
Jenderal Luo Mian bergumam lirih dengan sesuatu yang dipikirkannya. "Jadi ... dia menyukaiku?"
"Celaka! Jangan-jangan dia salah paham!" Ryana Zhang terkejut saat memikirkan kisah cinta Luo Mian yang pernah dia tulis dalam novelnya. "Apa yang harus kulakukan?"
"Terima kasih atas perhatianmu. Aku sangat tidak menyangka, kalau orang yang baru saja kutemui sudah menyukaiku. Bukankah itu seperti, kau sudah lama mengenalku?" Luo Mian berkata dengan nada tenang. Dia tidak ingin berprasangka buruk terhadap orang yang baru dia kenal.
"Mati aku!" Chen Jia menjerit dalam hati dan terhenyak di atas punggung kudanya. "Bagaimana kau bisa paham? Aku adalah orang yang mendesain visualmu dalam game animasikuuuu!"
"Hei, bukankah ini juga kesempatan yang benarlah bagus?" Chen Jia berpikir sambil tersenyum penuh misteri.
"Benar, Anda adalah seorang jenderal panutan negeriku. Tentu saja aku sudah lama mengetahui sepak terjangmu. Termasuk saat Luo Ge beraksi dengan permainan jurus tombakmu. Itu terlihat sangat kereeeen!" Chen Jia kembali teringat, kalau mungkin Luo Mian tidak mengerti dengan kata keren.
"Kereen, apa pula itu?" Luo Mian kembali merasa heran dengan kata 'keren' yang meluncur dari mulut Chen Jia.
"Maksudku ... maksudku, itu sangat bagus di atasnya bagus." Chen Jia merasa sedikit kelabakan sekali lagi. "Ya sangat bagus!"
"Sepertinya, kalian berdua memiliki pengetahuan tentang bahasa aneh dan terdengar cukup asing yang tidak ada di sini. Apakah kalian berdua pernah belajar suatu bahasa yang berasal dari daratan benua lain?" Jenderal Luo Mian masih terlihat bingung dengan pecakapan antara Ryana Zhang dan Chen Jia.
"Maafkan kami, Luo Ge!" Chen Jia memang merasa sedikit bersalah atas kata-kata yang mungkin tidak akan dimengerti oleh Jenderal Luo Mian ini. "Kami hanya sedikit bisa mengarang dan mengolah kata baru yang kami jadikan bahasa kami sehari-hari. Itu lebih seperti bahasa gaul para anak muda jaman sekarang. Eh, maksudku bahasa pergaulan yang lebih disukai oleh anak-anak muda seperti kami."
Berbicara panjang lebar menjelaskan suatu hal yang tidak lazim kepada orang jaman kerajaan kuno, sungguh membingungkan bagi Chen Jia. Berkali-kali pula, dia telah membuat Luo Mian merasa kebingungan. Remaja itu pun menjerit dalam hati. "Jieeee! Mengapa kau ciptakan karakter bingungan seperti dia? Dia memang hebat dan keren saat bertarung, tapi dalam hal lain sepertinya dia sedikit bodoh!"
"Sepertinya, kalian memanglah orang-orang yang sangat menarik. Dan dengan demikian kita bisa saling bertukar hal-hal yang kita tidak ketahui satu sama lain." Luo Mian harus mengakui keduanya adalah kawan-kawan yang cukup membuatnya meletakkan sebuah perhatian khusus. Terlebih lagi dengan identitas Zhang Rui sekarang ini.
"Sejujurnya kami pernah bertemu dengan beberapa orang yang konon kabarnya pernah menjelajah sampai ke dunia lain," ujar Ryana Zhang yang masih sibuk dengan memotong semak-semak. Tentu saja yang dia maksud adalah dirinya dan Chen Jia.
"Menjelajah dunia lain?" Jenderal Luo Mian kembali terkejut. "Apakah itu seperti di alam Dewa?"
Luo Mian menjadi berpikir bahwa kemungkinan mereka pernah bertemu dengan orang dari alam Dewa yang turun menjelajah bumi untuk mencari para pewarisnya. Ataukah mungkin, justru mereka berdualah para Dewa yang turun ke bumi untuk mencari sesuatu. Pria itu menoleh ke arah Chen Jia yang sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Apakah dia ini sebenarnya adalah jelmaan seorang Dewa? Coba saja dilihat dari rambut dan bola matanya itu?" Luo Mian berpikir jikalau Chen Jia adalah seorang jelmaan Dewa. "Tapi ... Dewa mana yang selemah itu? Dia bahkan seperti tidak bisa bertarung sama sekali."
"Benar-benar aku merasa aneh pada mereka ini. Bahkan Zhang Rui juga bertingkah tidak seperti biasanya." Luo Mian teringat beberapa kali pertemuannya dengan Zhang Rui saat dia sering melihatnya mengemis bersama dengan Zhang He di pusat kota. "Zhang Rui yang kukenal adalah seorang gadis pendiam dan pemalu. Bahkan untuk mengangkat mangkuk saja dia selalu ragu-ragu."
^^^Mengangat mangkuk untuk mengemis^^^
"Oh, benar!" Chen Jia menimpali dengan tiba-tiba, karena mungkin itulah yang cukup masuk akal bagi para manusia yang hidup di alam kultivasi seperti sekarang ini. "Kami memang dari alam lain."
Sebuah lemparan batu kerikil seketika mengenai pelipisnya. Chen Jia secara refleks menoleh ke arah lemparan. "Jieeeee!"
Ryana Zhang melototinya sambil melemparkan potongan batang semak ke arahnya dan membuat Chen Jia sadar akan kecerobohannya. Beruntung sekali saat itu Luo Mian masih dalam lamunannya sepanjang jalan, hingga pria itu tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan oleh Chen Jia.
"Sudahlah, Jia'er! Jangan membuat orang lain menjadi bertambah bingung dengan gaya bahasamu. Jenderal Luo ini adalah seorang ahli strategi peperangan, jadi bisa dibilang selama hidupnya ini hanya untuk memikirkan keselamatan negara." Ryana Zhang mencoba mencoba memberi pengertian kepada Chen Jia.
"Maaaaf! Aku lupa, Jieeee." Chen Jia berbisik dengan nada malas.
"Ya sudahlah," ujar Ryana Zhang yang tak ingin terus mempermasalahkan hal sepele tersebut. "Sebentar lagi kita akan sampai."
Ketiga anak muda berbeda usia dan dunia itu pun meneruskan perjalanan mereka hingga sampai ke Gua Lima Warna yang indah. Jenderal Luo Mian begitu terpukau dibuatnya. Pria tersebut berdiri sembari mengedarkan pandangannya. Dia melihat sebuah gua batu sebening kaca dengan lima macam warna cahaya yang berpendaran dari dinding gua.
"Jadi gua ini benar-benar ada?" Luo Mian menyentuh dinding gua yang halus dan sedikit licin. "Bias sinar ini sangat indah dan unik dengan bermacam warna yang saling berbauran serta berkelap-kelip seperti bintang."
"Tapi ini juga tidak terlihat seperti pelangi." Luo Mian terpesona sekali dengan apa yang sedang dia lihat sekarang ini. "Dikatakan tidak bisa disebut pelangi, karena cahayanya juga bukan warna dasar pelangi. Ck ck ck, mengagumkan!"
Chen Jia dan Ryana Zhang dengan sengaja membiarkan Luo Mian sibuk mengagumi keindahan dinding-dinding gua yang berkilatan. "Sangat bagus! Kalian sungguh sangat beruntung sekali bisa menemukan gua sebaik ini!"
"Tentu saja ini adalah gua yang sangat baik. Bukankah ini juga hasil dari pemikiran seorang Ryana Zhang dari dunia lain itu," gumam Ryana Zhang dalam hati sambil menuntun kuda yang tadi dibawanya. "Dan kau yang setampan sekarang ini, juga hasil dari halusinasiku!"
Demi melihat semua orang sibuk dan tidak menghiraukan dirinya, Chen Jia dengan manja kembali memanggil Ryana Zhang. "Rui Jieee, bagaimana caraku turun dari atas sini? Aku takut jatuh!"
"Kau turunlah nanti setelah sampai di dalam." Ryana Zhang menyahut sambil membawa masuk kudanya ke dalam gua.
"Ouuh." Chen Jia harus menuruti perkataan Ryana Zhang sekali lagi. Pemuda itu lalu menoleh ke arah Luo Mian dan berseru, "Luo Geee! Apakah kau akan terus di sini sepanjang hari dengan berdiri mematung dan mengagumi gua ini tanpa berniat melihat yang lebih bagus lagi di dalam sana?"
Mendengar suara Chen Jia membuat Luo Mian tersadar dan segera mengalihkan pandangannya ke dalam gua. "Baiklah! Aku juga ingin melihat, ada hal menarik apa lagi di dalam sana!"
...Bersambung...