
Roh gadis itu sudah berada di alam bawah sadar dan berada di suatu tempat seperti sebuah negeri atas angin dalam dongeng. Sepasang mata Ryana Zhang bisa melihat dengan jelas suasana yang sangat asing baginya. Sekarang, gadis itu bisa merasakan dunia yang dia temui saat ini bukanlah alam yang sesungguhnya.
Langit luas membentang dengan udara hampa, bahkan desir angin yang paling lembut pun nyaris tidak ada. Awan putih setipis kabut bergerak perlahan bagai dikendalikan. Pijakan tembus pandang langsung menampakan pemandangan di bawah sana yang berupa aliran sungai dan gugusan lembah. Semua terlihat nyata, indah mempesona dan tak cukup jika hanya melihatnya sekali.
"Alam apa ini?" Ryana Zhang bertanya entah kepada siapa, karena memang tidak ada siapa-siapa selain dirinya sendiri. Gadis itu mengedarkan pandangan ke segala arah, tetapi dia tidak melihat siapa pun di sana. "Benar-benar tempat yang aneh. Meski tempat ini terlihat sangat indah dan nyaman, tetapi juga sangat sepi."
Tiba-tiba saja, muncul gulungan asap putih dari langit tinggi lalu berhenti tepat di hadapan Ryana Zhang. Gumpalan asap itu kemudian membentuk sesosok tubuh gadis cantik yang mirip dengannya. Hal itu membuat Ryana Zhang sedikit mundur ke belakang, karena rasa takut telah menguasai hatinya.
"Jangan takut, Ryana." Gadis cantik berpakaian hanfu ala putri kaisar berkata sambil tersenyum penuh persahabatan sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Si-siapa kamu?" Ryana Zhang bertanya sambil mengulurkan tangannya ke depan. Dia seperti ingin menyentuh gadis cantik tersebut. "Mengapa kau juga tahu namaku dan terlihat sangat mirip denganku?"
Namun saat tangannya menyentuh gadis cantik yang serupa dirinya, Ryana Zhang menjadi sangat terkejut karena tubuh gadis itu tertembus oleh tangannya dan tidak dapat ia pegang. Tiada kata sepatah pun mampu terucap lagi. Tak ada pertanyaan yang sanggup ia lontarkan pada saat ini. Hanya menunggu jawaban dari semua teka-teki tak bersilang tetapi cukup rumit untuk dipikirkan.
"Aku?"
Gadis cantik bagai seorang dewi itu memutar tubuhnya dan membelakangi Ryana Zhang. Rambutnya yang panjang hingga melebihi batas pinggang juga ikut terkibas dengan indahnya. Hal itu juga menampakkan sebilah jepit rambut bermotif burung phoenix terlihat nyata. "Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah seseorang yang berupa roh dan terjebak di alam laut kesadaran sihirmu atau lautan jiwa."
Demi mendengar kata 'Lautan Jiwa' yang pernah ia lihat pada film-film animasi saat masih di dunia moderen, Ryana Zhang menjadi bepikir, "Jadi ... ada seseorang yang menjebakku di sini dengan menyisipkan kisah tentang Lautan Jiwa dan kesadaran sihir?"
"Lautan Jiwa?" Ryana Zhang merasa heran dengan ucapan gadis yang menyerupai dirinya.
"Lautan Jiwa adalah sebuah alam di dalam kesadaran pikiran seseorang. Airnya adalah kenanganmu dan badainya adalah kenangan pahitmu." Gadis cantik berambut panjang berucap dengan suara lembut dan sangat jauh berbeda dengan sifat Ryana Zhang yang selalu tomboy dan sering asal bicara seperti saat berada di Kota Xiamen.
"Jika badai kenangan pahit datang dan kamu tidak bisa dengan cepat menyingkirkannya, maka pikiran jernihmu pun bisa dikalahkan olehnya. Badai kenangan pahit selalu membawa aura hitam penuh kesuraman yang siap membunuh kesadaranmu kapan saja." Sang gadis cantik menghela napas hingga beberapa lama.
"Lalu, bagaimana dengan kenangan indah?" Ryana Zhang dibuat penasaran dengan ucapan gadis cantik yang ternyata adalah roh semata.
"Kurasa kamu pun sudah tahu jawabannya, tetapi kenangan manis juga serupa dengan zat yang memabukan. Semakin banyak kamu mengenang, maka semakin dalam pula kamu terjebak dan tidak ingin pergi."
"Oohh, aku mengerti sekarang." Ryana Zhang menganggukan kepala. "Lalu, sejak kapan kita berada dalam satu raga seperti ini?"
"Aku sudah terjebak dalam lautan jiwamu sejak kamu menempati tubuhku." Gadis cantik itu berkata.
"Zhu Ziya?" Ryana Zhang terpekik kaget hingga ia melangkah mundur ke belakang. Tatapannya tertumpu pada punggung gadis cantik yang membelakanginya.
"Akhirnya kamu tahu," sahut Putri Zhu Ziya dengan suara lirih. "Ya, akulah Zhu Ziya atau Zhang Rui pemilik asli tubuh ini."
"Jadi selama ini, sebenarnya kamu selalu bersamaku?" Ryana Zhang berjalan mendekat hingga sampai di depan Putri Zhu Ziya.
"Mmhh, tepat sekali." Putri Zhu Ziya menganggukkan kepala dengan sangat anggun.
Keduanya saling bertatapan tanpa bersuara barang sepatah kata pun. Ryana Zhang mengagumi sosok anggun dan gemulai layaknya para putri kerajaan yang memiliki martabat tinggi. Gadis itu berpikir, "Jadi, sososk inilah yang selalu dibayangkan oleh Chen Jia?"
"Bagus juga selera bocah itu," gumam Ryana Zhang dalam hati.
"Ryana, aku tahu kamu juga sangat menderita di sini. Tidak seharusnya kamu menanggung semua itu atas nama Zhu Ziya ataupun Zhang Rui," ujar Putri Zhu Ziya dengan suara sendu.
"Tidak, Zhu Ziya! Aku juga pantas mendapatkan semua dari hasil perbuatanku di masa lalu. Akulah yang telah membuat kisah menyedihkan yang membuat Zhang Rui atau Zhu Ziya mengalami banyak kesialan!" Ryana Zhang kemudian meraih tangan Putri Zhu Ziya. "Maafkan aku! Maafkanlah aku, Zhu Ziya!"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tidak bersalah karena aku tahu semuanya." Putri Zhu Ziya balas menggenggam tangan Ryana Zhang. "Aku justru merasa harus berterima kasih padamu, karena kamu telah membuat aku dengan bentuk sesempurna ini."
"A-a-aku ...."
"Sudahlah, kita bicarakan hal yang lainnya." Putri Zhu Ziya melepaskan genggaman tangannya dan berbalik badan serta berjalan maju beberapa langkah ke depan. "Sekarang kita berdua telah sama-sama terjebak dan mau tidak mau kita harus menerima apa yang telah dituliskan dalam kisah ini. Tetapi ...."
"Lihatlah!" Putri Zhu Ziya berucap sambil memainkan jari-jemarinya di udara hingga terciptalah sebuah layar yang menampakkan tubuh Ryana Zhang yang sedang terbaring dalam keadaan koma. "Hanya saja, takdir yang terjadi mengharuskan kita menjalani semua hal yang di luar nalar kita."
Mata Ryana Zhang terbelalak lebar saat menyaksikan tubuhnya di dunia moderen dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Gadis itu melihat dengan jelas berbagai alat bantu kesehatan menjadi inti utama penopang kehidupan raganya saat ini.
"I-itu ... itu tubuhku!" Ryana Zhang terpekik keras dengan mata terbelalak. "Tubuhku di sana ternyata sangat menyedihkan!"
Ryana Zhang menitikkan air mata akibat perasaannya yang terhimpit banyak sekali persoalan yang menimpanya saat ini. Di lain pihak, ia ingin menyelesaikan kultivasinya untuk menumpas Klan Iblis Merah yang terus mengejar dan ingin membunuhnya. Tetapi di lain pihak, Ryana Zhang ingin bisa kembali ke dunia moderen untuk merevisi novel 'The Realm Of Cultivation' yang telah menjadikan banyak persoalan untuk authornya sendiri.
(air mata yang mengalir di tubuh aslinya yang sedang bermeditasi di Gua Cahaya Lima Warna)
"Ya. Itulah keadaanmu sekarang di dunia tempat asalmu." Putri Zhu Ziya ikut melihat ke arah layar besar hasil dari ciptaan ilusinya. "Dan asalkan kamu tahu saja, semua itu ada batas waktunya."
"Batas waktu?" Ryana Zhang menoleh ke arah Zhu Ziya dengan perasaan tidak mengerti. "Apa maksud ucapanmu?"
"Ya, benar. Batas waktu itu adalah masa di mana sekuat mana tubuhmu bisa bertahan. Jika terlalu lama rohmu terjebak di sini, maka kamu akan dianggap mati di di dunia asalmu." Putri Zhu Ziya kemudian menggerakan tangannya seperti sedang menghapus sesuatu dan layar ilusi pun menghilang seketika.
"Sedangkan di sini, kamu juga tidak bisa terus menempati raga milikku. Aku harus segera keluar dari alam kesadaran sihirmu ini dan menghadapi mereka sebagai Dewi Phoenix Api sang pemegang segel Bulan Sabit dan Kitab Panduan Dewa Mimpi."
"Mengerikan sekali jika aku dinyatakan mati di duniaku!" Ryana Zhang tak bisa membayangkan jikalau hal itu terjadi. "Aku tak bisa membiarkan itu terjadi! Tidak boleh terjadiiii!"
Putri Zhu Ziya tersenyum dan bertanya, "Ryana, apakah kamu ingin kembali ke dunia asalmu?"
...Bersambung...