The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
BAGAIKAN BADAI



Dengan bersusah payah, Ryana Zhang merangkul dan memapah Luo Mian yang dalam keadaan sangat lemah. Dibawanya pemuda itu sampai di hadapan Chen Jia dan merebahkan tubuh jenderal yang masih mengenakan cadar itu di samping pemuda itu. 


"Berbaringlah di sini!" Ryana Zhang memperlakukan Luo Mian dengan sangat hati-hati sekali. Gadis itu terpaksa menggunakan akar pohon untuk dijadikan bantalan kepala jenderal muda tersebut.


"Te-te ...."


"Sudahlah! Jangan berbicara ataupun bergerak! Luo Ge perlu beristirahat untuk memulihkan diri," ucap Ryana Zhang sembari memperbaiki posisi tubuh sang jenderal agar merasa nyaman.


"Siapa dia, Jie?" tanya Chen Jia sembari memperhatikan pemuda yang terbaring di sebelahnya. Keadaan hutan yang mulai remang-remang, membuat pandangannya tak bisa menangkap dengan jelas sosok pria yang membuatnya penasaran.


"Dia adalah penolong kita," jawab Ryana Zhang.


"Penolong kita?" Chen Jia merasa heran. Sejak kapan ada orang yang disebut sebagai penolong oleh Ryana Zhang. Pemuda itu tak habis pikir dan merasa akan sedikit terancam oleh pria ini. 


"Aaaahh! Mungkin hanya pikiranku saja!" teriak Chen Jia dalam hati sembari menepis semua prasangka yang tidak baik pada pria yang disebut sebagai sang penolong tersebut.


"Ya. Tanpa dia, mungkin kita sudah jadi mayat sejak siang tadi," jawab Ryana Zhang sambil mendudukkan dirinya di sebelah Chen Jia. "Setelah dia pulih, kalian bisa saling berkenalan."


"Baiklah, Jie. Sepertinya dia juga mengalami luka yang tak kalah seriusnya dari kita." Chen Jia berucap demikan hanya karena ingin agar Ryana Zhang tak memiliki kecurigaan terhadap dirinya. Meskipun dalam hati dia berteriak, "Huh! Siapa juga yang ingin berkenalan dengannya? Penolong! Penolong apa?" 


Ryana Zhang dengan bersusah payah membersihkan tempat itu dari dedaunan yang berserakan. "Kita beristirahat sejenak di sini. Nanti setelah keadaan tubuh kita sedikit kuat, kita kembali ke gua."


"Mmmh." Chen Jia menganggukan kepalanya. Walaupun dia ingin bertanya lebih banyak tentang pria yang masih terbaring dengan mata tertutup, meskipun pria itu tidak sedang pingsan ataupun tertidur. Tetapi, semua ditahan dalam hati. Keadaan memang sangat tidak memungkinkan untuk saling bercerita satu sama lain. 


"Jiee, bagaimana dengan keadaanmu?" bertanya Chen Jia yang melihat Ryana Zhang dalam keadaan lelah. Gadis itu kemudian memilih untuk duduk guna memulihkan keadaan payahnya.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lelah saja." Gadis itu menjawab dengan nada lirih. Kelelahan pada tubuhnya membuat dia enggan bergerak, meskipun waktu kian bergerak mendekati malam. Kegelapan akan segera menyelubungi hutan ini, akan tetapi keadaan tubuh mereka yang terluka tidak memungkinkan untuk bisa meninggalkan tempat itu. 


Mereka saling terdiam dalam kesunyian hutan yang mulai dipecahkan oleh suara-suara binatang malam. Namun, geraman amukan cacing yang saling menggeliat, membelit  dan menyerang satu sama lain di dalam perut mereka, terdengar lebih menyeramkan daripada bunyi raungan roh pedang naga perak milik Luo Mian yang sedang terluka akibat racun parasit darah dari pimpinan prajurit klan iblis. 


Chen Jia tiba-tiba teringat pada tas perbekalannya yang membawa berbagai barang. Tas itu bukanlah barang berharga yang dibeli dari toko penjualan barang-barang kelontong, melainkan hanya sebuah tas anyam benang rami buatan tangan Ryana Zhang. Beruntung sekali Ryana Zhang pernah belajar merajut pada saat di dunia modern.


"Jie, aku ingat! Di dalam tasku ini, aku menyimpan kue umbi kering. Ambilah untuk makan kita!" seru Chen Jia. Bagaimanapun juga dia masih tidak sanggup untuk bergerak bebas. Luka tusuk pada pinggangnya telah benar-benar seperti mengunci pergerakannya. Sedikit saja dia bergeser, maka perih dan nyeri yang tiada tara akan langsung menyerang.


"Oh, baguslah!" Ryana Zhang terlihat gembira dengan perkataan Chen Jia. Ya! Setidaknya satu masalah terbesar semua makhluk hidup akan bisa di atasi dengan kue kering yang bagi banyak orang rasanya sangat tidak enak. 


Ryana Zhang segera meraih tas milik Chen Jia dan mengambil barang yang dimaksudkan oleh pemuda itu. "Dapat!" 


"Terima kasih, Jie." Chen Jia menerima kue kering itu dan langsung memakannya. "Jie, apakah kau tidak bisa membuat sejenis obat bius untuk menghilangkan rasa nyeri ini?" 


Ryana Zhang terdiam sejenak seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. "Aaaah! Mengapa aku sampai lupa untuk memasukan seorang karakter tabib dalam novelku?" 


"Jiee, sudah jangan dipikirkan lagi!" Chen Jia tampaknya cukup mengerti kebingungan dan kesulitan gadis ini. Dia pun melanjutkan makannya yang terasa sangat tidak enak. 


Ryana Zhang hanya menganggukan kepala dan beralih kepada Jenderal Luo Mian yang masih terbaring sembari memejamkan kedua matanya. Gadis itu duduk tanpa alas di sisi tubuh pria berpakaian serba hitam itu da berbisik lembut guna membangunkan pria yang masih tidak memedulikan keadaan sekitarnya. "Luo Ge ... Bisakah kau membuka matamu? Aku ada beberapa keping kue umbi untuk sekedar mengisi perut agar tidak terlalu kelaparan." 


Luo Mian membuka matanya secara perlahan dan berbisik pula. "Aku tidak bisa makan." 


"Mengapa? Apakah Luo Ge tidak mau makanan kami yang tidak enak ini?" Ryana Zhang mulai ingat, kalau pria ini adalah keturunan bangsawan yang pastinya tidak akan mau makan makanan remeh ala pengemis. 


Luo Mian melirik ke arah bungkusan yang terbuat dari daun kering. Tampaknya dia tahu kalau Ryana Zhang merasa sedikit salah paham. "Aku tidak bisa menggerakan tubuh dan tanganku sama sekali. Jadi, bagaimana aku bisa makan? Dan lagi, aku masih memakai cadar ini." 


"Oh!" Ryana Zhang sekarang merasa dirinya bodoh, dia bahkan tak memikirkan hal itu. "Lalu, apakah Luo Ge bersedia membuka penutup wajah ini?"


"Mmmh," gumaman disertai kerllingan mata itu adalah tanda persetujuan dari si pemilik cadar agar dilepaskan. 


"Baiklah," sahut Ryana Zhang sembari meletakan kue umbi kering itu ke atas pangkuannya. "Maaf!" 


"Lakukanlah!" bisik Jenderal Luo Mian. Saat ini, dia memang memerlukan bantuan dari Ryana Zhang.


Ryana Zhang menaikkan kepala Luo Mian untuk mencari pangkal ikatan kain hitam yang digunakan sebagai cadar. Secara perlahan dan hati-hati,  Ryana membuka kain penutup dengan rasa penasaran dan jantung berdebaran. Seperti apakah wajah jenderal sang tokoh utama yang ia gambarkan sangat tampan dan gagah dalam novelnya itu?


"Apa yang dilakukannya?" Chen Jia memandang ke arah keduanya dengan tatapan aneh. Pemuda itu merasa tidak suka dengan perlakuan Ryana terhadap pria yang belum lama dikenalnya. "Mengapa hatiku terasa sakit?"


Chen Jia mengepalkan tangannya kuat-kuat penuh kegeraman, hingga kue umbi yang berada di dalam genggaman hancur serupa tepung. Perasaannya bagai dirajam oleh puluhan pisau. Namun, dia pun tidak bisa mencegah atau menggantikan Ryana Zhang.


"Mengapa gemuruh di dalam dadaku ini seperti amukan gelombang samudra? Bagaikan badai ... ada apa dengan perasaanku ini?" Chen Jia memegangi dadanya sendiri.


Begitu cadar terbuka ....


...Bersambung...