The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
MENJADI ORANG LAIN



"Gua ini terlihat bagus untuk berlatih kultivasi ilmu, seperti dalam kisah-kisah drama xian xia dan donghua!" gumam.Chen Jia.


"Energi Yin dan Yang di sini cukup seimbang, bahkan jika itu adalah seorang kultivator pemula. Maka, tempat ini sangat baik untuk berlatih." Terdengar suara seorang wanita yang begitu lembut.


Chen Jia seketika membalikan tubuhnya dan mendapati seorang gadis muda berusia sekitar lima belas tahun, telah berdiri di belakangnya sambil berkacak pinggang. Pemuda itu mengenyitkan alis matanya, dia merasa pernah melihat wajah dari sosok ini.


"Kau ... siapa? Dan mengapa kau juga ada di gua ini"


"Aku?" Gadis itu dengan sikap santai berjalan ke tepi kolam dan duduk di atas sebongkah batu. "Panggil saja aku Rui."


Chen Jia merasa tidak asing dengan nama itu. "Rui?"


"Ya, Zhang Rui. Eeh, sebenarnya itu bukan namaku yang asli," ujar Zhang Rui jelmaan Ryana Zhang. "Oh ya, siapa namamu? Kau tampaknya bukan asli dari dunia ini. Apakah kau juga datang dari dunia modern?"


Chen Jia cukup terkejut atas pertanyaan dari gadis berpakaian kumal ini. Meski terlihat lusuh dan acak-acakan, tetapi Ryana masih tetap sangat cantik. Desiran aneh menjalari hati Chen Jia yang selama hidupnya memang belum pernah mengalami jatuh cinta kepada seorang gadis.


Hal itu dikarenakan, dia terlalu mencintai hobinya sebagai penggemar film-film dan game animasi yang sedang menjadi trend di kalangan para kawula muda. Sebagai penggila High Definition Graphics (grafik-grafik definisi tinggi) hampir sebagian besar waktunya dia gunakan untuk mempelajari segala hal tentang visual grafis dan tak ada waktu untuk memikirkan seorang gadis yang paling dekat dengannya sekalipun.


"Apa maksudmu? Bukankah kita masih berada dalam dunia modern? Dan kupikir ini hanyalah mimpi...  mimpi yang seperti sangat nyata." Chen Jia masih belum menyadari sama sekali bahwa rohnya telah terjebak ke dalam sebuah alur cerita dari author idolanya.


"Oh ya, namaku Chen Jia, aku adalah seorang pelajar sekolah menengah tingkat atas dan memiliki hobi membuat desain grafis. Bisa dibilang ... aku ini animator amatir dan bercita-cita akan masuk kuliah jurusan Desain Komunikasi Visual setelah aku lulus nanti." Chen Jia menyambung perkataannya.


Ryana Zhang tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar cerita dari pria muda ini. Hal itu, membuat Chen Jia merasa kesal karena gadis baru gede ini malah mentertawakan dirinya. 


"Hei! Aku ini bicara jujur dan tidak berbohong! Meskipun kuliah di jurusan itu terbilang cukup mahal dan hampir setara dengan biaya kuliah kedokteran, tapi orang tuaku sudah menyetujuinya!" ucap Chen Jia dengan nada emosi.


"Baiik, baiiik! Maafkan aku!" Ryana berkata sambil mengusap air matanya yang merembes keluar akibat dari tawanya. "Tak masalah dan tak mustahil kalau kau ingin mengambil jurusan itu, hanya saja ...." 


"Hanya apa?" tanya Chen Jia dengan nada tak sabar. Dirinya sungguh tak suka kalau ada yang mentertawakan tanpa sebab yang jelas.


"Hanya saja ... eeh, apakah di sekolahmu mengijinkan seorang murid lelaki setua dirimu dengan rambut sepanjang itu masih belajar di sekolah menengah tingkat atas? Atau jangan-jangan ... kau salah satu siswa abadi?" tanya Ryana sambil masih menahan kegelian di hatinya.


"Apa maksudmu? Aku ini bukan siswa abadi! Aku selalu menduduki urutan sepuluh besar di kelasku!" Chen Jia tak bisa lagi menahan kemarahannya. "Apa maksudmu dengan kata setua dirimu dan ...." 


Chen Jia meraba rambutnya sendiri dan tercekat. "Rambut panjang?"


Pemuda itu terkejut saat melihat rambutnya telah menjadi panjang menjuntai dan berwarna putih berkilauan. "A-a-apa ini? Mengapa rambutku jadi sangat panjang dan berubah menjadi uban?"


"Aaaaaaaaaaaaaa!" Chen Jia menjerit histeris karena terkejut dan sangat ketakutan. Sekarang dia sudah beruban layaknya seorang kakek berusia delapan puluh tahun.  Pemuda itu segera berkaca pada permukaan kolam dan melihat dirinya sudah terlihat lain.


"Mengapa aku jadi seperti ini?" Chen Jia meraba kulit wajahnya yang terlihat seperti berusia dua puluh tahun. "Wajah ini terlihat jauh lebih tampan dari aslinya. Tetapi, rambut putih ini?"


"The Realm Of Cultivation! Karyamu?" Kedua bola mata Chen Jia terbelalak lebar akibat saking terkejutnya. "Kultivator ranah Penciptaan Bentuk? Bukankah kekuatannya itu sudah seperti seorang jenderal perang dari alam dewa?"


"Dan sepertinya, kau tahu semua rincian cerita di novel kegemaranku itu. Jadi, kau adalah ...."


Chen Jia teringat pada kesalahannya sendiri saat berada di dunia modern. Dia telah berani mengadaptasi novel milik Ryana Zhang tanpa seijin dari sang author. Pemuda itu lalu berdiri dan berjalan ke arah Ryana.


"Apa-apaan ini?" bertanya Ryana Zhang dengan sangat heran, karena Chen Jia berlutut di hadapannya.


"Oohh, Kakak author! Jadi Kakak ini adalah author dari novel The Realm Of Cultivation kesukaanku?" tanya Chen Jia dengan rasa penasaran.


"Ya, itu aku. Ada hal yang anehkah?" Ryana Zhang balik bertanya karena merasa heran pada pemuda ini.


"Kalau begitu, maafkan aku! Maafkanlah aku!"


Ryana membimbing pemuda itu agar berdiri dari berlututnya dan bertanya, "Maaf? Maaf untuk apa?"


"Maaf untuk ... baiklah akan kuceritakan. Bagaimana kalau kita duduk di sana?" Chen Jia menunjuk ke suatu tempat.


Ryana Zhang menganggukan kepala. "Baiklah!"


Keduanya pun segera bergegas menuju tempat yang diinginkan oleh Chen Jia dan duduk saling berhadapan. Keduanya sungguh tak menyangka sama sekali, jika akan bertemu dengan orang dari dunia yang sama.


"Kau boleh mulai bercerita sekarang. Mengapa kau, eeh ... bagaimana aku harus memanggilmu?" Ryana bertanya sambil mengeluarkan buah-buahan aneh dari dalam tas kecil, dan mengulurkanya kepada Chen Jia. "Kebetulan tadi aku baru saja memetik buah-buahan. Makanlah!"


"Buah apa ini?" Chen Jia menerima buah yang sedikit berbentuk aneh. Sebelum menggigitnya, Chen Jia menimang-nimang sejenak buah berwarna putih dengan tekstur kenyal menyerupai marsmallow.


"Ini yang kunamakan buah bayi putih dan aku biasa memakannya saat lapar. Buah ini cukup banyak di sekitar gua ini, dan jumlahnya tidak akan pernah berkurang walau dimakan setiap perut lapar." Ryana Zhang menjawab dengan rinci, karena dialah sang author novel yang pastinya sudah tahu tentang semua yang pernah dia tulis di setiap chapternya.


"Buah bayi putih? Jadi kau ini benar-benar Ryana Zhang si author yang dikabarkan sedang dalam keadaan koma itu?" Chen Jia menatap Ryana Zhang seperti sedang merinci tentang author pemula idolanya ini. "Kau tadi mengatakan kalau namamu adalah Zhang Rui. Bukankah dia adalah salah satu dari pemeran pendukung dan bukan protagonis wanita?"


"Kau benar, Jia'er. Eh ... aku memanggilmu Jia'er saja ya?" bertanya Ryana Zhang. "Meski penampilanku adalah gadis berusia lima belas tahun. Tetapi umurku yang sebenarnya di dunia kita adalah dua puluh tujuh tahun."


"Oohh, baiklah! Rui Jie Jie." Chen Jia tidak keberatan sama sekali dengan sebutan itu. "Sepertinya saat ini, kita memang harus rela menjadi orang lain."


"Jia'er!"


"Rui Jie!"


...Bersambung...