
Ternyata pasukan bandit lain menyerbu tempat di mana terdengar suara ledakan dan mendapati kawanannya telah menjadi mayat dengan jasad tak berbentuk lagi. Menyaksikan hal itu, mereka menjadi sangat marah.
"Kejar dan bunuh mereka berduaaaaa!"
"Jieee! Bagaimana ini? Jumlah mereka tak kurang dari lima puluh oraaang!" tanya Chen Jia dengan di sela-sela larinya.
"Kita hanya bisa mengharapkan seseorang datang untuk menolong kitaa!" jawab Ryana Zhang dengan napas tersengal-sengal.
"Seseorang?"
Ryana tak menghiraukan pertanyaan dari Chen Jia yang memang masih belum teralu ingat betul pada alur cerita The Realm Of Cultivation milik Ryana Zhang. Selama ini, dia lebih fokus mendesain karakter animasi dan bukan menghafalkan kisahnya. Pemuda itu hanya mengikuti saja ke mana gadis itu membawanya lari.
"Aiyaaaa, mengapa kau jadi bodoh sekali? Bukankah aku ini author dalam kisah ini? Tentu saja aku tahu kalau akan ada seseorang yang datang menolong kitaaa!" Gadis itu terlihat kesal kepada kawannya ini.
"Ooohh."
"Bersembunyi di sini!" Ryana menyeret tangan kanan Chen Jia untuk menelusupkan diri di antara celah bebatuan hutan.
Chen Jia merapatkan tubuhnya ke sebongkah batu besar dan mengintip pergerakan para bandit yang terlihat kebingungan mengejar mereka. "Mengapa kau tidak memakai lagi granat anehmu itu?"
"Mereka sudah habis," jawab Ryana sembari melakukan hal yang sama dengan Chen Jia. Gadis itu memicingkan matanya di lubang kecil untuk mengintai para bandit.
"Habis? Mengapa kau tidak meminta bantuanku agar kita bisa membuat lebih banyak granat baumu itu?" tanya Chen Jia sambil tanpa sadar menggeserkan tubuhnya semakin rapat dengan Ryana Zhang.
Ryana Zhang yang merasa terus terdesak, menjadi sangat kesal. "Menyingkir!"
"Tapi aku juga ingin melihat mereka!" Chen Jia tidak mau mengalah sama sekali.
"Aku juga ingin melihatnya!" Ryana Zhang juga tak mau mengalah.
"Ya sudah! Kau saja yang mengawasi mereka!" seru Chen Jia sambil menjauhkan wajahnya dari celah batu dengan raut wajah kesal.
Ryana Zhang tersenyum penuh kemenangan dan gadis manis itu kembali mengintai pergerakan para bandit yang terlihat terus mencari keberadaan mereka.
"Di mana mereka, tidak mungkin mereka lenyap begitu saja, kan?" Salah seorang bandit bersenjata kelewang terlihat mendekati semak-semak dan membabatkan benda tajam itu secara membabibuta. Daun-daun dan batang pohon itu pun berhamburan ke segala arah.
"Benar sekali. Kalian segera menyebarlah Cari mereka sampai ketemu!" Sang pimpinan bandit memerintahkan anak buahnya mencari dua anak muda yang telah menewaskan kawan mereka.
Kawanan bandit yang berjumlah tak kurang dari lima puluh orang itu menyebar guna melakukan pencarian. Hal itu juga lah yang membuat dada Ryana Zhang menjadi berdebar-debar. Dia sungguh berharap dan menunggu seseorang itu datang menolongnya.
Salah seorang bandit tiba-tiba mendekat ke arah tumpukan bebatuan di mana kedua buruannya bersembunyi. Entah apa yang menggerakan hati Chen Jia dan membuatnya merasa harus melindungi Ryana Zhang dengan menariknya secara tiba-tiba ke dalam pelukanya dan membiarkan dirinya menjadi tameng hidup bagi gadis ini.
Ryana Zhang ingin protes dan memberontak, akan tetapi bandit yang mencari mereka kian mendekat dan mulai memeriksa satu persatu bongkahan bebatuan tersebut. Tetapi demi keselamatan mereka berdua, akhirnya gadis itu memilih diam untuk sementara waktu.
"Jia'er, mereka masih berusaha mencari kita," bisik Ryana Zhang yang wajahnya telah berada di dada Chen Jia. Gadis itu bisa merasakan kecemasan pada diri pemuda itu melalui debaran jantungnya.
"Sepertinya, dia cemas sekali!" bisik hati Ryana Zhang.
"Bodoh! Apa yang kau ucapkan itu?" Ryana Zhang mencubit perut Chen Jia yang mengatakan hal seperti seorang pahlawan di drama-drama China. "Dasar kau ini! Dalam situasi genting pun masih saja membual untuk jadi pahlawan super!"
Chen Jia meringis menahan sakit dari cubitan Ryana Zhang. Baginya itu bukan hal yang harus diperdebatkan dengan gadis ini. Hanya sebuah cubitan kecil yang tak setara sakitnya jika dibandingkan saat dia mengalami cedera pergeseran engkel akibat salah pendaratan pada latihan jurus Nan Quan.
"Super hero yang kutunggu bukan kau, Jia'er! Dia adalah ...."
"Diam!" bentak Chen Jia yang merasa kesal kepada celotehan gadis ini. Pemuda itu secara tiba-tiba membungkam mulut Ryana Zhang dengan bibirnya sendiri. Tak ayal lagi, sebuah ciuman mendarat di bibir Ryana Zhang yang menjadi tertutup rapat.
Chen Jia tidak memedulikan rona wajah gadis yang ia bungkam dengan bibirnya, karena ketegangan akan kedatangan beberapa Bandit Asura benar-benar tidak bisa membuat Chen Jia menikmati ciuman pertamanya itu. Dia bahkan sama sekali tidak berpikir panjang dengan apa yang sedang dilakukannya.
Mata Ryana Zhang terbelalak lebar dan merasa dilecehkan oleh anak muda yang usianya sepuluh tahun lebih muda darinya itu. Gadis itu mengumpat dalam hati. "Siaaal! Beraninya dia menciumku!"
"Sepertinya mereka tidak ada di sini!" seru salah seorang dari para bandit.
"Ya sudah, kita pergi dan cari ke tempat lain!" seru temannya. Kedua bandit pun segera bergegas pergi dari tumpukan bebatuan itu.
Setelah kedua bandit itu cukup jauh dari tempat persembunyian kedua anak muda yang masih bersatu dalam ciuman tanpa perasaan itu, Ryana Zhang dengan kasar mendorong tubuh Chen Jia dan memberinya hadiah beberapa tamparan di wajah penuda itu.
"Lancang!"
"Jieee, maaf! Aku juga terpaksa karena kau terus bersuaraaa!" sahut Chen Jia berusaha untuk membela diri. Pemuda itu meringis kesakitan sembari memegangi pipinya yang langsung memerah. "Kalau Jie Jie tidak dibungkam, mungkin kita sudah ketahuaan!"
Ryana menghardik lagi. "Tapi tidak dengan cara seperti itu! Bilang saja, kalau kau hanya ingin menggunakan kesempatan dalam kesempitan!"
"Aku juga terpaksa, Jieee! Kau pikirkan saja sendiri. Memangnya pria tampan mana yang mau dengan sengaja mencium gadis lusuh, dekil dan bau sepertimu?" Chen Jia tak ingin kalah dengan Ryana Zhang. "Begitukah caramu memperlakukan pelindungmu?"
"Kau!" Ryana membentak dengan sangat marah.
Kali ini, Ryana Zhang membuang wajahnya ke arah lain. "Kau benar-benar keterlaluaaan! Apakah kau pikir aku suka dicium oleh bocah SMA masih ingusan sepertimu? Mengambil kesempatan untuk merampas ciuman pertama dari seseorang. Itu adalah tindakan yang sangat memalukan!"
"Kau saja yang terlalu gede rasa!" Chen Jia menjadi emosi dibuatnya. Usaha untuk melindungi Ryana justru menjadi sesuatu cukup yang menyakitkan baginya. "Enak saja menuduhku mengambil kesempatan dan merampas ciuman pertamamu!"
Pada saat mereka masih terus berdebat. Mereka tidak menyadari akan adanya puluhan senjata yang telah terhunus mengepung keduanya. Ryana Zhang dan Chen Jia menjadi sangat terkejut, terutama saat tanpa sengaja Chen Jia melangkah mundur sepanjang tombak dari tempatnya berdiri. Tak ayal lagi, darah segar mengucur dari luka tusukan itu.
"Aaa!" Sebuah pekikan kecil tertahan dari mulut Chen Jia, saat ujung sebilah tombak menusuk pinggang kiri bagian belakangnya.
"Matilah kau, bocah bodoh!" seru bandit yang berhasil mengenai pemuda itu dan segera disusul gelak tawa penuh kepuasan dari para Bandit Asura.
"Jia'er!" Ryana Zhang terkejut sekali hingga menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Ini tidak kutulis dalam novelku!"
"Tidak ada scene ini dalam novelku!" teriak Ryana Zhang dengan mata terbelalak lebar dan mulut terbuka.
"Jia'er! Jia'eeeeer!"
...Bersambung...