The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
GUI YIXUAN



Di sebuah taman nan asri, terlihat seorang wanita berwajah lembut dan ayu tengah duduk seorang diri di bawah sebatang pohon. Gaun hanfu hijau muda berbahan tipis dan berlapis-lapis sering terkibas kecil dan berkibaran oleh terpaan angin. Tangan gemulainya sesekali menarik jarum dari selembar kain yang terpasang pada lingkaran bidangan sulam.


Sebuah pola membentuk gambar rumpun bebungaan nan cantik, tengah ia sulam dengan penuh ketelatenan. Sepertinya, wanita itu tidak begitu peduli dengan adanya seorang pria tampan yang duduk di sebuah gazebo sembari memainkan sebuah lagu sendu mendayu. Jemari lelaki anggun itu tampak sangat lincah dan trampil memetik senar-senar Gu Qin.


Setelah puas memainkan beberapa buah lagu, pria itu meletakkan alat musik petik tersebut dengan menyandarkannya pada salah satu tiang gazebo. Lelaki tampan dengan rambut tergerai dihiasi beberapa buah jepit rambut perak, lalu berdiri sembari merapikan kain hanfunya yang sedikit berantakan.


Pria anggun tersebut meletakan salah satu tangan di balik pinggang rampingnya, ia mulai melangkahkan kaki-kaki kokoh bersepatu beludru dan berjalan santai menapaki jembatan lengkung yang menjadi penghubung di atas kolam teratai yang cukup luas. Tampaknya, lelaki berbusana hanfu sutra hijau kebiruan itu tengah memikirkan sesuatu.


Sekuntum peony putih telah beralih ke dalam genggaman tangan pria anggun dengan kecantikan wajah bak rekahan kelopak bunga. Napasnya terkadang berembus berat bagai terbebani oleh himpitan sebuah gunung batu. Kesuraman jatuh membayang dalam kilatan mata indahnya.


Lelaki itu memang sedang berpikir dalam ketenangan suasana taman nan asri. Namun siapa yang tahu akan arus deras tengah bergolakan liar dalam dada. Perasaannya tengah dilanda kegelisahan yang membuat sang pria sedikit bermuram durja.


Pria tersebut tengah mengingat sebuah pertemuan dengan sang junjungan, seseorang yang juga merupakan Kakek dari Selir Li Jiao dan dia adalah Gui Yixuan sang ketua Klan Iblis Merah yang bertempat tinggal di Hei Shan (Gunung Kegelapan) gugusan pegunungan Pulau Mati di tengah laut.


"Weiyaaang!" Suara berat dan serak seorang pria memanggilnya dengan nada lirih namun tajam. Pria cantik tersebut mengenakan jubah sekelam warna langit malam. Rambut putihnya dibiarkan jatuh tergerai tanpa ikatan atau hiasan. Sosoknya terlihat begitu misterius, penuh aura kegelapan.


"Hamba, Yang Mulia!" Zhou Weiyang menjawab panggilan seorang pria yang terlihat misterius, tengah berdiri membelakanginya. Kedua siku dan lengan Zhou Weiyang terangkat sejajar dengan bahu, telapak tangannya pun terkepal serta menyatu di depan wajah yang terus tertunduk menatap abu-abu kusam warna lantai.


"Bagaimana dengan hasil perburuan itu?" Pria berjubah kelam bertanya tanpa mengubah sedikit pun posisi berdirinya.


"Maafkan hamba, Yang Mulia! Kami masih belum berhasil menangkap pemilik segel phoenix tersebut." Zhou Weiyang berkata sembari menjatuhkan lututnya di lantai.


"Bodoh!" Pria berjubah membentak seraya mengibaskan salah satu tangannya hingga selarik gelombang cahaya merah pun seketika melesat dan langsung menghantam tubuh Zhou Weiyang.


"Aaaa!"


Tubuh Zhou Weiyang langsung terpental dan menghantam dinding ruangan, lalu jatuh bergulingan di atas lantai. Semburan darah segar menyebar dari mulut pria tersebut. "Ampuni hamba, Yang Mulia!"


"Kau pikir aku bisa bersabar sampai berapa lama lagi, Weiyang?" Pria berjubah kelam tiba-tiba saja melesat dan mencangkung di hadapan Zhou Weiyang yang tengah berusaha keras bangkit dari jatuhnya. Tangan Gui Yixuan mencengkeram rahang Zhou Weiyang dengan keras, hingga pria tersebut meringis kesakitan dalam ketidak berdayaan. "Katakaaaan!"


"Ya-Yang Mu-lia ... beri hamba waktu selama beberapa bulan lagi!" pinta Zhou Weiyang di sela rasa sakit yang sedang mencabik-cabik tubuhnya. Meskipun dia juga memiliki ilmu yang tinggi, akan tetapi jika berhadapan dengan seorang kultivator ranah iblis neraka seperti pria setengah iblis yang ada di hadapannya ini. Maka, seorang Zhou Weiyang hanyalah seekor semut belaka yang akan mudah mati dengan sekali gilas. "Hamba mohon, Yang Mulia!"


"Humph!" Pria berjubah kelam menghempaskan kepala Zhou Weiyang seraya melepas cengkeramannya dan segera berdiri, sedangkan Zhou Weiyang sendiri kembali terlempar hingga beberapa tombak akibat dari sentakan tangan Yang Mulia dengan muntahan darah segar sekali lagi. "Hanya itu yang selalu kau ucapkan, Weiyang! Aku sudah dibodohi olehmu selama ini!"


"Ampuni hamba, Yang Mulia!" Zhou Weiyang yang telah kembali bangkit segera berlutut di hadapan Gui Yixuan. Wajahnya telah memucat serupa kapas, akan tetapi dia bahkan tidak berani menjatuhkan diri meski tubuhnya serasa goyah.


Demi melihat keadaan Zhou Weiyang yang terluka oleh ulahnya. Gui Yixuan menggelar telapak tangannya dan secara tiba-tiba sebuah guci kecil tempat pil telah berada di atasnya. Tentu saja itu bukanlah suatu hal yang mengherankan dalam dunia kultivasi, karena para kultivator akan memiliki ruang penyimpanan gaib yang tidak akan diketahui oleh orang lain.


^^^Note : Ruang penyimpanan gaib bisa berupa alam lain atau bisa berupa benda (semacam jimat) seperti cincin, gelang, sabuk, kalung, liontin, syal atau benda apa saja.^^^


"Sembuhkan lukamu itu!" Gui Yixuan melemparkan guci kecil tersebut ke arah Zhou Weiyang. "Aku hanya tidak ingin cucuku menjadi gila hanya karena melihatmu terluka!"


"Terima kasih, Yang Mulia!" Zhou Weiyang ber-soja sekali lagi dan segera memasukan sebutir pil ke dalam mulutnya.


Suasana sedikit lengang untuk beberapa saat lamanya, baik Zhou Weiyang maupun Gui Yixuan saling terdiam dalam pemikiranya masing-masing. Waktu yang hening itu juga dimanfaatkan oleh Zhou Weiyang untuk memulihkan diri.


Setelah merasakan pil dari Gui Yixuan mulai menunjukan akibatnya, Zhou Weiyang berkata, "Yang Mulia. Hamba memang bersalah karena belum bisa menangkap pemilik segel tersebut. Tetapi hamba punya cara agar dia segera keluar dari Hutan Mistis itu."


"Hutan Mistis." Gui Yixuan mendesahkan napas beratnya. Dia memang sangat menyadari akan bahaya jikalau nekad menerobos masuk ke dalam hutan berkabut hijau tersebut. "Sial! Mengapa klan kami tidak bisa mematahkan kutukan itu, meskipun itu sudah bertahun-tahun lamanya?"


"Sepertinya semua memang sudah direncanakan oleh Luo He, agar Zhu Ziya bersembunyi di dalam hutan itu, Yang Mulia," ujar Zhou Weiyang yang sekarang sudah merasa menjadi sedikit lebih baik dari sebelumnya. "Dan hamba akan memaksa gadis itu keluar dari sana serta membuatnya menyerah dengan suka rela kapada hamba."


"Hmm." Sebuah gumaman kecil keluar dari bibir basah berkilat Gui Yixuan. Meskipun usianya telah mencapai ratusan tahun, akan tetapi dia adalah seorang kultivator ranah keabadian. Tubuhnya tidak akan pernah menua sedikit pun, karena dia sudah menguasai ilmu peremajaan. Sebuah ilmu langka yang jarang dikuasai oleh kultivator pada umumnya. Zhou Weiyang jelas tidak akan pernah bisa melawan pria berjubah kelam yang merupakan ketua Klan Iblis Merah ini.


"Berapa lama lagi? Aku bahkan sudah begitu bermurah hati dengan membiarkanmu dengan bebas menikmati tubuh cucuku!"


"Ampuni hamba, Yang Mulia! Hamba berjanji secepatnya akan membawa pemilik segel phoenix itu ke hadapan Yang Mulia!" Zhou Weiyang kembali bangkit dan menempatkan diri dengan sikap hormat di hadapan pria berjubah kelam.


"Baiklah. Aku tunggu janjimu! Dan kalau kau mengingkarinya, maka bukan hanya Li Jiao yang akan kuambil kembali, tetapi seluruh keluargamu pun akan ikut menanggung akibatnya!" Seusai berkata demikian, sosok itu segera menghilang dari hadapan Zhou Weiyang.


"Hamba mengerti, Yang Mulia!"


...Bersambung...