
Zhou Weiyang segera memasuki bangunan besar dengan tatanan mirip dengan sebuah rumah tahanan, sekaligus menjadi pusat sekelompok iblis dari Pulau Tengkorak. Pria itu terus berjalan menuju ruang bawah tanah. Sesampainya di ruang penjara yang dituju, pria itu memberi perintah kepada manusia setengah iblis penjaga tempat tersebut.
"Buka pintunya!"
"Baik, Tuan!" Penjaga pun segera membuka gembok besi yang besar dan tebal serta membukakan pintu jeruji untuk sang tuan.
"Perintahkan beberapa pelayan untuk membawakan pesananku!" Zhou Weiyang memberi perintah kepada pengikutnya. "Hari ini aku ingin mengunjunginya sebagai teman lama."
"Siap laksanakan, Tuan!" Prajurit itu pun bergegas pergi untuk melakukan tugasnya.
Zhou Weiyang tersenyum sembari melangkah ke dalam penjara, sesekali sepatu dari kulit binatang di kakinya menginjak serpihan-serpihan kayu dan serakan jerami kering. Dia memasuki ruang penjara yang pengap dan kotor dengan sangat hati-hati.
Di sudut ruang penjara. Terlihat seorang pria berpakaian lusuh, kumal dan teramat dekil layaknya seorang gembel jalanan atau pengemis. Dia seperti tak memedulikan pria yang perlahan mendatanginya. Sepertinya, Zhou Weiyang ingin beramah tamah kepada pria berambut gimbal tersebut. Pria itu dengan santainya duduk di atas pembaringan empuk yang terbuat dari jerami kering berbalut kain kasar berwarna putih tulang yang kotor.
Zhou Weiyang menepuk-nepuk kasur jerami dan bertanya, "Apa kabarmu, Luo He?"
Pria yang disapa sama sekali tidak menolehkan wajahnya. Dia terus menatap ke luar jeruji besi dengan pandangan kosong seraya menjawab, "Seperti yang kau lihat sekarang ini. Kurasa matamu belum begitu rabun, Weiyang!"
Sebelum Zhou Weiyang melanjutkan perkataannya, beberapa pengawal terlihat masuk sembari membawa sebuah meja berkaki pendek dan dua buah bantalan empuk menyerupai buah labu. Mereka menatanya di atas lantai dengan rapi setelah menyingkirkan sampah-sampah yang bertebaran.
Menyusul kemudian, beberapa pelayan wanita datang dengan membawa banyak nampan berisikan berbagai macam makanan dan minuman serta buah-buahan segar. Mereka semua mengatur hidangan tersebut di atas meja beralaskan kain berwarna kuning gading dengan sangat cantik, hingga hidangan-hidangan yang tersaji menjadi terlihat begitu menarik.
Sebuah Zhutai atau tempat lilin berbahan dasar logam kuningan pun turut menghiasi meja tersebut. Zhutai kuning mengkilat berisikan lilin merah berjumlah dua belas batang segera dinyalakan untuk menambah keindahan dan penerangan di ruang penjara bawah tanah yang lembab dan dingin.
"Apa maksud semua ini, Weiyang?" Luo He melirik ke arah suara keributan yang ditimbulkan oleh kesibukan para pelayan.
"Semuanya sudah siap, Tuan!" Seorang pelayan melaporkan hasil kerjanya kepada Zhou Weiyang.
"Pergilah kalian semua!"
"Baik, Tuanku!" seru para pelayan wanita secara bersamaan dan segera meninggalkan ruang penjara yang sangat tidak layak sama sekali.
"Luo He, bukankah kita sudah sangat lama tidak bertemu, tidakkah kau rindu pada masa-masa kita sering minum bersama?" Zhou Weiyang bangkit dari atas ranjang jerami dan berpindah menuju ke meja berkaki pendek dengan bantalan serupa labu nan empuk.
"Kemarilah, Luo He! Janganlah dibuat terlalu sungkan padaku. Bagaimanapun juga, aku masih berhutang suguhan perayaan atas kemenanganmu saat memenangkan peperangan di perbatasan wilayah barat."
"Aku bahkan sudah lupa akan hal itu!" Luo He menyahut dengan nada ketus.
Pria berambut gimbal itu seperti masa bodoh dengan perkataan Zhou Weiyang, walaupun dirinya dan sahabatnya ini memang pernah saling berjanji untuk merayakan kemenangan saat mereka masih sama-sama berpangkat perwira prajurit di masa lalu.
Namun, sejak kepergiannya dari lingkup istana, dia sudah melupakan segala kesenangan dunia. Tugas utama dari sang tuan lebih penting, jika dibandingkan dengan hanya sekedar mereguk kenikmatan hidup di kediamannya yang besar dan megah.
"Sudahlah, Luo He! Bukankah kita akan segera menjadi besan?" ujar Zhou Weiyang sembari menuangkan arak Anggur Biru ke dalam cawan yang terbuat dari keramik berwarna putih. "Aku masih ingat dengan Anggur Biru kesukaanmu dan tentunya, kau sudah sangat lama tidak menikmatinya?"
Zhou Weiyang tersenyum lembut menambah kesan anggun di wajahnya yang bersih tak bernoda. "Silakan, Luo He!"
Zhou Weiyang mengangkat salah satu cawan keramik berisikan arak dan mengulurkannya kepada pria berpakaian dekil yang segera menyambarnya dengan kasar. Luo He meneguk habis arak Anggur Biru tanpa sisa dan meletakan cawan dengan kasar pula.
"Katakan! Apa maksud dari kedatanganmu ke mari?" Luo He bertanya seraya menyeka sisa arak yang berhamburan di sekitar kumis dan jenggotnya.
"Luo He ya Luo He. Kau ini sungguh sangat, sangat dan sangaaat aneh." Zhou Weiyang menggeleng-gelengkan kepala hingga beberapa kali.
Luo He menatap Zhou Weiyang dengan tatap penuh kebencian. "Tuan Menteri Kiri yang terhormat! Kuharap jangan buang waktumu dengan bertele-tele kepada seorang pengemis sepertiku! Aku bahkan tidak tahu, kalau kaulah biang dari kekacauan di Desa Pengemis Bambu Kuningku!'
Zhou Weiyang tertawa kecil dan meneguk arak Anggur Biru setelahnya. "Luo He ya Luo He. Bagaimana bisa dikatakan sebagai pembuangan waktu, kalau yang saat ini bersamaku adalah seorang Tuan Menteri Kanan kesayangan Yang Mulia Kaisar?"
"Aku bukan lagi seorang menteri! Aku hanyalah seorang pengemis miskin yang selalu diburu olehmu!" ucap Luo He sembari mendengus dengan kegeraman dari dalam hatinya.
"Miskin dan pengemis itu hanya dipandangan orang-orang biasa, tapi di hadapanku semua hal itu tidak berlaku." Zhou Weiyang meraih sepasang sumpit dan mengambil sekerat daging kambing muda yang telah dimasak dengan santan kelapa dan bumbu rempah hingga kuahnya mengental.
"Ini adalah resep masakan bernama opor kambing muda dari negara tenggara jauh. Kau cicipilah, ini sangat enak." Zhou Weiyang meletakan potongan daging kambing tersebut ke dalam mangkuk keramik milik Luo He.
"Apa lagi yang kau tunggu? Makanlah! Apakah kau tidak ingin bertemu dengan Xue Lu?" bertanya Zhou Weiyang sambil menatap Luo He dengan pandangan aneh. Pria itu berbisik, "Dia masih sangat cantik seperti dulu."
"Di mana kau menahannya?" bertanya Luo He dengan nada marah.
"Aku tidak menahan istrimu. Dia hidup dengan tenang dan bahagia bersama anak lelaki kebanggaan negeri ini," jawab Zhou Weiyang sembari mengambil makanan dengan sesuka hati. Perjalanan jauh telah membuatnya sangat kelaparan. Terlebih lagi, dia baru saja bertempur melawan Selir Li Jiao yang memiliki kecantikan wajah dan keindahan tubuh nomor satu di Kekaisaran Zhu. Membayangkan senyumnya saja, sudah membuat Zhou Weiyang berkeringat.
"Baguslah!" sahut Luo He dengan perasaan lega. Dia pun tak sungkan lagi untuk menyumpit banyak makanan ke dalam mangkuknya. "Lanjutkanlah!"
Zhou Weiyang tersenyum melihat tingkah Luo He. Pria itu berkata dalam hati. "Kehidupannya selama enam belas tahun ini, pasti sangat berat. Tapi, itulah akibat dari kesetiaanmu kepada kaisar sampah seperti Zhu Ran!"
Zhou Weiyang mendesahkan napasnya hingga beberapa kali sebelum berkata, "Kedatanganku ke mari ada beberapa hal yang ingin kusampaikan dan kutanyakan padamu."
"Aku tidak mengerti maksudmu!" Luo He menyahut sambil memasukan sekerat daging kambing muda yang lezat. "Bagus! Kurasa ini tidak terlalu buruk!"
"Kalau kau menyukainya, maka aku akan mengantarkan masakan ini setiap harinya, Luo He."
"Mengapa kau jadi sangat baik padaku? Setelah orang-orangmu menghancurkan tempatku?" Luo He merasa sangat geram kali ini.
"Itu karena aku juga memiliki sebuah maksud tertentu," sahut Zhou Weiyang tanpa memikirkan sama sekali dengan perasaan Luo He.
"Cepat katakan!"
...Bersambung...