The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
MATA UNGU



Pasukan kecil yang berjumlah tak lebih dari tiga puluh orang itu pun segera melesat, berpacu dan berderapan di atas jalanan berbatu. Musim kering telah menggersangkan tanah bumi, hingga laju kuda-kuda pasukan kecil Divisi Krisan Emas meninggalkan sisa-sisa debu yang berterbangan, lalu hilang di tiup embusan pelan sang bayu.


"Jenderal Luo, sejauh kau pergi menghindariku, maka sejauh itu pula aku akan mengejarmu!" bisik Zhou Yunyang dalam hati. "Aku hanya ingin menemukanmu dan membawamu kembali ke istana dan kita akan segera menikah secepatnya!"


Zhou Yunyang telah bertekat dalam hati untuk mendapatkan seorang Luo Mian dengan cara apa pun juga. Bagi gadis itu, penghalang setinggi gunung ataupun rintangan harus menyeerangi samudra luas akan dia tempuh demi menggapai cinta seorang pria yang tidak mencintainya.


"Pencarian ini kupastikan tidak akan sia-sia!"


Di Hutan Mistis ....


Semenjak kedatangannya di Hutan Mistis, Jenderal Luo Mian sudah mulai mengenal situasi dan keadaan hutan berkabut hijau dengan berbagai macam kisah misteri yang banyak ia dengar dari mulut ke mulut. Pria itu sudah berulang kali ingin datang ke tempat tersebut, akan tetapi selalu dicegah oleh sang ayah. Entah apa yang menjadi alasan sang ayah, pemuda yang terpaksa menjadi seorang jenderal hanya untuk menutupi sebuah rencana dan demi melindungi orang tuanya itu pun masih tidak mengerti.


Pada siang hari yang terik menyengat jika di luar perbatasan hutan namun akan terasa sebaliknya saat memasuki hutan beraura mistis, angker dan sunyi tersebut. Walaupun keadaan tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, akan tetapi Luo Mian dengan sengaja menyembunyikan perihal racun parasit darah iblis dalam tubuhnya.


Luo Mian berjalan-jalan sendiri di luar gua untuk mencari tahu lebih banyak lagi rahasia yang tersembunyi di kedalaman hutan berkabut hijau tersebut. Pemuda itu juga masih harus mengenalkan cadar saat berada di luar hutan, karena dia masih belum terbiasa dengan udara hutan dengan auranya yang aneh.


"Rupanya Gua Lima Warna terletak di sebelah selatan pusat hutan dan binatang buas mistis tidak ada yang berani mendekati gua itu. Hmm ... aneh?" Luo Mian berjalan sambil berpikir dan sesekali menyibak akar-akar gantung menyerupai rambut nenek yang berjuntaian menutupi jalan.


"Menyenangkan juga tempat ini," gumam Luo Mian dalam hati sambil mengamati burung-burung liar yang asyik berkejaran di antara dahan-dahan pohon. "Aku jadi penasaran, bagaimana rasanya daging binatang penghuni hutan ini."


"Akan kucoba!" Luo Mian memungut sebongkah batu dan mencoba untuk membidik burung-burung yang sedang berterbangan dengan riang gembira sembari berkacauan.


Luo Mian melangkah mundur guna mengambil ancang-ancang. Di tangannya telah ternggenggam sebutir batu sebesar kepalan telapak tangan untuk membidik salah seekor burung berbulu biru dan kuning sebesar ayam hutan. Rasa penasaran akan kelezatan daging binatang dalam Hutan Mistis begitu kuat mendorong keinginan jenderal muda kebanggaan Negeri Zhu.


"Satu." Luo Mian mengumpulkan tenaga seraya mengangkat tangannya ke belakang dengan sikap siaga membidik.


"Dua." Pria itu mulai mengunci buruannya dengan penglihatan seorang pembidik jitu.


"Tiga!"


Lemparan berkekuatan penuh dari seorang jenderal Kekaisaran Zhu berhasil mengenai salah satu sayap burung biru berjambul kuning tersebut. Binatang itu oleng hingga terbang berputaran, lalu menukik disertai lengkingan tinggi dan jatuh di gerumbulan semak belukar cukup jauh dari posisi Luo Mian berada.


"Berhasil!" Luo Mian berteriak kegirangan dan segera mengejar burung biru berjambul kuning buruannya.


Namun, belum seberapa jauh ia berlari, tiba-tba saja dia dikagetkan oleh suara patahan ranting dan bebatuan yang saling berbenturan. Tanah di sekitar tempat itu juga bergetar disertai embusan angin aneh yang mengaburkan asap-asap hijau.


"Suara apa itu?" Luo Mian berbalik sambil memasang kewaspadaan tinggi saat telinganya mendengar geraman mirip suara binatang buas. Pria itu berjalan mundur ke belakang dan memutar tubuhnya hingga beberapa kali dengan sikap siaga. Luo Mian bertanya-tanya dalam hati. "Suara itu seperti bukan bunyi geraman harimau atau babi hutan ...."


"Satu." Luo Mian mulai menghitung berapa banyak suara yang bisa ia tangkap dengan indra pendengarannya.


"Tiga!" Jenderal muda itu semakin mempertajam pendengarannya. Tetapi setelah diamati dengan teliti, ternyata suara itu lebih dari tiga ekor binatang.


"Aaahh, tidak! Ini bahkan lebih dari tiga ekor!" seru Luo Mian dalam hati saat kembali mendengar suara geraman lebih dari satu atau dua sumber. Pria itu menengok ke arah samping dan belakang tubuhnya. Pijakan langkah kakinya ia pelankan selirih mungkin agar tidak menimbulkan suara berisik.


"Bagaimana kalau mereka tiba-tiba saja menerkamku?" pikir Luo Mian yang semakin mencurigai ada bahaya besar tengah mengintainya saat ini.


Pria yang tidak gentar menghadapi pedang musuh setajam apa pun, kini dibuat harus menahan napas akibat suara-suara asing di sekitar tempat ia berpijak. Luo Mian kemudian meraba pinggang kiri untuk mencari hulu pedang, akan tetapi dia tidak mendapati benda yang sedang ia butuhkan saat ini. Jenderal itu teringat, jika pedang miliknya masih ada di dalam Gua Lima Warna bersama dengan barang-barang yang lain.


"Dan sialnya lagi, pedangku tertinggal di gua!" Jenderal muda itu menepuk dahi atas kebodohannya sendiri. "Apa boleh buat? Kalau keadaan sudah sangat mendesak. Aku terpaksa meggunakannya."


Suara-suara geraman menyeramkan semakin mendekat bagai sanggup membekukan aliran darah di sekujur badan. Jika itu orang lain,mungkin sudah jatuh mental dan pingsan seketika. Luo Mian sekarang bisa melihat suatu pergerakan dari arah gerumbul semak, seiring cahaya ungu terang berkelipan lebih dari lima pasang muncul dalam jumlah yang tidak sedikit. Hal tersebut membuat darah Luo Mian bagaikan terkesiap dan berhenti mengaliri tubuhnya.


"A-aapa itu?" Luo Mian benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya kali ini. Tubuhnya sedikit gemetaran, saat beberapa ekor binatang sebesar badak berwujud serigala abu-abu bermata ungu terang melangkah mendekatinya.


"Se-se ... serigala?"


Luo Mian merasa tak bisa lari ataupun bergerak sedikit jua dan hanya matanya saja yang terbelalak lebar. Degup jantungnya pun tak kalah cepat daripada biasanya. Seorang Luo Mian masihlah memiliki rasa takut, walau dirinya sudah kerap mengalami beberapa kali pertempuran besar dan ratusan kali pertarungan melawan para kelompok penjahat.


Namun, kali ini yang sedang dia hadapi adalah binatang buas yang tidak biasa. Apalagi mereka adalah ras binatang mistis yang baru sekali ini ia temui. Bibir tipis merahnya mulai memucat dan bergetara. Salah seekor serigala yang paling besar mendekat ke arahnya dengan sikap yang bermusuhan, dia mengendus-endus tubuh Luo Mian dari ujung rambut hingga ujung kaki sembari membuka sedikit moncong bergigi tajam dan memamerkan sepasang taring runcing menakutkan.


"Celaka!" Luo Mian terpekik dalam hati tanpa berani bergerak sama sekali. Geraman lirih namun tajam terdengar di telinganya dan berhasil meremangkan bulu kuduk sang jenderal. Tetapi jangan lupa, meski dalam keadaan panik luar biasa dia masihlah Luo Mian yang cepat tanggap keadaan dan tidak ingin mati sia-sia oleh sergapan para binatang buas ini.


"Feng Xue!" Luo Mian berseru dengan suara tegas. Tampaknya dia sedang memanggil sebuah nama yang sangat akrab dengannya dan bersamaan dengan itu juga, seilah tombak perak berkilauan telah berada dalam genggamannya.


Ya, Tombak Feng Xue! Itulah senjata yang sangat ingin dilihat oleh Chen Jia. Rupanya, tombak itu disimpan oleh sang pemilik di sebuah ruang penyimpanan gaib dan hanya si pemilik saja yang mengetahuinya.


^^^Hei, Thor. Tunggu! Bukankah pada awalnya tombak itu dirancang berwarna coklat keemasan, lalu mengapa sekarang menjadi putih perak? Kira-kira akan begitu pertanyaan reader sekalian, bukan?^^^


^^^Hmm ... tidak bolehkah seorang author membuat perubahan yang tidak terduga?^^^


^^^Sudahlah, mari kita lupakan sejenak tentang perubahan warna pada Tombak Feng Xue.^^^


Lanjut lain kali aja, ya 😁😁


...Bersambung...