
"Menjijikan!" teriak Ryana dengan sorot mata penuh kebencian.
"Anak manis, menurutlah kepada para kakak tampan ini. Maka kami akan menjamin, kulitmu yang lembut itu tidak akan kami lukai barang segores pun!" Gelak tawa pun kembali meledak memecah kesunyian tepi hutan.
"Dan pria muda temanmu itu, juga akan mendapat perlakuan yang sangat baik setelah kematiannya," seru salah seorang dari lara bandit itu.
"Lancang!" Chen Jia membentak dengan perasan marah luar biasa. "Jangan harap kalian bisa menyentuhnya selama ada aku di sini!"
"Hei, bocah tengik! Berlagak sok jago di depan kami? Matilah kau!" Salah seorang bandit berjambang lebat maju dan melancarkan sebuah pulukan ke wajah Chen Jia.
Mendapatkan serangan dari bandit berwajah buruk itu, tidak membuat Chen Jia merasa gentar sedikit pun. Pemuda itu hanya memiringkan sedikit kepalanya dan berhasil membuat lawannya hanya mengenai udara kosong. Chen Jia sempat tersenyum seraya melontarkan sebuah ejekan. "Dasar lemah!"
Demi mendapat ejekan dari seorang anak muda yang usianya sangat jauh di bawahnya, pria bandit itu menjadi beringas dan segera melancarkan serangan tinju secara serampangan. Chen Jia yang saat di dunia modern adalah seorang atlit wushu cabang Nan Quan itu pun tidak mengalami kesulitan sama sekali. Justru dengan sangat mudah, Chen Jia berhasil mendaratkan pukulan taiji berkekuatan besar. Bandit itu pun mengalami nasib naas yang sungguh di luar dugaan.
"Huh, beraninya meremehkan seorang Chen Jia! Kalian bahakan tidak tahu, kalau di duniaku yang lain. Aku adalah seorang peraih medali perak di cabang Nan Quan dan aku berhasil mengharumkan nama negaraku!" Chen Jia berkata dengan sangat bangga.
Para bandit tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh pemuda yang telah membuat salah seorang dari kawannya terkapar dengan wajah bengkak membiru. Bukan itu saja, bahkan salah satu lengannya mengalami perputaran sendi akibat ditelikung secara paksa oleh Chen Jia.
"Mari kita hadapi bersama!" bisik Chen Jia di sisi telinga gadis yang dikaguminya, baik saat di dunia nyata ataupun di saat ini. Pemuda itu merasakan kalau dirinya memang sudah menyukai gadis ini sejak awal pertemuan mereka. "Aku akan melindungimu!"
"Hati-hati!" bisik Ryana Zhang seraya bersiap melemparkan sesuatu. "Kuharap tidak sebaliknya."
"Apa maksudmu dengan kata sebaliknya?" bertanya Che Jia yang masih tak mengetahui apa rencana gadis ini. "Jiee ... apa yang kau rencanakan?"
"Ssstt." Ryana Zhang tiba-tiba menggandeng tangan Chen Jia. "Bersiaplah!"
Chen Jia hanya menurut saja saat gadis berpakaian kumal itu menyeretnya. "Bersiap untuk apa, Jiee?"
"Kita akan ...."
"Lariiiiiiiiiiii!" Ryana Zhang tiba-tiba saja berlari sambil melemparkan beberapa benda berbentuk bulat yang akan meledak jika mengenai sesuatu.
"Hei, jangan lari kaliaan! Kalian pikir mudah untuk lari dari kami?" teriak bandit berkumis tipis.
Namun, baru saja mreka hendak mengejar kedua anak muda yang telah berlari semakin jauh dari tempat itu. Mereka dikejutkan oleh lemparan-lemparan benda aneh dari arah Ryana Zhang. Secara spontan, para bandit menangkis benda-benda itu dengan menggunakan senjata masing-masing yang justru menjadi penyebab kesialan bagi mereka.
Terdengar beberapa kali ledakan dahsyat disertai jerit kematian, karena ternyata benda-benda itu semacam granat di dunia modern. Benda-benda itu pun meledak saat terkena benturan yang mengenai pemicunya. Entah terbuat dari apa benda-benda aneh itu, karena author dari si author ini pun tidak diberi tahu oleh Ryana Zhang tentang peracikan benda-benda itu sebelumnya. Sepertinya, pada scene kali ini, Ryana Zhang dengan sengaja membuat bingung author-nya sendiri.
Lima belas bandit itu kini telah tewas seketika di tangan seorang Ryana Zhang yang bersemayam dalam tubuh Zhang Rui. Dia dibantu oleh Chen Jia, si animator tersesat dalam dunia game animasinya. Ini juga adalah pertama kalinya bagi gadis itu membunuh manusia dalam dunia fantasy, demi membela kehormatan dan menggagalkan nasib sial yang telah terlanjur dia tulis dalam cerita novelnya.
"Selesai!" seru Ryana dengan senyum puas. "Scene sialan itu akhirnya tidak terjadi!"
Ryana menjatuhkan diri di atas tanah guna meredakan rasa lelah setelah berlari cukup jauh dari ledakan yang dia buat sendiri. Sementara itu Chen Jia terlihat sedikit ngeri dengan kejadian yang baru saja disaksikannya. Pemuda itu pun segera duduk dengan sekujur badan terasa lemas, setelah melihat potongan-potongan tubuh yang terpental dari arah suara ledakan. Para anggota bandit Asura tewas tanpa penghormatan sama sekali.
"Mari kita segera pergi!" Ajak Ryana Zhang yang merasa tidak kuat menahan asap yang ditimbulkan oleh bahan peledak, di mana aromanya pun telah bercampur dengan daging bakar manusia.
"Tapi aku masih lemas, Jieeee!" rengek Chen Jia dengan nada malas.
"Tidak ada waktu banyak untuk kita terus berada di luar hutan, karena kita masih ada rencana lain lagi yang harus segera diselesaikaaan!" seru Ryana Zhang sambil bangkit dan merapikan sedikit penampilannya yang telah menjadi lebih kacau dari sebelumnya.
"Baaaik, baiklaaah!" Chen Jia terpaksa harus mengikuti kemauan gadis ini.
Namun, baru saja mereka melangkah tak seberapa jauh dari tempat kejadaian ledakan, tiba-tiba dari arah belakang mereka terlihat banyak orang-orang yang berlari ke arah mereka sambil mengacungkan senjata di tangan masing-masing orang. Kedatangan serombongan bandit lain telah berhasil mengejutkan keduanya.
"Jieee! ada yang laiin lagi selain lima belas bandit itu!" seru Chen Jia dengan nada terkejut. "Apakah ini juga ada di dalam ceritamu?"
"Kau benar, dan mereka mengejar kita!" Ryana seperti tengah mengingat sesuatu. Gadis itu berteriak dalam hati. "Bukankah ini adalah scene tewasnya Jenderal Luo Mian?"
Mata Ryana melihat ke sekitarnya seperti sedang mencari dan mengamati sesuatu. "Tunggu apa lagi?"
"Lariiiiiii!"
Keduanya pun lari memasuki hutan sambil bergandengan tangan. Sesekali pula, Chen Jia dan Ryana Zhang menarik semak belukar atau melempar benda apa saja yang bisa mereka raih.
"Kejar kedua bocah ituuu! Mereka telah membunuh kawan-kawan kitaaa!" teriak salah seorang dari orang-orang bersenjata itu.
Ternyata pasukan bandit lain menyerbu tempat di mana terdengar suara ledakan dan mendapati kawanannya telah menjadi mayat dengan jasad tak berbentuk lagi. Menyaksikan hal itu, mereka menjadi sangat marah.
"Kejar dan bunuh mereka berduaaaaa!"
"Jieee! Bagaimana ini? Jumlah mereka tak kurang dari lima puluh oraaang!" tanya Chen Jia dengan di sela-sela larinya.
"Kita hanya bisa mengharapkan seseorang datang untuk menolong kitaa!" jawab Ryana Zhang dengan napas tersengal-sengal.
"Seseorang?"
...Bersambung...