The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
PHOENIX API



Hal bagus tersebut tidak disia-siakan oleh jenderal muda ini. Dia segera menarik tombaknya dan langsung menyabetkan senjata tersebut pada tubuh serigala yang telah membeku. Tak ayal lagi, tubuh serigala bermata ungu hancur seketika menjadi ribuan kepingan-kepingan pecahan es.


Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah, dengan munculnya sebutir bola kristal sebesar telur angsa yang mengambang di udara. Luo Mian sendiri sempat tercekat menyaksikan benda yang masih memancarkan sinar ungu terang.


"Apa itu?" Luo Mian menatap bola kristal bercahaya ungu terang dengan takjub. "Apakah ini berguna?"


"Baiklah, siapa tahu ini akan berguna!" Luo Mian melakukan lompatan salto ke udara untuk mengambil bola kristal tersebut. Bersamaan dengan itu pula, beberapa ekor serigala juga melompat ke arah yang sama.


Mau tak mau Luo Mian dan serigala-serigala pun berbenturan, hingga tubuh pria itu terpental dan hampir saja terjatuh. Namun, Luo Mian dengan sigap menancapkan Feng Xue di atas tanah untuk berpegangan. Jenderal muda itu pun selamat, meski punggung tangannya terkena cakaran kuku serigala hingga membuatnya terluka.


"Sial! Aku terkena cakaran kuku mereka!" Luo Mian menatap luka memanjang sebanyak tiga garis yang cukup dalam, sambil meringis menahan sakit yang tiada tara.


Secara perlahan pula ia mengembangkan telapak tangan dan mendapati kristal ungu itu sudah ia genggam. "Bagus! Kalau bisa aku bunuh mereka semua, mungkin akan semakin banyak pula benda semacam ini yang aku dapatkan!"


Luo Mian menyeringai sinis ke arah para kawanan serigala. "Sebaiknya tidak usah membuang waktu lagi. Kuhabisi saja mereka semua dengan cara yang tadi!"


Tetapi raga pemuda itu benar-benar telah di ambang batas kekuatannya sebagai manusia. Meski setinggi apa pun tingkat kultivasi dan ilmu bela diri yang ia miliki, tetapi di tetaplah seorang fana yang belum mencapai ranah kedewaan dalam pelatihannya selama ini.


"Tapi ... sanggupkah aku?" Luo Mian merasa tubuhnya mulai lemah, walaupun tekad dalam dada terlalu membara tetapi raganya benar-benar tak bisa ia ajak bekerja sama lagi.


"Meskipun aku merasa sangat lemah sekarang, tapi aku harus berusaha menghabisi mereka semua!" Luo Mian berusaha bangkit dengan bertopang pada Tombak Feng Xue. Namun, sepertinya kekuatannya benar-benar semakin melemah dan seperti ada sesuatu yang bagai tengah menggerogoti tubuhnya.


"Apakah luka cakaran ini mengadung racun?" Napas Luo Mian terengah-engah, pandangannya mulai berkunang-kunang. Sementara itu, para kawanan serigala yang merasa kian marah pun mulai bersiap menyerangnya. Kepasrahan mulai menggelayuti pikiran sang jenderal, karena badannya pun mulai gemetaran.


"Apakah seorang jenderal penakluk musuh puluhan kali di medan perang ini akan mati sia-sia menjadi mangsa para serigala Hutan Mistis ini?" Luo Mian bergumam dalam kesendirian sembari menatap dengan pandangan kabur ke arah kawanan serigala tersebut.


Seulas senyum yang terkesan mencemooh diri sendiri pun terulas di bibir pria muda itu. "Bodoh sekali aku ini! Nasibku tidak lebih baik daripada Perwira Mu yang gugur di medan perang sebagai bunga negeri!"


Tentu saja, ini adalah hal yang membuat para serigala merasa senang. Mereka pun dengan serta merta melompat secara bersamaan, menerjang tubuh Luo Mian yang terkapar di atas tumpukan daun-daun kering. Entah bagaimana nasib sang jenderal kebanggaan Negeri Zhu yang hanya seorang diri di tempat antah berantah tersebut.


Para serigala bermata ungu telah bersiap kembali untuk menghabisi orang asing yang telah menjadi sumber kemarahan bagi mereka. Secara serentak pula mereka menyerang dengan terkaman liar dan ganas ke arah Luo Mian yang terkapar tak sadarkan diri tersebut. Namun, bersamaan dengan itu pula, datanglah sekelebat cahaya semerah api menyerupai burung phoenix menghadang gerak laju para binatang buas tersebut.


Para serigala seketika menjadi sangat ketakutan hingga secara spontan melompat dan tersuruk mundur ke belakang sampai beberapa tombak, untuk kemudian lari tunggang langgang tak tentu arah. Mereka bahkan sampai saling bertabrakan satu sama lain akibat dari ketakutan melihat penampakan binatang mistis yang lebih kuat dari ras mereka.


Burung phoenix api tersebut lalu berliukan di sekitar tempat tersebut. Kepakan sayapnya menimbulkan hawa panas yang bisa membakar kabut hijau ilusi. Namun, semua itu juga tidak bisa berlangsung lama. Setelah para kawanan serigala itu menghilang, burung phoenix api besar tersebut juga menghilang secara perlahan. Di sisi lain, terlihat seorang gadis berwajah manis terlihat baru saja selesai melakukan sebuah teknik manipulasi jarak jauh pada burung phoenix api semu tersebut.


"Baguslah! Setidaknya ini bisa mengusir mereka semua!" Gadis itu berseru sambil mengatur kembali pengendalian kekuatannya tersebut. "Akan sangat merepotkan sekali, kalau mereka tidak takut pada phoenix api semuku itu!"


Gadis yang tak lain adalah Ryana Zhang langsung melihat ke arah sesosok tubuh yang sudah dikenalnya dan dia memang sedang mencari jenderal muda tersebut sembari memetik buah-buahan yang bisa dimakan. Pada saat dia tengah sibuk mengumpulkan bahan makanan dan obat-obatan, dia mendengar suara lolongan serigala. Tentu saja bagi Ryana Zhang itu adalah hal yang bagus, karena bisa mendapatkan batu kristal spiritual dari hewan tersebut.


Namun saat tiba di tempat tersebut, dia dikejutkan oleh pemandangan yang membuatnya mau tidak mau mengeluarkan api phoenix yang baru saja bisa ia bangkitkan setelah beberapa hari melakukan meditasi dan pelatihan pengendalian sesuai petunjuk yang ada di kitab miliknya. Tentu saja hal tersebut juga atas bimbingan dari Luo Mian.


"Luo Geeee!" Gadis itu segera berlari ke arah tubuh Luo Mian yang tertelungkup di antara daun-daun kering hutan dan segera membalikkan badan pria itu dengan kepanikan luar biasa.


"Luo Gee! Bangun, Luo Geeee!" Ryana Zhang mengguncang tubuh Luo Mian berkali-kali dan tetap tak ada reaksi dari pria itu. Gadis itu hendak membuka cadar di wajah Luo Mian, tetapi dia juga mengurungkannya.


"Asap hijau ini terlalu berbahaya untuknya. Sebaiknya aku bawa saja dia kembali ke gua." Ryana Zhang akhirnya memutuskan untuk membawa tubuh Luo Mian dengan menyeretnya menggunakan tandu darurat yang dibuat dari batang dan akar pohon.


Setelah tiba di gua, gadis itu dengan napas tersengal-sengal memanggil Chen Jia.


"Jia'eeeeer!"


...Bersambung...