The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
TELUR DI UJUNG TANDUK



"Jangan-jangan ini adalah anak yang kami cari selama ini!" ucap ketua bandit dalam hatinya. "Cahaya merah itu ... bukankah sangat mirip dengan tanda-tanda yang pernah disebutkan oleh pimpinan kami?"


Para bandit memang cukup tercengang dengan gadis yang mereka anggap hanyalah seorang bocah lemah. Gadis itu ternyata memiliki keberanian serta kekuatan tersembunyi yang mungkin bukanlah tandingannya. Namun, nasi telah menjadi bubur yang mau tak mau harus mereka telan saat itu juga. Mereka harus menghadapi seorang bocah dengan aura kekuatan yang terbilang langka.


"Majulah kalian semua!" seru Ryana Zhang dengan tatapan mata setajam belati.


Para bandit telihat gentar, terlebih lagi mereka hanyalah pesilat biasa yang tidak memiliki kemampuan mengolah tenaga dalam ataupun ilmu sihir. Mereka beraksi hanya bermodalkan kesangaran tampang, kebengisan dan kekejaman semata, akan tetapi untuk masalah budidaya ilmu yang konon bisa membuat manusia fana menjadi seorang abadi karena ketinggian ilmunya, mereka semua hanyalah angka nol.


Ryana Zhang yang berlatih kultivasi hanya bermodalkan dengan sebuah buku panduan kultivasi peninggalan dari mendiang ibunya, memang masih berada dalam tahap awal yang tentu saja masih belum layak untuk diperlihatkan, apa lagi untuk melawan manusia yang jumlahnya sangat tidak seimbang. Namun, kobaran kemarahan dan api dendam yang terlalu membara juga bisa berpotensi untuk membangkitkan kekuatan lain dalam diri seseorang.


Dahi Ryana yang bertanda gambar burung phoenix berwarna merah menyerupai sebuah rajah, sekarang menjadi pusat perhatian si ketua bandit. Dia memang ditugaskan oleh majikannya untuk mencari tahu tentang seorang anak manusia yang memiliki segel phoenix api dalam tubuhnya dan sekarang, anak itu berada tepat di hadapannya.


"Aku harus bisa menaklukan anak ini. Kurasa, inilah orang yang dicari oleh Yang Mulia selama ratusan tahun!" ucap ketua bandit dalam hati.


"Anak-anak!" seru ketua bandit kepada para anak buahnya yang mulai mundur dengan wajah sangat ketakutan. "Jangan takut padanya! Dia hanyalah seorang kultivator pemula dan baru mencapai tahap rendah yang tak perlu ditakutkan!"


"Tapi, Ketua! Dia terlihat sangat mengerikan sekaraaang!" sahut salah satu anak buahnya.


"Bodoh! Mengapa kalian jadi setakut ini kepada seorang gadis lemah seperti dia? Aku ingin dia ditangkap hidup-hidup dan kita serahkan kepada Yang Mulia!" seru ketua Bandit Asura dengan nada tajam.


Ryana Zhang sudah siap dengan kekuatan penuh yang dikuasainya pun menyerukan sebuah tantangan. "Ayo, kalian semua! Maju dan hadapi aku, Zhang Rui!"


Para bandit cukup terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. "Zhang Rui?"


"Namanya Zhang Rui?"


"Apa hubungannya dengan Zhang He yang kita sedang tawan itu?" tanya bandit berambut pendek. 


"Entahlah, mungkin mereka masih satu keluarga. Bukankah nama marganya sama-sama Zhang?" pria lain balik bertanya.


"Hei, bocah! Apa hubunganmu dengan si keparat Zhang He?" bertanya ketua bandit sambil memainkan tombaknya. Senjata itu masih berlumuran darah Chen Jia.


"Itu bukan urusanmu!" Ryana Zhang berucap sambil semakin maju mendekati kumpulan bandit yang sudah siap dengan senjatanya masing-masing. "Aku hanya ingin menumpas kalian semua saat ini!" 


Langkah Ryana tegap dan pasti, telah membuat gentar para musuhnya. Terlebih lagi, gadis itu masih dalam keadaan pemadatan kekuatan yang dimilikinya. "Apakah kalian merasa takut sekarang? Apakah nyali kalian tidak lebih kuat dari utasan benang laba-laba?"


"Sombong sekali kau bocaaah! Tunggu apa lagi? Seraaaaang!" teriak ketua bandit menegaskan kepada anak buahnya yang masih maju mundur penuh keraguan.


Ryana Zhang menyambut serbuan para bandit dengan sikap tenang dan tetap waspada, mengingat betapa liciknya komplotan manusia bertampang lebih buruk daripada penduduk Desa Pengemis. Walaupun pakaian bandit ini terlihat bersih dan sedikit mahal, akan tetapi hal itu tidak membuat penampilan mereka menjadi tampak baik.


"Matilah kalian semua para bandit laknaaat!" Suara teriakan dari mulut Ryana Zhang berhasil mengalahkan teriakan para bandit yang secara membabi buta mengeroyoknya.


Namun, sebelum mereka semua sampai dan menjangkau kulit putihnya. Seberkas cahaya terang berhawa panas menyengat membias dari tubuh Ryana Zhang dan meledak dengan suara sangat keras. Tempat itu bergetar hebat bagai terkena sebuah gempa bumi. Kedua puluh bandit pun terpental secara bersamaan dengan tubuh hangus terbakar.


Rupanya, Ryana Zhang menyentakan energi inti api phoenix yang memang tersimpan di tubuhnya. Hanya saja sayangnya, Ryana Zhang tidak mempunyai seseorang yang bisa membimbingnya. Meskipun kekuatan yang baru saja dia gunakan terlihat cukup kuat.


Namun, Ryana masih belum mampu kekuatannya yang memang agak berlebihan, tubuhnya pun langsung ambruk ke atas tanah disertai semburan darah dari mulutnya saat ledakan berakhir. Tak kurang dari dua puluh orang terpental ke segala arah akibat terjangan kekuatan cahaya dari kibasan tangan Ryana Zhang.


"Ji-jiee, Jie ...." 


Sebuah rintihan samar membuat Ryana yang juga sudah terkapar berusaha menangkap bayangan sosok yang tergeletak tak jauh darinya. "Ji-Jia'er!" 


Gadis itu sedikit merasa lega, walaupun bahaya yang masih berada di tengah-tengah mereka. Suara Chen Jia sudah cukup membuatnya bahagia. "Jia'er, mungkinkah kita tidaka kan pernah bisa kembali ke dunia kita. Kalau itu sudah menjadi takdir ... apa boleh buat?"


Chen Jia menatap dengan pandangan sayu dan redup bagai tak ada lagi semangat untuk hidup. Darah dari lukanya sudah terlalu banyak yang keluar dan semakin melemahkan kondisi tubuhnya hingga dia merasa tak memiliki daya sama sekali.


Pemuda tampan itu hanya bisa berkata dalam hati. "Terima kasih, Jie ... aku sudah cukup puas bisa bertemu denganmu, meski hanya di alam novelmu. Setidaknya aku sudah meminta maaf atas semua perbuatanku. Jika aku diberi kesempatan untuk hidup kembali, maka biarlah aku tetap menjadi pengagummu." 


Seusai berkata demikian, Chen Jia kembali tak sadarkan diri untuk yang kedua kalinya. Ryana hanya bisa menatap kawannya dengan pandangan sayu dan berusaha bergerak untuk menggapai tangan pemuda itu. Setelah berhasil menggenggam tangan Chen Jia dia pun kembali terkulai dalam kepasrahan. 


"Satu tahun kultivasi di Hutan Mistis ternyata masih belum menghasilkan apa-apa! Ternyata Zhang Rui ini memang hanya tokoh sampah yang telah aku ciptakan dengan tanpa pemikiran yang matang. Aku hanya ingin menciptakan karakter pendukung seperti dalam film kungfu itu, tetapi ternyata akulah yang terjebak di dalam tubuh karakter ini. Sungguh sial!" Ryana Zhang hanya bisa mengutuki kesialan yang dia ciptakan sendiri.


"Inikah akhir dari hidup seorang author pemula yang bahkan belum pernah merasakan manisnya menarik uang gaji dari platform bagus itu? Sebuah aplikasi yang dianggap sebagai ladang usaha menguntungkan buat para author famous. Dan menjadi neraka bagi para author kecil sekelas kami." Ryana Zhang masih bermonolog dalam hati. Seulas seringain sinis pun menghiasi sudut bibirnya. Gadis itu mentertawakan nasibnya sendiri. "Menarik! Ini sungguh menarik. Nasib kami sudah layaknya telur di ujung tanduk!"


Pada saat author dan animator yang sama-sama mengalami nasib naas dalam jebakan alam kultivasi yang diciptakan tanpa sengaja sebagai pelepas penat setelah seharian bergelut dengan berbagai kesibukan.


Saat itulah, tanpa sengaja ekor mata Ryana Zhang melihat sekelebat bayangan hitam bergerak dengan cepat, tepat di belakang para bandit. Rupanya, mereka sama sekali tidak menyadari akan kedatangan sosok misterius yang telah menghunus sebilah pedang bermata dua. 


"Di-dia ... diakah orang yang kutunggu itu?" 


...Bersambung...