The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
PRIA BERCAPING 2



"Bahkan kalau aku mengetahuinya, aku tetap tidak akan mengatakan padamu di mana kami menyekap Zhang He. Lagi pula untuk apa kau menanyakan keberadaan si pengemis sampah yang tak bisa berkultivasi sama sekali!" Gui Leng tertawa terbahak-bahak kali ini, akan tetapi berakhir dengan jeritan panjang yang kemudian diam ... diam untuk selamanya. 


"Berani sekali kau menghinanya!" Pria bercaping membersihan pedangnya dengan kain baju lawannya dan segera menyarungkan kembali senjata tajam itu.


Pria bercaping segera berjalan mendekati Ryana Zhang yang masih tergeletak dalam keadaan lemah. "Nona, bagaimana dengan keadaanmu dan juga kawanmu itu?"


Ryana Zhang mencoba menggerakan tubuhnya yang masih terasa lemah, sesekali dia harus terbatuk dan tersengal sembari menahan rasa nyeri di dalam dada dan perutnya. Bagaimanapun juga, pemaksaan pengeluaran tenaga dalam yang dia lakukan terlalu beresiko bagi seorang kultivator pemula.


"Nona! Jangan dipaksakan!" seru pria bercaping yang segera menangkap tubuh Ryana Zhang. "Tentunya Nona masih sangat lemah!"


"Maaf, Nona. Ijinkan aku memeriksamu! Kulihat, tadi Nona melakukan sebuah pemaksaan pengeluaran suatu energi yang belum seharusnya Nona lakukan," ujar pria bercaping. "Dan itu sangat berbahaya. Beruntung sekali, tubuh Nona tidak ikut hancur karenanya."


"Jadi ... jadi Tuan tadi juga melihatnya?" Ryana Zhang bukan tidak tahu. Dia adalah penulis kisah ini, tentu saja sudah mengetahuinya.


"Ya, aku melihatnya dan kau berhasil membuatku takjub sekaligus cemas," jawab pria bercaping yang masih menyembunyikan wajah di balik cadarnya. "Nona, aku akan memeriksamu terlebih dahulu."


Ryana Zhang menganggukan kepala, bagaimanapun juga dia harus mengikuti skenario kisah ini sampai tuntas dan berakting selayaknya artis film silat yang sering dia lihat melalui layar kaca. "Silahkan!"


"Maaf!" Pria itu memegang tangan Ryana Zhang untuk memeriksa denyut nadinya, begitu pula kepada Chen Jia.


Pemuda bercaping berkata dalam hati. "Mereka terluka cukup parah! Gadis ini mengalami luka dalam akibat tubuhnya tidak mampu menahan hentakan kekuatannya sendiri, sedangkan kawannya terkena tusukan yang bisa saja merengut nyawanya kapan saja!" 


Pria itu meletakan kembali tangan Chen Jia dan segera mengambil sesuatu dari dalam tas kulit dombanya. "Nona, kau minumlah pil pemulih luka dalam ini. Itu akan membuatmu sedikit lebih baik." 


Ryana Zhang melirik ke arah Chen Jia seperti ingi memberi isyarat, agar pil itu diberikan saja kepada pemuda berambut putih itu. Pria bercaping tersenyum di balik cadarnya. Sepertinya, dia sudah tahu akan kerisauan gadis ini. 


"Nona, jangan khawatir! Dia akan kuberi obat yang lain, karena luka kalian tidak sama. Maka, obatnya tentu berbeda pula," ucap pria bercaping dengan nada lemah lembut yang terdengar sangat merdu di telinga Ryana Zhang. "Mari kubantu minum, Nona!" 


Pria bercaping memapah Ryana Zhang yang meski dalam keadaan lemah, akan tetapi masih bisa berteriak dalam hati. "Ya Tuhaaaan! Beginikah rasanya diperlakukan dengan sangat baik oleh karakter protagonist dalam novel sendiri? Selain tampan dan sempurna, dia juga sangat perhatian. Aaaaah! Nikmat maa lagi yang kau dustakan, Ryana!" 


"Hati-hati, Nona! Obat ini akan berakibat samping sedikit panas, aka tetapi itu tidak akan lama. Nona minumlah yang banyak untuk meredakannya." Pria bercaping mengambil sebutir pil berwarna putih bersih bagaikan bola salju sebesar telur burung puyuh dari tempat penyimpanan obat dan sekantung air bersih yang dia bawa sebagai bekal perjalanan. Semua benda itu diberikan kepada author yang sedang merasakan sedikit salah tingkah kepada karakter hasil dari angan-angannya. 


Namun, saat setelah bertemu secara langsung dengan jenderal kebanggaan Negeri Zhu. Tetap saja, sang author malang ini masih belum bisa melihat setampan apakah wajah dari karakter protagonist yang dia ceritakan dalam novelnya sebagai pria dingin, angkuh dan tak menyukai wanita. Sungguh, Ryana Zhang baru menyadari akan kebodohannya sendiri. 


"Te-te-terima ka ... terima kasih, Tuan Jenderal Luo!" ucap Ryana Zhang bagai tanpa sadar.


"Nona, tahu namaku?" Pria bercaping yang hendak beralih mendekati tubuh Chen Jia menjadi tertegun, hingga dia menghentikan kegiatannya untuk sejenak


"Oooh, maaf!" Ryana Zhang menjadi gelagapan sendiri, dalam hati dia mengutuki dirinya sendiri. "Bodoh! Dasar bodoh! Seharusnya kau ini sedikit berbasa basi agar seolah kau belum mengenalnyaaaa!" 


"Nona ... kau tidak apa-apa, kan?" Pria bercaping khawatir kalau gadis ini sedang mulai mengalami akibat samping dari obat yang baru saja ditelan oleh Ryana Zhang. Di matanya, tingkah gadis ini terlihat berbeda dari gadis kebanyakan. "Sebaiknya Anda beristirahat saja. Nona harus tenang agar tubuh Nona secepatnya pulih."


"Tidak! Tidak ada apa-apa!" Ryana Zhang benar-benar merasa bingung pada dirinya sendiri. "Maaf, tentu saja banyak orang yang telah mengenalmu. Dan aku juga pernah melihatmu lewat di jalanan yang menuju ke Desa Pengemis." 


Wajah Ryana Zhang mendadak menjadi murung. Gadis itu kembali terbayang pada malam pembantaian yang telah menewaskan sebagian penduduk Desa Pengemis. Ryana Zhang berbisik setengah tak terdengar. "Aku telah gagal!"


"Gagal?" Pria bercaping tertegun dan hatinya memang ikut merasa sedih, akan tetapi dia tetap berusaha untuk tenang sembari menaburkan serbuk obat berwarna putih pada luka tusuk yang diderita oleh Chen Jia. Pria bercaping denngan sangat hati-hati membalut luka itu dengan selembar kain bersih.


"Maaf, Nona. Jadi, kalian berasal dari desa itu?" tanya pria bercaping setelah memasukan beberapa butir pil ke dalam mulut Chen Jia. "Nona adalah penduduk desa itu?" 


"Aku memang berasal dari desa itu, tetapi dia tidak. Dia adalah pendatang dari sebuah negeri yang sangat jauh," sahut Ryana Zhang yang tak mungkin memberitahukan kepada jenderal penolongnya tentang asal usul Chen Jia. "Oh ya, Tuan ... terima kasih atas pertolongan Anda kepada kami. Tanpa kehadiran Anda, mungkin kami berdua sudah tidak ada lagi di alam ini." 


"Sama-sama, Nona," sahut pria bercaping. "Sudahlah, jangan dipikirkan! Ini adalah tugasku sebagai seorang prajurit kekaisaran."


"Selesai!" seru Luo Mian dengan perasaan luar biasa lega. "Sekarang, aku akan mengantarkan kalian berdua. Katakan! Ke mana aku harus mengantarkan kalian!"


Ryana Zhang bukannya menjawab, akan tetapi malah menatap Chen Jia yang sekarang keadaannya terlihat sedikit lebih baik dari sebelumnya. Tentu saja dia harus kembali ke dalam hutan bersama dengan pemuda ini.


"Jenderal Luo Mian, kawanku yang terluka ini dan aku tidak bisa meninggalkannya. Bagaimana ini?" Ryana Zhang menatap ke arah tubuh Chen Jia yang masih tak sadarkan diri.


...Bersambung...