
"Fumaaaa!" teriakan dari bibir Wen Su terdengar sangat pilu. Wanita cantik dengan segunung kisah sedihnya itu merasa sangat keberatan dengan kepergian anak gadisnya. "Aku sudah mengira, kalau kau akan membiarkan dia pergi!"
"Furen ... maafkan aku yang telah mengijinkan anak itu pergi." Zhou Weiyang semakin mempererat dekapannya dan membiarkan Wen Su menggigit lengannya hingga wanita itu merasa puas melampiaskan amarahnya. Setelah gigitan istrinya terlepas, Zhou Weiyang membalikkan badan Wen Su dan memegang kedua bahu, akan tetapi sang istri segera menepisnya dengan rasa jijik.
Wen Su membentak, "Jangan sentuh aku! Tanganmu terlalu kotor untuk menjamah bunga bermartabat tinggi sepertiku!"
"Su-Su!"
"Di mataku kau hanyalah lalat yang hanya menyukai bau busuk dari bunga bangkai dan tidak akan pernah tertarik pada bunga yang menebarkan aroma harum sekalipun!" teriak Wen Su dengan kesedihan yang dalam.
Zhou Weiyang benar-benar bagaikan mati kutu saat ini. "Su-Su, aku ...."
Zhou Weiyang merasa terhenyak dan berpikir, jikalau dia juga tidak pantas menyentuh wanita seanggun dan semurni Wen Su. Tangannya terlalu kotor akibat terlalu sering menyentuh kemolekan tubuh wanita lain yang bergelar selir dan merupakan wanita selingkuhannya.
"Kamu benar, Su-Su dan aku tidak menyangkalnya sama sekali." Zhou Weiyang berucap dalam hati. "Aku memang seorang yang kotor dan tidak pantas untuk sebongkah berlian sepertimu!"
"Berlian itu adalah istriku sendiri yang bahkan aku tidak menyadari akan keindahannya selama ini!" Zhou Weiyang habya bisa mengakuinya dalam hati.
Wen Su kembali merasakan kepedihan tiada tara saat mengingat putrinya yang juga nekat pergi meninggalkan dia seorang diri. Betapa kesepian panjang terus terbayang dalam benak wanita yang sebenarnya adalah seorang putri kaisar itu.
"Yunyaaaaang! Mengapa kamu tinggalkan ibumu ini sendiriaaan?" Wen Su berkata-kata di sela isak tangisnya. "Ibu akan sangat kesepian di sini tanpamuuu!"
"Sepertinya dia merasa sangat terpukul atas kepergian anak itu." Zhou Weiyang membatin dengan perasaan bersalah.
"Aku benci kau, Weiyaaang!" Wen Su berteriak sembari melemparkan benda apa saja yang bisa ia raih ke arah suaminya. "Aku membencimu hingga ke akar hatiku yang terdalaaam!"
"Su-Suuuu! Su-Su dengarkan aku!" seru Zhou Weiyang yang menangkisi serangan demi serangan benda-benda dari istrinya yang sedang dalam keadaaan sangat emosi. "Maafkan aku, karena telah mengijinkan anak kita pergi mencarinya. Tetapi dengarlah alasanku, Su-Su!"
Wen Su menghentikan kelakuannya yang telah membuat paviliun indah dan megah itu, sudah tak lebih baik daripada sebuah kapal pecah terhantam gelombang samudra. Wajah cantik dengan kedua bola mata seteduh mendung, tak sedikit pun menampakan kebahagiaan.
"Aku tidak peduli dengan apa pun alasan yang kamu miliki itu, Weiyaaaang!" Wen Su perjalan perlahan mendekati Zhou Weiyang sambil menggenggam sebilah jepit rambut dan bersiap untuk menikam lehernya sendiri. "Aku lebih baik mati, daripada terus menanggung penderitaan di tempat ini seumur hidupku!"
"Su-Su, sadarlaaah! Jangan lakukan hal bodoh yang akan menyakiti dirimu sendiri!" Zhou Weiyang merasa panik juga akan kenekatan sang istri. "Yunyang hanya pergi untuk sementara waktu dan bukan akan meninggalkan kita selamanyaaa!"
"Aku tahu itu, Weiyang!" Wen Su membentak dengan air mata berlinangan. "Tetapi untuk menunggu kepulangannya sambil melihatmu setiap hari di depan mataku, aku sungguh tidak tahan!"
"Su-Su! Sebenci itukah kamu padaku?" Zhou Weiyang terpaksa harus mundur ke belakang beberapa langkah. Entah mengapa hatinya menjadi sedikit gentar kepada tingkah istrinya ini.
"Pergi!" Wen Su berteriak mengusir suaminya sambil menunjuk ke arah daun pintu. "Itu adalah jalan keluarnya!"
"Fureeeen!" Zhou Weiyang akhirnya nekat mendekati istrinya yang segera mundur dan berkelit dari jangkauan tangannya. Namun, pria itu nekat menangkap dan memeluknya dengan erat.
"Jangan sentuh akuuuu!" Wen Su memberontak dengan sekuat tenaga. Namun secepat kilat pula, Zhou Weiyang melayangkan pukulan teknik totokan pada jalan darah Wen Su. Wanita itu pun seketika terkulai dalam pelukan suaminya.
Zhou Weiyang lalu merebahkan kepala sang istri, tepat di depan dada bidangnya sambil berbisik, "Maafkan aku, Su-Su!"
"Pelayaaaan!" Zhou Weiyang berteriak memanggil para pelayan wanita yang tidak berani memasuki ruangan sang nyonya tanpa seijin dari majikan mereka.
"Kami datang, Yang Muliaa!" Para pelayan serentak menyahut sambil berlarian memasuki ruang paviliun milik sang nyonya.
"Aku akan membawa nyonya ke ruangan pribadiku. Kalian semua segera bereskan tempat ini!" Zhou Weiyang memberi perintah, kemudian segera pergi dari paviliun tersebut sambil menggendong tubuh Wen Su yang tidak sadarkan diri untuk dibawa ke paviliun pribadinya.
Para pelayan sejenak saling berpandangan satu sama lain dengan perasaan tidak mengerti. Namun, mereka pun segera melakukan tugasnya tanpa ingin membicarakan hal yang tidak biasa ini.
Zhou Weiyang menempatkan tubuh Wen Su di atas pembaringan yang biasa ia tiduri.
Sementara itu, Zhou Yunyang telah memacu kudanya dengan cepat menuju ke Desa Pengemis yang sudah luluh lantah satu tahun silam. Gadis itu sengaja pergi ke sana, karena dia sangat tahu jikalau Luo Mian sering mengunjungi desa miskin itu. Entah apa yang dilakukan atau dicari oleh jenderal muda itu, tak ada satu orang pun yang mengetahuinya.
"Jadi kita akan ke desa yang sudah hancur itu, Jenderal?" tanya seorang pengawal pribadi wanita Jenderal Zhou Yunyang dari Divisi Krisan Emas. Tentu saja pengawal wanita itu harus berteriak agar suaranya lebih jelas terdengar oleh atasannya.
"Ya!" Jenderal wanita berwajah sejelita rembulan kala purnama itu menjawab dengan suara keras pula. "Aku dengar dari mata-mata kita, kalau Jenderal Luo sering pergi ke sana hampir setiap bulannya!"
"Ouuhh!" Pengawal wanita itu hanya menjawab dengan singkat.
"Sudah jangan banyak bicara lagi, Qin Yi! Kita harus segera tiba di sana sebelum malam tibaaa!" Zhou Yunyang berseru sembari melecutkan cambuk kecilnya, agar kuda yang ditungganginya menjadi lebih cepat berlari.
"Siap, Jenderal!" Qin Yi pun ikut melecutkan cambuk kudanya dan mengikuti laju kuda sang pemimpin.
Pasukan kecil yang berjumlah tak lebih dari tiga puluh orang itu pun segera melesat, berpacu dan berderapan di atas jalanan berbatu. Musim kering telah menggersangkan tanah bumi, hingga laju kuda-kuda pasukan kecil Divisi Krisan Emas meninggalkan sisa-sisa debu yang berterbangan, lalu hilang di tiup embusan pelan sang bayu.
Akankah Zhou Yunyang berhasil menemukan Jenderal Luo Mian idaman hatinya?
...Bersambung...