
Namun saat tiba di tempat tersebut, dia dikejutkan oleh pemandangan yang membuatnya mau tidak mau mengeluarkan api phoenix yang baru saja bisa ia bangkitkan setelah beberapa hari melakukan meditasi dan pelatihan pengendalian sesuai petunjuk yang ada di kitab miliknya. Tentu saja hal tersebut juga atas bimbingan dari Luo Mian.
"Luo Geeee!" Gadis itu segera berlari ke arah tubuh Luo Mian yang tertelungkup di antara daun-daun kering hutan dan segera membalikkan badan pria itu dengan kepanikan luar biasa.
"Luo Gee! Bangun, Luo Geeee!" Ryana Zhang mengguncang tubuh Luo Mian berkali-kali dan tetap tak ada reaksi dari pria itu. Tiba-tiba saja, batu kristal dalam genggaman Luo Mian terlepas dan menggelinding hingga beberapa jengkal dari tangan si pemegang.
"Jadi ini penyebabnya?" Ryana Zhang terpekik saat melihat luka cakar di punggung tangan Luo Mian. "Pantas saja dia pingsan."
Gadis itu kemudian meraih bola kristal ungu dan segera menyalurkan energi qi teknik penyembuh ke dalam batu ungu bening tersebut. Ajaib! Bola kristal itu bercahaya ungu terang yang kemudian sinar itu diaahkan ke luka
Gadis itu hendak membuka cadar di wajah Luo Mian, tetapi dia juga mengurungkannya. "Asap hijau ini terlalu berbahaya untuk Luo Ge yang belum lama tinggal di hutan ini. Hmm ... sebaiknya, aku segera bawa saja dia kembali ke gua."
"Tapi ... bagaimana caranya?" Ryana Zhang berpikir cara untuk membawa tubuh Luo Mian yang tinggi, besar serta cukup berotot ini. "Tidak mungkin aku menggendong pria sebesar ini di punggungku. Bisa-bisa tulang-tulang tubuhku sendiri yang patah!"
Gadis itu berjalan hilir mudik sambil berpikir dan mencari akal, agar bisa membawa Jenderal Luo kembali ke gua. Tiba-tiba saja, matanya tertuju pada akar-akar pohon dan kayu-kayu dari cabang pohon yang kering dan berserakan di sekitar tempat tersebut.
"Tandu!" Ryana Zhang akhirnya memutuskan akan membawa tubuh Luo Mian dengan menyeretnya menggunakan tandu darurat yang dibuat dari batang dan akar pohon. Gadis itu telihat cekatan dan tanpa harus berpikir keras lagi dalam membuat tandu darurat tersebut. "Untung saja pelajaran di sekolah tentang tali-temali dulu masih ada yang aku ingat."
"Be-beraaaaat!" Gadis itu mengeluh akan berat tubuh Luo Mian yang tak seimbang dengan badan Ryana Zhang yang kurus. "Berat sekali kamu, Geeeee!"
Ryana Zhang begitu bersusah payah membawa tubuh Luo Mian hingga sampai di tempat yang dituju. Setelah tiba di gua, gadis itu dengan napas tersengal-sengal memanggil Chen Jia, agar membantunya menempatkan jenderal muda tersebut di dalam ruangan yang ditempati oleh Luo Mian. Meski tubuhnya terasa sangat lelah, tetapi dia harus segera bertindak tanpa menunda waktu lagi.
"Jia'eeeeer!" Ryana Zhang berteriak dengan suara keras. "Jia'eeeeeeer!"
Ryana Zhang kembali berteriak, "Chen Jiaaaaaaaa!"
Tak ada sahutan dari orang yang tengah dipanggilnya. Ryana pun menjatuhkan diri dan duduk bersandar pada dinding gua. "Ke mana anak itu?"
Sementara itu di sisi lain, Chen Jia baru saja selesai memasak sisa-sisa bahan makanan yang mereka punyai saat ini di bagian gua yang lain. Pemuda itu sibuk menyiapkan bubur umbi hutan yang dicampur dengan garam dan gula merah. Tentu saja bahan-bahan tambahan itu hasil ia dapatkan saat keluar hutan dan turun ke desa terdekat.
"Manis!" Chen Jia tersenyum saat mencicipi bubur umbi yang masih mengepulkan asap panas. "Aku akan membawa ini untuk mereka!"
"Sebentar lagi ini akan masak dan aku akan membuat makanan lain dengan bahan seadanya," gumam Chen Jia sambil mengaduk-aduk kuali tanah liat berisikan bubur umbi di atas tungku. Sesekali dia harus tersedak asap akibat kayu bakar yang masih sedikit lembab.
"Susah sekali tinggal di sini dengan keadaan seperti orang primitif di dalam konten-konten video di You Tube dan Instagram. Tidak ada restoran, tidak bisa delivery order makanan dan minuman." Chen Jia mengeluh sendiri dalam hati.
Chen Jia tanpa sadar menitikkan air mata, saat merasakan rindu yang kian mendalam di hatinya. Dia jelas tahu akan resiko dengan keadaannya sekarang yang dianggap koma di dunia moderen, sedangkan dia dan Ryana Zhang masih belum mengetahui cara untuk kembali ke alam mereka yang sesungguhnya.
"Alam kultivasi apa? Bahkan latihanku selama ini juga belum ada kemajuan sama sekali." Pemuda itu bersungut-sungut dengan kesal. "Ranah Penciptaan Bentuk apa? Aku bahkan tidak tahu kegunaannya!"
Chen Jia mengambil sebatang ranting kering dan mulai menorehkan garis-garis di atas lantai gua yang berupa tanah, seolah sedang melukis sesuatu. "Ini ... pegasus."
"Ini adalah ... Ryana Zhang." Chen Jia asyik melukis gambar seorang gadis cantik berambut panjang sedang duduk di atas seekor kuda terbang. "Bukankah dia terlihat anggun sekarang?"
Pemuda berusia delapan belas tahun itu lalu melukis dirinya yang sedang menaiki seekor naga besar dan gagah. "Aku ingin seekor naga yang bisa menyemburkan api dan terbang berliukan di angkasa!"
Chen Jia lalu membayangkan, betapa menyenangkannya duduk dengan anggun dan gagah di atas punggung naga merah yang terbang berliukan di angkasa, menyelinap di celah awan putih sembari membidik matahari, menyapu bintang-bintang dengan jemari tangan sambil memeluk rembulan.
Chen Jia tersenyum dalam kesendirian sambil menghapus lukisannya. Dia tidak ingin Ryana Zhang mengetahui tingkah lakunya tersebut. Tiba-tiba saja, Chen Jia mendapatkan sebuah ide cemerlang akan bakat melukisnya ini.
"Sepertinya itu bagus! Aku akan membicarakannya nanti dengan mereka!" Pemuda itu merasa tidak perlu lagi menutupi bakatnya. Dia sudah bertekad untuk menyampaikan keinginannya kepada Ryana Zhang dan Jenderal Luo Mian.
"Sementara ini, aku akan mengumpulkan bahan-bahan untuk kujadikan alat lukis sederhana," pikir Chen Jia dengan bersemangat dan tekad untuk menjadi pelukis di alam kultivasi ini.
Di tempat lain, Ryana Zhang memilih untuk beristrirahat sejenak, guna melepaskan lelah yang sudah menggelayuti tubuhnya. Gadis itu kemudian dengan bersusah payah mencoba untuk memindahkan tubuh Luo Mian ke atas pembaringan tumpukan daun-daun kering.
"Semoga saja dia segera tersadar." Ryana Zhang bisa merasa lega sekarang. Dia berniat membuka cadar hitam di wajah pemuda itu
Pada saat Ryana Zhang hendak membuka kain cadar milik Luo Mian, secara tiba-tiba Chen Jia datang dengan sedikit tergesa-gesa. Pemuda itu mendengar teriakan Ryana Zhang
"Aku datang, Ji ...."
Chen Jia tercekat dan terhenti di pintu masuk ruangan gua tempat Luo Mian tidur selama tinggal di Gua Cahaya Lima Warna tersebut. Hati pemuda itu seketika diliputi oleh perasaan cemburu, saat melihat dengan jelas perlakuan Ryana Zhang pada Luo Mian.
"Jieeee ...."
...Bersambung...