The Realm Of Cultivation

The Realm Of Cultivation
BERTEMU SESAMA



"Aaaaaaaaaaaaaaaa!" Suara jeritan seorang pemuda bergema di sepanjang lorong waktu berupa gulungan sinar berwarna biru muda, teramat terang sangat menyilaukan mata. Lubang cahaya itu bagaikan kerongkongan seekor naga raksasa yang sedang menelan mangsanya hidup-hidup.


Adalah Chen Jia sang animator yang mengalami hal serupa dengan author idolanya. Namun, jika Ryana terlempar ke dunia lain. Maka Chen Jia, terjebak dalam system komputer yang membawa rohnya melakukan perjalanan waktu ke alam novel The Realm Of Cultivation milik Ryana Zhang.


HUTAN MISTIS


Hutan Mistis merupakan rimba berkabut hijau tipis hampir menyelimuti seluruh wilayah, baik dari ujung timur hingga delapan penjuru mata angin. Semua adalah hamparan pepohonan berkabut bagai tanpa batas. Belantara beraura mistis dengan kesunyiannya yang mampu membius hati, hingga menciptakan ilusi dan halusinasi. Tak terhitung sudah, seberapa banyak makhluk bernama manusia dengan berbagai ambisi dan kerapuhannya tewas oleh pikiran mereka sendiri di dalam jebakan kabut hijau tersebut.


Tak terhitung pula, jumlah manusia menjadi gila saat tersesat dalam rimbunnya hutan yang banyak ditumbuhi oleh tanaman aneh dengan jiwa seperti manusia. Dikatakan tumbuhan aneh, karena mereka bisa melakukan penolakan pada saat seseorang memetiknya tanpa perijinan terlebih dahulu. Pepohonan berjiwa banyak tersebar dan tumbuh subur di setiap kelok jalanan setapak tak berujung. Mereka juga bisa mengkonsumsi kekuatan manusia dengan cara menyerap esensi jiwa makhluk fana yang berdekatan dengan pepohonan tersebut.


Terdengar suara ledakan benda jatuh dari ketinggian berdentum bagaikan menggetarkan seluruh isi hutan. Para binatang buas mistis pun lari ketakutan, karena mengira tempat itu telah didatangi oleh sekelompok pemburu hewan spiritual yang biasanya akan menjadikan mereka budak peliharaan melalui sebuah perjanjian darah.


Selain itu, roh binatang mistis yang mati pun masih bisa dimanfaatkan kekuatannya yang biasanya tersimpan dalam sebuah bola kristal penyimpan roh. Tingkat kekuatan masing-masing binatang mistis pun berbeda-beda, tergantung dari usia dan ras binatang tersebut.


Dalam pada itu, sesosok tubuh anak manusia berusia sekitar dua puluh tahun tergeletak di atas tanah berbatu. Kepulan kabut hijau mengelilinginya dan terus bermain berputaran menyusupi setiap celah dari tubuh lelaki muda berwajah tampan yang mulai bisa mengerjapkan kedua matanya.


Pandangannya masih terasa samar dan belum mampu menangkap gambaran keadaan di sekitarya. Tubuhnya sendiri dalam keadaan tertelungkup dengan perasaan bagaikan baru saja terjatuh dari ketinggian jutaan mil. Perasaan sakit dan tulang-tulang bagailan diremuk oleh palu logam besar sungguh membuatnya hanya bisa menggerakan salah satu jemarinya. Kesadarannya mulai pulih sedikit demi sedikit. Pemuda itu membuka kelopak matanya dengan sangat pelan.


"Di-di ... di-di mana, di mana aku?"


Beberapa kali kerjapan kelopak mata beratnya, masih belum sanggup menepis kabut yang berkeliaran bagai sengaja menggoda pria muda yang tergeletak lemas tak bertenaga sama sekali. Ujung bibir pucat kering itu mendesis. "Apa ini? Mengapa mereka tampaknya nakal sekali?"


Pria muda itu berusaha mengumpulkan kembali ingatan yang masih datang dan pergi memenuhi otaknya. Tak banyak yang dia ingat, selain sebuah merk minuman ringan bersoda yang sangat digemarinya. Rasa panas seketika menjalari saluran paling atas pada pencernaannya. "Haus, aku haus sekali!"


Pria muda itu menggerunyam dengan suara tidak jelas. "Xuan Geee! Apakah kau masih menyimpan beberapa kaleng softdrink vanila dingin kesukaanku? Tolooong! Xuan Ge ambilkan untukuu!" 


"Aaaaaah! Berat sekali tubuhku!" keluh pemuda itu disertai pekikan kecil saat berusaha bangkit dari posisi tengkurapnya. Bagaimanapun juga, dia harus terus berusaha bangkit untuk duduk bersandarkan benda yang tak ia perhatikan sama sekali bentuk dan rupanya. "Nyaman, ini cukup nyaman! Kursi sofa ini lebih baik daripada kursi gaming-ku."


Untuk beberapa saat lamanya, kedamaian masih bisa pria muda itu rasakan sembari memejamkan matanya. Namun, lama kelamaan dia merasakan sandarannya bergerak-gerak secara perlahan.


"Bulu?" Chen Jia meraba-raba tempat bersandarnya. Pria muda yang masih belum menyadari di mana keberadaannya itu hanya memberanikan diri menolehkan wajahnya ke samping kanannya. Begitu pandangannya beradu tatap dengan seraut wajah, matanya pun terbelalak lebar dengan ludah yang bagai langsung mengering seketika.


"Mo-mon-monsteeeeerr!" Chen Jia secara tak sadar bangkit dan berlari tak tentu arah demi menyelamatkan diri, sedangkan makhluk serupa monster kera pun, juga tunggang langgang ketakutan dan langsung berloncatan di antara pepohonan hutan.


"Aaahh, syukurlah! Ternyata, monster jelek itu tidak memburuku!" seru pemuda itu dengan perasaan luar biasa lega. Beban seberat batu gunung pun terasa lepas sudah.


Chen Jia menjatuhkan dirinya di sudut gua, setelah merasa keadaan aman. Matanya kini meneliti tempat yang sangat asing baginya. Dia sungguh tidak tahu di mana dirinya saat ini. "Gua ini cukup terang, meski tak ada cahaya matahari. Cukup aneh memang!"


"Tidak ada matahari, tetapi juga bukan sinar bulan. Lalu, apa?" Chen Jia meraba dinding gua yang ternyata mampu mengeluarkan cahaya. "Gua yang ajaib! Bahkan hawanya pun sangat berbeda dengan keadaan di luar."


Tanpa Chen Jia sadari, ada sepasang mata yang mengawasinya dari balik dinding yang lain. Pemilik mata itu dalam hati bertanya, "Siapa dia? Mengapa pakaiannya seperti anak boy band ya?"


"Tapi, anggota boy band mana yang mau datang ke mari? Selain dia itu jatuh dari langit atau jangan-jangan dia ...."


Sang pengintai mulai bisa menerka siapa pemuda yang sedang diamatinya. Karena dari penampilannya sangat berbeda dengan para penghuni asli alam tempat tinggal mereka saat ini. Pemilik mata cantik itu masih terus mengawasi pergerakan dari pria muda tersebut.


Gua itu memang seperti memiliki sumber oksigen murni yang sangat baik untuk kesehatan tubuh seseorang, terutama bagi para pembudidaya atau kultivator yang ingin memulai atau meningkatkan ilmu kekuatannya.


"Haus! Aku sangat haus sekarang!"


Dengan sisa-sisa tenaganya, Chen Jia bangkit dari duduknya dan berjalan tertatih-tatih mencari sumber suara tetesan air. Benar saja, pemuda itu mendapati sebuah kolam yang berair jernih. Dia segera meraup air dengan menggunakan kedua telapak tangannya sendiri dan meminumnya tanpa ragu. Nyatanya, air jernih tersebut membuat tenggorokan dan tubuhnya kembali merasa segar seketika.


Setelah puas minum dan mencuci wajahnya dengan air kolam jernih tersebut, Chen Jia bangkit dari berlututnya. Dia kembali memperhatikan keadaan gua bercahaya sembari memikirkan sesuatu.


"Gua ini terlihat bagus untuk berlatih kultivasi ilmu, seperti dalam kisah cerita di drama xian xia dan donghua!" gumam Chen Jia sembari mengedarkan pandangannya.


"Energi Yin dan Yang di sini cukup seimbang, bahkan jika itu adalah seorang kultivator pemula. Maka, tempat ini sangat baik untuk berlatih." Terdengar suara seorang wanita yang begitu lembut.


Chen Jia seketika membalikan tubuhnya dan mendapati seorang gadis muda berusia lima belas tahun telah berdiri di belakangnya.


"Kau ... siapa?"


...Bersambung...