
Pada saat author dan animator yang sama-sama mengalami nasib naas dalam jebakan alam kultivasi yang tercipta tanpa sengaja, sebagai pelepas penat setelah seharian bergelut dengan berbagai macam kesibukan dunia.
Secara tanpa sengaja, ekor mata Ryana Zhang melihat sekelebat bayangan hitam bergerak dengan cepat, tepat di belakang para bandit. Rupanya, mereka sama sekali tidak menyadari akan kedatangan sosok misterius yang telah menghunus sebilah pedang bermata dua.
"Di-dia ... diakah orang yang kutunggu itu?" Ryana Zhang memang sangat berharap sosok itulah yang akan melepaskan dirinya dan Chen Jia dari maut di hari ini.
Ada setitik harapan dalam hatinya saat melihat bayangan yang masih belum jelas penampilannya. "Semoga saja memanglah dia ...."
"Gilaaa! Baru tahap awal saja sudah sedahsyat itu?" Mata ketua bandit melotot saat menyaksikan para pengikutnya berjatuhan dalam keadaan mati terbakar. "Ini tak bisa dibiarkan! Serang dia! Mumpung dia sudah mulai kehabisan energinya!"
"Ketua! Bagaimana ini?" Salah seorang bandit bertanya karena merasa ngeri melihat teman-temannya telah tewas di tempat itu.
"Tetap tangkap dia! Yang Mulia sudah mencarinya sejak lama, jadi kita harus bisa mempersembahkan gadis ini untuknya!" jawab ketua bandit sambil bergerak mendekati tubuh Ryana Zhang yang masih menggenggam tangan Chen Jia.
"Akhirnya kau tetap tak bisa mengalahkan kami, Bocah Bodoh!" Ketua bandit mengacungkan tombaknya pada gadis buruannya. "Cepat serahkan kitab itu pada kami!"
"Kitab? Jadi, mereka mengejarku dan ayah angkat hanya karena kitab itu?" bertanya Ryana Zhang dalam hati. "Aaaah! Mengapa aku agak lupa dengan scene ini?"
Ketua bandit merasa sangat geram, karena Ryana Zhang tidak menghiraukannya sama sekali. Hanya pancaran kebencian yang tersirat di kedua bola mata gadis itu. Meski tubuhnya lelah dan lemah, akan tetapi bara dendam begitu bergelora di dalam dadanya.
Ryana Zhang berbisik dalam hati. "Untung saja aku mengubur kitab itu di suatu tempat."
Pada saat genting itulah, tiba-tiba terdengar suara pekikan dari arah belakang para bandit yang hendak menyerang kembali kepada Ryana Zhang. Seorang pria gagah dengan balutan hanfu serba hitam dan mengenakan cadar hitam serta sebuah caping dari anyaman bambu. Sosok itu menyerang para bandit yang juga menjadi buruannya. Entah siapa pria misterius ini, tak satu pun dari mereka merasa mengenalnya.
Namun, Ryana Zhang sebagai sang author dari kisah yang sedang dijalaninya, dia telah mengetahui siapa sang penolong ini. "Akhirnya dia datang juga, meski seharusnya dia mati terbunuh oleh rajaman ratusan anak panah, akan tetapi aku sudah mengantisipasinya dengan membunuh sebagian dari bandit ini."
Demi mendapatkan serangan yang secara mendadak itu, banyak anggota bandit yang langsung tersungkur dengan bersimbah darah. Pria ber-hanfu serba hitam itu dengan ganas dan tanpa ampun menyabetkan pedang telanjangnya ke arah puluhan bandit.
"Dasar bandit penindas! Tempat yang layak untuk adalah nerakaaa!" teriak pria bercaping yang dengan gerakan kuat serta lincah menyabetkan pedang ke segala arah hingga satu persatu para anggota Bandit Asura itu jatuh dengan luka tikam ataupun tebas yang berhasil menumbangkan pertahanan mereka. "Mana pemimpin kalian itu? Apakah dia hanya berani mengancam di balik kegelapan tanpa berani unjuk taring di depanku?"
"Lancang kau, Bocaah! Kalau Yang Mulia kami mendengar ucapanmu, mungkin tubuhmu akan langsung menjadi debuu!" teriak ketua bandit yang merasa tak terima dengan perkataan si pria bercaping anyaman bambu berwarna hitam.
"Gui Leng, permainan tombakmu masih sangat buruk seperti tiga tahun yang lalu. Apakah kau tidak benar-benar mempelajari kitab curian itu?" tanya pria bercaping sambil menangkisi serangan ujung senjata lawan. "Lemah!"
"Diam kau, Bocah Tengiiik!" Gui Leng sang ketua bandit merasa dipermalukan seali oleh pria ini, dia bertanya-tanya siapakah pria yang telah membeberkan aibnya ini. "Siapa kamu sebenarnya, Bocah Tengik?"
"Aku?" Pria bercaping memutar tubuhnya serta membuka sedikit cadarnya dan tersenyum sinis penuh ejekan. Lalu, pria itu menarik kembali kain cadar guna menutupi wajahnya.
"Kamu!" Gui Leng terkejut saat melihat dengan jelas wajah pria yang menjadi lawannya ini. Selain terkenal akan keganasannya, pria ini tidak akan pernah menyisakan satu pun musuhnya secara hidup-hidup. Begitu pula dengan pertempuran kali ini, tak ada lagi lawan yang masih bernapas selain ketua bandit ini. Gui Leng bahkan sudah sangat menggigil ketakutan sejak mengetahui siapa pria ini.
"Kalian para bandit jelek, beraninya hanya menggertak seorang gadis kecil yang bahkan bukan tandingan kalian!" seru pria bercaping sembari membersihkan wajahnya yang sedikit terciprat darah musuh.
"Cuihh! Memalukan!" Pria bertubuh tinggi besar dengan kulit seputih susu dan mata tajam memikat itu meludah ke arah ketua bandit. "Katakan! Di mana tempat kalian menawan Zhang He?"
"Ayah angkat! Dia menyebutkan itu ... aahh! Mengapa aku harus merasa terkejut? Bukankah aku memang membuat mereka sebagai orang yang sangat dekat?" Ryana Zhang bergumam dalam hati. Meskipun sebagai seorang author dari novel ini dia tahu segalanya, akan tetapi saat menjadi Zhang Rui dia tidak boleh membeberkan semua pengetahuannya secara sembarangan.
"Zhang He? Mengapa kau menanyakannya?" Ketua bandit melangkah surut ke belakang, karena pria bercaping terus maju sembari mengacungkan pedang bermata dua ke lehernya. Sesungguhnya dia merasa sudah sangat ketakutan melihat semua kawannya binasa di tangan Zhang Rui dan pria ini.
"Itu adalah urusanku, sedangkan urusanmu hanyalah menunjukkan di mana keberadaannya. Itu pun kalau kau masih menyayangi nyawamu ini." Pria bercaping menorehkan pedangnya hingga menimbulkan goresan panjang dan aliran darah di leher Gui Leng. Ketua bandit hanya bisa meringis menahan sakit yang luar biasa di bawah tekanan pria ini.
"Bahkan kalau aku mengetahuinya, aku tetap tidak akan mengatakan padamu di mana kami menyekap Zhang He. Lagi pula, untuk apa kau menanyakan keberadaan si pngemis sampah yang tak bisa berkultivasi sama sekali!" Gui Leng tertawa terbahak-bahak kali ini, akan tetapi berakhir dengan jeritan panjang yang kemudian diam ... diam untuk selamanya.
"Berani sekali kau menghinanya!" Pria bercaping membersihkan pedangnya dengan kain baju lawan dan segera menyarungkan kembali senjata tajam itu.
Pria bercaping segera berjalan mendekati Ryana Zhang yang masih tergeletak dalam keadaan lemah. "Nona, bagaimana dengan keadaanmu dan juga kawanmu itu?"
Ryana Zhang mencoba menggerakkan tubuhnya yang masih terasa lemah. Sesekali dia harus terbatuk dan tersengal sembari menahan rasa nyeri di dalam dada dan perutnya. Bagaimanapun juga, pemaksaan pengeluaran tenaga dalam yang dia lakukan terlalu beresiko bagi seorang kultovator pemula.
"Nona! Jangan dipaksakan!"