The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
KEBAHAGIAAN PALSU



"Tapi, Ayah! Bukankah ada orang lain yang bisa melakukannya?" Zhou Yunyang tetap mencoba agar sang ayah bersedia membuat Luo Mian bisa bertukar posisi.


"Memang ada, tetapi Luo Mian sendiri yang menolak tawaran pertukaran itu," ujar Zhou Weiyang.


Zhou Yunyang terkejut bukan main. "Apa? Luo Ge yang menolaknya?"


"Bukan hanya menolak. Tetapi dia juga berniat mengundurkan diri dari posisinya sekarang ini jika ayah menukar posisinya." Zhou Weiyang akhirnya mengemukakan alasan mengapa Luo Mian tidak bertugas di lingkup istana Kekaisaran Zhu. "Dan dipihak lain, ayahmu ini tidak ingin kehilangan seorang jenderal berbakat seperti dia."


Zhou Yunyang berpikir. "Dia bahkan berani mengancam dengan hal semacam itu. Aneh ...."


"Mungkin dia begitu menyukai alam bebas daripada tinggal di istana," sahut Wen Su sembari menatap putrinya. Kepura-puraannya terlalu sempurna saat berhadapan dengan putri semata wayangnya ini.


"Sudahlah, Yunyang. Meskipun kalian tidak saling berdekatan, bukankah kau masih bisa bertemu dengannya saat Jenderal Luo kembali untuk menghadiri sidang istana?" tanya Wen Su dengan penuh kelembutan.


Zhou Weiyang kembali meminta secawan teh pada istrinya. "Ibumu benar, Yunyang. Ayah harap kamu tidak mempersoalkan lagi masalah pekerjaannya."


"Tapi tetap saja aku ingin bertemu dengannya setiap hari," ujar Zhou Yunyang dengan wajah cemberut. "Bukankah Ayah dan Ibu juga tidak ingin berpisah terlalu lama?"


"Sedangkan aku? Luo Ge sudah satu bulan tidak kembali ke mari. Bahkan ibunya saja katanya tidak menerima kabar tentang anaknya itu. Apakah ini wajar, Ayah?" bertanya Zhou Yunyang sambil menatap sang ayah.


Zhou Weiyang mendesahkan napas hingga beberapa kali. Tampak sekali dia menjadi sedikit merasa kesulitan untuk menjawab pertanyaan yang terlontar dari putri manjanya ini. Di lain pihak dia tidak ingin putrinya tahu kalau apa yang dilakukan dengan Wen Su hanyalah sebuah sandiwara semata. Namun jika ingin jujur, sesungguhnya dirinya pun tidak ingin terus menahan diri.


"Hubunganku dengan Li Jiao dan Klan Iblis Merah benar-benar menyiksa hidupku. Sebelum dia lahir sampai sekarang aku telah menyia-nyiakan mutiara yang telah kumiliki, sementara itu aku masih terjerat dalam godaan Li'er yang memang cinta pertamaku." Zhou Weiyang berkata-kata dalam hati sembari tanpa sadar menempelkan cawan teh di ujung bibir tanpa ingin berniat untuk menyesap isinya. "Benar-benar suatu dilema yang berat kali ini."


Wen Su sangat memahami kesulitan suaminya, wanita anggun itulah yang menjawab pertanyaan Zhou Yunyang. "Tentu saja itu benar. Jika tidak, bagaimana mungkin gadis ini hadir ke dunia untuk mewarnai hidup kami berdua?"


Zhou Weiyang merasakan hatinya bagai sedang tertohok dengan begitu keras oleh ujung sebilah pisau tumpul tak berketajaman sama sekali. Nyeri, sakit, pilu menghujam sampai ke dasar sanubari terdalam. Meskipun tanpa jejak goresan atau darah yang mengalir dari luka tak kasat mata, akan tetapi kesakitan sungguh terasa dan bagai sangat nyata. Semua ini memang kebahagiaan palsu belaka.


Lelaki anggun, angkuh dan berparas tampan itu hanya bisa diam bagai tak mampu berucap lagi. Jelas sekali perkataan Wen Su adalah sebuah sindiran tajam untuk dirinya. Dia memang tidak pernah memberikan hak yang seharusnya menjadi milik Wen Su, tetapi mengapa hal itu justru dia berikan kepada istri orang lain?


"Zhou Weiyaaaaang! Apa yang sedang kau pikirkaaaan?" Zhou Weiyang merutuk dirinya sendiri dalam hati. "Kau memang lelaki tak berpersaan dan sangat kejam pada wanita tak bersalah ini!"


Zhou Weiyang tidak ingin terus larut dalam kepedihan hatinya, dia pun memiliki alasan untuk mengalihkan pembicaraan. Kekakuan dan ketidaknyamanan pertemuan tersebut harus segera disirnakan.


"Oh ya, Yunyang. Ada gerangan apakah yang membuatmu datang dengan masih mengenakan pakaian seperti ini?" bertanya Zhou Weiyang dengan kelemahlembutan yang sangat terjaga. Bagi pria berwajah tampan tersebut, dia harus berlaku sebagai sosok ayah yang paling sempurna di mata putri semata wayangnya ini.


Zhou Yunyang pun segera tersadar akan niat awal mendatangi kedua orang tuanya dengan tergesa-gesa hingga tidak sempat berganti pakaian.


"Oh! Hampir saja aku lupa dengan niatku datang dari Divisi Singa Liar Gunung!" Zhou Yunyang berseru dalam hati. "Apakah ayah dan ibu akan mengabulkan permintaanku kali ini"


Namun, kebisuan itu tidak bisa dibiarkan terlalu lama mewarnai suasana yang semestinya hangat bagi Zhou Yunyang. Terlebih lagi hari kian beranjak menuju siang nan terik dan jenderal wanita satu-satunya di Kekaisaran Zhu harus segera bertidak cepat guna melakukan pencarian atas keberadaa Luo Mian. Gadis cantik itu tiba-tiba saja bangkit dan berlutut di hadapan kedua orang tuanya.


"Semoga kali ini ayah tidak menyulitkanku dan merelakan aku pergi mencari Luo Ge," bisik Zhou Yunyang dalam hati sembari beusaha menepis keraguan dan rasa takut pada ayahnya.


"Ayah! Ibu!" Zhou Yunyang melakukan salam gongshou.


"Yunyang! Apa yang kau lakukan?" Wen Su terkejut melihat anak gadis kesayangannya melakukan hal yang mereka tahu, jikalau Zhou Yunyang bertindak demikian, pastilah dia sedang memiliki sebuah keinginan.


"Ada apa ini?" Zhou Weiyang juga merasa terkejut dengan tingkah putrinya. Lelaki itu segera bangkit sembari mengibaskan sedikit ekor jubah hanfu sutra Yun Yan hijau kebiruan, hingga menimbulkan desiran angin yang berembus sampai ke wajah Istrinya. Sang Perdana Menteri Kiri Zhou Weiyang kemudian memapah Zhou Yunyang agar kembali berdiri seraya berucap menyuarakan kalimat penuh kelembutan. "Bangunlah, Putriku! Kita akan bicarakan semua hal tentang Jenderal Luo secara baik-baik."


"Tidak Ayah! Aku tidak akan bangun sebelum Ayah dan Ibu mengabulkan permohonanku," seru Zhou Yunyang tanpa mengubah posisi belutut sembari ber-gongshou. Gadis itu mungkin terlihat sangat gagah dan berwibawa dengan busana jenderalnya, akan tetapi sifat dan kelakuan sang jenderal wanita Negeri Zhu tetaplah seperti anak kecil yang akan selalu merengek jika sedang bersama orang tuanya.


"Baiklah, Yunyang. Kita bicarakan hal itu secara baik-baik dan kamu tidak perlu belutut seperti ini pada Ayah dan Ibu." Zhou Weiyang memaksa anak perempuannya untuk bangkiT, akan tetapi Zhou Yunyang tetap bergeming di tempatnya.


"Tapi berjanjilah bahwa Ayah akan mengabulkan permintaanku kali ini!" Zhou Yunyang mendongak ke atas hingga pandangan mata gadis itu bersatu dengan pandangan ayahnya.


Mata cantik gadis itu selalu berhasil membuat ayahnya sangat tidak kuasa untuk tidak menuruti apa pun permintaan anak gadisnya. "Baiklah. Asalkan itu membuatmu bahagia, maka apa pun akan ayahmu ini lakukan."


"Benarkah, Ayah?" bertanya gadis itu dengan keraguan dalam sorot matanya.


Zhou Weiyang tersenyum lembut sembari mengangguk. "Mmhh."


"Terima kasih, Ayah!" Zhou Yunyang akhirnya merasa lega, tetapi dia masih belum juga berdiri dari berlututnya.


"Ayah dan Ibu yang kucintai. Aku Zhou Yunyang yang saat ini menjabat sebagai pemimpin tertinggi dari Divisi Krisan Emas, ingin memohon suatu hal kepada Perdana Menteri Kiri Zhou Weiyang selaku perwakilan dari Yang Mulia Kaisar!" seru Zhou Yunyang dengan tegas.


"Yunyaaang! Katakan saja permintaanmu dan jangan membuat kami menjadi semakin binguuung!" Wen Su juga berseru dengan perasaan cemas tentu saja.


"Baiklah, Ibu dan Ayah. Sebenarnya ...."


...Bersambung...


Jangan lupa buat baca juga karya emak lainnya yang berjudul Kaisar Puncak Naga 😉