
"Aaa!" Sebuah pekikan kecil tertahan dari mulut Chen Jia, saat ujung sebilah tombak menusuk pinggang kiri bagian belakangnya. Darah seketika mengalir deras dari luka pemuda itu. Pandangannya kosong, samar!
"Matilah kau, bocah bodoh!" seru bandit yang berhasil mengenai pemuda itu dan segera disusul gelak tawa penuh kepuasan dari para Bandit Asura.
Wajah Chen Jia seketika berubah bagai sepucat kapas, darah kental pun mengalir dari dalam mulut dan merembes melalui sudut bibirnya yang terlihat membiru.
"Jia'er!" Ryana Zhang bukan saja merasa sangat terkejut, dia juga heran dalam hati hingga menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Ini tidak kutulis dalam novelku! Ini sungguh tidak adaaaa!"
"Tidak ada scene ini dalam novelku!" teriak Ryana Zhang dengan mata terbelalak lebar dan mulut terbuka.
"Jia'er! Jia'eeeeer!" Ryana Zhang menjerit sejadi-jadinya melihat Chen Jia terhuyung-huyung saat disentakan dengan sangat keras hingga tombak si penusuk terlepas dari tubuh pemuda itu.
"Ji-Jie ... Jie, maafkan aku!" Chen Jia berkata setengah berbisik sembari melambaikan tangannya ke arah Ryana Zhang. Gadis itu masih terpaku dan merasa sangat tak percaya dengan pemandangan kejam yang terpampang nyata di hadapannya.
"Jia'eeeer!" Ryana Zhang berteriak lepas sambil menangkap tubuh Chen Jia dan memeluknya dengan erat setelah mereka jatuh di atas tanah secara bersamaan. "Jia'er! Jia'er bertahanlah!"
"Ma-maafkan ... maafkan aku, Jiee!" bisik Chen Jia yang mulai merasa kehilangan sebagian kesadarannya. Pemuda itu serasa melayang dan mengambang di udara.
"Jia'er, bertahanlaah! Jangan menakutiku!" Ryana Zhang berucap sambil mencucurkan air mata yang tak bisa lagi dibendungnya.
"Jia'er! Jangan pejamkan matamu! Kau pasti kuat, pasti kuaaaat!" Gadis itu terus berusaha menjaga kesadaran Chen Jia yang matanya kian meredup.
"Jie, ja-jangan khawa-tir! A-aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang telah aku perbuat tadi," ucap Chen Jia dengan bibir gemetar dan suara sangat lemah. "Larilah, Jie! Tinggalkan aku, se-se ... selamatkan dirimu, Jie!"
Napas pemuda itu tersengal-sengal akibat dari menahan kesakitan yang luar biasa dan sesekali terbatuk akibat rasa sesak yang memenuhi dadanya. Ruang udara dalam paru-parunya terasa menyempit hingga tatapannya semakin sayu akibat kekurangan oksigen murni dalam tubuhnya.
"Jia'er, aku tak akan meninggalkanmu! Kalau kau sampai mati di sini, maka aku akan menghabisi mereka semuaaa!" seru Ryana Zhang dengan mata mulai merah dan tubuhnya bergetar.
"Jie Jie ... la-la ... ri-lah!" Kepala Chen Jia terkulai dalam pangkuan Ryana Zhang idolanya seusai berucap demikian. Pemuda itu telah benar-benar tak sadarkan diri.
Sang ketua bandit berjalan dengan langkah juara saat mendekati Ryana Zhang dan berjongkok di hadapan gadis itu. Seringaian sinis penuh kelicikan tersungging di bibir tebalnya. Dialah tadi yang menyarangkan mata tombak pendek miliknya ke dalam tubuh Chen Jia.
"Anak manis, kau lihatlah sendiri! Kekasihmu itu sebentar lagi akan mati secara mengenaskan!" ucap si penusuk disertai gelak tawa. Si penusuk dengan tanpa jijik menjilat darah Chen Jia yang melumuri mata tombaknya.
"Menyerahlah, bocah cantik!" teriak kawan si penusuk. "Setidaknya kau akan mendapatkan kehormatan dengan melayani dan memuaskan hasrat kami semua, sebelum kau menyusul kekasihmu itu!"
Ketua bandit dengan nakal menyentuh dagu Ryana Zhang dengan ujung jari telunjuknya. "Meski kau tampak dekil dan bau, tapi tentunya masih bisa membuat rasa haus kami akan kenikmatan perempuan sedikit terlampiaskan."
"Lancang!" Ryana Zhang membentak seraya menepis secara kasar tangan liar si ketua bandit dengan penuh kemarahan. "Lebih baik mati bersimbah darah, daripada harus menjadi budak pemuas kebejatan otak kaliaan!"
"Memangnya kau siapa? Beraninya menolak dan berlaku kasar kepada ketua Bandit Asura ini!" Ketua bandit menjambak erat-erat rambut gadis di hadapannya. "Kau tak lebih dari seorang budak hina yang bahkan tidak pantas untuk mendapatkan hidup layaknya manusia!"
"Kalianlah yang tak layak berada di atas bumi ini! Kalian semua makhluk biadab melebihi binatang!" bentak Ryana Zhang balas menghina.
"Laknat! Kau benar-benar gadis laknat!" Pria itu kemudian menyentakan dengan sangat kasar kepala Ryana Zhang hingga gadis itu terjengkang ke belakang dan jatuh teduduk.
Untung saja dia tetap bisa mempertahankan kepala Chen Jia dalam pelukannya. Kali ini, seorang author sungguh bernasib sial. Dia dihina dan dilecehkan oleh para karakter jahat dalam alur kisah novelnya sendiri. Sebuah cerita paling menyedihkan yang patut untuk ditertawakan, bahkan Ryana Zhang pun sangat ingin melepaskan kegeliannya karena dia telah menuliskan kisah garis takdirnya sendiri dalam tubuh Zhang Rui.
Ryana Zhang merasa semakin geram, gadis itu meletakan kepala Chen Jia di atas tanah dengan sangat hati-hati. Amarah telah membuatnya merasa harus berani melawan komplotan bandit yang juga pernah ikut menghancurkan Desa Pengemis. Dendamnya kini bertambah dengan keadaan Chen Jia yang masih pingsan dengan tubuh bersimbah darah.
"Basis kultivasiku masih kurang baik, bahkan belum menembus tahap kebangkitan awal tahap tiga. Tapi kalau diam saja, itu akan membuat kami bisa mati terbunuh di sini dengan sia-sia," bisik Ryana Zhang dalam hati. "Meskipun baru tahap dua, tidak ada salahnya aku mencobanya!"
Ryana Zhang berdiri dan sengaja berjalan menjauh dari tubuh Chen Jia sambil mengatur jalan napas serta membangkitkan kekuatannya yang belum seberapa. Dia telah memiliki tekad untuk bertarung sampai titik darah penghabisan daripada hidup terhina.
Gadis itu menyatukan kedua telapak tangannya sambil berusaha memusatkan pikiran serta jiwa raganya yang sudah mulai melakukan penyatuan kekuatan jiwa dengan sebuah segel tanda lahir yang tertanam dalam tubuhnya.
Tak seberapa lama kemudian, seberkas kecil cahaya merah berbentuk burung phoenix muncul di kening gadis itu. Sekujur tubuhnnya pun mulai membiaskan cahaya putih yang semakin lama menjadi teramat sangat terang. Hal itu membuat para bandit mundur beberapa langkah secara tanpa sadar.
"Ranah Kebangkitan Awal!" seru kepala bandit.
"Lihat! Apa yang akan dia lakukan?" bertanya bandit bertubuh cebol sambil bersiap dengan sebuah gada berukuran pendek pada gagangnya dan memiliki kepala gada berduri yang tiga kali lebih besar dari buah kelapa.
"Jangan-jangan ini adalah anak yang kami cari selama ini!" ucap ketua bandit dalam hatinya. "Cahaya merah itu ... bukankah sangat mirip dengan tanda-tanda yang pernah disebutkan oleh pimpinan kami?"
Para bandit memang cukup tercengang dengan gadis yang mereka anggap hanyalah seorang bocah lemah. Gadis itu ternyata memiliki keberanian serta kekuatan tersembunyi yang mungkin bukanlah tandingannya. Namun, nasi telah menjadi bubur yang mau tak mau harus mereka telan saat itu juga. Mereka harus menghadapi seorang bocah dengan aura kekuatan yang terbilang langka.
"Majulah kalian semua!"
...Bersambung...