
Ayah dan Ibu yang kucintai. Aku Zhou Yunyang yang saat ini menjabat sebagai pemimpin tertinggi dari Divisi Krisan Emas, ingin memohon suatu hal kepada Perdana Menteri Kiri Zhou Weiyang selaku perwakilan dari Yang Mulia Kaisar!" seru Zhou Yunyang dengan tegas.
"Yunyaaang! Katakan saja permintaanmu dan jangan membuat kami menjadi semakin binguuung!" Wen Su juga berseru dengan perasaan cemas tentu saja.
"Baiklah, Ibu dan Ayah. Sebenarnya ...."
"Katakan dengan jelas, Yunyang!" Zhou Weiyang tidak ingin terlalu lama dalam pembicaraan yang berbelit baknakar pohon hutan yang liar. Pria itu sengaja menegaskan, agar apa yang sedang berkecamuk dalam otak putrinya segera terungkap.
Pria itu jelas sangat mengetahui, jika putrinya ini pastilah sedang ada suatu hal yang tengah mengganjal pikirannya. "Katakanlah! Apa maumu?"
"Sebagai seorang jenderal. Tidak seharusnya pembicaraanmu berbelit, walau kepada ayah sekalipun!" Zhou Weiyang berkata dengan suara jelas.
Zhou Yunyang akhirnya dengan tegas pula berseru, "Siap, Ayah!"
Jenderal wanita muda Zhou Yunyang kemudian mengeluarkan isi hatinya. "Ayah, Ibu! Sebenarnya Yunyang ini hanya ingin meminta ijin kepada Ayah dan Ibu, untuk pergi menyusul Jenderal Luo!"
"Apa?" Wen Su sangat terkejut hingga terpekik dan langsung berdiri. Wajahnya terlihat sangat tidak rela. "Menyusul Jenderal Luo katamu?"
Sebagai seorang putri dari Kekaisaran Wen yang meskipun telah lama hancur akibat peperangan, tetapi Wen Su masih menjunjung tinggi adat sebagai sorang wanita timur yang pantang mengejar-ngejar seorang pria. Hal itu sama saja dengan menjatuhkan harga diri dan martabat sebagai wanita bangsawan dengan status tinggi.
"Yunyang! Sekuntum bunga tidak harus memisahkan diri dari tangkai hanya untuk jatuh saat mengejar kumbang!" Wen Su membentak dengan kemarahan di wajahnya. "Bahkan jika itu adalah sekuntum bunga yang paling buruk sekalipun, maka tidak seharusnya memasrahkan diri kepada kumbang yang tidak ingin menghampirinya!"
Wen Su lalu membalikkan badan membelakangi kedua orang yang mendengarkan kalimatnya dengan perasaan masing-masing. Tentu saja itu adalah pemikiran yang berbeda untuk keduanya. Jika bagi Zhou Yunyang itu adalah sebuah nasehat agar dirinya sebagai seorang wanita bangsawan, harus tetap menjaga martabat dan harga dirinya di hadapan seorang pria.
Maka lain pula yang ada dalam pikiran seorang Zhou Weiyang. Rangakaian kata yang terucap dari bibir Wen Su terasa lebih tajam dari bilah belati yang dengan sengaja diasah untuk mengiris perasaannya. Meskipun kalimat itu seperti ujaran nasehat yang baik untuk putrinya, akan tetapi semua merupakan kata-kata pedas yang ditujukan untuk suami yang mengabaikan istri sah dan lebih memilih wanita lain yang tidak seharusnya dia sentuh.
"Dan bahkan jika waktu akan membuat bunga layu dan mati akibat dari selama hidupnya yang hanya untuk terpanggang oleh terik matahari. Hanya bisa mati dan gugur oleh gesekan angin dan tangkai yang kian membusuk. Maka biarkan saja bunga itu jatuh ke bumi dan mati sebagai kusuma bumi pertiwi!" We Su masih terdengar berapi-api dalam menyampaikan isi hatinya.
"Semua untaian katanya ini seperti sedang dengan sengaja menusukku," pikir Zhou Weiyang sambil termangu dalam diamnya.
"Ibu memang benar. Aku adalah seorang gadis bangsawan terhormat yang seharusnya berdiam diri menunggu pangeran datang meminangku." Zhou Yunyang berucap dalam hati. "Tapi, bagaimana dengan rasa rinduku ini terhadap Jenderal Luo?"
"Anakku! Ibu tidak setuju dengan niatmu itu!" We Su dengan tegas melarang niat Zhou Yunyang. Hal itu juga cukup membuat suaminya terkejut, karena baru sekali ini wanita lembut dengan segala sikap tenangnya ini mengatakan hal yang cukup keras.
"Tapi, Ibuuuu!" Zhou Yunyang bangkit dari berlututnya dan berniat hendak meraih tangan sang ibu.
"Cukup!" Wen Su membentak dengan suara keras. "Ibu tidak mau tahu alasan demi apakah kamu harus mengejar-ngejar seorang pria dan ibu melarangnya!"
"Dia adalah batu! Jadi bagaimana bisa dia akan mengeri?" Wen Su menggerutu dalam hati sambil terus melangkah, hingga bagian bawah hanfunya memperdengarkan suara berkebut yang cukup keras. "Dasar batu ya tetap batu!"
"Ibuuu!" Zhou Yunyang hendak mengejar sang ibu.
"Cukup! Biarkan saja dia!" Zhou Weiyang berseru dan berhasil menghentikan laju langkah anaknya.
"Tapi, Ayah ... ada apa dengan ibu? Mengapa dia berbicara seperti itu padaku?" tanya Zhou Yunyang sambil masih menatap bayangan punggung ibunya yang kian menghilang di kejauhan.
"Mungkin saja, ibumu sedang merasa tidak baik-baik saja dengan niatmu mencari Jenderal Luo," jawab Zhou Weiyang guna menutupi hal yang sebenarnya sangat memalukan baginya.
Zhou Weiyang dengan sengaja berlagak tidak mengetahui apa-apa tentang Wen Su, dia juga tak menampakan rasa kagetnya sama sekali. Pria itu memang sudah bisa meraba apa yang sedang dipikirkan oleh putrinya. Dia pun berkata tanpa basa-basi. "Pergilah!"
Zhou Weiyang menarik napas panjang guna menenangkan diri agar tidak menampakkan beban yang sebenarnya. Pria itu menoleh ke arah Zhou Yunyang yang masih diam termangu atas kelakuan Wen Su. Sang menteri lalu berdiri dan berjalan menghampiri putrinya. Mereka berdiri berhadapan sambil berpandangan.
"Pergilah! Biar ayah yang akan berbicara dengan ibumu nantinya." Zhou Weiyang berucap sambil mengusap kepala anaknya. Pria tampan itu kembali teringat saat dengan kasar menarik kerudung merah di malam pengantinnya bersama ibu dari anak ini.
"Maafkan aku, Su Su!" Entah kekuatan apa dan dari mana yang membuat Zhou Weiyang mengucapkan hal itu dalam hati. "Sekarang aku baru sadar akan perbuatanku di malam itu. Lalu, bagaimana kalau putriku ini yang mengalaminya?"
"Aku bahkan bertingkah seperti berandalan saat merenggut mahkotanya. Dia menolak, tapi aku terus memaksa dan bahkan mengucapkan halhal yang sangat buruk padanya!" Betapa tidak relanya Zhou Weiyang saat membayangkan anak gadisnya akan mengalami nasib yang sama dengan Wen Su pada malam pengantinnya dulu. "Betapa biadabnya aku ini terhadapmu!"
"Tapi Ayah! Bagaimana bisa aku pergi tanpa senyum dari ibuku?" tanya Zhou Yunyang yang kini memeluk sang ayah dan merebahkan kepalanya. Pertanyaan itu juga berhasil menyadarkan Zhou Weiyang dari lamunannya.
Pria itu beralih menatap putrinya dengan penuh kasih sayang sambil mengangkat dagu Zhou Yunyang yang memiliki wajah sama persis dengannya. Pria itu dengan suara lembut berkata, "Maka ayahmu ini yang akan membuat ibumu tersenyum untukmu."
"Benarkah itu, Ayah?" Kedua mata Zhou Yunyang tiba-tiba berbinar.
"Tentu saja. Apakah kamu meragukan ayah?" tanya Zhou Weiyang sambil tersenyum.
"Baiklah. Aku percaya Ayah! Sekarang juga aku pergi, Ayah!" Zhou Yunyang segera melepaskan pelukan setelah mendaratkan sebuah ciuman di pipi sang ayah tercintanya.
"Selamat tinggal, Ayaaaaah! Jangan lupa sampaikan maaf dan kata sayangku pada ibuuuu!"
...Bersambung...