The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
JUBAH BERDARAH



Li Jiao tersenyum dan menjawab, "Yang Mulia. Ini bukan masalah kepuasan, akan tetapi lebih kepada sebuah kewajiban. Bagaimanapun juga Selir ini masihlah istri Anda, Yang Mulia."


"Tapi aku jijik melihatmu!" Yang Mulia Kaisar menggeserkan tubuhnya agar tidak menyentuh wanita yang sangat dibencinya ini. "Jangan pernah lagi menyentuhkan dirimu yang menjijikkan itu padaku!"


"Yang Mulia, bagaimana kalau aku tetap memintanya?" bertanya Selir Li seraya meletakan mangkuk di atas meja.


"Maka tidak akan pernah aku berikan!" Kaisar Zhu Ran bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati jendela kamar yang sengaja dia buka. Udara dingin malam ini memang sangat menusuk hingga menembus hingga bagai sanggup membekukan sumsum tulang.


"Benarkah?" Selir Li mendekat dan membelai punggung suaminya dengan penuh kelembutan sembari berucap, "Yang Mulia, sudah sangat lama hidupmu sepi dan dingin, sedangkan Anda masih memiliki selir ini. Tidakkah Yang Mulia merindukanku juga?"


"Singkirkan tangan kotormu, Li Jiao!" Yang Mulia Kaisar Zhu Ran menarik napas dalam-dalam mendengar pertanyaan Selir Li. Pria itu mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat dan berucap dalam hati. "Jangan harap kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, wanita licik!"


"Kau sudah mengotori tubuhmu dengan sentuhan pria lain yang bukan suamimu!" Yang Mulia Kaisar berkata dengan nada pedas. "Pergilah dari tempat ini, Selir Li!"


"Memang benar, aku tidak akan menyangkalnya sama sekali. Aku memang wanita yang sudah ternoda oleh pria lain. Tetapi itu juga bukan keinginanku, Yang Mulia!" ucap Selir Li tanpa perasaan bersalah ataupun menyesali perbuatannya. "Sepertinya, Anda benar-benar tidak tertarik dengan niat baik istrimu ini."


"Aku bisa membuatmu menderita, Zhu Ran." Selir Li berucap dalam hati sambil tersenyum licik. Dia melepaskan salah satu jubah yang dikenakannya dan membiarkan benda itu teronggok di atas lantai. "Nikmatilah semua ini, Zhu Ran!"


Selir Li merapikan pakaiannya yang lain berupa selembar jubah hanfu tipis berwarna ungu pucat yang sekarang dia kenakan. Wanita itu melangkahkan kaki jenjang cantiknya sembari berucap, "Baiklah, Selir Li ini akan pergi. Selamat malam, Suamiku!"


"Heeehh, tak menyangka sekali. Ada seorang pria bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati tubuh indah ini." Selir Li berkata sembari menyeringai sinis. "Selamat menikmati hadiah dari istri yang kau abaikan ini, Yang Mulia!"


Wanita cantik berambut panjang itu terus melangkahkan kakinya menjauhi Yang Mulia Kaisar yang sama sekali tidak mengarahkan pandangannya barang selirik ujung mata saja. Perasaan lelaki itu merasa luar biasa lega, saat mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras setelahnya. "Ingatlah, Yang Mulia! Orang-orang itu sudah ada di tanganku sekarang. Keras kepalamu pun akan menjadi tragedi untuk mereka!"


"Li Jiaaaaao!" Kaisar Zhu Ran merasa teramat geram dengan setiap tingkah laku selirnya.


Tawa panjang Selir Li dari luar ruangan itu terdengar lebih menyeramkan daripada suara hantu pemakan tumbal di malam buta. Dia sudah selayaknya iblis wanita berbalut kecantikan nan memikat yang berhasil menumbangkan ratusan hati para pria. Termasuk dua orang pria perkasa yang telah salah menempatkan cinta mereka kepada wanita keturunan dari klan iblis merah ini.


Tinggalah Kaisar Zhu Ran seorang diri dalam kesunyian dan kedinginan panjang bagai tanpa ujung. Air mata pria itu pun luruh bergantian dengan tanpa terasa, saat mengingat putrinya. "Ziya, di mana dirimu saat ini?"


Lama terpekur dalam kegalauan, akhirnya pria malang tersebut memutuskan untuk kembali bermeditasi guna menenangkan diri dan perasaannya yang kacau. Kaisar Zhu Ran membalikan badannya untuk kembali ke pembaringan. Namun, lelaki yang masih terlihat tampan itu merasa sangat terkejut saat melihat jubah yang teronggok di lantai.


"Ini?"


Kaisar Zhu Ran segera berlutut guna meraih jubah indah itu. Matanya menatap nanar dan sedih pada pakaian kebesaran seorang wanita yang sangat dimuliakan di Negeri Zhu. Tangisnya mau tidak mau pecah seketika. "Xue Li! Ini milik Xue Liiii!"


Betapa hancur perasaan Kaisar Zhu Ran saat ini dan lelaki itu hampir tak kuasa lagi menahan diri. Ya! Sekarang dia sudah mengetahui secara pasti, di mana keberadaan permaisuri berhati mulia yang pernah ia duakan di masa lalu. Tak diragukan lagi, jikalau wanita ini telah berada di alam yang berbeda dengannya dan jubah milik Permaisuri Xue Li yang penuh bekas simbahan darah sekarang ada di hadapannya.


"Xue Li! Aku tidak percaya semua ini! Mengapa kau tidak menunggukuuuuu!"


"Kauu masih belum menyematkan tusuk rambut di sanggul Zhu Ziya dan aku sendiri yang akan menuntun tangan mungil itu untuk kuserahkan pada menantuku, seperti yang sudah kita rencanakan duluuu! Kita masih belum mengantarkan Ziya memasuki tandu dan merelakannya mengikuti pria yang telah memilihnya!"


"Aaaaaaarrgghh!"


Di tempat lain, jauh di Hutan Mistis ....


Ryana Zhang terdengar bersin hingga beberapa kali. Udara hutan dingin yang tak menentu pun cukup mempengaruhi keadaan tubuh mungil yang harus menjaga dua orang pria muda dalam keadaan luka parah.


"Ada apa ini?" Ryana Zhang berkata sembari mengucek hidungnya hingga beberapa kali.


"Udara dan keadaan hutan ini memang tidak bersahabat bagi manusia. Untungnya aku dan Jia'er sudah lama berada di sini." Gadis itu berucap dalam hati.


"Tapi, tidak dengan dia." Ryna Zhang membatin sembari menoleh ke arah pria bercadar yang tertidur pulas tak jauh darinya. Tiba-tiba saja, dia teringat saat membuka cadar milik sang jenderal ketika harus menyuapinya kue umbi kering.


Gadis itu tersenyum-senyum sendiri sambil terus menatap Jenderal Luo Mian yang dikaguminya. "Pantas saja saat di duniaku, aku tidak menemukan visual yang cocok untuk menggambarkan sosoknya. Dia bukan saja gagah, tetapi juga sangat ...."


Ryana Zhang terus mengkhayalkan sesuatu yang tidak seharusnya dia impikan. Ya! Jatuh cinta dengan tokoh fiksi yang ia ciptakan sendiri dalam karyanya, tentu bukanlah hal yang lazim dan sungguh tak masuk akal. Namun, perasaan itu terus mendesaknya dan membawa angan gadis itu hingga jatuh ke alam bawah sadarnya.


Sungguh malang, nasib hati seorang author yang mencintai male main character dalam kisah pada novel buatannya sendiri. Di mana karakter itu pun sebelumnya dia atur untuk menjadi pria penyuka sesama jenis. Hal itu jugalah yang membuatnya menyesal hingga saat ini, karena dia telah membuat kisah buruk yang harus dia jalani sendiri.


Namun, kesempatan emas bertemu dengan karakter utama dalam novelnya sendiri adalah suatu hal yang memang diimpikan oleh setiap penulis di dunia ini. Tak bisa dipungkiri lagi, Ryana Zhang pun sungguh merasa sangat beruntung.


Sekarang, dia kembali merindukan alat tulisnya. Dia ingin mulai mengubah alur dalam novelnya yang bertema utama seorang wanita mandiri dengan sub tema pilihan, yaitu isekai, identitas tersembunyi dan system. "Tiga subtema sekaligus dalam The Realm Of Cultivation, sepertinya itu tidak terlalu dipikirkan oleh author lain. Akan tetapi, terpikir oleh seorang Ryana Zhang."


"Biar pun novel ini hanya menjadi karya sampah yang terabaikan oleh platform. Tetapi setidaknya, aku berkarya dengan hatiku dan bukan hanya sekedar mengharapkan cuan semata. Bukankah cuan juga bisa membuat otak-otak berpikir sempit dan kotor hingga membuat seseorang akan mengubah sebuah permainan dengan seenak hati?" Ryana Zhang mengulas sebuah seringaian sinis.


"Menyakitkan memang!" Ryana Zhang berucap dengan segenap rasa sakit hatinya. Betapa kejam dunia literasi yang sedang diterjuninya saat ini. "Tapi aku adalah Ryana Zhang! Aku tidak akan menyerah begitu saja!"


"Dari sinilah, takdirku dimulai!"


...Bersambung...



Akhirnya nemu deh, visual yang menurut emak cocok dengan Ryana Zhang 😍😍