The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
KESEMPURNAAN SEMU



"Ampuni hamba, Yang Mulia! Hamba berjanji secepatnya akan membawa pemilik segel phoenix itu ke hadapan Yang Mulia!" Zhou Weiyang kembali bangkit dan berlutut di hadapan pria berjubah kelam. Bibirnya


"Baiklah. Aku tunggu janjimu! Dan kalau kau mengingkarinya, maka bukan hanya Li Jiao yang akan kuambil kembali, tetapi seluruh keluargamu pun akan ikut menanggung akibatnya!" Seusai berkata demikian, sosok itu segera menghilang dari hadapan Zhou Weiyang.


"Hamba mengerti, Yang Mulia!"


Zhou Weiyang kembali mendesah dalam keresahan hati dan perasaannya saat mengingat apa yang menjadi bebannya. Perjanjian antara dia dengan Klan Iblis Merah telah begitu mengikatnya dan membuat lelaki itu tak berdaya. Jika bukan karena tekanan tersebut, tentu dia tidak akan berbuat sejauh ini.


"Li Jiao. Mencintaimu memanglah kesalahanku, tetapi aku juga tidak bisa menempatkan keluargaku dalam bahaya. Bagaimanapun juga, aku mencintai anakku dan juga harus melindungi wanita yang telah melahirkannya." Zhou Weiyang berucap dalam hati. "Jika aku tidak bisa menyeret anak itu, maka yang akan menjadi korban adalah mereka."


Secara tanpa sadar, Zhou Weiyang menatap ke arah wanita berbusana hanfu hijau yang masih asyik menyulam. Wajah Wen Su juga tak kalah memikat jika dibandingkan dengan kecantikan Selir Li. Zhou Weiyang sendiri sebenarnya juga merasa menyukai sang istri yang selalu dia abaikan dan tak pernah disentuhnya sama sekali sejak mereka melakukan hubungan pada malam pertama pernikahannya.


Meskipun Zhou Weiyang saat itu sedang dalam antara setengah sadar akibat pengaruh arak, tetapi dalam hati dia sungguh merasa bahagia saat mendapati dia berhasil memecahkan cawan madu merah milik wanita yang dia nikahi dengan terpaksa. Meskipun demikian, dia tetap menghormati Wen Su yang merupakan seorang putri dari Kekaisaran Wen.


Zhou Weiyang masih asyik memperhatikan Wen Su dan menikmati kecantikan wajahnya, jelas sekali wanita itu memiliki sikap lembut, penyabar dan tidak pernah mengeluh. Walaupun Zhou Weiyang suaminya hanya akan bertegur sapa atau berbicara dengan Wen Su pada saat di hadapan putri mereka.


"Ayaaaaah! Ibuuuuu!" Sebuah teriakan membuat kedua orang yang saling berjauhan itu pun, menjadi terkejut dan segera menoleh ke arah datangnya suara.


"Yunyang?" Wen Su meletakan bidangan sulam setelah mengamankan jarumnya. "Ada apa dengannya sampai dia berteriak-teriak begitu?"


Wen Su menggelengkan kepala hingga beberapa kali dan segera bangkit untuk menyambut si pemilik suara, sedangkan Zhou Weiyang berjalan mendekati istrinya.


Pria itu tersenyum seraya menyapa, "Furen."


"Fuma," sahut Wen Su dengan sikap hormat. Bagaimanapun juga, mereka harus berakting di hadapan putri mereka layaknya sepasang suami istri yang saling menyayangi.


Zhou Weiyang lalu memberikan peony putih yang sedang dipegangnya kepada Wen Su. Hal itu membuat seorang gadis cantik yang masih mengenakan pakaian jenderal, mau tak mau tersenyum. "Ayah! Ibu!"


Zhou Yunyang berlarian mendekati kedua orang tuanya, lalu memperhatikan bunga di tangan sang ibu dan berkata, "Oooh, jadi Ayah jarang menemuiku sekarang ini karena sedang gemar merayu wanita paling cantik di Kekaisara Zhu ini?"


Zhou Weiyang dan Wen Su saling tersenyum bagaikan tersipu malu, meskipun dalam hati Wen Su terasa sangat sakit melihat orang yang menjadi suaminya tersenyum kepadanya. Ya! Hati siapa yang tidak akan sakit saat harus merelakan jiwa raganya dimiliki seseorang yang telah membunuh ayah dan ibunya. Kepura-puraannya ini terlalu sempurna dia lakukan demi putri satu-satunya ini.


Zhou Weiyang tersenyum manis kepada sang putri, lelaki itu lalu menyentil pucuk hidung Zhou Yunyang dengan ujung jari telunjuknya dan berkata, "Tentu saja itu harus ayah lakukan agar wanita tercantik di Negeri Zhu tidak akan pernah meninggalkan ayahmu ini."


"Dasar kau ini pembohong, Weiyang!" Wen Su berteriak dalam hati dengan persaan kesal. "Kalau bukan demi putri kita. Aku pasti sudah membunuh diriku sejak dulu!"


Zhou Weiyang tentu saja akan mengikuti kedua wanita itu dari belakang tanpa harus diminta. Ketiganya lalu duduk berhadapan dengan sebuah meja kecil sebagai penyekat berhiaskan beberapa kue camilan dan buah-buahan segar, tentu saja seperangkat tempat minum teh juga tersedia di sana.


Wen Su dengan tanpa disuruh segera menata tiga buah cawan porselen untuk dibagikan masing-masing satu pada setiap orang. Gerakannya begitu pelan, gemulai dan hal itu membuat Zhou Weiyang tanpa sadar terus memperhatikannya. Kulit punggung telapak tangan wanita itu terlihat lembut menggoda, dipadu dengan wajah cantik berbentuk bulat telur yang tetap menyunggingkan senyum di bibir ranumnya.


Senyum itu akan ia kembangkan hanya demi menutupi masalah yang sebenarnya di hadapan Zhou Yunyang putri semata wayang milik mereka. Zhou Weiyang sendiri juga melakukan hal serupa. Dia akan terus menunjukan sikap sebagai suami terbaik dan paling sempurna. Kesempurnaan semu, tepatnya.


Pemandangan itu membuat Zhou Weiyang diam-diam cukup terpana hingga menelan ludah secara diam-diam. Dalam hati pria itu mengakui jikalau dia pun terkadang cukup menyesal karena telah dengan sengaja mengabaikan wanita secantik Wen Su.


"Lihatlah! Kalau mereka sedang bersama, maka aku seperti lalat pengganggu saja!" Zhou Yunyang berucap dalam hati.


Zhou Yunyang menopang dagu dengan salah satu tangan yang bertumpu di atas meja pun, menatap kedua orang tuanya secara bergantian, hingga timbul lagi niat menggoda. "Sepertinya, hari ini terlalu terang hingga sampai mata ini terasa sakit karena silau. Dan rupanya, setelah berhadapan dengan rembulan, maka bintang di sekitar langit pun sama sekali tidak terlihat."


Mendengar suara putrinya membuat Zhou Weiyang tersadar, lalu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kegugupan jelas terbayang di wajah tampan nan cantiknya. Hal itu membuat Zhou Yunyang berkata dalam hati. "Alangkah beruntungnya ibuku ini. Dia memiliki ayahku yang sangat mencintainya, hingga ayah pun bagai tidak ingin mengalihkan pandangan matanya barang sekejap saja dari ibuku."


Zhou Yunyang teringat kembali kepada Jenderal Luo Mian yang sangat dia kagumi. "Kelak, aku juga ingin diperlakukan dengan sangat baik olehnya. Seperti ayah memperlakukan ibuku."


"Kau ini, selalu saja menggoda ayah dan ibumu. Katakan! Mengapa kau masih memakai baju ini saat menemui kami?" Wen Su bertanya seraya menuangkan seduhan teh putih dari Hangzhou dengan sangat hati-hati.


"Benar sekali. Ayah jadi bingung, kau ini menghadap ayah sebagai putri ayah atau sebagai jenderal muda Negeri Zhu?" Zhou Weiyang akhirnya menemukan sesuatu yang tepat untuk dia jadikan topik pembicaraan.


Zhou Yunyang tidak segera menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kedua orang tuanya. Gadis itu malah asyik sendiri membayangkan dirinya sedang bersama Luo Mian. Hal itu membuat Wen Su dan Zhou Weiyang saling berpandangan satu sama lain.


"Yunyang." Wen Su memanggil dengan suara lembut namun tak juga ada sahutan. "Yunyang anakku, ada apa?"


"Yunyaaang!" Zhou Weiyang memanggilnya dengan suara cukup keras hingga yang dipanggil menjadi tersentak.


"Luo Ge!" seru Zhou Yunyang tanpa sadar.


"Luo Ge?" tanya Zhou Weiyang dan Wen Su secara bersamaan. Kedua orang tua gadis belia itu kembali berpandangan, sedangkan Zhou Yunyang pun menjadi terkejut karenanya.


"Eeehh, maksudku! Maksudku ...."


...Bersambung...