
"Ah Rui, tunggu aku!"
Luo Mian menggebrak kedua kudanya dengan sangat keras, hingga mereka berlari bagaikan dikejar setan. Binatang itu menerobos masuk ke dalam hutan lebat berkabut yang ada di depannya, sedangkan Luo Mian sendiri melesat ke udara dan berbalik menuju ke arah para penyerang. Dia melemparkan selembar kertas (kertas jimat) berwarna kuning tua memanjang yang berisikan simbol-simbol khusus berwarna merah untuk pembentukan sebuah formasi pelindung.
Kertas jimat kuning tersebut, seketika berubah menjadi seberkas sinar yang memancar membentuk sebuah array atau ruang dimensi khusus yang bisa bertahan dalam waktu tertentu. Adapun kegunaannya lebih seperti semacam tempat perlindungan atau ruang penyimpanan.
"Luo Geeeeee!" Ryana Zhang menjerit panjang saat merasakan Luo Mian sengaja melepaskan diri darinya.
Kuda-kuda yang ditunggangi oleh Ryana dan Chen Jia berhasil masuk ke dalam Hutan Mistis dalam perlindungan segel rune dari kertas yang berhasil membentuk formasi pelindung di seluruh hutan itu. Ryana Zhang bersusah payah menggapai tali kekang yang disentakan begitu saja oleh Luo Mian. Gadis itu dengan sekuat tenaga menarik tali kendali kuda hingga binatang itu menghentikan larinya.
Gadis itu jatuh terpental dari atas punggung kuda dan pingsan seketika, sedangkan kuda Chen Jia juga berhenti tak jauh dari tempat Ryana Zhang terkapar. Sementara itu di luar hutan, Jenderal Luo Mian harus bertarung melawan para manusia misterius yang menyerangnya dengan ilmu-ilmu iblis. Kali ini yang dilawan oleh jenderal itu memang para manusia setengah iblis dari Klan Iblis Merah. Tentu saja pergerakan mereka sangat cepat bagai tak kasat mata.
"Ternyata klan ini benar-benar ada!" Luo Mian berucap dalam hati dengan sangat heran. Baru kali ini dirinya menghadapi makhluk yang tak bisa dengan mudah dia bunuh. Jika satu di antaranya terbunuh, maka yang lain akan membangunkan kawan mereka dengan cara melangkahi mayat tersebut. Hampir tiada habisnya hal itu terjadi berulang kali.
"Aku bisa mati kelelahan kalau terus begini!" Luo Mian bergumam dalam hati.
Sebuah tendangan sapuan di udara berhasil membuat Luo Mian terpental dan tersuruk mundur dengan tangan bertumpu pada gagang pedangnya, sedangkan tangan yang lain memegang dada yang terkena benturan senjata lawan. Luo Mian terbatuk beberapa kali disertai darah kental kehitaman mengalir dari sudut bibirnya dengan napas tersengal-sengal. Rupanya, dia terkena pukulan berlambar tenaga dalam tingkat tinggi dari salah seorang prajurit klan iblis.
"Apa yang harus kuperbuat?" Luo Mian benar-benar kebingungan saat hal yang sama terjadi berulang kali.
"Hei, Bocah! Kami bukanlah tandinganmu, maka menyerahlah dan juga serahkan gadis itu sekarang jugaa!" teriak salah satu dari penyerangnya.
"Menyerah?" Luo Mian bertanya sambil menyeringai sinis. "Tidak akan!"
Jenderal Luo Mian meraba sebuah benda di balik hanfu lapisan dalamnya dan mengambil sebuah botol keramik tempat penyimpanan pil yang akan selalu dibawanya ke mana pun dia pergi. Luo Mian memasukan sebutir pil berwarna perak ke dalam mulutnya. Jenderal muda itu memejamkan matanya untuk beberapa saat, dalam hati dia berkata, "Terpaksa aku gunakan pil inti perak ini!"
"Lihat apa yang sedang dilakukannya?" tanya salah seorang dari musuh Luo Mian.
"Sepertinya, dia menelan sesuatu. Kita tunggu dan lihat saja, apa yang akan dia tunjukan kepada kita," jawab ketua prajurit dari Klan Iblis Merah.
"Hei, Bocah! Sepertinya kau memiliki sesuatu yang ingin kau perlihatkan kepada kami. Baguslah! Kau cukup layak menjadi lawan kami!" teriak salah seorang dari prajurit klan iblis.
Tak perlu menunggu terlalu lama, pil perak itu menunjukan reaksinya. Tubuh jenderal itu bergetar dengan aliran darah yang terasa lebih lancar dan sedikit panas. Luo Mian kembali melesat ke udara seraya mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dengan kedua tangannya guna mempersiapkan sebuah pemadatan niat roh pedang.
"Pemadatan niat pedang naga perak!" seru sang pimpinan prajurit Klan Iblis Merah.
"Bagaimana ini, Ketua?" bertanya salah seorang prajurit kepada pimpinannya.
"Tunggu apa lagi?" Pimpinan prajurit Klan Iblis Merah menancapkan tombak ke dalam tanah. "Siapkan formasi!"
Sang pimpinan prajurit segera merentangkan kedua tangannya serta memutar beberapa kali membentuk lingkaran di udara kosong, hingga menimbulkan deruan angin yang cukup kuat. Seberkas sinar cahaya kuning terang pun muncul bersamaan dengan penampakan delapan buah bendera bergambar tengkorak badak bercula dua.
Secara serentak pula bendera-bendera tersebut melayang berputaran di udara, lalu menyebar, menancap di atas tanah membentuk garis oktagon atau pola segi delapan yang besar dan luas. Para pengikutnya juga melakukan pemusatan kekuatan tenaga dalam dan menyatukannya secara bersamaan guna memperkuat formasi yang sedang mereka bentuk. Mereka semua mengarahkan gabungan kekuatan tenaga dalam tersebut ke dalam tubuh sang pimpinan prajurit yang menjadi pengendali utama formasi.
Cahaya kuning terang membias berpendaran dari formasi tersebut, hingga membentuk tubuh seekor badak raksasa semu yang terlihat sangat kuat dan menakutkan. Binatang yang merupakan kekuatan gabungan itu tampak sudah sangat siap untuk dilepaskan kapan saja sesuai perintah sang pengendali. Badak bercula mengeluarkan suara geraman yang sanggup meremangkan bulu kuduk siapa saja. Gelombang suaranya seperti menimbulkan gempa bumi yang teramat dahsyat.
"Huh! Hanya formasi Badak Bercula Ganda yang biasa saja. Apakah kalian pikir itu akan mampu menandingi kekuatan Kaisar Naga Perakku ini?" Luo Mian juga telah bersiap dengan kekuatan niat pedangnya. Jenderal muda itu masih mengambang di udara setinggi bukit sambil memainkan gerakan-gerakan jurus khusus.
"Sombong sekali kau bocah!" Darah pimpinan prajurit seperti naik dan mendidih. Dia sungguh merasa jengah dan marah dengan perkataan Luo Mian yang lebih seperti sedang sangat meremehkanya.
Luo Mian hanya tertawa seolah benar-benar mengejek lawannya, sebenarnya dia hanya sedang mengulur waktu agar pil yang tadi ditelannya menimbulkan akibat yang sempurna. Sebuah aliran lembut mulai merambati urat syaraf, otot dan tulangnya. Semakin lama aliran itu semakin kuat dan memancar keluar melalui telapak tangan dan menyalur ke dalam pedang yang tengah digenggamnya dan pada detik berikutnya ....
Seekor naga raksasa bercahaya perak pun muncul dari dalam pedangnya. Binatang semu tersebut melayang terbang berliukan dan sesekali memutari sang pengendali sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Sebuah raungan keras dari mulut naga perak berhasil menjatuhkan mental lawan. Seluruh urat syaraf dan persendian musuh bagaikan membeku dan tak bisa bergerak sama sekali.
"Bertahanlaah! Itu hanyalah sebuah auman yang tak lebih menakutkan daripada suara mengeong seekor kucing buduk!" Sang pimpinan menyerukan semangat agar para prajurit bawahannya tidak kehilangan keberaniannya. "Kita pasti bisa mengalahkan ular lemah itu!"
"Siap, Ketua!"
"Ingat, jangan takut pada bocah yang usianya bukan bandingan kaliaaan!" seru pimpinan prajurit klan ibis.
"Bersiap menyeraaang!"
...Bersambung...