The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
PUTIH MENGANTAR HITAM (THE END)



"Xueyin, tolong dengarkanlah aku! Ini aku, Ryana sahabatmu. Aku sudah kembali dan kita akan bisa bemain lagi seperti dulu." Ryana Zhang berusaha keras agar sahabatnya itu mendengar suaranya, meskipun Qiu Xueyin tetap tidak mendengar semua seruan gadis itu.


"Bersabarlah, Xueyin!" Pemuda berambut ikal duduk di samping Qiu Xueyin dan merangkul bahunya. Tak bisa dia pungkiri, kalau dirinya juga tak kalah sedih dari sang kawan. "Aku juga ikut berduka atas kejadian ini. Aku sangat tidak menyangka sama sekali, kalau dia akan secepat ini pergi meninggalkan kita semua."


"Dan lagi, aku juga memikirkan saudara sepupuku yang juga bernasib sama dengan Ryana ini." Pemuda berambut ikal yang ternyata adalah Chen Xuan menatap sayu ke arah peti kayu yang masih terbuka.


Hal itu juga membuat Ryana Zhang mengikuti pandangan mata Chen Xuan dan merasa lebih terkejut lagi saat melihat sebuah peti terbuka yang menampilkan sesosok tubuh yang sangat dia kenal. Ya, itu adalah raganya!


"I-itu ... itu ragaku?" Ryana Zhang terpekik keras tanpa ada yang bisa mendengar suaranya. "Mengapa ragaku ada di dalam peti mati itu?"


"Apakah aku sudah dinyatakan mati?" Ryana Zhang berteriak tanpa ada yang mendengar suaranya. "Jadi aku sudah terlambat?"


Roh Ryana Zhang merasa sangat terpukul atas apa yang sedang ia saksikan. Pandangannya pun segera beralih ke arah kedua orang tuanya tengah berpelukan serta sama-sama menangis. Gadis muda itu pun segera berlari memeluk pasangan suami istri yang telah membuatnya terlahir ke dunia ini.


"Mama! Mamaaaa!" Ryana Zhang berusaha membuat agar sang ibu mengetahui keberadaannya saat ini. Walau memang sudah sangat dekat, tetapi sesungguhnya mereka jauh terpisah oleh selapis tabir tipis yang tidak bisa ditembus dengan kekuatan manusia.


Mau tidak mau, tangis Ryana Zhang pecah seketika. Dia suhgguh tidak bisa melihat orang tuanya meluruhkan air mata. "Mama jangan menangis, Maaaa! Aku sudah kembali dan bersama dengan Mama di sini."


"Mengapa mama tidak mengetahui keberadaanku? Padahal aku sudah ada bersamanya!" Roh Ryana Zhang hanya bisa menatap dengan pandangan nanar ke arah orang tuanya.


"Papa!"


"Maaa! Paaa! Ini aku anakmu!" Ryana Zhang mengguncang tubuh orang tuanya yang tetap tidak bisa merasakan sentuhan dari roh anak gadisnya. "Aku sangat rindu kalian, Maa! Paaa!"


"Bersabarlah, Maaa. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuknya. Dia sudah tidur dengan damai dan bahagia." Ryo Zhang yang merupakan ayah dari Ryana Zhang mencoba menguatkan hati istrinya, walaupun pada saat ini perasaan pria itu juga tidak kalah hancur.


"Tapi mengapa harus hari ini? Mengapa para dokter itu melepaskan semua alat bantu pada hari ini?" Wanita dalam pelukan Ryo Zhang terus menangis sambil memukuli dada suaminya. "Mengapa harus di hari ulang tahunnya?"


"Hari ulang tahunku?" Roh Ryana Zhang tertegun saat mendengar kata ulang tahun dari orang tuanya. "Dan sekaligus adalah hari kematianku?"


"Jadi, aku benar-benar sudah dinyatakan mati?" Ryana Zhang menghampiri tubuhnya yang terbaring bagai tertidur dengan cantiknya di dalam sebuah peti mati kayu berukir. Gadis itu menyentuhi bagian-bagian wajahnya yang terlihat sepucat kertas dan tak berdarah sama sekali.


Ryana Zhang merasa, jikalau semua ini telah dengan sengaja diatur oleh Zhu Ziya. "Jadi, sia-sia saja aku datang kembali ke dunia asalku ini, sedangkan aku sudah tidak bisa menempati ragaku lagi."


"Apakah Zhu Ziya sengaja melakukan ini semua, agar aku bisa melihat orang-orang yang berduka atas kepergianku? Apakah aku juga sudah tidak bisa kembali ke alam tempat di mana roh Jia'er juga masih berada di sana?" Ryana Zhang sungguh ingin mengumpati Putri Zhu Ziya yang seperti dengan sengaja mempermainkannya.


"Apa maksud dari semua ini?"


Semua pertanyaan itu tentu saja tidak akan mendapatkan jawaban. Selain daripada kecewa, sepertinya roh Ryana Zhang sudah tidak bisa merasakan hal yang lainnya. Gadis itu meresa telah dimanfaatkan oleh Zhu Ziya dengan memintanya kembali, akan tetapi ada niat tersembunyi di balik kelembutan seorang Zhang Rui.


"Apakah dia hanya sengaja menipuku?" Ryana Zhang semakin terpuruk di dalam kesedihan yang sangat mendalam. Terlebih lagi ia melihat banyak sekali orang yang ternyata berduka atas dirinya. Tetapi, siapakah orang-orang itu?


Tiba-tiba saja, Ryana Zhang melihat Qiu Xueyin bangkit dari duduknya diikuti oleh Chen Xuan yang memang menjadi akrab semenjak mereka sama-sama mengetahui hubungan antara Ryana Zhang dan Chen Jia. Tentu saja itu hanyalah hubungan antara author dan penggemarnya semata.


"Qiu Xueyin?" Ryo Zhang berusaha menyapa dengan lembut anak muda yang ia pikir adalah kekasih dari anak gadisnya.


"Paman, Bibi." Qiu Xueyin memanggil kedua orang tua kandung Ryana dengan suara lirih.


Ibu Ryana Zhang mendongakkan wajah dan bertatapan dengan dua pemuda tampan yang berdiri di hadapannya. "Xueyin, kalau kamu ingin bicara dengan Ryana untuk yang terakhir kalinya. Silakan saja, Xueyin!"


"Terima kasih, Paman! Terima kasih, Bibi!"" Qiu Xueyin membungkukkan badan dan segera menyambar lengan Chen Xuan untuk diajak ke tempat tubuh Ryana terbaring dalam diam yang panjang. Mereka mendekati peti mati, lalu berjongkok di samping tubuh Ryana Zhang sembari menyentuh rambut hitam milik sahabat tersayangnya.


Melihat Qiu Xueyin tampak sangat terpukul dengan keadaan anak gadis mereka satu-satunya, kedua orang tua Ryana Zhang hanya saling berpelukan sembari menangis. Mengingat impian mereka untuk mengantarkan anak pada hari pernikahan, kini justru menjadi sebaliknya.


"Mengapa rambut putih harus mengantarkan rambut hitam menuju ke peraduan abadi?" Ryo Zhang berucap di sela isak tangisnya. "Sebagai seorang ayah, aku hanya ingin mengantarkan kerudung merah dengan seikat rangkaian bunga di tangannya, lalu membimbingnya menaiki tandu pengantin dan bukan mengantar peti jenazahnyaaa!"


Betapa menjadi lebih hancur perasaan semua orang saat mendengar ratapan seorang ayahb yang menguntai kalimat ungkapan kesedihannya. Mereka hanya bisa tertunduk dengan hati pilu bagaikan tersayat-sayat sembilu kulit bambu nan tajam menyakitkan. Sungguh, ini adalah suasana terburuk dalam kehidupan Ryana Zhang.


"Paaaa! Aku ada di sini dan aku belum matiiii!" Roh Ryana Zhang menjerit sejadi-jadinya. "Maaaa! Aku ada di hadapan mama sekaraaang!"


Sementara itu, Qiu Xueyin yang didampingi Chen Xuan masih sibuk menata pikiran dan perasaannya di sisi peti jenazah Ryana Zhang sahabatnya. Chen Xuan sendiri hanya bisa terpaku sembari terus memikirkan sepupunya yang juga dalam keadaan koma seperti Ryana Zhang. Tak bisa dipungkiri, dua juga merasakan kecemasan akan nasib Chen Jia.


"Ry ... aku merasa sedih atas tindakkan para dokter yang telah memutuskan untuk melepas semua alat bantu medis. Tetapi aku juga tidak berdaya untuk menahan mereka." Suara Qiu Xueyin terdengar sangat sedih dan lirih. "Andai aku bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkanmu dan membuatmu hidup kembali. Apa pun itu, pasti akan aku usahakan."


"Xueyin, aku belum matiiii!"


Bagaimana kisah selanjutnya?


...THE END...


Dear : Pembaca yang terhormat, maafkan jika novel 'THE REALM OF CULTIVATION' mungkin hanya bisa sampai di sini.


Namun, author berencana membuat kelanjutannya meski entah kapan dan di mana akan ditempatkan, jujur saja author masih belum menentukannya.


Author juga butuh tempat yang bersahabat dan bisa menjadi rumah tetap untuk berkarya, sedangkan saya hanya author tanpa nama besar yang sering merasa dirugikan dan tidak mendapatkan keuntungan apa pun selama 1 tahun lebih menjadi author di sini. (maaf, curhat 😅)


Sampai jumpa lagi di next season 'THE REALM OF CULTIVATION'


Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan dan panjang umur ... aamiin!


...Bye semuaa!...