpakaian lusuh dengan seringaian sinis.


"Kau meremehkan aku, Luo He?" Suara pria lain datang dari kereta yang bersebelahan dengan sangkar besar di mana Luo He dikurung. "Seekor anjing budak Kaisar Zhu Ran lebih baik diam dan jangan menggongong lagi di depan kakiku!"


"Anjing budak?" Luo He tertawa mendengar perkataan Gui Yixuan yang telah menyebutnya sebagai anjing budak. "Kurasa itu cukup bagus dan lebih terhormat, jika dibandingkan dengan seseorang yang lebih memilih mengkhianati negaranya sendiri dan menikmati kemolekan tubuh wanita milik tuannya."


Luo He tertawa terbahak-bahak setelah ucapannya berakhir. Dia terlihat sangat puas dengan apa yang baru saja ia lontarkan untuk menyindir seseorang.


"Bedebah kau, Luo He!" Zhou Weiyang yang mendengar ucapan Luo He merasa sangat marah. Lelaki itu bahkan sampai menghentakan tangannya ke atas pegangan kursi kayu dengan tenaga dalam tingkat tinggi hingga menggetarkan tempat tersebut.


"Weiyaaang ... biarkan saja dia bicara sesuka hatinya saat ini. Bukankah dia juga akan menangisi kematian anaknya dengan banjir air mata darah?" Selir Li menahan lengan Zhou Weiyang. "Ingatlah, Weiyang. Setelah hari ini, kita akan mmenikah secepatnya."


"Mmmhh." Zhou Weiyang hanya menganggukan kepala sembari mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat. Tetapi, entah mengapa dalam hati dia seperti sudah mulai mati rasa terhadap Selir Li. Ada sesuatu yang membuatnya sangat ingin menjauhi wanita yang telah memuaskan hasratnya selama bertahun-tahun dengan tanpa memikirkan dosa.


"Jangan hiraukan apa yang dikatakan oleh anjing ini!" Gui Yixuan berseru kepada calon cucu menantunya. "Sebentar lagi dia akan segera menyusul majikannya yang sudah rata dengan tanah."


"Luo He! Sebaiknya kau tidak memandang rendah pada kekuatan Klan Iblis Merah." Gui Yixuan kemudian keluar dari dalam kereta dan menyaksikan formasi Badak Bercula Ganda yang masih berusaha mendobrak pertahanan array pelindung di Hutan Mistis.


Luo He melindungi matanya yang terasa silau oleh sinar matahari dengan telapak tangannya. "Aku tidak meremehkan kekuatanmu Tuan Gui. Tetapi kau pun juga mengetahui, bahwa hutan itu bukanlah tempat yang bisa kau datangi.'


"Matahari tidak akan pernah bisa mengalahkan langit. Meski dia meledakkan diri sekalipun." Luo He berucap dengan nada malas. "Seekor gajah bisa saja dikalahkan oleh hewan sekecil semut."


"Tapi kau juga jangan lupa, gajah juga bisa menginjak-nginjak sarang semut hingga musnah tak tersisa." Gui Yixuan balas menyahut ucapan Luo He.


"Kalau begitu kita lihat saja, apakah gajah itu bisa menumpas para semut." Luo He masih bersikap malas. 


Mendapatkan serangan pendobrakan dari luar hutan, tentu saja hal tersebut berimbas pada suasana Hutan Mistis. Getaran dan dentuman yang bertubi-tubi, telah berhasil membangkitkan kegelisahan para penghuni rimba belantara tersebut. Baik pepohonan jiwa maupun hewan mistis merasa tidak nyaman atas apa yang sedang berlangsung saat ini.


Para mahluk penghuni hutan tampak berwaspada dan secara berbondong-bondong berkumpul di suatu tempat. Mulai dari serigala, harimau, ular, burung dan binatang apa saja terlihat bersiap siaga untuk melawan para pengganggu. 


Sementara itu di Gua Cahaya Lima Warna. Luo Mian tengah menjaga Ryana Zhang yang sedang bermeditasi. Keduanya mulai merasa khawatir dengan gelombang angin dahsyat yang mereka rasakan saat ini. Chen Jia sendiri sengaja keluar gua guna melihat-lihat suasana dan ingi mengetahui apa yang sedang terjadi.


"Aneh sekali. Ada apa ini?" gumam Chen Jia sembari memperhatikan pergerakan para binatang mistis yang lewat dari kejauhan. "Gelombang angin ini telah mengganggu mereka dan membuat suasana hutan ini menjadi tidak nyaman."


"Gempa bumi!" Chen Jia merasakan tubuhnya sedikit oleng hingga hampir saja terjatuh. Pemuda itu terpaksa berpegangan kuat pada dinding luar gua. "Adakah gunung meletus atau tsunami?" 


"Ini sebenarnya ini gempa vulkanik atau tektonik?" bertanya Chen Jia kepada dirinya. "Ataukah ada kultivator yang sedang bertarung di luar sana?" 


Pemikiran Chen Jia memang cukup masuk akal, karena alam yang sedang ditempatinya saat ini juga tidak jauh berbeda dengan keadaan dunia moderen. Hanya saja kehidupannya berlatar kekaisaran dan adat kuno yang membuat pemuda itu merasa tidak kerasan.


"Ini sungguh gempa bumi!"


...Bersambung...