The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
YANG TERPENJARA



"Mengapa kamu jadi sangat baik padaku? Setelah orang-orangmu menghancurkan tempatku?" Luo He merasa sangat geram kali ini.


"Itu karena aku juga memiliki sebuah maksud tertentu," sahut Zhou Weiyang tanpa memikirkan sama sekali dengan perasaan Luo He.


"Cepat katakan!" Luo He menjadi tidak begitu sabar. Sesungguhnya, dia hanya ingin teman lama yang sudah mengkhianati kaisar ini pergi secepat mungkin dari hadapannya.


"Mengapa kau ini tidak sabaran sekali? Aku sudah memimpikan kebersamaan ini sejak lama. Mencarimu ternyata sangat sulit." Zhou Weiyang justru terlihat semakin santai mencicipi satu demi satu hidangan yang tersaji. "Luo He, aku menjamumu kali ini. Apakah kau tidak curiga, kalau-kalau aku akan meracunimu?"


Luo He tidak menyahut sama sekali, pria itu mempercepat menghabiskan makanan dalam mangkuknya tanpa menyisakan sebutir pun nasi. "Aku sudah selesai. Setelah ini, kau bisa pergi dari sini!"


"Luo He, sepertinya kau memang tak ingin berlama-lama bicara denganku." Zhou Weiyang memang cukup mengerti akan kebiasaan pria ini. "Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Sekarang, kau hanya tinggal menjawab saja apa yang ingin aku tanyakan!"


"Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan padaku. Dan kau juga tahu, bahwa aku tidak akan pernah menjawab pertanyaanmu. Jadi, kuharap kau tidak menyia-nyiakan waktumu dengan bertanya padaku!" Luo He menegaskan perkataannya.


Lelaki berambut gimbal itu kemudian membanting sepasang sumpit yang sedang dipegangnya, lalu dia bangkit dan meninggalkan Zhou Weiyang yang masih sibuk menyantap makanan. Bagi pria itu, menjaga rahasia akan tetap dia lakukan sampai akhir hidupnya.


"Pergilah, Weiyang! Sekarang puaskanlah dirimu bersama dengan wanita kotor itu!" bentak Luo He dengan suara keras.


"Wanita kotor?"


Zhou Weiyang tersenyum dan ikut bangkit. Pria itu merapikan pakaiannya sembari berkata, "Tuan Menteri Kanan kesayangan Kaisar Zhu Ran. Aku sungguh selalu merasa salut dengan keteguhan hatimu. Namun, kuharap kau tidak menyalahkan dirimu sendiri, kalau suatau saat kau mendengar berita buruk tentang ...."


"Cukup!" Luo He membentak sekali lagi. "Jangan berusaha mendesak dan memaksaku lagi, Weiyaaang!"


"Baiklah, aku tidak jadi menyampaikan pertanyaanku. Silakan saja kau simpan semua rahasia itu!" Zhou Weiyang melangkah keluar dari penjara sambil tersenyum. "Kuharap kau tidak akan menyesalinya!"


Pria itu melangkah pergi dan menyeringai sinis saat melewati Luo He yang berada di balik jeruji besi. "Angsa tetaplah angsa! Meski bagus dan bisa terbang, tapi otaknya tetap saja bodoh!"


Sepeninggalan Zhou Weiyang dari penjara bawah tanah, Luo He jatuh terduduk bersandarkan jeruji besi. Dia sungguh merasa bodoh dan tidak berguna sama sekali. Pria itu menangis meratapi ketidakmampuan dalam melindungi keluarganya. Luo He berteriak, "Kalau saja saat itu kau tidak menghancurkan ilmu bela dirikuuuu!"


"Zhou Weiyaaaaang! Tunggulah saat naasmu tibaaaa!" teriak Luo He dengan menahan kegeraman yang tiada tara.


Jauh di tempat lain. Istana Kekaisaran Zhu memang sangat megah dan indah, akan tetapi tidak seperti pada saat Kaisar Zhu Ran masih bertahta. Istana yang sekarang ini terkesan suram dengan aura kegelapan. Terlebih lagi, di istana utara yang dingin dan sepi. Istana dingin ini dilindungi oleh kekuatan jimat pelindung yang tidak bisa ditembus oleh orang sembarangan. Hal itu dikarenakan, ada sesuatu yang disimpan dengan sangat baik.


Malam masih belum terlalu larut, bulan sabit dengan setia menggantungkan diri di langit tinggi demi menyinari bumi. Kerlipan ribuan bintang pun turut menemani sang dewi malam yang begitu anggun, walaupun dia belum sepenuhnya menampakan kecantikan seperti di malam bulan purnama.


Di antara rombongan kecil tersebut, terlihat seorang wanita cantik mengenakan hanfu sutra biru muda bersulam benang perak membentuk bunga bermekaran. Mereka semua berjalan dengan anggun dan teratur layaknya bangsawan tertinggi kekaisaran. Iring-iringan berlentera merah itu menuju ke salah satu ruangan yang terlihat cukup bersih.


Tentu saja, bangunan Istana Dingin ini sangat jauh lebih baik jika dibandingkan dengan penjara bawah tanah tempat Luo He ditahan. Wanita cantik nan elok beserta rombongannya terus melangkahkan kaki dengan pasti. Salah seorang dayang wanita berseragam hanfu putih tulang tampak membawa sebuah keranjang yang terbuat dari kayu berukiran.


Wanita cantik itu berhenti di depan ruangan kamar sambil menyeringai dengan sinis disertai gumaman kecil bak cemoohan. "Pria bodoh, aku datang!"


"Buka pintunya!" perintah wanita itu kepada salah seorang penjaga penjara.


"Baik, Yang Mulia Selir!" Penjaga tersebut segera membukakan pintu ruangan brsar yang sesungguhnya merupakan sebuah penjara indah untuk junjungannya.


Pintu ruangan yang besar dan tinggi itu terbuka secara perlahan, kemudian menampakan sosok pria berwajah tampan dengan sikap sedingin es. Lelaki itu seperti sedang duduk bermeditasi di atas ranjangnya yang sudah sangat lama terasa dingin.


"Yang Mulia Kaisar, suamiku," sapa Selir Li dengan suara lembut kepada seorang pria berpakaian serba putih dengan rambut yang panjang tergerai.


Demi mendengar suara yang sangat dikenalnya, pria itu membuka kedua matanya dan balik bertanya, "Untuk apa kau datang ke mari?"


Selir Li tidak langsung menjawab, wanita itu membawa keranjang kayu dan meletakannya di atas meja. Wanita itu lalu membuka tutup keranjang kayu dan mengeluarkan satu mangkuk sup manis sarang burung walet yang dicampur dengan irisan angzhao muda nan legit. Sup panas itu masih mengepulkan aroma harumnya. Selir Li dengan lemah gemulai menyodorkan mangkuk beserta sendok paruh bebek kepada pria tersebut.


"Tentu saja untuk melayani Anda, Yang Mulia," sahut Selir Li tanpa merasa berdosa kepada suaminya ini. "Silakan, Yang Mulia!"


Yang Mulia Kaisar Zhu Ran menepis sodoran mangkuk berisi sup manis sarang burung walet beserta ujung sendok di tangan Selir Li yang sudah hampir menyentuh bibirnya. Lelaki itu tidak mau disentuh oleh istri pengkhianatnya ini.


"Melayaniku? Apakah Weiyang tidak memberikan kepuasan kepadamu, sehingga kau masih menginginkannya dariku?" Yang Mulia Kaisar Zhu Ran bertanya dengan nada sinis. Dia sungguh merasa jijik melihat selirnya ini.


Li Jiao tersenyum dan menjawab, "Yang Mulia. Ini bukan masalah kepuasan, akan tetapi lebih kepada sebuah kewajiban. Bagaimanapun juga, Selir Li Jiao ini masihlah istri Anda, Yang Mulia."


"Tapi aku jijik melihatmu!" Yang Mulia Kaisar menggeserkan tubuhnya agar tidak menyentuh wanita yang sangat dibencinya ini.


"Yang Mulia, bagaimana kalau aku tetap memintanya?" bertanya Selir Li seraya meletakan mangkuk di atas meja.


"Maka tidak akan pernah aku berikan!"