The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
DIBAJAK?



Ryana Zhang kembali pada pemikirannya tentang alur kisah novel 'The Realm Of Cultivation' yang dijalaninya saat ini sepertinya sudah berlebihan. Bagaimana bisa semua terasa sudah lebih dari sepuluh chapter? Ditulis oleh siapa?


Ryana Zhang tercekat dan berpikir, "Mungkinkah ... ada yang membajak atau menjalankan akunku?"


"Kalau benar ada yang membajak akunku, itu pasti ... dia!" Ryana Zhang teringat kepada sahabatnya yang sering dia ajak berbagi dalam segala masalah. Dia sekarang merasa yakin akan hal ini. "Tapi, apakah dia tahu akan jalan cerita novel ini?"


"Ataukah, karyaku ini telah diplagiat?" Ryana Zhang masih terus berpikir tentang karya yang sudah tidak dijalankan selama satu tahun sejak dirinya terjebak dalam novel The Realm Of Cultivation ini.


"Aaaah, pikirkan saja besok!" Ryana Zhang memilih tidur sembari duduk bersandar pada kuda-kuda yang juga tengah beristirahat.


"Qiu Xueyin, Qiu Xueyiiiiiiin!" Tanpa sadar Ryana Zhang menyebut nama seseorang dalam igauannya.


Luo Mian dan Chen Jia yang sedang sedikit terjaga mendengar ucapan Ryana Zhang. Mereka berdua mengira, jika itu adalah nama seseoang yang istimewa bagi Ryana Zhang.


"Mungkin itu nama kekasihnya," gumam Luo Mian sembari melirik ke arah Ryana Zhang. Pria itu tidak terlihat kecewa dan kembali memejamkan kedua matanya.


Namun, sungguh berbeda dengan Chen Jia yang menjadi bersungut-sungut saat mendengar nama Qiu Xueyin. Pemuda itu membalikan badannya sambil menggerutu dalam hati. "Siapa lagi itu? Mungkinkah itu nama pacarnya di dunia modern?"


"Sadarlah, Chen Jiaaaa! Dia tidak pernah memikirkanmu sama sekali. Bukan tidak mungkin kalau dia sudah memiliki kekasih di dunia nyata." Chen Jia sungguh merasa pusing dibuatnya. Akhirnya ketiga anak muda itu jatuh lelap hingga pagi.


Pagi menjelang dengan ditandai dengan celotehan riang burung-burung penghuni hutan. Walaupun binatang-binatang itu bukanlah hewan biasa yang hidup di luar Hutan Mistis, tetapi mereka juga merupakan jam alam yang tidak pernah mengkhianati aturan dari Yang Maha Kuasa. Meski dalam alam kultivasi yang hanya sebuah angan-angan belaka. Namun, semua harus tetap mengikuti pengaturan alam sebagaimana layaknya sebuah kehidupan.


Maka dari itu, seorang author dituntut untuk lebih berhati-hati dan rinci dalam menuliskan kisah dalam karya tulisnya. Seorang author tidak harus selalu membolehkan suatu cacat logika walaupun hanya dalam sebuah naskah fantasi semata. Bagaimana jika para author juga ber-isekai seperti halnya Ryana Zhang? Atau ada roh orang lain yang masuk ke dalam novelnya dan harus menjalani kehidupan kejam dan tak seindah cerita fantasi dalam dunia elves atau kerajaan syurgawi yang damai sentausa?


Ah, Maaf! Ini hanya kisah fantasi, mengapa harus dipikirkan terlalu jauh? Sebaiknya kita ikuti saja apa yang tertulis dalam novel The Realm Of Cultivation. Bukankah karya ini juga sangat tidak masuk akal? Seperti yang sedang dicurigai oleh Ryana Zhang, sepertinya novel ini memang sedang dijalankan oleh orang lain ... dibajak?


Apakah kalian juga memikirkan hal yang sama? Kalau memang 'The Realm Of Cultivation' itu sedang dijalankan oleh orang lain di dunia modern, siapakah orangnya? Sepertinya, di bab kali ini terlalu banyak pertanyaan. Ya sudahlah. Demi membuat rasa penasaran readers terbangun, seorang author harus bisa berteka-teki plus mencari jawabannya juga.


Bayangkan saja, hanya sepuluh chapter yang ditulis oleh author malang, apes, sial dan belum sekalipun mendapatkan bayaran dari platform yang konon sangat terkenal karena kegratisannya ini. Sebuah platform yang memberi level 3 untuk karya bagus dan memberi level 7 ke atas untuk karya hancur, amburadul dan membuat bergidik geli saat membacanya. Sebuah platform yang terlalu banyak memberi kejutan bagi para author pada awal bulan.


Aaahh, memusingkan! Bisakah karya terkontrak kita bawa lari saja ke tempat lain yang sedang menebar dollar? Karena diunggah di PF ini pun, tidak mendapatkan hal yang selayaknya dan hanya menjadi naskah sandra. Menyakitkan memang! Yaaah, setidaknya ada keadilan bagi seorang author pemula, supaya tidak selalu terombang-ambing oleh permainan level.


Mari kembali ke kisah utama, kita cukupkan mewakili menyuarakan jeritan hati para author yang sedang menjerit karena merasa tertindas dan minder karena perbedaan emblem. Bahkan pada penilaian sebuah event pun, seperti hanya dilihat dari jumlah popularitas. Walaupun sebenarnya, karya para juara itu tidak lebih bagus dari hasil tulisan author yang belum famous.


Ssstt, itu karena tidak adanya rekomendasi dari PF. Saya pun ingin tertawa, setelah saya ditertawakan banyak orang karena nilai jual karya yang dibawah level S. Sudahlah, penulis ini lelah untuk terus berceloteh tentang sebuah aturan yang dilanggar oleh pembuatnya sendiri dengan sangat enteng dan tidak memedulikan perasan peserta yang sudah jungkir balik di bawah tekanan editor.


Kembali ke Ryana Zhang ....


Lalu, bagaimana mungkin kisahnya sudah sampai sejauh ini? Ini sudah seperti lebih dari lima belas chapter. Yang jadi pertanyaan adalah ... siapakah yang telah menjalankannya? Authornya sendiri masih sngat kebingungan dalam hal ini.


Silir embusan angin pagi membelai tubuh-tubuh yang tengah menggigil tanpa selimut. Mereka meringkuk memeluk lutut sepanjang malam dengan gigi-gigi yang saling bertautan. Suaranya terdengar seperti seseorang sedang mengunyah biji jagung kering yang disangrai tanpa minyak. Begitu keras gemeletak bagai tak sengaja menggigit butiran kerikil dalam gumpalan nasi. Ngilu! Itulah yang terbayangkan.


Ryana Zhang membuka matanya karena merasa udara malam telah berganti dengan sejuknya hawa pagi. Gadis itu meringis saat memaksakan diri untuk bangkit dari pembaringannya. Bagaimanapun juga, mereka harus segera kembali ke gua Lima Warna secepatnya. Ryana Zhang merasa khawatir dengan kondisi kedua pria yang masih tidak baik-baik saja.


"Jia'er! Jia'er!" Ryana Zhang membangunkan Chen Jia secara perlahan. "Jia'er, bangunlah! Kita tidak bisa berlama-lama berada di sini."


Chen Jia berniat hendak menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku. Pemuda itu mengangkat kedua tangan ke atas untuk melakukan peregangan otot. Namun, tiba-tiba dia terpekik kecil dan tertahan sembari meringis kesakitan. Secara spontan pula, Chen Jia memegangi lukanya yang terasa nyeri.


"Aawwh!"


"Sakit sekali, Jieeee!" Chen Jia masih meringis kesakitan dan membuat wajah tampan itu terlihat seperti anak kecil yang manja.


"Lukamu itu memang seharusnya dijahit, tapi di sini tidak ada jarum juga benang untuk merapatkan daging dan kulitmu yang robek itu," berkata Ryana Zhang dengan suara pelan.


"Dijahit?" Chen Jia merasa ngeri membayangkan dirinya tengah ditusuk-tusuk jarum tanpa obat anestesi atau pemati rasa seperti di dunia modern. "Aku tidak mau! Jieee, aku tidak mauuuu!"


"Tapi itu demi kesembuhamu. Nanti setelah sampai di gua, aku akan menjahit lukamu." Ryana Zhang tak memedulikan rona wajah Chen Jia yang seketika memucat. "Sudahlah, kita pulang sekarang!"


"Jiee ... Aku masih tidak sanggup berjalan." Chen Jia merengek sambil berusaha bangkit dari berbaringnya. "Jieee, aku lapaaar!"


"Ternyata dia tak lebih dari seorang anak manja!" Luo Mian yang telah lebih dahulu terbangun bergumam kecil. Untung saja jarak mereka cukup berjauhan. "Sepertinya, dia memang belum dewasa."


Ryana Zhang telah terbiasa dengan sikap manja Chen Jia yang memang masih berusia delapan belas tahun. "Maka dari itu, kita harus segera kembali ke gua. Kita sudah tak ada perbekalan lagi dan hanya ada kristal serigala di dalam tasmu."


"Benar juga," gumam Chen Jia sembari mengerucutkan bibirnya. "Baiklah, kita pulang sekarang!"


"Mari kubantu kau menaiki kuda itu," ujar Luo Mian yang merasa lebih baik dari sebelumnya. Pria itu memapah Chen Jia dengan sangat hati-hati sekali.


"Maaf, Tuan. Sebenarnya ... siapakah Anda ini?" Chen Jia memberanikan diri untuk bertanya pada pria yang tengah membantunya menaiki punggung kuda. Dia merasa heran dengan pria asing ini.


"Aku?" Luo Mian tersenyum di balik cadarnya dan bekata, "Namaku adalah ...."


Bagaimana reaksi Chen Jia, jika mengetahui jikalau pria yang sedang membantunya ini adalah Jenderal Luo Mian idolanya?


...Bersambung...


Emak bingung nyari visual, seadanya aja ya 😁😁




Jenderal Luo Mian dengan senjata Tombak Feng Xue 'Badai Salju'







Maaf, kalau tidak sesuai. Kalian boleh bayangin para tokoh The Realm Of Cultivation sesuai imajinasi kalian masing-masing 😊