The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
PURA-PURA PINGSAN



"Tentu saja. Aku rindu semuanya, orang tuaku, nenekku, para sepupuku dan terutama ... komputerku." Chen Jia berkata dengan raut wajah sedih. "Entah sampai kapan kita akan terus berada di tempat ini."


Tanpa mereka berdua sadari, ternyata Luo Mian sudah mulai siuman dari pingsannya. Pria itu membuka matanya dengan sangat perlahan dan mendapati dirinya sudah bukan lagi di hutan. Luo Mian mencoba untuk mengumpulkan ingatan tentang kejadian apa saja yang dia alami sebelum berada di tempat ini.


Telinga Luo Mian juga bisa menangkap percakapan dari dua orang yang sudah cukup ia kenali suaranya. Namun, yang menarik perhatiannya adalah tentang penyebutan nama kota yang terasa sangat asing baginya. Dugaannya pun semakin kuat, jika dua orang ini pastilah berasal dari benua yang berbeda dan sangat jauh dari tempat mereka saat ini.


"Xiamen?" Luo Mian bergumam saat mendengar nama sebuah tempat yang baru pernah ia dengar. "Mungkin mereka memang berasal dari tempat itu."


Hidung Luo Mian mencium aroma bubur umbi yang sedang disantap oleh dua orang kawannya tersebut. Tidak bisa ia pungkiri, rasa lapar pun seketika menyerang perutnya. Namun, dia juga masih ingin mengetahui pembicaraan Ryana Zhang dan Chen Jia selanjutnya. Dia sungguh merasa penasaran dengan identitas dua orang ini dan ingin mengetahui secara pasti apa maksud dan tujuan keduanya.


Walaupun Luo Mian mengetahui secara pasti tentang sosok Zhang Rui, tetapi tindak tanduknya sangat jauh berbeda dengan gadis yang tengah bersamanya saat ini. Tetapi sebagai salah seorang yang telah diberi tugas untuk menjaganya, Luo Mian hanya bisa mengikuti saja apa yang dilakukan gadis itu.


"Aku akan berpura-pura masih pingsan agar mereka tidak mencurigaiku dan aku bisa mengetahui siapa mereka sebenarnya." Luo Mian berucap dalam hati.


"Jie ... sampai berapa lama kita akan terjebak di sini? Satu tahun sudah kita berdua tinggal di gua ini dan selalu dihantui oleh rasa was-was setiap hari. Tidak bisakah kita keluar secepatnya?" Chen Jia bertanya sembari mengaduk-aduk isi mangkuk yang tak lagi terasa nikmat di lidahnya.


"Sabarlah, Jia'er! Aku juga sedang mencari cara agar kita bisa segera kembali ke tempat kita. Aku sedang berusaha keras menerapkan semua yang tertulis dalam catatan itu," jawab Ryana Zhang dengan tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. "Lagi pula, kita ke mari melalui portal yang berbeda. Bisa jadi, kita juga keluar lewat cara yang tidak sama."


Chen Jia merasa khawatir sekarang dan mulai memikirkan, bagaimana jika salah seorang dari mereka berhasil keluar terlebih dahulu? Pemuda itu benar-benar takut jika hal itu akan terjadi. Bisa dibayangkan, betapa akan kesepiannya dia tanpa Ryana Zhang. Chen Jia secara tanpa sadar menggantung sendok kayu yang hampir menyentuh bibirnya.


"Bukankah itu sangat mengerikan?" tanya Chen Jia seperti kepada dirinya sendiri.


Ryana Zhang yang tidak mengerti akan ucapan Chen Jia, kemudian menatapnya dan bertanya sembari mengernyitkan kedua alis matanya. "Apanya yang mengerikan?"


"Nasib kita tentu saja. Jie-Jie bayangkan saja sendiri! Bagaimana kalau ternyata kita keluar dari sini dan ternyata tubuh kita berdua sudah dimakamkan?" pertanyaan yang tentu saja juga mengejutkan seseorang yang berpura-pura masih pingsan di atas pembaringan.


"Apa maksud dari ucapan mereka berdua?"


Ryana Zhang terlihat sedih mendengar ucapan Chen Jia yang kemungkinan ada benarnya. Namun, dia pun belum juga menemukan cara untuk kempali ke dunia mereka saat ini.


"Kita sekarang berada di alam mimpi yang sangat panjang. Aku bahkan tidak menyadari kalau bisa saja hal itu terjadi." Ryana Zhang berucap dengan perasaan sedih pula. Kita benar-benar tak berdaya untuk saat ini, Jia'er. Terlebih lagi, alur cerita yang kita jalani sekarang benar-benar bukanlah yang aku tulis."


"Jadi menurut Jie-Jie, alurnya benar-benar sudah berubah?" bertanya Chen Jia dengan kecewa, karena harapannya ubtuk bisa keluar secepatnya tentu mengalami jalan buntu.


"Sayang sekali jika memang karya Jie-Jie memang telah dijalankan oleh orang lain," ujar Chen Jia sambil mendesah panjang. "Lalu aku? Apakah orang itu juga telah memasukkan aku dalam novel ini dan memiliki peran penting?"


Chen Jia dan Ryana Zhang saling berpandangan satu sama lain dengan wajah bingung. Keduanya benar-benar terjebak dalam ketidaktahuan dengan apa yang telah terjadi di dunia moderen. Lalu, siapakah sebenarnya yang telah membajak akun Ryana dan mengubah kisah 'The Realm Of Cultivation' tanpa seijin dari authornya ini?


Sementara itu di dunia moderen ....


Di sebuah rumah sakit terkenal yang ada di Kota Xiamen, tepatnya pada ruangan khusus berwarna serba putih, terlihat tubuh seorang gadis cantik tergolek bagai mati di atas ranjang besi, bersprei putih dengan berbagai peralatan medis yang telah menjadi aksesoris sekaligus sumber daya hidupnya selama satu tahun ini.


Terlihat juga seorang dokter dan beberapa orang suster sedang memeriksa keadaan tubuh gadis cantik tersebut. Sang dokter terlihat berulang kali menggelengkan kepala tanda tidak mengerti dengan kondisi pasiennya ini.


"Bagaimana dengan kondisi kawannya saya itu, Dokter?" bertanya seorang pria muda seusia sang pasien setelah dokter tersebut keluar dari ruangan tempat sang kawan tengah dirawat.


"Kondisi Nona Zhang memang terlihat semakin membaik, tetapi entah mengapa dia belum juga bisa tersadar dari komanya." Dokter Frans Li menjawab sambil memasukkan kedua tangannya pada saku jas putihnya. "Kami belum berhasil membuat dia tersadar."


"Aneh sekali!" Pemuda itu masih tidak mengerti pada kondisi Ryana Zhang yang diketahui sudah koma sejak satu tahun yang lalu. Dia kemudian bertanya, "Bisakah saya melihatnya sekarang, Dokter?"


"Silakan, Tuan Qiu Xueyin!" Dokter muda tersebut memberi waktu kepada pria muda yang diketahui sering datang membezuk Ryana Zhang ini.


"Terima kasih banyak, Dokter!" Pemuda itu pun membungkuk, seraya mengemasi dan membawa barang bawaannya masuk ke dalam ruangan, sedangkan dokter dan para asistennya juga segera pergi dari tempat tersebut.


Sebelum masuk, pemuda itu berbisik dengan suara pelan. "Aku datang lagi, Ry ...."


Qiu Xueyin membuka pintu dan masuk secara perlahan. Dia langsung meletakkan seikat bunga mawar di atas meja yang berdekatan dengan ranjang besi tersebut, kemudia mengambil sebuah kursi untuk ia duduk menunggui Ryana Zhang.


"Ry, sampai kapan kamu akan begini terus? Tidakkah kamu ingin bangun, agar kita bisa bermain-main lagi seperti dulu?" tanya Qiu Xueyin sembari menggenggam tangan Ryana Zhang dengan lembut, disertai rasa prihatin yang dalam kepada gadis ini.


Tentu saja pertanyaannya tidak akan mendapatkan jawaban dari yang ditanya, karena roh kesadaran gadis itu sedang tidak menyatu dengan raganya saat ini.


"Bangunlah, Ry!"


...Bersambung...