The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
JENDERAL ZHOU



Pagi menjelang siang hari.


Di sebuah arena pelatihan khusus para prajurit kekaisaran, terlihat sepasukan besar prajurit tengah sibuk berlatih peperangan. Meskipun saat ini Negeri Zhu sedang tidak dalam konflik perang dengan negara mana pun, tetapi kesiapan divisi militernya tetap tidak boleh menurun sama sekali. Segala pelatihan mengenai peperangan baik secara olah fisik maupun teori strategi harus mereka kuasai.


Pada tempat yang sedikit jauh dari hiruk-pikuk prajurit yang sedang berlatih, seorang komandan muda berwajah tampan tengah berlutut di hadapan seorang wanita muda nan cantik. Gadis itu mungkin terlihat sebagai seorang putri bermartabat tinggi yang hanya tahu bersolek dan dilayani sepanjang hari. Namun, dia sebenarnya juga salah seorang jenderal yang memimpin pasukan dalam sebuah divisi.


"Aku datang ke mari untuk menanyakan perihal jenderal kalian. Apakah sudah ada kabar darinya?" Gadis cantik dengan gaya rambut ekor kuda bertanya.


"Belum, Jenderal Zhou. Jenderal kami belum mengirimkan kabar apa pun," jawab sang komandan.


"Bangunlah!" Gadis yang disebut dengan nama Jenderal Zhou meminta komandan muda itu bangkit dari berlututnya, lalu ia bertanya lagi. "Sejak kapan Jenderal Luo pergi?"


"Tiga hari yang lalu, Nona." Komandan Jun Xiao menjawab sembari bangkit dan berdiri tegak dengan sikap siaga.


Jenderal Zhou terlihat berjalan hilir mudik sembari menempatkan tangannya di balik pinggang yang tertutup jubah. "Tiga hari? Jadi itu sudah tiga hari dan tak ada kabar darinya sama sekali?"


"Benar, Nona!" jawab Komandan Jun Xiao dengan tetap pada posisinya.


"Lalu, apakah kalian tidak berusaha mencarinya?"


"Kami dilarang mencari, tetapi kami juga harus mencari karena Tuan Menteri Kiri meminta kami mencarinya belum lama ini."


"Dan dia tidak ditemukan?" Jenderal Zhou terus bertanya.


"Belum, kami belum menemukan keberadaan jenderal kami." Komandan Jun Xiao berkata sembari menundukan wajahnya guna menutupi sesuatu.


"Bodooooh! Bodoh kalian semuaaaa!" teriak gadis cantik dengan balutan busana jenderal di hadapan seorang komandan lainnya. "Mencari satu orang saja kalian tidak becus!"


"Maafkan kami, Nona! Kami sudah mencarinya ke semua tempat, tetapi tidak juga kami temukan!" jawab komandan tersebut sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan wajahnya yang tertunduk.


Gadis cantik dengan aura keangkuhan yang tinggi tersebut berkacak pinggang dengn satu tangan, sedangkan tangan lainnya memegang gagang cambuk dengan erat. Wajahnya memancarkan kemarahan yang luar biasa. "Bagaimana mungkin seseorang seperti Jenderal Luo Mian bisa hilang begitu saja tanpa kalian semua ketahui keberadaannya?"


"Kami sungguh tidak mengetahui sama sekali, Nona. Terakhir kali bertemu dengan jenderal kami, tuan kami tidak mengatakan hal apa pun!" ujar sang komandan.


"Tidak ada pesan sama sekali?" bertanya sang jenderal wanita.


Komandan menjawab, "Tidak ada. Jenderal kami hanya mengatakan, jika dia ingin keluar sebentar untuk mencari beberapa bahan obat untuk Nyonya Xue dan semua urusan Divisi Singa Liar Gunung sementara ini saya yang memegangnya."


"Jadi, kalian sebenarnya tidak mencarinya?" Gadis cantik berpakaian jenderal itu bertanya. Dia sungguh merasa penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Jenderal Luo Mian.


Sang komandan yang bernama Jun Xiao menggelengkan kepala. "Jenderal kami hanya meminta kami untuk menunggunya."


"Lalu, apakah dia membawa prajurit saat kepergiannya?"


"Aaaaaahhh! Ke mana perginya diaaaaa?" Gadis cantik tersebut menghentakan cambuknya mengarah ke sebuah bangunan arca. Patung batu buatan itu pun hancur seketika. "Hummph! Luo Ge kali ini benar-benar membuatku kesaaal!"


"Maafkan kami! Kami sungguh tidak berani bertindak tanpa seijin dari jenderal pimpinan kami." Jun Xiao kembali bersalam gongshou.


"Ya Sudah. Karena dia tidak ada di sini, maka aku sendiri yang akan turun tangan mencarinya!" Gadis itu pun bergegas pergi dengan langkah panjang dan tergesa-gesa menuju ke arah kudanya dan . Jenderal Zhou pergi meninggalakan tempat pelatihan prajurit Divisi Singa Liar Gunung dengan diikuti oleh sepasukan prajurit dengan seragam dengan warna serupa dengan sang jenderal.


Komandan Jun Xiao hanya menatap kepergian gadis cantik itu sembari menggelengkan kepalanya berulang kali. "Pantas saja Jenderal kami selalu menghindari gadis ini. Kalau saja dia bukan putri si keparat Zhou Weiyang, mungkin sudah kucincang dia!"


Sebagai bawahan dari Jenderal Luo Mian yang menjadi pemimpin tertinggi Divisi Singa Liar Gunung, tentu saja Jun Xiao tidak akan pernah mengatakan hal yang sesungguhnya kepada Jenderal Zhou. Bahkan jika harus bertaruh nyawa pun, Jun Xiao tetap tidak mau menceritakan keberadaan atasannya tersebut.


"Aku harus berhati-hati dengan orang-orang dari divisi lain. Bisa saja mereka tidak sejalan dengan pemikiran kami." Jun Xiao membatin sembari melangkah pergi guna melanjutkan tugasnya yang terhambat. "Mengganggu saja!"


Penjaga Delapan Mata Angin Kekaisaran Zhu terdiri dari empat divisi militer yang masing-masing dipegang oleh empat orang jenderal pilih tanding. Keempatnya merupakan para jenderal pilihan kaisar yang telah menjalani berbagai macam ujian, baik secara mental maupun fisik.


4 Divisi Militer Kekaisaran Zhu terdiri dari :


Divisi Naga Angkasa (Tàikōng lóng) dipimpin oleh Jenderal Ji Yuwen. Merupakan pasukan angkatan udara yang mengawasi keamanan dari angkasa dengan armada perahu naga terbang.


Divisi Singa Liar Gunung dipimpin oleh Jenderal Luo Mian. Merupakan pasukan gerilyawan yang beroperasi di wilayah-wilayah terpencil dan memiliki banyak post penjagaan di setiap daerah dalam kekuasaan Kekaisaran Zhu.


Divisi Hiu Laut dipimpin oleh Jenderal Shi Lang. Merupakan pasukan penjaga yang beroperasi di wilayah samudra hingga perbatasan laut antar negara.


Divisi Krisan Emas dipimpin oleh Jenderal Zhou Yunyang. Merupakan pasukan penjaga di dalam ibu kota kekaisaran. Divisi ini adalah satu-satunya satuan pasukan militer wanita milik Kekaisaran Zhu.


Dikarenakan saat ini tampuk kekuasaan Negeri Zhu dipegang oleh Menteri Kiri Zhou Weiyang, maka secara otomatis pula para jenderal pimpinan dipilih sendiri oleh Zhou Weiyang. Sangat tidak mudah untuk menjadi jenderal yang bertugas memimpin puluhan ribu prajurit dibawah kendali tertinggi seorang pemberontak kejam seperti Zhou Weiyang.


Meskipun dari luar seorang Zhou Weiyang terlihat sangat tampan dan anggun, akan tetapi dia bak rubah licik berbulu kelinci nan cantik. Senyum serta nada bicaranya mungkin lembut bagaikan Dewa, tetapi sisi kejam pria tersebut serupa algojo dari neraka.


Lelaki itu adalah salah satu dalang dari perang besar yang terjadi di istana pada saat Kaisar Zhu Ran digulingkan serta ditawan olehnya dengan dukungan sebuah kekuatan besar tak terlihat di belakangnya. Dia berhasil membuat para penghuni istana begitu mendukungnya dan seperti melupakan tentang kaisar yang sebenarnya.


Zhou Weiyang bukan hanya mendapatkan kekuasaan, tetapi selir cantik milik Kaisar Zhu Ran juga jatuh ke dalam pelukannya dengan suka rela. Hal itu bukan tanpa sepengetahuan Wen Su yang merupakan istri sah dari sang perdana menteri. Hanya saja wanita malang dengan seribu kesedihan itu lebih memilih diam daripada membuat masalah baru terhadap pria yang tidak menginginkan dirinya sama sekali.


Siang masih belum berada di pertengahan hari. Di sebuah taman nan asri terlihat seorang wanita berwajah lembut dan ayu tengah duduk seorang diri di bawah sebatang pohon. Gaun hanfu hijau muda berbahan tipis dan berlapis-lapis sesekali berkibaran oleh terpaan angin. Tangan gemulainya sesekali menarik jarum dari selembar kain yang terpasang pada lingkaran bidangan sulam.


Sebuah pola membentuk gambar burung pipit nan cantik tengah dia sulam dengan penuh ketelatenan. Sepertinya, dia tidak begitu peduli dengan seorang pria tampan yang duduk di sebuah gazebo sembari memainkan sebuah lagu sendu mendayu. Jemari pria itu tampak sangat lincah dan trampil memetik sena-senar Gu Qin.


Siapakah mereka?


...Bersambung...