
Detik berikutnya, Putri Zhu Ziya merentangkan sepasang tangannya sambil menarik napas dalam-dalam. Gadis itu mengumpulkan kekuatan cahaya alam kultivasi dalam lautan jiwa yang ada di ingatannya dan Ryana Zhang. Sinar putih yang semula menyebar bersama kabut tipis pun, segera berkumpul secara perlahan di atas telapak tangan Putri Zhu Ziya membentuk gumpalan berpijaran.
"Ini adalah cahaya yang menarikmu hingga sampai ke mari melalui pintu masuk alam kultivasi." Putri Zhu Ziya memberi penjelasan tentang gumpalan cahaya putih yang ada di tangannya. "Dan dengan cahaya alam kultivasi ini juga, aku akan mengembalikanmu ke dunia yang tidak bisa kami datangi ... kecuali oleh suatu takdir."
"Cahaya alam kultivasi ... jadi ini, penampakan sinar ajaib yang bisa mengubah seorang kultivator menjadi abadi. Tetapi, ternyata kegunaannya bukan hanya itu saja," gumam Ryana Zhang. "Cahaya ini juga bisa menarik dan mengembalikan roh seseorang dari tempat yang satu ke tempat lainnya."
"Tidak buruk juga, hmmm."
"Setelah ini berhasil membawamu kembali. Kamu hanya perlu melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan!" seru Putri Zhu Ziya sembari mengarahkan cahaya putih berpijaran ke tubuh Ryana Zhang.
Cahaya putih secara perlahan naik ke udara, melayang-layang seperti sedang mencari sesuatu. Sinar serupa bola tersebut seperti tertarik oleh daya magnet yang cukup kuat, sehingga dengan cepat melesat menuju ke bayangan roh Ryana Zhang. Keduanya bertemu lalu menyatu.
Roh Ryana Zhang bisa merasakan secara jelas kehangatan bias cahaya terang yang berpijaran dan membungkus tubuh semunya. Tatapan sayu sang author tampak dipenuhi oleh kesedihan. Untuk beberapa lama, penglihatan Ryana Zhang saling beradu pandang dengan sepasang mata cantik milik Putri Zhu Ziya.
"Zhu Ziya, aku titipkan Jia'er padamu. Tolong, kamu jagalah dia dengan baik!" ujar Ryana Zhang sebelum tubuhnya semakin membias dan menjadi gulungan cahaya putih yang kian mengecil hingga menjadi hanya sebesar bola kelereng.
Putri Zhu Ziya segera meraih cahaya tersebut dan menempatkannya di atas telapak tangan. "Pergilah kembali ke duniamu. Percayalah! Aku akan menjaga Jia'er. Dan setelah misi kami selesai, aku pasti akan mengembalikan dia ke dunia asal kalian."
Mulut Putri Zhu Ziya tampak berkomat-kamit seperti membaca sekalimat mantra perpindahan roh dengan ucapan-ucapan yang tidak begitu jelas. Gadis itu lalu meniup sebanyak tiga kali cahaya roh Ryana Zhang dan menerbangkannya ke langit tinggi.
"Selamat jalan, Ryana!"
Sinar putih jelmaan roh Ryana Zhang melesat dan membumbung tinggi ke udara bagaikan roket, untuk kemudian menghilang di ketinggian langit. Sinar itu melakukan perjalanan yang teramat jauh bagai melintasi berpuluh alam, ratusan jaman dan milyaran waktu. Cahaya roh tersebut kemudian sampai ke alam yang memiliki sumber kehidupan paling sempurna bernama Planet Bumi. Dia seperti terus berkeliling bagai mencari tubuh aslinya.
"Bukankah aku tadi seperti melihat tubuh asliku terbaring di dalam kamar sebuah rumah sakit?" Roh Ryana Zhang seperti berpikir. "Aiyaaa! Salahku sendiri, kenapa aku tidak bertanya tentang di mana tubuhku dirawat!"
Roh Ryana Zhang akhirnya memutuskan untuk kembali saja ke ruman tinggal sang orang tua kandung untuk mencari tahu di mana tubuh aslinya ditempatkan. Roh Ryana Zhang tidak perlu repot-repot mencari kendaraan apa pun untuk bisa segera sampai ke sana. Secara otomatis pula, dia bisa ber-teleportasi dengan tanpa kesulitan sama sekali.
Namun alangkah terkejutnya gadis itu, saat melihat ada banyak sekali orang tampak sedang menangis di sebuah ruangan besar milik orang tuanya. Mereka terlihat sedang berduka dan menangisi sesuatu dan yang lebih mengejutkan Ryana Zhang adalah dengan penampakkan kain putih yang diikatkan pada setiap kepala anggota keluarga.
"Ada apa ini?" Ryana Zhang berteriak dengan keras, tetapi tentu saja tidak ada satu orang pun yang dapat mendengar suaranya. "Siapa yang meninggal di antara keluargaku?"
Roh Ryana Zhang melihat dengan jelas suasana rumahnya sudah sangat ramai dengan datangnya banyak orang dengan pakaian berduka lengkap dengan kacamata hitam. Sebagian dari mereka terdiri dari para anak muda laki-laki dan perempua, sedangkan yang lainnya adalah para handai taulan dari keluarga ayah dan ibu Ryana Zhang.
"Banyak sekali orang yang tidak aku kenal. Siapa mereka?" Roh Ryana Zhang meneliti satu demi satu orang-orang yang tampak asing baginya sambil mencoba mendengar pembicaraan mereka.
"Benar sekali, bahkan kabarnya dia juga belum memiliki seorang pacar pun."
"Aaahh, sayang sekali!" celetuk pria yang lain.
"Apa yang mereka bicarakan?" Ryana Zhang menjadi semakin heran dengan keadaan suasana rumahnya yang menjadi seperti ajang perlombaan isak tangis. "Mengapa suasana rumah ini dipenuhi oleh orang-orang yang seperti sedang berkabung?
"Barkabung?" Roh Ryana Zhang merasa kaget. "Siapa yang meninggal?"
"Dari yang aku dengar, dia sedang dekat dengan seorang pria muda tampan yang juga memilili kegemaran yang sama."
"Oh, siapa pria muda yang sangat beruntung itu?" bertanya pria berkacamata dengan rasa penasaran yang cukup kuat.
"Lihat pria yang sedang menangis di dekat jendela itu!" Salah seorang wanita yang sejak tadi menyimak pembicaraan para kaum pria lalu menunjuk ke suatu tempat. "Itu dia teman dekatnya!"
Serentak semua orang menoleh ke arah dua pria tampan yang salah satunya sedang menangis penuh kesedihan. Secara otomatis pula, roh Ryana Zhang juga ikut menoleh dan melihat seseorang yang sangat dia kenal.
"Xueyin? Itu ... Qiu Xueyin?
Tanpa pikir panjang lagi, roh Ryana Zhang berpindah mendekati Qiu Xueyin yang sedang menangis sesenggukan dengan ditemani oleh seorang pemuda tampan berambut ikal. Dari sekilas wajahnya, pria itu terlihat sangat mirip dengan Chen Jia. Roh Ryana Zhang bergerak mendekati sahabatnya yang sedang sangat terpukul.
"Xueyin ... Xueyin!" Ryana Zhang mencoba menyentuh bahu Qiu Xueyin yang tengah duduk sembari menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah. "Qiu Xueyin, tidak bisakah kamu mendengarkan aku?"
Tentu saja orang yang dipanggil oleh Ryana Zhang tidak mendengar suara apa pun. Pemuda itu malah semakin meratap dalam kesedihan yang mendalam.
"Ry! Baru saja aku hendak menjengukmu dan mengabarkan padamu tentang karyamu yang baru saja mendapatkan reward kontrak, tetapi mengapa harus ada kejadian ini?" Qiu Xueyin terguguk dalam tangisnya. "Untuk apa semua itu aku lanjutkan? Jika kamu saja tidak bisa ikut menikmati kerja keras kita?"
"Xueyin, aku masih di sini bersamamu. Aku kembali untuk memperbaiki novelku yang ternyata sekarang dijalankan olehmu." Ryana Zhang akhirnya mengetahui, siapa sosok di balik alur kisah 'The Realm Of Cultivation' yang dia jalani di alam kultivasi.
"Xueyin, tolong dengarkanlah aku! Ini aku, Ryana sahabatmu. Aku sudah kembali dan kita akan bisa bemain lagi seperti dulu." Ryana Zhang berusaha keras agar sahabatnya itu mendengar suaranya, meskipun Qiu Xueyin tetap tidak mendengar semua seruan gadis itu.
"Bersabarlah, Xueyin!"
...Bersambung...