The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
CAHAYA ALAM KULTIVASI



"Ya, benar. Batas waktu itu adalah masa di mana sekuat mana tubuhmu bisa bertahan. Jika terlalu lama rohmu terjebak di sini, maka kamu akan dianggap mati di di dunia asalmu." Putri Zhu Ziya kemudian menggerakan tangannya seperti sedang menghapus sesuatu dan layar ilusi pun menghilang seketika.


"Sedangkan di sini, kamu juga tidak bisa terus menempati raga milikku. Aku harus segera keluar dari alam kesadaran sihirmu ini dan menghadapi mereka sebagai Dewi Phoenix Api sang pemegang segel Bulan Sabit dan Kitab Panduan Dewa Mimpi."


"Mengerikan sekali jika aku dinyatakan mati di duniaku!" Ryana Zhang tak bisa membayangkan jikalau hal itu terjadi. "Aku tak bisa membiarkan itu terjadi! Tidak boleh terjadiiii!"


Putri Zhu Ziya tersenyum dan bertanya, "Ryana, apakah kamu ingin kembali ke dunia asalmu?"


"Tentu saja. Cepat katakan! Bagaimana caranya?" Ryana merasa sangat tidak sabar ingin mendengarnya. Bagaimanapun juga, dia harus menyelamatkan dirinya dari ancaman batas waktu. Dia bertekad untuk bisa kembali bersama dengan Chen Jia.


Putri Zhu Ziya menundukkan kepalanya. "Caranya adalah ...."


"Mungkin ini akan sangat berat untukmu, karena kamu harus meninggalkan sesuatu yang pastinya tidak ingin kamu tinggalkan."


Mendengar perkataan Putri Zhu Ziya, Ryana Zhang menjadi sedikit bingung dibuatnya. Gadis itu bertanya dalam hati, "Apa yang ingin dia sampaikan sebenarnya? Mengapa sangat bertele-tele sekali?"


"Katakan saja!" Ryana Zhang sudah tidak bisa bersabar lagi. "Apakah itu sesuatu yang sangat sulit?"


Putri Zhu Ziya menganggukkan kepala. "Bisa dibilang sulit, jika kamu keberatan. Karena kamu harus bertukar tempat dengan membiarkan aku kembali ke ragaku dan meninggalkan Chen Jia sendirian di alam kultivasi ini."


"Apa? Meninggalkan dia sendirian di alam ini?" Ryana Zhang merasa tidak terima jika dia harus meninggalkan pemuda itu berada di alam kultivasi tanpa dirinya. "Aku tidak bisa! Kami sudah sepakat untuk bekerja sama dan keluar dari sini secara bersama-sama pula!"


Bertukar tempat memang bukanlah hal yang terlalu sulit namun untuk meninggalkan Chen Jia, itu adalah hal yang sangat tidak ia inginkan. "Aaaah, Jia'eeeer! Aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian di siniiiii!"


"Zhu Ziya, aku harus membawanya kembali dan itu sudah menjadi janji kami berdua." Ryana Zhang merasa frustrasi memikirkannya.


"Itu memang sebuah janji yang bagus, karena kalian telah membuat sebuah keputusan terbaik. Tetapi jujur saja, aku membutuhkan perannya. Dia adalah orang yang terpilih secara khusus dan memang aku tunggu-tunggu sejak lama," ujar Putri Zhu Ziya. "Dia datang setelah kehadiranmu ke alam ini. Tidakkah kamu ingin mengetahui mengapa dia bisa sampai di sini?"


Tak bisa dipungkiri, Ryana Zhang juga dibuat penasaran dengan kehadiran Chen Jia yang secara tiba-tiba di alam kultivasi karangannya. "Benar juga, ya?"


"Bagaimana bisa dia secara tiba-tiba datang ke sini?" pikir Ryana Zhang dengan rasa penasaran yang dalam. "Jika tanpa suatu alasan yang sangat penting. Tapi, siapa yang membuat cerita semacam ini?"


"Aku adalah authornya, tetapi aku sendiri dibuat pusing oleh kisah yang aku buat sendiri!" Ryana Zhang sungguh tidak habis pikir dengan kejadian yang dialaminya.


"Kamu akan segera mengetahui setelah terbangun dari tidur panjangmu dan yang paling penting adalah, kamu bisa membantunya dari duniamu." Putri Zhu Ziya memang sangat berharap jika Ryana Zhang bersedia melakukan pertukaran posisi.


"Sedangkan di sini, dia tidak akan tahu kalau aku adalah Putri Xhu Ziya yang sebenarnya. Dia akan tetap mengira aku adalah Ryana Zhang idolanya. Bagaimana, Ryana?" Putri Zhu Ziya mengharapkan pengertian Ryana Zhang.


"Mungkin kamu benar, Zhu Ziya. Karena semua yang terjadi di sini, bermula dari kisah yang aku buat di duniaku." Ryana Zhang mulai mengerti. "Asalkan kisah ini berakhir dengan bahagia dan Chen Jia juga bisa kembali ke dunia asal kami ...."


"Lalu ... bagaimana dengan perasaanmu terhadap Luo Ge?" Putri Zhu Ziya menatap mata Ryana Zhang lekat-lekat. Roh gadis cantik itu seperti ingin memastikan perasaan Ryana Zhang kepada Jenderal Luo Mian.


"Aku--aku …."


"Aku tidak tahu. Aku dan dia berbeda dunia." Ryana Zhang merasa ragu untuk mengatakan dengan jujur. "Lupakan saja! Kami tidak mungkin bertemu lagi setelah aku kembali ke dunia asalku."


Putri Zhu Ziya hanya bisa ikut merasa sedih. "Kamu memang benar. Kita berbeda dunia ...."


"Seperti aku dan Chen Jia," gumam Putri Zhu Ziya dalam hati. Rupanya, secara diam-diam sang putri telah jatuh hati pada sosok dunia lain yang kerap ia datangi saat Ryana Zhang tertidur.


"Sudahlah, jangan mengatakan lagi hal yang tidak akan pernah terjangkau oleh akal kita. Lakukan saja apa yang harus kita lakukan," ujar Ryana Zhang dengan suara lirih namun pasti.


"Kalau begitu kita sepakat?" Mata Putri Zhu Ziya berbinar dan membulat sempurna.


"Ya, aku bersedia." Ryana Zhang telah memantapkan hati dengan kebulatan tekad untuk memperbaiki novelnya di dunia nyata.


Putri Zhu Ziya juga telah siap dengan segala kemungkinan yang akan ia hadapi saat kembali pada tubuhnya. "Baiklah. Kalau begitu kita akan memulai pertukaran ini."


"Apakah kamu sudah siap, Ryana Zhang?" Putri Zhu Ziya ingin memastikan kebulatan tekad gadis yang ada di hadapannya saat ini.


"Aku sudah siap, Zhu Ziya." Ryana Zhang memejamkan matanya dan bersiap untuk menerima pertukaran yang telah disepakati. 


"Kalau begitu, biar aku yang akan melakukan ritual perpindahan kita," ujar Putri Zhu Ziya dengan suara teramat lembut dan anggun.


"Bersiaplah!" 


Detik berikutnya, Putri Zhu Ziya merentangkan sepasang tangannya sambil menarik napas dalam-dalam. Gadis itu mengumpulkan kekuatan cahaya alam kultivasi dalam lautan jiwa yang ada di ingatannya dan Ryana Zhang. Sinar putih yang semula menyebar bersama kabut tipis pun, segera berkumpul secara perlahan di atas telapak tangan Putri Zhu Ziya membentuk gumpalan berpijaran.


"Ini adalah cahaya yang menarikmu hingga sampai ke mari melalui pintu masuk alam kultivasi." Putri Zhu Ziya memberi penjelasan tentang gumpalan cahaya putih yang ada di tangannya. "Dan dengan cahaya alam kultivasi ini juga, aku akan mengembalikanmu ke dunia yang tidak bisa kami datangi ... kecuali oleh suatu takdir."


"Cahaya alam kultivasi ... jadi ini, penampakan sinar ajaib yang bisa mengubah seorang kultivator menjadi abadi. Tetapi, ternyata kegunaannya bukan hanya itu saja," gumam Ryana Zhang. "Cahaya ini juga bisa menarik dan mengembalikan roh seseorang dari tempat yang satu ke tempat lainnya."


"Tidak buruk juga, hmmm."


...Bersambung...