
"Maaf, Tuan. Sebenarnya ... siapakah Anda ini?" Chen Jia memberanikan diri untuk bertanya pada lelaki bercadar hitam yang tengah membantunya menaiki punggung kuda. Dia merasa heran dengan pria asing ini.
"Aku?" Luo Mian tersenyum di balik cadarnya dan bekata, "Namaku adalah ...."
"Namamu sendiri adalah Jia'er?" Luo Mian balik bertanya sembari merapikan bulu suri kuda coklat yang panjang dan lembut.
"Sudah tahu, masih juga bertanya!" Chen Jia bersungut-sungut dalam hati dengan sikap pria yang membuatnya kesal ini.
"Ternyata Anda sudah tahu namaku." Chen Jia lagi-lagi hanya berusaha untuk menutupi kekesalannya. "Namaku Chen Jia. Lalu, nama tuan sendiri?"
Jenderal muda nan tampan itu mengulas tersenyum tipis di balik cadar hitamnya sembari membenahi benda-benda apa saja milik mereka untuk dibawa ke tempat tujuan. Pria muda yang sedang tidak memakai pakaian jenderal perang ini terlihat sangat terampil dan cekatan dalam melakukan segala hal.
"Panggil saja aku Luo Ge," jawab Luo Mian dengan nada datar.
"Luo Ge? Luo ...."
Chen Jia berpikir tentang nama yang terasa sangat familiar bagi pendengarannya. Dalam hati pemuda itu bertanya sembari menyelidik ke arah sosok pria yang sedang sibuk membantu Ryana Zhang berkemas-kemas. "Tidak mungkin dia kan?"
"Luo Mian, itu hanya sebutan saja." Luo Mian berkata dengan nada santai.
"Lu-Lu ... Luo Mi-Mian!" Chen Jia yang sedang meringis menahan sakit, dibuat terkejut bukan main. Wajahnya seketika menjadi cerah. "Jenderal Luo Mian?"
"Ternyata kau juga mengenalku. Bukankah kita baru saja bertemu?" Luo Mian merasa sedikit heran pada pemuda berambut putih ini. Namun, itu bukanlah hal yang terlalu penting untuk dia pikirkan. Karena sebagai abdi negara yang telah banyak berjasa, bukan tidak mungkin sudah banyak orang yang mengenal namanya.
Chen Jia dengan gugup menjawab, "Oooohh, benar! Kita memang baru saja bertemu, tapi ...."
"Tentu saja dia mengetahui tentangmu. Di negeri ini, memangnya siapa yang tidak mengenal seorang jenderal hebat seperti Luo Ge?" Ryana Zhang menjawab pertanyaan yag dia tahu itu akan sedikit membuat kerepotan Chen Jia. Dia juga tidak ingin identitasnya sebagai Ryana Zhang terungkap di hadapan Luo Mian. Sementara ini, biarkan saja dia menyimpan rahasia tentang dirinya dan Chen Jia.
"Benar, Rui jie benar! Anda adalah jenderal kebanggaan negeri ini, tentu saja aku semua orang mengenalmu dan sangat mengidolakan Anda!" Chen Jia terlihat cukup senang dan bangga bisa bertemu dengan karakter yang sedang ia desain di dunia modern.
"Aku penasaran sekali, seperti apa wajahnya." Chen Jia berucap dalam hati sambil melirik ke arah pria bercadar yang terlihat tenang. "Dan ... di mana tombak Feng Xue seperti yang digambarkan jie-jie?"
"Heeehh! Dia bahkan tidak bersenjatakan tombak. Padahal aku ingin sekali melihat tombaknya itu." Chen Jia sungguh merasa kecewa karena tidak melihat tombak Feng Xue milik jenderal idolanya.
"Sudahlah, mari kita segera berangkat!" Ryana Zhang menuntun kuda milik Luo Mian. "Sebenarnya kuda-kuda ini tidak baik terus berada di dalam Hutan Mistis. Mereka tidak akan tahan dengan kabut hijau yang akan semakin tebal yang bisa merusak kesadaran sihir makhluk asing dan makhluk berdarah panas."
"Apakah kuda-kuda ini bisa tinggal di sini?" bertanya Luo Mian kepada Ryana Zhang yang dianggapnya lebih mengenal seluk beluk tentang Hutan Mistis.
"Bisa saja kalau mereka juga tinggal di dalam gua Lima Warna. Hanya saja, kita akan repot dengan makanan dan kotorannya." Ryana Zhang agak sedikit bergidik saat membayangkan bau kotoran dua ekor kuda yang akan merusak udara gua.
"Kalau begitu, aku akan segera melepaskan mereka setelah kuda ini mengantarkan Jia'er. Biarkan mereka hidup bebas di luar hutan ini." Jenderal Luo Mian tampak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Ryana Zhang dan dia tidak ingin membuat kesulitan yang lain dengan adanya dua ekor binatang pemakan rumput tersebut.
"Tapi, Luo Ge! Bagaimana dengan lukamu?" Ryana Zhang tampak mencemaskan keadaan tubuh pria ini, meskipun dia sendiri masih dalam keadaan tidak terlalu baik pada badannya.
"Jangan khawatir! Aku merasa sudah jauh lebih baik dari sebelumnya." Luo Mian sengaja menutupi perihal racun parasit darah Klan Iblis Merah.
"Baguslah kalau begitu." Ryana Zhang terlihat lega mendengarnya. "Mari, ikuti aku! Kita akan kembali ke gua."
Jenderal Luo Mian kemudian berjalan dengan menuntun kuda yang membawa Chen Jia. Hal itu membuat sang animator merasa hatinya sedang ditaburi hujan ribuan kelopak bunga berwarna-warni. Ya! Siapa yang tidak bahagia jika diperlakukan dengan sangat baik oleh seorang tokoh idola seperti jenderal muda nan perkasa kebanggan Negeri Zhu ini.
"Benar! Dan Anda adalah idolaku!" Chen Jia tanpa sadar berseru di atas punggung kuda. Rasa sakit akibat luka tusuk sepertinya sedikit terlupakan saat mengetahui identitas pria ini.
"Apa itu idola?" Luo Mian tampak bingung dengan kata-kata yang terdengar asing baginya. "Dan, mengapa kau jadi sesenang ini?"
"Oops!" Chen Jia seketika menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Sekarang dia merasa bodoh dalam hati, bagaimana mungkin tokoh dalam karya Ryana Zhang ini mengetahui bahasa yang biasa digunakan di dunia modern. Chen jia pun menepuk dahi atas ucapannya baru saja.
"Aku sungguh lupa, kalau dia adalah seorang tokoh jenderal yang hidup dalam jaman ancient dan dia tidak mengetahui sama sekali tentang bahasa asing seperti dalam dunia asalku!" Chen Jia berteriak dalam hati.
Chen Jia kemudian melihat ke arah Ryana Zhang yang terus berjalan di depan sembari sesekali menyibak semak belukar dengan sebilah ranting kayu. "Hei, bantulah aku, Jieee! Bukankah kau adalah authornya?"
"Idola adalah tokoh terpandang yang sangat dikagumi oleh seseorang atau oleh banyak orang. Mmmhh, seperti para aktor, artis, selebgram atau tokoh terkenal lainnya." Chen Jia lagi-lagi menjawab dengan sekena hati, seolah sedang berbicara kepada orang dari dunia asalnya.
"Idola, aktor, artis, selebgram ... apa pula itu?" Luo Mian semakin bingung dibuatnya, hingga pria bercadar itu memikirkan ucapan Chen Jia sembari berjalan. "Kata-kata dari wilayah manakah itu? Atau ... kalian membaca sebuah buku sastra yang ditulis oleh cendikiawan sastra dari benua lain?"
"Jia'eeeeer!" Ryana Zhang yang mendengar gumaman dari mulut Luo Mian hanya bisa mendesahkan napas panjang dan bergumam dalam hati. "Anak itu memang masih belum dewasa, meski usianya sekarang delapan belas tahun."
"Ah Rui, pakailah pedangku ini untuk memotong semak dan batang-batang pohon itu!" Luo Mian menarik pedangnya yang dia gunakan sebagai sabuk dipinggangnya dan memberikan senjata itu kepada gadis yang berjalan di depan sebagai penunjuk arah.
Walaupun dia sendiri masih kebingungan, akan tetapi sang jenderal juga lebih paham dengan kesulitan Ryana Zhang yang sedang kerepotan membuat jalan untuk mereka lewati. Hal itu dikarenakan, Ryana Zhang tidak melalui jalan yang biasa mereka gunakan saat hendak keluar ataupun masuk ke Hutan Mistis.
"Terima kasih, Luo Ge!" Ryana Zhang menerima pedang dari Luo Mian setelah melemparkan bilah ranting yang tadi dipegangnya. "Dengan begini akan lebih mudah untuk memotong tumbuhan liar."
"Ini cukup berat!" Gadis itu merasa sedikit kaget pada berat pedang yang baru saja dia terima. Meskipun senjata itu terlihat tipis dan lentur menyerupai ikat pinggang, akan tetapi benda itu juga terbuat dari logam mulia langka yang cukup berbobot. "Kupikir senjata ini ringan. Ternyata cukup berat!"
"Memang akan terasa sedikit berat, kuharap kau juga berhati-hatilah dengan ketajamannya!" Luo Mian memang sengaja membiarkan Ryana Zhang menggunakan pedangnya. Hal itu juga bukan tanpa alasan sama sekali. Dia hanya ingin gadis itu terbiasa mengangkat senjata guna melindungi dirinya sendiri kelak.
"Lama-lama kau juga akan terbiasa, Ah Rui." Luo Mian tersenyum tanpa diketahui oleh siapa pun. Dia terus berjalan sembari menuntun kuda coklat yang Chen Jia duduk di atasnya.
"Oh ya, Jia'er. Apa maksud dari perkataanmu tadi, tentang seorang idola?" Luo Mian sepertinya masih penasaran dengan ucapan Chen Jia.
"Oohh, yang itu tadi." Chen Jia sedikit kebingungan untuk menjawabnya.
"Maksudnya adalah ... dia menyukaimu dan mengagumimu karena Luo Ge adalah orang hebat yang sangat dihormati, ditakuti dan dipuja-puja oleh masyarakat luas di negeri ini!" Ryana Zhanglah yang menyahut kali ini. Gadis itu tidak ingin Chen Jia akan berkata ceroboh sekali lagi.
Jendera Luo Mian bergumam lirih dengan sesuatu yang dipikirkannya. "Jadi ... dia menyukaiku?"
"Celaka! Jangan-jangan dia salah paham!"
Ryana Zhang terkejut saat memikirkan kisah cinta Luo Mian yang pernah dia tulis dalam novelnya.
"Apa yang harus kulakukan?"
...Bersambung...