
Jenderal muda itu secara tiba-tiba mengangkat dengan enteng tubuh Ryana Zhang dan mendudukannya di atas punggung kuda. Sebuah pekikan kecil terlepas dari mulut gadis itu, antara sangat terkejut dan takut. Seumur hidupnya dia belum pernah menunggang kuda, baik sebagai Ryana sang author di dunia modern ataupun sebagai Zhang Rui si gadis pengemis yang malang.
"Kau tenanglah! Aku akan menjagamu dengan baik," ucap Luo Mian. Dia sendiri segera melompat naik dan duduk di belakang tubuh Ryana Zhang.
Luo Mian berbisik dengan suara lembut. "Kalau kau takut, kau bisa memejamkan matamu. Itu akan menghilangkan ketakutan dan membuatmu lebih merasa nyaman."
Ryana Zhang menjerit dalam hati. "Aaaaaah, mamaaaaa! Kalau aku tahu begini rasanya diperhatikan oleh seseorang yang kita kagumi. Maka biarkan aku di tempat ini saja selamanyaaaa!"
"Kau siap?" tanya Luo Mian berbisik di sisi telinga sang gadis.
"Ya, ya ... aku si-siap!" Ryana Zhang menjawab dengan sedikit gugup.
"Baiklah, sekarang kita akan ke mana?" bertanya Jenderal Luo Mian sambil meraih tali kekang kuda yang terdapat Chen Jia di atasnya.
"Hutan Mistis."
Luo Mian menjadi cukup terkejut pada ucapan gadis yang duduk malu-malu di depannya. Ryana Zhang memang merasa menjadi kaku dan grogi saat Luo Mian bicara terlalu dekat di sisi telinganya. Tubuhnya sedikit gemetaran akibat menahan perasaan yang dia sendiri tidak tahu apa namanya. Pesona pria bercaping ini terlalu kental dalam hatinya, meskipun dia belum pernah melihat wajah dari pria ini.
"Hutan Mistis? Kalian tinggal di dalam hutan yang konon bisa membuat orang mati gila karena terjebak ke dalam kabut ilusi itu?" bertanya Luo Mian dengan nada heran. Mustahil baginya untuk tinggal di tempat yang belum pernah dia jajaki.
Berita tentang keseraman dan kesuraman hutan itu memang terlalu menakutkan. Lalu, bagaimana bisa dua anak muda ini tinggal di sana? Sungguh, suatu hal yang sangat membingungkan bagi seorang Luo Mian. "Baiklah, kita akan ke sana! Aku juga sangat ingin tahu, seperti apa keadaan hutan itu sebenarnya!"
Luo Mian secara tiba-tiba menarik tali kekang kuda yang membuat binatang itu mengangkat kedua kaki depannya sambil meringkik keras. Jantung Ryana Zhang benar-benar seperti hendak melompat dari rongga dadanya saat itu juga. Dia hanya bisa pasrah saat Luo Mian menggebrak kuda tunggangannya hingga binatang itu berlari sesuai keinginan sang pengendali.
Meskipun Luo Mian berkuda sambil menjaga kuda lain dan juga dengan seorang gadis mungil dalam dekapannya. Namun, jenderal itu terlihat tenang dan tetap gagah terlebih dengan jubah hitam berkelebatan akibat terjangan deruan angin di sekitar jalanan sunyi yang dilaluinya.
Ketiga anak muda itu meninggalkan tempat yang berisi banyak mayat bandit yang selalu mengejar-ngejar Ryana Zhang, hingga menghancurkan Desa Pengemis yang merupakan tempat di mana Pengemis Bambu Kuning dan Zhang Rui tinggal selama ini.
Setelah ketiga pemuda itu menghilang dari tempat kejadian pembantaian para bandit, beberapa sosok bayangan hitam berloncatan dari balik gerombolan pepohonan hutan. Mereka berjalan di antara mayat-mayat para bandit yang mati secara mengenaskan. Hari ini, sekitar enam puluh enam bandit tewas tak berbentuk di tempat tersebut.
"Sampah-sampah bodoh ini memang layak mati! Hanya menangani seorang bocah kecil saja tidak becus!" seru salah seorang berjubah hitam dengan sebuah topi segitiga di kepalanya, wajahnya juga ditutupi dengan cadar hitam. Pria itu merasa teramat marah, hingga kakinya dia gunakan untuk menendang sesosok mayat di depannya hingga jasad itu terpental jauh dan meledak seketika.
"Yang Mulia, akankah kita sendiri yang mengejarnya?" Seorang wanita cantik berpakaian serba ungu, riasan wajah yang cukup tebal dengan warna bibir dan garis mata serupa dengan bajunya berjalan mendekati sosok berjubah hitam yang sedang menahan kegeraman. Wanita itu menggelendot manja sambil menyusuri cadar hitam dengan ujung jemarinya hingga turun ke bahu dan dada pria itu.
"Aku memang berencana mengejarnya. Aura segel itu datang dari tempat ini, akan tetapi yang kita dapati hanyalah tumpukan mayat para keledai liar yang bodoh dan dungu!" Pria berjubah yang disebut sebagai Yang Mulia itu berbalik dan melangkahkan kaki sambil menggendong kedua tangannya di belakang pinggangnya. Rambutnya yang panjang lurus melebihi batas pinggang melambai dipermainkan angin. "Bakar mereka semua!"
"Dengan sangat senang hati, Yang Mulia!" Wanita cantik itu mengikuti pria berjubah yang telah terlebih dahulu menghilang dari tempat tersebut. Sebelum pergi dia memberi perintah kepada anak buahnya. "Kalian semua kejar bocah itu! Aku akan kembali bersama Yang Mulia!"
"Baik, Nyonya Zi Yue!" Para pengikut pria berjubah hitam segera melaksanakan perintah dari majikannya ini. Mereka segera melesat pergi dari tempat itu dengan senjata siap di tangan masing-masing.
Zi Yue mengembangkan senyum genit liciknya. "Dasar para bandit jelek tak berguna. Berbahagialah kalian semua di neraka!"
Di tempat lain ....
"Ke arah mana kita akan menuju?" bertanya pria bercaping yang melajukan lari kudanya bagaikan sedang dikejar oleh sepasukan klan iblis.
"Terus saja ke arah barat daya, hutan itu terletak di sana!" Ryana Zhang harus mengeraskan sedikit suaranya karena derap kaki kuda menimbulkan suara yang cukup keras.
"Oh!" Luo Mian menggebrak sekali lagi kudanya agar binatang itu berlari lebih cepat lagi. "Ada yang mengejar kita! Jadi kita harus segera sampai ke hutan itu!"
"Awas!" Luo Mian menggeserkan kepalanya guna menghindari sebuah serangan senjata rahasia dari arah belakang tubuhnya
Beberapa kali suara desingan senjata rahasia melewati telinga Luo Mian dan Ryana Zhang. Hal itu memaksa gadis berpenampilan dekil semakin membenamkan kepalanya di dada sang jenderal. Ryana Zhang berbisik dalam ketakutannya. "Luo Ge, aku takuuut!"
"Aku akan melindungmu, percayalah padaku! Kalaupun aku tidak bisa lepas dari kejaran mereka, tapi kau dan kawanmu itu harus selamat!" Luo Mian membalasnya dengan bisikan pula.
"Tidak bisa! Mereka mengejarku, jadi Luo Ge harus selamat dan bawalah Jia'er bersamamu! Biarkan saja aku menyerahkan diri pada mereka. Mungkin dengan begitu tak akan ada lagi yang mengacaukan negeri ini!" Ryana Zhang merasa harus rela mengorbankan dirinya kali ini.
"Bodoh!" Luo Mian tak ingin mendengarkan lagi celotehan gadis dalam pelukannya. Yang terpenting saat ini hanyalah secepatnya tiba di Hutan Mistis agar bisa menyelamatkan kedua orang ini.
Sementara itu, orang-orang yang mengejar mereka semakin dekat. Para pemburu menggunakan ilmu peringan tubuh yang sangat sempurna, sehingga dengan sangat cepat bisa menyusul lari kuda yang ditunggangi oleh buruannya.
"Yang terpenting adalah gadis itu! Kalian boleh membunuh kedua pria yang bersamanya!" seru pria yang melesat paling depan kepada anak buahnya.
"Baik, Ketua!"
"Lepaskan panah!" seru ketua para pria pengejar.
Serentak pula, puluhan anak panah melesat menghujani Luo Mian yang masih berpacu di atas punggung kudanya. Pria itu terpaksa menghunus pedangnya untuk menangkis serangan anak panah yang berlesatan ke arahnya.
"Sial! Jumlah mereka ternyata tidak sedikit!" Jenderal itu berucap dalam hati. Dia tampak mulai kerepotan dengan serangan yang bertubi-tubi dari para manusia misterius ini. "Tak ada jalan lain!"
"Ah Rui, tunggu aku!"
Luo Mian menggebrak kedua kudanya dengan sangat keras hingga kuda-kuda tersebut berlari bagaikan dikejar setan. Binatang itu menerobos masuk ke dalam hutan lebat berkabut yang ada di depannya, sedangkan Luo Mian sendiri melesat ke udara dan berbalik menuju ke arah para penyerangnya.
"Luo Geeeeee!"
...Bersambung...