
Ryana Zhang akhirnya memilih untuk tetap menjaga para pria dengan luka di tubuh mereka, sembari menenangkan diri dan berpikir untuk masa yang akan datang. Kejadian demi kejadian memilukan telah dilaluinya bersama dengan dua pria yang baru dikenalnya belum lama ini. Ryana juga tidak ingin selalu merasa ketakutan saat dikejar oleh para prajurit dari Klan Iblis Merah yang tak memiliki rasa kemanusiaan sama sekali.
Sungguh sulit hidup di alam kultivasi tanpa batas yang dia tuliskan terlalu kejam dan sadis. Gadis itu bahkan belum menciptakan dan menjabarkan secara rinci tentang tahapan kultivasi dalam novelnya. Haruskah dia mengarang sendiri untuk hal tersebut saat ini?
Ryana Zhang mengeluh dalam hati tentang ketelatannya dalam menulis chapter kesebelas yang masih dalam penyempurnaan dan belum sempat dia unggah pada saat itu. "Padahal di chapter kesebelas, baru sedang kurincikan tentang tahapan kultivasi dalam karyaku."
"Bodoh sekali aku! Andaikan saja saat itu aku tidak telat pulang dari rapat perusahaan, tentunya aku sudah bisa mengunggah chapter ituuuu!" Ryana Zhang menjambaki rambutnya sendiri dengan perasaan kesal yang teramat sangat. "Ooohh, betapa sialnya aku iniiiii!"
"Aaaah, sudahlah! Menyesal pun sudah tiada guna. Kembali juga tak bisa!" Sang author novel 'The Realm Of Cultivation' hanya bisa mencucurkan air mata dalam kesunyian. "Aku sudah terlanjur terjebak di sini dan aku hanya bisa terus maju untuk menyelesaikan semuanya dari sini."
"Baiklah. Semangat, Ryana!" Ryana Zhang tiba-tiba berseru sendirian tanpa sadar. Hal itu membuat Chen Jia terbangun akibat terkejut.
"Ji-Jiee ...."
"Jia'er, maaf!" Ryana Zhang menoleh ke arah Chen Jia yang terlihat sedikit menggerakan tubuhnya. "Hati-hati, Jia'er!"
"Aku tidak apa-apa, Jie. Jangan khawatirkan aku!"
"Ya sudah, lanjutkan lagi saja tidurmu!" Ryana Zhang berkata sembari menambahkan beberapa ranting kering ke dalam nyala api.
"Jie-Jie juga harus beristirahat, ingatlah dengan kondisi tubuhmu." Chen Jia mengingatkan. Bagaimanapun juga, dia tidak ingin gadis yang diam-diam dia kagumi itu jatuh sakit hanya demi menjaganya.
"Aku akan tidur nanti setelah mengantuk. Sudah, kaulah yang harus banyak beristirahat!"
"Baiklah. Selamat malam, Jie!" Chen Jia saat ini hanya bisa patuh pada gadis ini. Meskipun sebenarnya dia sedang merasakan sakit pada lukanya, tetapi dia lebih memilih diam dan menahannya sendiri. Dia tak ingin Ryana Zhang tahu akan penderitaannya.
"Selamat malam, Jia'er!"
Ryana Zhang juga tidak ingin terus larut dalam kesedihan panjang berkarir di dunia literasi yang terasa sangat menyakitkan. Buah dari jerih payahnya belum sekecap lidah pun dia cicipi, tetapi kemalangan terlebih dahulu datang dan mendesaknya pada keadaan yang tak pernah ia duga sama sekali. Bangkit dari keterpurukan dan bertekad untuk tidak melihat mereka-mereka yang telah mendahului berada di puncak anak tangga, adalah hal penting yang seharusnya dia lakukan untuk saat ini.
Terlebih lagi, keberadaan Zhang He ayah angkatnya yang belum diketahuinya sama sekali. Terror Klan Iblis Merah juga sudah terlalu meresahkan. Ya! Hanya dengan menjadi seorang kultivator kuat itulah, dia pasti akan berhasil mengatasi segalanya. Lalu, dari manakah dia harus memulai?
Gadis itu memang mendapati beberapa nama dan tahapan level kultivasi yang tertulis dalam bahasa Inggris. Walaupun terlihat bagus, tetapi sepertinya itu mengurangi kesan epic dalam sebuah kisah klasik berlatar belakang tata pemerintahan kekaisaran kuno. Sebuah kehidupan yang syarat dengan berbagai adat istiadat dan peraturan-peraturan leluhur. Sebagian dari hal itu, kadang tidak bisa dijalani oleh orang-orang dunia modern pada saat ini.
"Belajar tanpa seorang guru pembimbing memang seperti seorang buta yang berjalan di keramaian. Banyak orang yang memberi jalan, tapi masih saja tersesat!" Ryana Zhang mengeluh dalam hati. "Ibarat memiliki gudang harta karun, tetapi tidak memiliki kunci untuk membuka pintunya. Memaksa mempelajari isi kitab itu tanpa pengarahan dari seorang guru juga ibarat menjebol dinding dengan tangan kosong."
"Yang kubutuhkan saat ini adalah seorang pembimbing, tapi siapa dan di mana aku dapatkan seseorang yang sedemikian itu?" Ryana Zhang masih tenggelam dalam perenungan yang belum menemukan titik terang.
Ryana Zhang telah berusaha keras memahami isi dari kitab pusaka peninggalan orang tua dari Zhang Rui. Namun, dirinya tak juga bisa memahami setiap kalimat yang entah ditulis oleh siapa. Ryana Zhang terhenyak dengan sesuatu yang melintas dalam pikirannya sendiri. Sesuatu yang sedikit aneh terasa, hingga gadis itu merasakan ada sesuatu yang sangat tidak beres pada kisah dalam novelnya ini. Tapi apa?
"Tapi, ada beberapa kejadian yang tidak tertulis di chapterku! Bagaimana mungkin bisa muncul di kisah semacam itu sekarang?"
Jelas-jelas Ryana Zhang hanya menuliskan sepuluh chapter yang belum terlalu mencakup banyak hal. Dia hanya menuliskan semua garis besar keseluruhan kisah yang diringkasnya pada rangkaian blurb untuk menarik perhatian pembaca. "Hmm, aku sedikit hafal dengan sinopsis itu. Lalu, harus kuingat lagi bagaimana rangkaian kata-katanya!"
Pada tahun 775 dalam Dinasti Zhu, terjadilah sebuah pemberontakan besar yang didalangi oleh Perdana Menteri Kiri Zhou Weiyang dan Selir Li Jiao.
Dalam pada itu, Kaisar Zhu Ran meminta Perdana Menteri Kanan Luo He untuk menyelamatkan Permasuri Xue Li dan Putri Zhu Ziya yang baru berusia dua tahun. Menteri Luo He dan para prajurit kepercayaan kaisar membawanya ke sebyah tempat terpencil yang sangat tidak layak untuk permaisuri dan sang putri, demi keselamatan keduanya dengan menyembunyikan identitas mereka.
Namun, nasib sial tak luput dari seorang tuan putri yang tersembunyi tersebut. Kemalangan terus menimpanya dan orang-orang yang berada di sekitarnya, hingga memaksa Zhu Ziya dengan identitas baru untuk melakukan sebuah metode kultivasi di Hutan Mistis dengan panduan sebuah kitab pusaka pemberian dari sang ayah.
Bagaimanakah cara Putri Zhu Ziya agar bisa terlepas dari penderitaan dan bisa kembali merebut hak tahta dari para pemberontak?
Ryana Zhang mendesahkan napas beratnya seraya mentatap dalam-dalam secara bergantian wajah dua pemuda yang masih tergeletak tanpa alas dan pulas akibat kelelahan dan kesakitan pada tubuh keduanya. Nyala api unggun kecil yang tetap dijaga dngan sangat baik telah memberi penerangan dan kehangatan. Setidaknya tidak akan ada binatang mistis buas berani mendekati atau menyerang mereka. Kabut hijau ilusi pun tidak akan berkeliaran di sekitar tempat berhawa panas.
Ryana Zhang kembali pada pemikira tentang alur kisah novel 'The Realm Of Cultivation' yang tengah dia jalani saat ini sepertinya sudah berlebihan. Bagaimana bisa semua terasa sudah lebih dari sepuluh chapter? Ditulis oleh siapa?
Ryana Zhang tercekat dan berpikir, "Mungkinkah ... ada yang membajak atau menjalankan akunku?"
...bersambung...