The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
PRIA BERCAPING 3



"Selesai!" seru Luo Mian dengan perasaa luar biasa lega. "Sekarang, aku akan mengantarkan kalian berdua. Katakan ke mana aku harus mengantarkan kalian!"


Ryana Zhang bukannya menjawab, akan tetapi malah menatap Chen Jia yang sekarang keadaannya terlihat sedikit lebih baik dari sebelumnya. Tentu saja dia harus kembali ke dalam hutan bersama dengan pemuda ini.


"Jenderal Luo Mian, kawanku yang terluka ini dan aku tidak bisa meninggalkannya. Bagaimana ini?" Ryana Zhang bertanya  sambil menatap ke arah tubuh Chen Jia yang masih tak sadarkan diri.


"Jangan khawatir, aku akan membawanya juga. Oh ya, tolong jangan panggil aku dengan sebutan jenderal. Panggil saja dengan namaku," pinta Jenderal Luo yang memang dalam penyamaran guna menjalankan misinya.


"Kalau begitu, aku akan memanggilmu dengan sebutan Luo Ge," ujar gadis itu seraya berusaha bangkit, akan tetapi dia pun kembali terjatuh tersuruk di atas tanah.


"Baiklah, itu bagus juga." Luo Mian menyetujui panggilan itu.


"Nona!" Luo Mian berteriak, dia tak bisa menangkap tubuh Ryana Zhang karena dirinya selalu merasa canggung dengan wanita. "Nona kau tidak apa-apa?"


"Ti-tidak, aku baik-baik saja ... mungkin aku memang butuh beristirahat lebih banyak." Ryana Zhang meringis kesakitan. Bagaimanapun juga, dada dan perutnya masih terasa sedikit nyeri meski dia telah meminum pil pereda luka dalam pemberian pria ini.


"Oh, baiklah." Luo Mian seperti tengah memikirka sesuatu. "Sebentar, aku akan pergi ke suatu tempat. Nona ...." 


"Rui. Namaku Zhang Rui." Ryana Zhang memotong perkataan Luo Mian. "Luo Ge bisa memanggilku Ah Rui."


"Ohh ... baiklah, Ah Rui! Aku pergi sebentar. Kau tetap di sini dan ingatlah untuk menungguku kembali!" Luo Mian pergi dengan cepat tanpa menunggu jawaban dari gadis yang menatap punggungnya dengan hati sedikit berdebaran. 


"Aaah! Apakah ada seorang author yang menyukai tokoh novelnya sendiri seperti aku menyukainya?" gumam Ryana Zhang dalam hati. "Pemikiran macam apa ini!" 


"Jia'er! Jia'er bangunlah! Mengapa tidurmu lama sekali?" Ryana Zhang hanya bisa mengeluh dalam hati.


Matahari sudah semakin bergulir ke arah barat dan itu artinya waktu akan segera beranjak menuju senja. Sudah cukup lama gadis itu duduk menantikan Jenderal Luo Mian yang tak juga tampak. Gadis itu memilih duduk bersila untuk bermeditasi sambil menunggu kedatangan Jenderal Luo Mian yang pergi entah ke mana. 


Seusai bermeditasi guna memulihkan diri dengan mengatur jalan napas dan menormalkan peredaran darahnya, gadis itu kembali mengingat-ingat semua kejadian tadi. Betapa mengerikannya saat sesuatu yang belum seharusnya terpaksa dia lakukan demi menyelamatkan diri.


Sungguh, dunia budidaya yang dia tinggali ini terlalu kejam dan keji bagi seorang Zhang Rui yang tubuhnya sekarang dia tempati. Saat inilah, baru dia menyadari betapa kejam dan tak berperasaannya dirinya dalam menggambarkan tokoh Zhang Rui.


"Karakter ini kubuat teramat sial, padahal aku tidak memiliki dendam apa pun dengan tokoh ini. Aku hanya ingin menguji simpati pembaca saja, tetapi aku malah terjebak di tubuh ini. Seperti sebuah karma saja!" Gadis itu merasa sedikit menyesal dengan penulisan pada tokoh Zhang Rui. 


"Aku harus mencari ayah angkat sampai ketemu. Meskipun beliau tidak bisa ilmu bela diri, tetapi ayah angkat bisa membimbingku dalam pelatihan. Sayang sekali ayah angkat sekarang entah berada di mana." Ryana Zhang mulai menyadari akan pentingnya seorang pembimbing.


Tak berapa lama kemudian, Jenderal Luo Mian datang kembali ke tempat itu dengan menuntun dua ekor kuda. Setelah menambatkan binatang jinak yang akan dia gunakan untuk membawa kedua orang kawan barunya. Jenderal muda bercadar itu mendekati Ryana Zhang dan Chen Jia. 


"Tidak apa-apa, Luo Ge. Itu juga membuatku bisa lebih banyak beristirahat, sedangkan Luo Ge justru harus lelah sendiri karena kami." Ryana Zhang tak ingin membuat suasana hati Luo Mian menjadi buruk. "Luo Ge beristirahatlah juga! Bagaimanapun, Luo Ge pasti sangat lelah."


Luo Mian segera mengangkat tubuh Chen Jia dan menaruhnya di atas punggung kuda berwarna hitam. Pria itu terlihat sangat cekatan mengikat Chen Jia agar aman dan tidak jatuh dari atas kuda saat binatang itu berjalan atau berlari kencang nantinya. 


"Kita harus segera pergi, Ah Rui. Apakah kau lupa? Aku ini seorang jenderal yang sudah terbiasa dengan berbagai pelatihan bela diri. Jadi, hal seperti ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan peperangan selama dua hari dua malam di perbatasan wilayah Qin beberapa waktu lalu." Luo Mian berucap sambil terus melakukan pekerjaannya. 


"Aku akan berkuda dengan kawanmu ini, kau pakailah kuda yang satu itu!" berkata pria bercaping tanpa menoleh sedikit pun kepada lawan bicaranya.


Untuk sejenak Luo Mian memperhatikan Chen Jia dan berucap dalam hati. "Tampan juga anak muda ini. Dia terlihat memiliki dasar budidaya yang tinggi, akan tetapi sepertinya kekuatan anak ini masih terkunci. Dan kalau dilihat dari rambutnya ini, seharusnya dia sudah mencapai ranah Penciptaan Bentuk tahap awal." 


"Mereka hanya perlu seseorang yang bisa melatih dan memberi arahan agar kekuatannya bisa berkembang dan tidak menyerang balik pada pemiliknya." Jenderal Luo Mian terus berkata dalam hati dan tidak menyadari dengan kebingungan Ryana Zhang.


"Baiklah, kita segera berangkat!" Luo Mian bersiap untuk menaiki kuda bersama dengan chen Jia. Kaki kanan pria itu sudah menginjak salah satu pijakan yang terdapat pada pelana kuda. "Ah Rui, kau berjalanlah di depan dengan kuda itu sebagai penunjuk jalan dan aku akan mengikutimu."


"Luo Ge, aku ... aku tidak bisa berkuda," ucap Ryana Zhang dengan suara lirih karena merasa sedikit malu. "Biar aku tuntun saja kuda yang membawa Chen Jia. Luo Ge bisa menaiki kuda yang lain itu." 


Luo Mian tertegun sejenak, untuk kemudian tertawa. "Mengapa kau tidak katakan sejak tadi?" 


Pemuda gagah itu segera menuntun tali kekang kuda coklat yang telah dia siapkan untuk Ryana Zhang. "Kemari!" 


Jenderal muda itu secara tiba-tiba mengangkat dengan enteng tubuh Ryana Zhang dan mendudukannya di atas punggung kuda. Sebuah pekikan kecil terlepas dari mulut gadis itu, antara sangat terkejut dan takut. Seumur hidupnya dia belum pernah menunggang kuda, baik sebagai Ryana Zhang sang author di dunia modern ataupun sebagai Zhang Rui si gadis pengemis yang malang. 


"Kau tenanglah! Aku akan menjagamu dengan baik," ucap Luo Mian. Dia sendiri segera melompat naik dan duduk di belakang tubuh Ryana Zhang.


Luo Mian berbisik dengan suara lembut. "Kalau kau takut, kau bisa memejamkan matamu. Itu akan menghilangkan ketakutan dan membuatmu lebih merasa nyaman."


Ryana Zhang menjerit dalam hati. "Aaaaaah, mamaaaaa! Kalau aku tahu begini rasanya diperhatikan oleh seseorang yang kita kagumi. Maka biarkan aku di tempat ini saja selamanyaaaa!" 


"Kau siap?" 


"Ya, ya ... aku si-siap!"


...Bersambung...