
Apa ini?" Luo Mian merasa sedikit terkejut dengan perubahan gaya perlawanan baru yang lebih kuat dari sebelumnya. Badak cahaya jingga ini juga seperti dengan sengaja membiarkan dirinya tersedot masuk ke dalam mulut naga perak yang memang dipersiapkan untuk melahap kekuatan lawan. "Celaka! Mereka memasukan racun dalam kekuatannya!"
Namun, Jenderal Luo Mian sudah terlambat untuk menyadarinya. Racun parasit darah telah masuk ke dalam roh pedang yang tersalur secara langsung ke dalam bilah pedang dalam genggamannya. Tentu saja itu adalah hal yang sangat berbahaya bagi pemuda tampan tersebut, karena titik jalur meridian juga menjadi penyalur kekuatan yang berasal dari dantian dalam tubuhnya.
Perasaan tidak nyaman akibat parasit darah iblis yang masuk dan menggerogoti jalan darahnya. Luo Mian merasa tubuhnya bagai disengat oleh ribuan lebah gajah hutan secara bersamaan dalam satu waktu. Kekuatan daya tarik pun, segera dilepaskannya secara perlahan dan membaliknya menjadi badai cahaya pijar yang langsung menghantam pertahan formasi lawan.
"Kalaupun aku harus tewas akibat dari racun ini. Setidaknya aku mati dengan membawa kalian semua bersamaku! Aku akan mengirim kalian semua pergi ke neraka yang merupakan tempat kalian semua berasaaal!" Luo Mian berteriak sebelum melancarkan serangan terakhirnya.
"Baiklah, karena kalian telah meracuniku! Maka, kalian juga harus hancur bersama formasi sampah ituuuuu!" seru Luo Mian dengan penuh kemarahan. Baginya kini, hidup dan mati tidaklah terlalu dia pikirkan. Luo Mian hanya berusaha agar para prajurit klan iblis ini tidak berhasil menangkap Ryana Zhang.
"Hiaaaaaaaaat!" teriakan panjang dari mulut Luo Mian menggema di angkasa raya dan tersebar, berpantulan hingga mencapai kisi-kisi tebing, hutan, bukit dan lembah di sekitarnya. Tentu saja, itu karena suara tersebut berlambar tenaga dalam yang dihentakan dengan segenap kekuatan.
Pemuda itu melesat secepat kilat dengan pedang bermata dua dalam genggaman eratnya dan menukik menghantam selubung formasi lawan. Kedatangan Luo Mian juga diiringi lesatan cahaya naga perak semu yang melayang berliukan dengan indah namun sangat menakutkan, karena binatang semu itu juga terus menggeramkan suara bernada kemarahan seperti pemilik pedangnya.
Pimpinan dan para prajurit klan iblis yang dalam keadaan lemah itu pun sama sekali tak mengira akan mendapatkan serangan balik yang berkali lipat lebih dahsyat dari Luo Mian. Rupanya, pemuda itu telah bertekad menumpas habis semua lawan tanpa menyisakan satu pun dari mereka. Badai cahaya perak bergulung bagaikan sebuah angin beliung yang sangat besar disertai kilatan-kilatan petir dengan suara gemuruh memenuhi angkasa senja.
Tak ayal lagi, tabrakan dua kekuatan dahsyat berbenturan untuk saling menghancurkan. Ledakan teramat keras, bagaikan sanggup menggugurkan tebing batu dan merobohkan pepohonan yang terdapat di luar Hutan Mistis tempat Ryana Zhang dan Chen Jia berada. Getarannya juga hampir setara dengan gempa vulkanik dari gunung berapi besar.
Formasi Badak Iblis Bercula Ganda pun, hancur seketika dengan menyebarkan mayat-mayat para pengendalinya yang tak sempat berteriak sama sekali. Bahkan akibat ledakan itu pun para prajurit klan iblis yang lain juga terpental dengan tubuh hangus terbakar. Sungguh, kekuatan pamungkas dari jenderal perang Negeri Zhu ini terlalu menakutkan dan sangat berbahaya bagi para musuhnya. Jenderal ini pun, tak pernah segan dalam menghabisi lawan.
Rupanya, suara ledakan itu terdengar sampai di telinga Ryana Zhang yang mulai merambah ranah kesadarannya. Gadis itu belum bisa memulihkan tubuhnya yang terasa hancur tulang dan persendiannya akibat terjatuh dari atas kuda. Kedua matanya membuka secara perlahan dan hanya menangkap kesamaran semata.
"Di-di ... di mana aku?" Ryana Zhang berusaha menggerakan jari jemarinya yang terasa kaku dan lemah. Keringat membasahi sekujur tubuhnya hingga terasa sedikit risih. "Suara apa tadi? Ataukah aku sedang bermimpi?"
Untuk beberapa waktu Ryana Zhang masih seperti orang linglung yang sedang tersesat tak tahu arah mata angin. Tetapi, begitu dilihatnya tubuh Chen Jia yang terlihat menggerakan tangannya dia pun segera bangkit dan duduk dengan sebuah dorongan kekuatan yang entah dari mana datangnya.
"Jia'er!" Ryana Zhang segera berdiri meski keadaannya masih lemah. Dia berjalan menghampiri kuda yang membawa Chen Jia. "Jia'er! Kau sudah sadar? Kau akhirnya tersadar!"
"Ji-Jie, Jie, a-aku ...."
"sudahlah, jangan bicara dulu!" Ryana Zhang menutup mulut Chen Jia dengan jarinya. Gadis itu juga melepaskan tali pengikat di tubuh pemuda itu yang terhubung dengan kuda hitam pembawanya. Ryana Zhang memapah Chen Jia ke bawah sebatang pohon dan menyandarkannya di sana.
"Jie, jangan tinggalkan aku!" Chen Jia meminta dengan suara lirih sambil meringis menahan sakit di pinggangnya yang terluka. "Jiee ... apa yang akan Jie-Jie cari?"
Ryana Zhang teringat kepada Luo Mian yang tadi melepaskan diri dari punggung kudanya. Gadis itu teregun dan berseru dalam hati. "Luo Ge! Luo Ge, di mana dia?"
Ryana Zhang seketika berteriak sambil berlari menuju tepi Hutan Mistis. "Jia'er! kau tunggu di sini sebentar!"
"Jieee, kau mau ke mana?" tanya Chen Jia yang melihat Ryana Zhang terlihat sangat kebingungan. "Ada apa dengan Jie-Jie itu?"
Chen Jia yang memang tidak mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi selama dirinya pingsan itu pun, hanya mengerucutkan mulutnya pertanda merasa sedikit kesal. "Teganya dia meninggalkan aku sendirian di sini!"
Ryana Zhang yang baru saja siuman dari pingsannya segera berlari ke tepi hutan yang masih berpelindung sebuah lingkup array. Mata gadis itu terbelalak lebar, saat menyaksikan tubuh Luo Mian melayang turun tanpa terkendali dari angkasa hingga menimpa beberapa pucuk dedaunan lalu jatuh disertai suara dentuman kecil dan pekikan keras.
"Luo Ge? Luo Geeeeeeeee!" teriakan panjang terlepas dari mulut gadis itu. Meski dia sudah tahu akan nasib sial jenderal ini pada alur kisahnya, akan tetapi di sini Ryana Zhang sudah berusaha mengubahnya. Namun tetap saja, Luo Mian harus mengalami sebuah peristiwa naas lainnya.
"Ah Rui." Luo Mian berbisik sambil membuka matanya saat mendengar teriakan Ryana Zhang.
"Luo Geeee!" Ryana Zhang berlari menghampiri tubuh Luo mian yang tergeletak dengan bersimbah darah. Wajah pemuda itu sudah sepucat kapas, akan tetapi lelaki itu masih sempat mengembangkan seulas senyum tipis bagai tanpa semangat kehidupan.
"Ah Rui, jangan khawatir! Mereka semua sudah tewas di tanganku," bisik Luo mian sambil mengerlingkan matanya yang sayu.
Dengan bersusah payah, Ryana Zhang merangkul dan memapah Luo Mian yang dalam keadaan sangat lemah. Dibawanya pemuda itu sampai di hadapan Chen Jia dan merebahkan tubuh jenderal yang masih mengenakan cadar itu di samping Chen Jia.
"Siapa dia, Jie?" tanya Chen Jia sembari memperhatikan pemuda yang terbaring di sebelahnya.
"Dia adalah penolong kita." Ryana Zhang menjawab dengan suara pelan.
"Penolong kita?" Chen Jia merasa heran.
...Bersambung...